
Kafe bintang di salah satu tempat terkenal di daerah Jakarta pusat, salah satu tempat eksklusif untuk Royyan, Ajun dan juga Dirta. Gemerlap hiasan bintang-bintang di langit-langit kafe itu menarik banyak sekali pengunjung yang merasakan rasi bintang di sana. Di salah satu ruangan VVIP, dengan meja yang sudah dipenuhi banyak makanan yang sudah menjadi hidangan wajib bagi ketiga pria bertubuh sehat itu setiap mereka mengunjungi Kafe bintang.
Suasana hening menyelimuti Ajun dan Royyan, keduanya tak saling bicara, mereka masih fokus dengan ponselnya masing-masing. Ajun yang sibuk dengan game onlinenya, sedangkan Royyan disibukkan dengan tugas-tugas kantor yang dilimpahkan Papi-nya sendiri padanya.
Jari jemari Royyan sibuk mengetikkan sesuatu yang dia kirimkan langsung pada Papi-nya. Matanya yang tajam namun kecil itu enggak untuk enyah dari layar ponsel, Ajun yang melihat hal itu di depan matanya mendelik dengan tatapannya yang menajam seraya dia menurunkan ponselnya ke atas meja, sedangkan kedua tangannya mulai merayap ke garfu dan pisau di samping daging **steak** pesanannya.
Kenapa nih bocah? Mukanya kek mau nerkam orang anjir, menakutkan banget.
Gua temenan sama manusia kan? Bukan sama serigala pemangsa?
Gumam batin Ajun sambil dia menyuapi mulutnya dengan potongan daging steak dengan ukuran cukup besar. Mulutnya terbuka lebar dan menyantap steak itu dengan lahap seraya netranya tidak berpindah dari wajah serius Royyan.
"Ngapain ngeliatin?"celetuk Royyan dengan posisi yang sama, masih berfokus terhadap ponselnya.
Deg!
Detik itu juga Ajun terbatuk-batuk karena steak yang dia makan tertelan begitu saja tanpa dia kunyah karena Royyan membuat dirinya sangat terkejut, Seiringan dengan bola matanya yang melebar. Sejak kapan Royyan menyadari Ajun yang terus memperhatikannya. Pikir batin Ajun, lekas dia mengambil air putih dalam kemasan botol yang ada di sampingnya, dia teguk untuk mengalirkan makanan yang mungkin tersangkut di tenggorokannya.
Royyan terlihat sedikit menyeringai dalam posisi yang masih sama. Namun, setelahnya baru lah Royyan melengserkan ponselnya dari genggaman kedua tangan dan dia letakkan di samping piring spaghetty pedas pesanannya.
"Lu anjir kebiasaan banget, kaget gua,"seru Ajun setelah dia selesai dengan air putihnya.
Royyan tidak menjawab, dia hanya sedikit menyeringai lalu meneguk lemon tea honey kesukaannya itu. Dan segera berpindah pada spaghetty-nya, beberapa helai mie spaghetty itu perlahan masuk ke dalam mulut pria yang memiliki suara berat dan juga bulat.
Tak lama dari itu Dirta tiba dengan napas yang masih terengah-engah, langkah lambatnya memasuki ruangan VVIP yang di pesan oleh Royyan itu. Seraya menelan ludahnya yang terasa kering, Dirta berdiri di hadapan Royyan dengan matanya yang menajam.
"Gu-a.... mau ngomong sama lu Yan,"ucap Dirta masih tersendat.
"Tinggal ngomong,"jawab Royyan singkat.
Dengan wajah yang selalu serius Royyan mendongak menatap sahabatnya itu, dan beruntungnya matanya tak lagi menajam. Ajun yang melihat perselisihan dingin antara kedua sahabatnya itu segera berpindah posisi, menarik kursinya agak menjauh dari meja dan mendekati jendela yang memperlihatkan keadaan di luar sana sembari membawa piring steak bersamanya.
"Kalau soal El! Gua gak ikut campur,"lanjut Royyan setelah dia berdiri dari kursinya.
"Iya!"tegas Dirta mengatur ulang pernapasannya.
"Oke. Gak usah dibahas."Royyan kembali duduk di kursinya dan mengacuhkan Dirta.
"Gak bisa. Ini harus kita bahas, El suka sama elu, kenapa elu enggak bilang sama gua, elu tahu kan kalau gua suka sama El,"
Dengan malas Royyan menghela napasnya. Dan kembali mendongak untuk merekam wajah Dirta yang lebih serius dari biasanya.
"El udah bilang kan? Jadi gua gak harus ikut bilang juga sama elu,"
"Yan! Dia beneran suka sama elu, dan dia sekarang sakit Yan, gua gak bisa ngapa-ngapain,"Dirta mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi depan Royyan.
