Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 107 : Malam pagelaran fashion dunia.


__ADS_3

Kastil putih milik Rain corporation yang mewah bak istana, kerap kali tergambarkan dalam dunia kartun, sebuah mahakarya pertama yang berhasil Royyan dan perusahaannya taklukkan beberapa tahun ke belakang. Nuansa putihnya sungguh pekat dan memukau, perpaduan warna yang senada membuat bangunan megah itu mengundang decak kagum yang mengunjunginya.


Apakah di dalam kastil itu berwarna putih?


Tentu saja tidak, hanya bagian gerbang dengan pagar yang menjulang tinggi nyaris mencium langit dan bangunan bagian luarnya saja yang memiliki warna suci itu, sedangkan di bagian dalam penuh dengan warna-warna klasik yang mewah, serta benda-benda yang berada di dalam pun memiliki kualitas tinggi.


Lelaki itu merancang bangunan itu dengan matang sampai tak ada celah kecacatan di dalamnya, sampai benda-benda yang menempel di sana pun ikut memeriahkan kemewahan di sana.


Satu persatu orang yang mendapatkan undangan khusus untuk menghadiri acara pagelaran fashion dunia itu mulai memasuki kastil, melewati karpet merah yang telah terbentang panjang dari pintu utama sampai ke gerbang yang telah di jaga ketat, sementara di bagian pintu masuk penjaga utama telah berdiri memeriksa setiap undangan dari para tamu.


Tamu undangan terdiri dari para designer dari seluruh dunia, para model papan atas dari berbagai macam dunia dan tentunya para pengusaha pelaku fashion dan properti ikut serta dalam memeriahkan acara tersebut.


Riuh suara kamera saling bersahutan satu sama lain, terselip deru angin berembus lembut menyelam ke setiap pori-pori setiap insan yang memenuhi kastil tersebut. Di setiap sudut dari tempat itu di penuhi oleh insan yang bekerja untuk keberlangsungan acara tersebut, menunggu semua tamu undangan memasuki kastil megah itu.


Manda dan Almira datang secara bersamaan, mereka keluar dari mobil yang sama, gaun indah mereka bergesekan dengan karpet merah yang baru saja mereka pijaki. Seketika deru kamera bergantian memotret dua gadis cantik itu, gaun berwarna peach dengan bagian dada sedikit terbuka itu sungguh cantik di tubuh Almira.


"Harus elegan,"bisik Almira mengeratkan gigi-giginya, sorot matanya terlempar ke samping sejenak.


"Euum ..."gumam Manda mencengkeram gaun merah merekahnya sedikit menaik seraya merangkai senyuman.


Setelah sesi pemotretan oleh para wartawan dari berbagai macam majalah dan ada pula dari bagian televisi nasional di sana, Almira dan Manda masuk ke dalam kastil itu dan menempatkan dirinya di salah satu kursi yang telah tersedia di sana.


Keduanya terpekur di kursinya masing-masing, bersandar pada kursi yang tengah mereka duduki. Perlahan keduanya mulai nyaman dengan suasana yang ada di sana, dentuman musik dan seruan perbincangan semua orang dengan rekannya masing-masing saling bersahutan.


"Duh pala gue pening,"protes Almira menganjurkan tubuhnya bersandar pada meja yang ada di depannya.


"Kenapa lu? Sakit?"sahut Manda khawatir, memiringkan wajahnya agar melihat sang sahabat dengan jelas.


Sedetik kemudian wajah gadis itu terbelangah, dia menarik kedua tangannya untuk menutupi mulutnya yang terbuka dengan bola mata yang melebar. "Jangan-jangan ... lu hamil Ra,"celetuknya begitu saja.


Membuat gadis yang tengah merasakan pusing karena begitu banyak suara yang masuk ke telinganya itu segera menoleh dan menajamkan tatapannya pada Manda. "Hei!"Almira memukul lengan Manda dengan lembut dengan kerutan di hidungnya, "lu sembarangan kalau ngomong, kenapa gue hamil,"sambung Almira belum menyadari jika dirinya sudah tak lagi perawan.


Sontak Manda tertawa, ingin dia lepaskan tawanya. Sayang sekali lokasinya saat ini tidak memungkinkannya untuk melakukan itu semua, perlahan Manda tarik napasnya ke dalam untuk menyelam kan tawanya kembali ke dalam dirinya.


