
Pagi bertandang dengan hangat, pun aura dingin yang menusuk. Walau matahari telah menghangatkan bumi, tetapi tidak dengan pawananya yang menyebarkan dingin ke setiap penjuru yang mampu dia jangkau. Mengakibatkan wanita bertubuh mungil itu melekatkan tubuhnya dengan selimut tebal yang membalut tubuhnya dari sejak malam tadi. tidurnya sangat nyenyak, sehingga dia tidak menyadari bahwa tadi malam ada pertengkaran antara suaminya dengan Elshara.
Dia menggeliat keluar dari dalam selimut, melenturkan tulang-tulangnya yang menegang. Perlahan dia buka bola matanya yang masih lengket dengan rasa kantuknya, setan tidur itu masih bersemayam di dalam kelopak matanya.
"Kak Royyan tidur di mana ya semalam?"tanyanya lirih pada dinding-dinding kosong di dekatnya.
Cahaya matahari yang baru saja menyingsing menerobos masuk ke celah jendela yang gordennya telah terbuka sepersekian sentimeter, raga Almira tertarik oleh keberanian sinar mentari pagi itu, dia seret langkah malasnya ke area balkon kamar inapnya. Gadis itu membuka pintu kaca dengan gorden putih, lantas dia keluar dari kamarnya seraya dia merentangkan tangannya, meregangkan otot-otot tubuhnya sekali lagi.
"Kenapa ada balkon di kamar resort yang hanya memiliki satu lantai?"hal ini sebenarnya masih menjadi pertanyaan di benak Almira, biasanya balkon hanya akan di bangun di lantai dua dan seterusnya.
Namun, berbeda dengan apa yang terjadi pada bangunan resort milik suaminya ini, justru balkon dengan pagar trali yang kokoh terbangun di setiap kamar, dia menongkrong di depan balkon sembari menikmati aroma pagi yang menyegarkan terlebih di sekelilingnya banyak sekali tumbuhan hijau dan bunga-bunga cantik dari berbagai macam jenis dan warnanya.
Baru beberapa menit dia bergeming di depan balkon, aroma khas yang selalu dia rindukan menyeruak ke seluruh penjuru kamarnya, ini bukan tentang parfume yang sering digunakan pria dengan rahang tegas itu, melainkan tentang aroma tubuhnya yang harum alami tanpa bantuan parfume, itu karena sabun yang dia gunakan telah memberikan harum yang khas.
Detik itu juga wanita yang tengah mengenakan piyama serba panjangnya berkembang, terlebih pada wajahnya. Lekas dia menoleh dan benar saja Royyan telah berada di dalam kamarnya dalam keadaan tertidur di ranjangnya yang masih berantakkan.
"Dilarang masuk ke dalam kamar gadis tanpa sepengetahuannya,"celetuk Almira seraya dia menarik tubuhnya kembali ke dalam kamar.
Dia tutup pintu yang terbuat dari kaca itu beserta dengan gorden putih itu hingga rapat, langkahnya bergerak ke sofa yang tak jauh dari ranjangnya, belum habis langkah Almira ke sana, Royyan segera berdiri dan menerkam punggung Almira, lelaki itu mendekap sang istri dengan penuh kekuatannnya.
Wajahnya tenggelam di tengkuk putih sang istri dan menyerap segala aroma yang tercipta secara alami di pagi ini, kedua tangan Almira di genggam dengan erat dan Royyan membawa sang istri untuk terjatuh bersamanya ke atas ranjang.
"Kita mandi yuk,"ajaknya berbisik di belakang telinga Almira.
Seketika bulu kuduknya berdiri dan menegang, tubuhnya yang terkunci dekapan Royyan membuat Almira semakin menggebu-gebu, debur jantungnya menderu dengan sangat deras, dia mematung seraya memejamkan matanya bahkan mulutnya terkatup.
"Yaudah sana,"sahut Almira dengan suara bergetar.
Lalu dia putar tubuhnya menjadi berhadapan dengan sang suami, wajahnya yang tertunduk dia bawa ke atas untuk menatapi sang suami hingga dia puas meresapi ketampanan yang menempel di paras suaminya.
"Kamu kalau mau mandi ya udah sana masuk kamar mandi, ngapain meluk aku dulu,"lanjutnya melilitkan satu tangannya pada leher Royyan sedangkan tangannya yang lain dia gunakan untuk membuai sang suami dengan lembut.