"Elu mau gua ngapain?"tanya Royyan tegas.
Dirta terdiam. Sesungguhnya dia sendiri tak tahu apa yang dia inginkan, dia benar-benar mencintai Elshara. Tetapi melihat Elshara menderita karena cintanya tak terbalaskan lebih menyakitkan, mulutnya membeku. Satu kata pun tak ada yang bisa dia katakan pada Royyan yang sudah menunggu jawaban pasti dari Dirta.
"Elu suka sama El, karena itu gua mencoba menjauhi El, apa gua salah?"
"Enggak. Tapi melihat El sakit kayak gitu, gua gak bisa,"
Royyan kembali menghela napasnya berat. Menyeka rambutnya dengan kasar, matanya terpejam sejenak. Namun, kemudian dia segera membukanya dengan lebar. Menegakkan punggungnya.
"Elu mau gua terima El, gitu?"Royyan kembali bertanya.
Dirta mendelik dan juga netranya menajam, sedang kedua tangannya telah mengepal di atas meja. Tak lama dia membawa dirinya berdiri dengan urat-urat di dahinya menegang, mematri tatapan Royyan yang mencoba untuk tenang dan sedikit acuh.
"Jangan coba-coba elu rebut El dari gua!"ungkap Dirta seraya menggebrak meja di hadapannya.
__ADS_1
Ajun terperanjat. Bola matanya melebar azmat, hampir saja Ajun tersedak kembali. Beruntungnya dia masih bisa menelan daging steak itu dengan baik. Bersila di atas kursinya dan tetap melanjutkan melahap makanannya.
Sementara Royyan yang sudah mulai kelelahan menanggapi Dirta yang sedang diselimuti cinta itu dan membuatnya bersikap kasar pada sahabatnya sendiri, segera berdiri tegas.
"Terus lu mau gua ngapain? Gua terima El salah, gua jauhin juga salah, gua harus ngapain? Jawab!"nada suara Royyan meninggi.
Suara beratnya yang juga bulat itu mendobrak angin-angin yang melintas, begitupun Ajun yang berada di belakang kembali terkejut dan hampir saja piringnya terlepas dari genggamannya. Lantas dia mengelus dada setelah dia berhasil menangkap piring putih yang hampir saja terjatuh itu.
"Gua mau elu jauhin El, gua akan membuat el jatuh cinta sama gue."tutur Dirta dengan tegas yang masih merasa ragu dengan perkataannya sendiri.
"Oke. Emang itu tujuan gua."
Tanpa menunggu apapun lagi, Royyan meraih jaket denim berwarna hitamnya dan segera dia pakai. Mengambil ponselnya dan segera bergegas keluar dari ruangan VVIP itu.
Ajun yang berada di dekat jendela, bergegas berdiri melangkah maju mengejar Royyan keluar dari ruangan sembari menengteng piring dan garfu bekas daging steak-nya yang telah berpindah semuanya ke dalam perutnya.
"Lu mau kemana?"teriak Ajun memanggil Royyan.
Tanpa menoleh Royyan melambaikan tangannya ke atas seraya terus berjalan ke depan tanpa mempedulikan siapapun lagi, "gua cabut dulu, makanan udah gua bayar."sahut Royyan setelah dia sampai di ujung dekat dengan tangga menuju lantai satu.
"Woii!"seru Ajun.
Tetapi Royyan telah menuruni tangga dan tidak menajwab apapun panggilan dari Ajun. Pria bertubuh tinggi dan berkulit sedikit gelap di banding Dirta dan Royyan itu kembali ke dalam ruangan menghampiri Dirta yang sudah terduduk di salah satu kursi depan meja itu.
"Elshara gi-"tanya Ajun yang belum selesai.
"Ah gila gua lupa El! Thanks bro! Habisin makanannya, sayang kan gratis,"ucapnya kemudian memotong perkataan Ajun, seraya menepuk Ajun dan melangkah keluar dari ruangan VVIP, dengan hiasan senyuman tipisnya yang mulai merekah.
"Si anjing bacotnya, bener lagi."sahut Ajun sedikit kesal, seraya dia mengekori punggung Dirta yang keluar dari ruangan itu.
Ajun menggosok-gosok kedua telapak tangannya, mempersiapkan diri untuk menyantap makanan yang belum tersentuh oleh Royyan. Kecuali spaghetty dan lemon tea honey yang telah kosong. Yang memang makanan dan minuman kesukaan dari Royyan.
Bibir Ajun menyeringai. Dengan senang hati pria dengan pundak tajam itu mulai menyendok nasi goreng seafood di hadapannya dan segera dia luncurkan ke dalam mulutnya yang penuh dengan air liur dan tak tahan untuk segera melahap habis semua makanan yang tersaji di atas meja.