"Elu lupa apa pura-pura bego, lu kan udah melakukan itu sama lakik lu, jadi gak masalah kalau elu hamil, dodol,"papar Manda yang masih belum bisa untuk berhenti tertawa.


Tubuh Almira mengerjap, angannya terlempar jauh pada ingatan-ingatannya tentang semua kejadian yang dia lakukan bersama suaminya. Sentuhan demi sentuhan itu perlahan menjalari jiwa Almira, seolah sentuhan itu masih melekat di tubuhnya, terlebih permainan sang suami atas bibir kecilnya itu.

__ADS_1


Sontak Almira mengerjap lagi dan seluruh raganya merinding. "Kok gue lupa sih,"lirihnya memegangi kepalanya dengan tatapan kosong, "kan gue udah jadi istri sah, kenapa gue lupa,"sambungnya berbisik, dan tidak ada yang mampu mendengarnya selain dirinya sendiri.


Melihat sahabatnya hanya terdiam seraya memegangi kepalanya dan menjadikan kedua sikutnya sebagai tumpuan, lekas Manda menggegar tubuh Almira dan membuyarkan lamunan gadis itu sehingga mata kucingnya menoleh pada Manda.


Seraya menaikkan kedua alisnya ke atas Manda menyandarkan pinggangnya pada kursi yang dia duduki. "Mikir apaan lu? Mukanya tegang banget,"tanya Manda dengan seringainya mengintimidasi.


"Senyum lu ngapa begitu, takut gue,"papar Almira saat melihat keanehan dari senyuman Manda.


Lantas Manda menggemakan tawanya seraya bertepuk tangan dengan netra yang berkelintaran ke sekitarnya. "Apa, lu kenapa peduli banget sama tatapan gue,"elak Manda.


Almira membawa dirinya untuk terduduk dengan tegak, menyipitkan matanya untuk menerawang isi pikiran yang sedang memenuhi sang sahabat, tetapi gadis itu tak mampu untuk menembusnya, lantas dia mencebik kesal.


"Kayaknya elu harus cepetan nikah deh, otak lu lebih ekstrim di banding gue, sumpah dah,"cetus Almira.


"Dih ngapa dah, entar aja ah ... Lagian gue kan belum punya cowok, nikah sama siapa gue,"tepis manda memutar tubuhnya untuk mengarah ke depan.


"Ajun itu cowok, Van juga cowok, lu mau cowok yang kayak gimana lagi?"pungkas Almira mengikuti apa yang di lakukan oleh Manda tadi.


"Heh!"protes Manda memutar tubuhnya untuk menghadap ke samping lagi seraya menerjunkan pukulan pelan di lengan Almira.


Almira tersenyum puas telah berhasil menggoda sahabatnya. "Ya bener kan?! Kenapa lu bilang cowoknya gak ada,"sahut Almira tak mau kalah.


"Euum, gitu ..."Almira mengangguk-angguk.


Almira memiringkan tubuhnya lagi untuk menghadap pada sahabatnya yang ada di samping. "Kalau sama Ajun nyaman gak?"celetuk Almira.


Manda fokus ke depan sehingga dia tidak menyadari pertanyaan apa yang dilontarkan oleh sahabatnya itu dan dia menjawabnya secara asal. "Iya."


"Hah?! Serius lo?"seru Almira dengan bola matanya yang melebar.


Almira menarik bahu Manda untuk menghadap padanya. "Lu suka sama Ajun?"tanyanya lagi untuk memastikan.


Seketika wajah Manda mengerut sembari dia mengenyakkan tubuhnya ke belakang. "Pertanyaan apa sih itu, lu ngaco,"kilah Manda, bola matanya berputar tak karuan.


"Katanya tadi lu nyaman sama Ajun, berarti lu suka dong,"cetusnya kemudian menatapi Manda dengan serius.


Pipi kiri Manda menaik. "Heh! Kapan gue bilang begitu, telinga lu rusak kali."

__ADS_1


"Barusan."


"Enggah ih ..."tepis Manda yang kemudian warna merah muda menyembul di permukaan.