Lengan yang mencangkung di pinggang Almira dia tarik sehingga wajahnya mendekat dengan paras cantik sang istri, lantas dia menyeringai dengan senyuman nakalnya dan binaran bola matanya yang mencoba untuk menggoda istrinya sampai wajah cantik itu memerah tersipu malu.
"Aku mau ...."paparnya yang dia hentikan karena bola matanya yang terjatuh pada bibir kecil yang masih polos dari perona bibir.
Dia menelan ludahnya dengan kasar, bukan hanya sekali melainkan berulang kali, satu tangannya berjalan menjelajahi punggung sang istri penuh kelembutan seraya dia membingkai wajahnya dengan senyuman manisnya, dia tekan kepala Almira saat tangannya sudah menyambangi tengkuk wanita yang tengah mematung dan tak bisa melakukan apapun itu.
"Apa?"tanya Almira dengan derap jantung yang berkobar-kobar.
Kedua tangan yang sudah menggantung di bahu Royyan perlahan menguat, dia sudah tahu apa yang akan di lakukan suaminya, tetapi kali ini Almira ingin menikmatinya, dia tak ingin menepis ataupun memarahi sang suami seperti yang dia lakukan beberapa waktu yang lalu.
"Kamu tahu apa yang aku mau kan?"
Gadis itu benar-benar tersipu, wajahnya memerah dan tubuhnya yang memanas lantas menunduk, membenturkan dahinya pada dada lebar yang dimiliki oleh suaminya, kedua tangan yang semula hanya menggantung di bahu lekas dia lilitkan di leher Royyan, membuat pria gagah itu semakin tertarik untuk menyelam pada kenikmatan yang sangat dia dambakan.
__ADS_1
Dia apit dagu lancip sang istri, menariknya ke atas, dia menyeringai sebelum akhirnya dia terjunkan bibirnya yang masih tersenyum itu tenggelam di bibir atas sang istri, dia resapi setiap rasa manis yang tersalurkan dari sana, berulang kali dia menelan rasa manis yang hangat. Lembut bibir itu membuat Royyan ketagihan, berulang kali dia menikmatinya, sampai akhirnya dia memutuskan untuk melahap bibir sang istri, dia ***** bibir Almira sampai lembut, c*um*n yang sangat menggairahkan.
Royyan merasakan lilitan Almira pada lehernya mulai mengendur, lantas dia menyeringai. Namun, bukan berarti hal itu akan menghentikan permainannya, pria itu menarik sang istri semakin melekat dengannya, bibirnya yang saling menempel bergerak kesana-kemari menikmati sentuhan itu hingga dia sendiri pun menggila. C*um*n itu semakin ganas, Almira bukan hanya di buat lemas, tetapi juga dibuatnya menjadi *****.
Di ujung pengakhirannya, pintu kamar Almira menggema, memantulkan sebuah ketukan lantang dari seseorang yang ada di baliknya, seketika Almira dan Royyan menghentikan permainan setengah panasnya, bahkan Almira mengerjap dengan degap jantung yang berdebar dahsyat, gadis itu mendorong Royyan yang kemudian dia singkirkan tubuh sang suami yang ada di atasnya sehingga tubuh kekar itu berguling dan terjatuh ke lantai.
"Aw!"Royyan meraung, "sayang ... gak bisa pelan-pelan apa, sakit!"bisik Royyan dengan wajahnya yang berkerut.
Almira terbelangah, dia tidak menyangka jika dia mendorong sang suami sampai melanggar lantai berkeramik putih yang keras itu, bola matanya membulat dengan gemas yang dia selipi dengan tawa kecilnya, segera dia mendekati sang suami yang tengah merengut dan menganjurkan kecupan kecil di pipi Royyan dengan lembut, lalu dia tersenyum seraya membelai rambut sang suami dengan hangat.
"Sorry honey ...."bisiknya lembut di daun telinga Royyan.
Hembusan napas Almira telah menggugah jengah Royyan sehingga lelaki yang sulit tersenyum itu seketika menarik garis-garis wajahnya melengkung ke atas lalu wajahnya tertunduk malu.