...***...
Hari berikutnya, di akhir pekan. Royyan berjalan di sebuah mal terbesar di daerah dekat tempat tinggalnya, kaos polos berwarna hitam dengan balutan jaket yang juga polos berwarna abu-abu, hanya ada hiasan nama brand terkenal di salah satu sisi jaket itu. Jaket yang memiliki kupluk berwarna putih, dan celana jeans yang juga berwarna hitam. Menyusuri mall seorang diri tanpa membawa tas kecil yang biasa dia gunakan kala mengunjungi mall.
Dari lantai tiga beralih ke lantai lima, pikirnya dia ingin menghabiskan waktunya seorang diri ditemani salju buatan yang mereka jadikan wisata ice skating. Langkahnya yang besar keluar dari lift, setelah dia sampai ke lantai lima yang dia tuju.
Mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru lantai lima di mall tersebut, berayun lambat sembari menikmati semilir angin yang di ciptakan dari pendingin ruangan yang terpajang di atas menempel dengan langit-langit mal.
"Aaaaaaaakh...."teriak seseorang di belakang Royyan.
Sontak Royyan segera menoleh dan mendapati sosok wanita cantik yang dia temui beberapa waktu yang lalu. Dan dia adalah Almira, wanita bermata kecil itu berlari-lari terbirit-birit dan terus berteriak memecah keheningan mall yang memiliki banyak pengunjung. Di belakang Manda sang sahabat terus membuntuti Almira yang ketakutan dikejar-kejar oleh seseorang yang memakai kostum panda.
"Almira! Tungguin...."Manda berteriak mencoba mengejar Almira.
"Aaaahkk..."Almira terus berteriak dengan wajah ketakutannya dan suara yang melengking.
Royyan menyeringai melihat betapa lucu wajah wanita berambut panjang coklat keemasan itu, dia berdiri di tengah-tengah. Perlahan Almira mulai mendekati Royyan, dan tanpa disadari Almira menghamburkan tubuhnya memeluk Royyan lekat. Pria itu mematung, bola matanya bergerak ke kiri dan juga ke kanannya sedangkan tangannya terangkat ke atas. Bingung. Dia tak tahu harus berbuat apa, ingin membalas pelukannya, tetapi entah siapakah wanita ini.
Rasanya kurang sopan memeluk wanita dengan sembarangan tanpa persetujuan dari wanita itu sendiri. Seseorang dengan kostum panda itu semakin mendekat, suaranya yang khas membuat Almira menyadari jika yang dia takuti itu menjadi lebih dekat dengannya.
"Akh gak mau ih, takuuut...."Almira meringis bahkan dia menangis di pundak Royyan seraya mengeratkan lingkaran tangannya di leher Royyan.
"Cuman orang, bukan hantu."celetuk Royyan dengan suara bulatnya.
"Mau orang atau apapun itu, tetep aja takut, i-itu badut kan...."
"Kostum doang,"
__ADS_1
"Gak mau pokoknya takut."jawab Almira kukuh yang terus meringis, sambil terlompat-lompat bergelayutan di leher Royyan.
Royyan memicing seraya menghela nafasnya panjang. Bujukan Royyan tak mempan bagi Almira yang memiliki trauma dengan badut, ataupun kostum menyerupai hewan-hewan. Trauma masa kecilnya membuat Almira menjadi si penakut. Badut yang pernah membawanya pergi tanpa se-pengetahuan kedua orangtuanya, kala itu Almira masih berumur di bawah enam tahun yang tidak tahu menahu seseorang di dalam kostum panda itu baik atau buruk. Dia hanya mengikuti langkah sang badut dan berakhir berdiam di bawah terik matahari bersama sang badut.
Berjam-jam dia menjadi tumbal si badut untuk mendapatkan uang dari orang-orang yang melintasinya. Almira yang berkulit putih bersih seketika memerah karena keganasan matahari. Dia menangis keras, ketakutan, juga tubuhnya melemah. Si badut meninggalkan Almira di pinggir jalan sendirian dalam keadaan menangis, karena ketakutan orang-orang akan menyadari jika dia mengambil anak orang lain.
Dari hari itu Almira ketakutan setiap melihat sesosok badut di dekatnya, beruntungnya saat itu wanita yang memang sudah memiliki rambut panjang coklat keemasan dari kecil bertemu sekretaris pribadi Papi-nya bersama beberapa pengawal yang tengah mencari Almira, dan pulang dengan selamat.