Melihat sahabatnya terlihat salah tingkah, Almira tertawa puas. Hanya melihat seperti itu saja Almira mengetahui jika sahabatnya itu sedang jatuh hati, warna merah di wajahnya sudah memberikan jawaban tentang pertanyaannya.


"Kalau lu suka gak papa kali Man, Ajun masih jomblo juga kan, jadi lu gak salah jatuh hati sama dia,"tutur Almira, nada suaranya tiba-tiba saja bulat.


Mendengar hal itu segera Manda menolehkan wajahnya pada sahabatnya, deru sendu menyeruak dengan penuh ke wajah gadis berambut sebahu itu. "Apa gue berhak buat jatuh cinta Ra?"tanyanya tiba-tiba saja.


"Kenapa lu nanya begitu? Semua manusia berhak untuk jatuh cinta, tuhan mengizinkan manusia untuk jatuh cinta, tapi jangan memaksa jika memang dia gak milih elu,"papar Almira menatapi Manda dengan sendu.


"Lu tahu kan keluarga gue kayak gimana?"lirih Manda.


Wajah gadis itu benar-benar kelam, tidak seperti biasanya yang selalu ceria. Dia mengingat kondisi keluarganya yang tidak baik-baik saja. Manda lahir dari seorang ibu yang tangguh dan kini memiliki beberapa kedai ayam goreng di seluruh Jakarta, tetapi dia tidak di takdirkan untuk menemui ayah kandungnya.


Ayah kandung Manda adalah seorang pemilik agensi model yang berasal dari negara yang sedang dia pijaki sekarang, ya! Itu adalah negara prancis, hanya saja Ibu dari Manda hanya dinikahi dan mengandung, lalu di tinggalkan.


"Bapak gue sampai sekarang juga gak tahu masih hidup atau udah mati, lelaki itu bukan manusia, terlalu terhormat untuk mengatakannya sebagai manusia, kalau ibu gak ketemu sama lelaki baik seperti ayah sekarang, mungkin kehidupan kita gak baik, dan gue beruntung ada lo Ra, dan gue bisa punya pekerjaan bagus kayak sekarang,"lirih Manda menahan sesak di dadanya.


Luka sayatan itu masih saja menyakitinya, gadis itu tidak pernah menemui sang ayah, tetapi kebenciannya sudah menjalar ke seluruh raga dan jiwanya. "Gua harap dia gak akan balik lagi ke kehidupan ibu,"pungkas Manda kemudian melempar sorot matanya ke bawah.


Almira merasakan seberapa dalam luka itu sehingga rasa sesak yang di rasakan Manda menyebar ke dada Almira, lekas gadis itu berdiri dan memeluk Manda, menyandarkan kepala Manda bersandar pada pelukannya.


"Jadi alasan lu gak mau memulai cinta karena ini?"tanya Almira lirih.


Gadis bermata almond itu tak mampu menjawabnya, dia berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya lebih deras dari sekarang, sangat di sayangkan riasan yang sudah sangat sempurna itu terhapus oleh air mata kepedihan oleh lelaki yang di sebut dengan ayah kandung itu.


Manda menghela napasnya dengan dalam lalu dia buang dengan kasar, lalu dia tersenyum dan menarik Almira untuk kembali duduk di kursinya. "Gue gak marah sama percintaan kok, cuman gue belum mau mengalami apa yang di rasakan ibu, ya gue akui kalau gue ada perasaan sama Ajun, tapi gue gak mau gegabah dengan perasaan ini,"terang Manda memasang senyumannya lagi.


"Oke ... Gue pikir elu udah melupakan bokap lu itu, habisnya lu gak pernah cerita-cerita lagi,"ucap Almira.


"Kita sama-sama sibuk dan elu udah punya suami, mana ada waktu buat curcol begitu,"sahut Manda.


Almira menyeringai. "Iya ya, kita jarang banget jalan bareng, sibuk banget sama kehidupan masing-masing."


"Itulah kehidupan, waktu itu berputar, hari ini dan hari esok itu berbeda."

__ADS_1


Perbincangan kedua gadis itu terus berlanjut sampai acara di adakan dengan meriah, sampai saatnya pesta di mulai setelah pembukaan dan juga berbagai macam penghargaan dan peragaan busana para designer dunia.


NEXT ....


__ADS_2