Sementara Almira sudah dari tadi mengayuh langkahnya ke dekat pintu dan membukanya, lalu dia segera keluar dari kamarnya dan menutupi pintu dengan rapat lagi. Dia tak ingin semua orang mengetahui jika Royyan berada di dalam kamarnya, dan beruntungnya Royyan melakukan hal itu saat dia tidak memakai riasannya, jika itu terjadi mungkin saja orang-orang akan sangat mudah menebaknya, apa yang dia lakukan di dalam sehingga dia tidak bisa membuka pintu dengan cepat.
"Hai Man ...."sapanya seraya merapikan rambutnya yang bagaikan rambut singa.
"Sarapan yuk, kita balik besok kan ya,"ajak Manda, dan ya! Yang mengetuk pintu itu adalah Manda, beruntungnya. "Lu habis ngapain? Rambut berantakkan dan baju lu kusut kayak begitu, lagi sama dia?"tanya Manda dengan senyum mencurigakan.
Sepertinya pikiran Manda sudah lebih dulu dari mulutnya yang cerewet. Lantas bibir lembutnya itu menyeringai, dan mencolek lengan Almira menggodanya.
"Ah gue tahu ...."serunya dengan mata yang mengintimidasi seraya menepuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuk tangan kanannya dan senyumannya masih saja menggoda Almira.
"Udah ah, pikiran lu lebih liar di banding gue yang udah nikah,"elak Almira seraya mengayuh kakinya ke depan menelusuri jalanan untuk menuju lobi dari resort tersebut.
Gadis berambut sebahu itu menyeka sebagian rambutnya ke belakang dengan senyuman yang tak pernah pudar dari sejak dia menyadari ada yang aneh dari penampilan sahabatnya, lantas dia mengekori Almira dari belakang seraya dia membaca punggung yang merunduk di hadapannya dengan senyumannya yang semakin memerah.
Langkah mereka tertuju pada sebuah minimarket merah untuk membeli beberapa minuman agar semua makanan yang masuk ke dalam perut kedua gadis itu seutuhnya. Di tempat makan sederhana lokal tadi tidak bisa sepenuhnya mengalirkan sisa-sisa rasa makanan yang mereka telan.
Keluar dari minimarket keduanya membawa sebotol air mineral dari merek yang mereka gemari dan satu minuman manis perisa buah yang pekat, mereka berdiri di depan minimarket seraya meneguk air mineralnya.
"Jadi laki lu masih ada di kamar?"tanya Manda yang selalu menyebut Royyan dengan kata lain, sekalipun dia tak pernah mengucapkan nama Royyan dengan jelas.
"Tadi sih iya ada di dalam kamar, gak tahu kalau sekarang,"jawab Almira setelah dia meneguk air minum dengan perisa buah jeruk yang memiliki bulir-bulir jeruk yang melekat di lidahnya.
"Telepon coba, takutnya pada datang ke kamar lo dan liat dia kan berabe jadinya,"saran Manda.
Almira mengangguk dan mengambil ponselnya yang ada di dalam saku piyamanya. Wanita bermata kucing ini memang sangat suka berkeliaran pagi hari dengan memakai piyamanya, dia seringkali lupa untuk mengganti pakaiannya dahulu.
"Halo kak ..."ucap Almira saat bunyi ketukan panggilan teleponnya terangkat.
"Kenapa sayang ... mau lagi? Aku bisa kok, lagi free nih,"jawab Royyan menggoda Almira dengan suara mendayunya.
Sekonyong-konyong, seluruh raganya bergetar, bulu kuduknya merinding, angannya melesat jauh ke depan, membayangkan betapa kuatnya ciuman yang dia terima tadi pagi sebagai sarapan awalnya sebelum dia menelan air mineral yang mengaliri tenggorokkan yang kering. Apa yang akan terjadi jika dia mendapatkannya lagi, dua kali dalam satu hari? Bukankah itu terlalu berlebihan, bisa-bisa bibirnya benar-benar akan menipis.
__ADS_1
"Kak Royyan!"jerit Almira mengelus-elus tengkuknya yang merinding.
Terdengar tawa Royyan menggema dari balik ponsel, membuat Manda yang berada di sampingnya ikut mengernyih, dia menunduk menyembunyikan senyumnya. Hatinya bergetar redut, hubungan suami istri yang begitu romantis, hanya saja mereka harus bersembunyi dari semua orang dan berpura-pura menjadi orang lain yang tak saling mengenal.