Isak tangis Almira semakin kencang, memekik telinga Royyan. Tetapi Royyan tetap terdiam, menunggu Almira selesai dengan tangisannya. Mendengar tangisan Almira menjadi sangat keras, Royyan membalas pelukan Almira. Membelai rambut dan punggung Almira dengan lembut.
"Tenang, tenang ya, ayo kita pergi dari sini. Badutnya udah gak ngejar, dia udah balik lagi kesana,"ucap Royyan menenangkan.
Bulir-bulir kristal yang sempat lebat itu perlahan menyusut dan menyisakan isakannya saja tanpa ada yang terjatuh dari kelopak matanya. Tangan Almira melemah dan turun dari leher Royyan, dia menoleh ke belakang dengan penuh kehati-hatian, tangannya bergetar seraya menggenggam salah satu tangan Royyan.
Dan benar saja, seseorang yang memakai kostum panda itu telah menjauh. Almira hanya melihat Manda yang perlahan menyeret langkahnya mendekati dirinya. Lega. Pita suaranya sudah kelelahan berteriak tanpa henti karena rasa takutnya tak bisa dia kendalikan. Tiba-tiba Almira menurunkan lututnya dan terduduk di bawah sedang satu tangannya masih menggenggam erat tangan Royyan.
"Syukurlah. Lega...."lirihnya lemas.
"Bisa lepasin,"ucap Royyan yang kemudian dia mencangkung di samping Almira.
Lambat laun, Almira menoleh dengan lenggokan leher yang lemah, dia mendongak setelah menyadari jika dari tadi dia memeluk pria yang tidak dia kenali, bahkan dia tidak menyadari yang sedari tadi menghangatkan tangannya adalah pria itu.
Almira terhenyak seraya dia melunturkan gengaman tangannya pada pria yang memiliki tangan lebar itu. Royyan tersenyum kecil.
Deg!
Pundak Almira terangkat dengan iringan bola matanya yang melebar. Merinding. Dia menyeret tubuhnya agak menjauh dari mata kaki Royyan itu, dimana pria itu masih bertinggung di hadapan Almira yang membeku.
"Kotor. Cepet berdiri,"lanjut Royyan seraya dia kembali berdiri dan segera meninggalkan Almira yang masih mematung.
Kehadiran Royyan membuat wanita berparas cantik dan bertubuh mungil itu tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun, dia hanya terdiam dengan detakan jantung yang begitu kencang.
Wah gila! Cowok itu lagi. Lu! Ngapain anjir Almira! Bodoh banget sih.
Untung itu cowok kagak ngamuk gue peluk, kalau ngamuk, mampus gue.
Gerutu batin Almira. Hidungnya yang memerah dan pipinya yang masih lembab karena air matanya tadi, perlahan memudar bersamaan dengan isakannya.
"Aman lu."tanya Manda terengah-engah dan segera berlutut di hadapan Almira.
"Hah?!"dengan wajah polosnya Almira menoleh lemah.
Jantungnya masih berdegup kencang. Parfume yang dikenakan oleh Royyan masih melekat masuk ke dalam ingatan Almira. Kemudian dia menggelengkan wajahnya sambil mengerjapkan matanya dan segera berdiri bersama Manda yang sudah menariknya untuk membantu berdiri.
"Kenapa lu tiba-tiba lari sih, gua kaget, mana nangis lagi kayak anak kecil yang kagak di beliin balon."ucapnya lagi.
Almira menoleh dengan parasnya yang seperti biasanya. Lekas dia rapikan penampilannya yang sempat berantakan karena menantang angin yang menerpanya, demi menghindari si kostum panda.
"Takut gila! Di mall kenapa harus ada begituan sih, kan gue kaget."gerutu Almira memajukan bibirnya beberapa senti.
"Elu takut badut?"
"Iya. Mana tadi meluk si cowok kebab lagi, malu anjir. Gue mau taro muka gue dimana coba,"jawab Almira dengan wajahnya yang mulai memerah, detik itu juga dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Enak di cowoknya lah,"
Secara kasar Almira menoleh dan mengernyitkan dahinya heran dengan perkataan Manda, dia sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataan sang sahabat itu mengalir ke arah mana.
"Kok enak sih. Dih ngaco lu ya,"bibir Almira mengernyit.
"Iya lah. Orang di peluk wanita cantik gratis, dapet pelukan elu kan gak gratis,"
__ADS_1
Almira membuntang seraya menghela nafasnya sedikit kesal. Lekas dia berkacak pinggang menatap tajam pada Manda, lalu dia mendengus. Sedangkan Manda menyernyih dengan mengalihkan bola matanya ke arah lain yang lebih menarik, dibanding melihat paras sang sahabat yang tengah menajamkan pandangan namun tetap saja terlihat lucu, wajah lembutnya tidak bisa menampilkan wajah seram.
NEXT....