"Udah keluar dari kamar aku belum? Kalau ketahuan sama staff aku berabe, kecuali Sara. Karena Sara udah kenal kamu, ya emang dia gak pernah tahu hubungan kita itu sebenarnya apa,"kata Almira lagi dengan wajah yang memerah.
"Udah. Dari sejak kamu keluar bareng Manda.
"Oh syukurlah,"seru Almira lega, "kamu udah makan belum?"tanyanya lagi penuh harap, semoga suaminya itu sudah mengisi perutnya dengan makanan bukannya dengan deretan angka dan grafik perkembangan proyek besar yang akan dia tangani di luar negeri.
"Minum honey tea sama pancake."
"Pancake lagi? Kamu gak bosen makan itu mulu,"kernyih Almira seraya dia meninggalkan pintu minimarket itu.
Manda yang berada di dekatnya segera melangkah bersamaan dengan pembacaan kaki mungil itu menyentuh tanah yang sudah terbalut oleh bahan bangunan tak berkeramik seraya meneguk minuman perisa buah sekali lagi.
"menc**m kamu aja gak bosen,"celetuknya kembali menggoda Almira.
"Ih kak Royyan, mulai deh. Udah ah males nelepon kamu,"rungut Almira membersut.
Royyan tertawa kecil sehingga terdengar renyah di telinga Almira, perlahan bibir yang masam itu ikut menyeringai, dengkusan tawanya sempat terdengar oleh Royyan, lalu dia hentikan panggilan teleponnya.
"Lu teleponan sama dia kayak mau baku hantam aja,"ledek Manda yang masih saja tersenyum-senyum.
"Ya habisnya bikin emosi, orang nanya apa, di jawabnya apa. Kan ngaco,"sahut Almira merengut.
Manda hanya tertawa mendengar celotehan sahabatnya itu. Tak lama dari itu, Elshara tiba di hadapan mereka dengan menampilkan wajahnya yang masam, seperti sedang mendekap amarahnya. Sepertinya wanita itu tak pernah menemukan senyuman, hari-harinya di kuasai oleh kemarahan dan kecemburuan yang tidak memiliki tuan.
Dia menanggang langkah kedua gadis yang mengembangkan wajahnya, mereka cukup terkejut dengan kedatangan Elshara di hadapan mereka, kedua pasang mata itu saling terpatri mengirimkan beberapa pertanyaan yang mereka sendiri pun tak tahu maksud dari kedatangan gadis yang mereka benci itu.
"Gue mau ngomong sama lu Ra,"ketusnya, wajahnya redup bagaikan langit yang tengah di kerubungi langit hitam.
Almira mengernyit heran, matanya berkedut, lantas dia menoleh pada Manda seraya menaikkan kedua alisnya, mencoba mengirimkan pertanyaan pada sang sahabat, tetapi gadis itu menarik kedua bahunya ke atas, seolah mengirimkan sebuah jawaban jika dia pun tak mengetahui apapun tentangnya.
Lantas wanita bermata kucing itu menoleh dan memasati wajah Elshara lagi, "ada apa? Kita udah gak ada hubungan apapun, karena pekerjaan sudah selesai,"jawab Almira dengan malas.
Elshara membuang napasnya kasar seraya memalingkan wajahnya dari Almira, tak lama wajah kesal itu kembali mempertemukan kedua matanya dengan mata kucing di hadapannya, "urusan pribadi. Dan sahabat lu gak berhak ikut campur,"tegasnya.
Sorot matanya mengembang dengan runcing menusuk pertahanan Almira yang tetap kokoh, dia sama sekali tak tergoyahkan.
Almira mendelik pada Manda, secara bergantian memandangi Elshara. Dia mengembuskan napasnya kesal, lantas dia tersenyum miring, dia menemukan jawabannya. Pikirnya Elshara akan mempertanyakan kedekatannya dengan Royyan, sudah di pastikan jika Elshara sangat penasaran dengan hal itu.
Dan Almira sudah menemukan jawaban untuk hal itu, sangatlah mudah untuk mengelabui Elshara. Satu tahun penuh dia memerankan peran kepalsuan ini, "jika itu tentang kedekatan kak Royyan sama gue,"tunjuknya pada diri sendiri, "gue gak ada waktu. Tanyakan aja sama kak Royyannya langsung, lu kan sahabat de-kat! Harusnya kak Royyan gak keberatan untuk menjawabnya dengan jujur,"tambah Almira dengan tegas.
NEXT ....
__ADS_1