
"Pasien nona dokter itu sudah sehat sekarang? Terakhir kan dia melakukan operasi sama nona dokter kan?"tanyanya seperti yang sudah mengenalnya lama.
"Sepertinya baik-baik aja, dia itu sebenarnya sahabat saya saat di SMA, saat itu saya tidak sengaja menemukannya di tepi pantai saat saya berlibur setelah kelulusan,"ucapnya lirih.
"Beruntungnya nona menemukannya saat itu."
"Kamu juga kan membantuku untuk mengurusnya, merawatnya selama kurang lebih tiga tahun membuat saya tidak bebas, tapi beruntung lah semuanya berakhir baik-baik aja,"jelasnya lagi sampai dia berhenti di sebuah dreamchatcher berwarna putih dengan perpaduan warna biru pudar dan warna kulit, dan tentunya dengan motif yang hanya akan di temukan di Bali. "Bungkuskan ini, saya ingin merangkai mimpi lagi dengannya,"lanjutnya dengan senyuman manisnya.
Penjaga toko itu dengan senang hati mengambilnya dan membawanya pergi untuk di bungkus menggunakan kantong yang terbuat dari kertas berbahan tebal dan juga mengkilap dengan motif nama tokonya di bagian luar. Dan Adrian di belakang terkekeh kecil, nyaris tidak terdengar.
Masih ada yang mempercayai jika benda itu bisa membantu mengabulkan mimpi, padahal itu hanya sebuah benda ciptaan manusia, di dalamnya tidak lah sepesial, kecuali motif cantik itu.
Sementara di tempat lain, tepatnya di tepi pantai Manda dan Van baru saja menjatuhkan bokongnya ke atas banana boat itu bersama-sama, Van menempatkan dirinya tepat di belakang Manda.
Almira sendiri menuruti permintaan sang suami tadi untuk duduk di belakang, tentunya di belakang Van, hanya saja dia tidak kunjung naik ke atasnya karena tubuhnya yang mungil membuatnya kesulitan.
Royyan yang baru mematikan panggilan teleponnya, gegas berayun mendekati banana boat yang sudah tertaut dengan speed boat di depannya dan siap meluncur ke lautan, tiba di sana Royyan menggenggam pinggang sang istri dan membuat Almira mengerjap, dia tergemap dengan perlakuan Royyan.
"Aku bantu,"lirih Royyan, lalu dia angkat tubuh Almira tanpa merasa kesulitan apalagi mengeluh jika tubuh Almira berat.
Dengan mudah dia luncurkan tubuh Almira ke atas banana boat itu, setelahnya barulah dia yang melompat menaiki banana boat tersebut. Dia tarik sang istri untuk terduduk dengan benar, bahkan dia membenarkan kaki sang istri agar menggantung dengan benar.
"Pegangan yang benar, kalau kamu jatuh sebelum ke tengah kan gak lucu,"lirihnya lagi dengan nada meledek.
"Ish! Awas ya kamu,"balas Almira mendelik kesal.
"Bukannya kamu yang akan kalah kan kalau aku udah di atas ...."timpal Royyan tersenyum miring.
Degh!
Royyan tidak mengatakannya dengan gamblang, tetapi mampu mendebarkan jantung Almira dengan getaran yang sangat hebat, membuat seluruh raganya merinding, seperti ada yang menjalar ke seluruh tubuhnya sehingga terasa geli. Dia mengatupkan bibirnya seraya memejamkan matanya, Royyan yang melihatnya tertunduk menyembunyikan senyumannya.
Sungguh dia bahagia melihat sang istri menjadi salah tingkah hanya karena Royyan mengatakan secuil perkataan itu, dia tidak berhenti di situ, dia tarik tubuhnya mendekati Almira dan menjatuhkan dagunya di atas pundak Almira, dan wanita bermata kucing itu membulatkan matanya seraya menoleh kecil ke area dimana bahunya di jadikan sandaran oleh Royyan.
"Kamu kalau jatuh nanti pura-pura gak bisa berenang,"bisik Royyan sampai embusan napasnya terasa hangat di telinga Almira.
"Kan ada pelampung, jadi aku gak akan tenggelam,"balas Almira dengan nada suara yang amat pelan.
Pria itu menyeringai sehingga deru senyumannya terdengar jelas seraya dia menggerakkan kedua tangannya bertengger di depan perut Almira, gadis itu mematung dan menegakkan punggungnya dengan bola mata yang berkelana dengan panik ke sekitarnya. Hatinya begitu khawatir jika ada yang menyadari perlakuan aneh Royyan padanya.
"Ajun berbohong pada El kalau aku duduk di belakang untuk menjaga kamu karena kamu gak bisa berenang, padahal kamu perenang yang handal."
Almira sontak terkekeh kecil, "bisa aja temen kamu itu ngelesnya."
"Ajun itu rajanya ngeles."
Obrolan kecil dan berbisik itu membuat keduanya tidak menyadari jika banana boat telah berjalan beberapa menit yang lalu, yang awalnya berjalan perlahan, semakin lama speed boat di depan membawa banana boat dengan kecepatan yang perlahan menjadi meninggi. Mungkin oranglain tidak bisa menyadari kedekatan Almira dan Royyan bukanlah hal yang harus di perhatikan, tetapi berbeda dengan Van yang mendengar dengan samar-samar perbincangan suami-istri itu di belakang.
__ADS_1
Tentunya melambungkan berbagai macam pertanyaan di benaknya, hanya saja dia simpan di dalam batinnya, dia tak ingin ikut campur dengan apapun yang tidak melibatkan dirinya.
Nona Ra dan Pak Royyan kayaknya bukan hanya sepupuan, mereka pasti menyembunyikan sesuatu, apa jangan-jangan istri pak Royyan adalah nona Ra, kedekatan sepupu seperti itu rasanya terlalu janggal, tapi apapun itu bukan urusan lu Van. Batin Van sibuk menerka-nerka, tetapi dengan cepat dia tepis semua terkaannya.
Speed boat semakin mengencang, berputar-putar di tengah lautan sampai banana boat yang di naiki oleh enam orang itu miring dan mencelupkan kaki sebelah kiri dari keenam insan yang menaiki banana boat berwarna biru itu. Mereka secara serempak berteriak, menyerukan sebuah ungkapan bahagia.
"Woaaaah ...."seruan itu terus berulang kali setiap banana boat itu menepi dan hampir terguling.
Namun, banana boat itu nampak kokoh, berulang kali dia miring dan nyaris terguling, tetapi berulang kali pula ia bertahan dan kembali seperti semula. Itu di karenakan postur tubuh semuanya seimbang, tidak ada yang memiliki berat badan yang melampaui kapasitas ataupun lebih kecil dari seharusnya.
Berulang kali air laut menyembur ke-enamnya sampai kuyup, tetapi mereka sangat menikmatinya, bertarung dengan angin yang berhembus dengan kuat sampai tubuh mereka berulang kali terhenyak ke belakang di tambah debur ombak yang tak mau kalah dengan angin yang berkesinambungan menderanya.
"Woah ha ha ha ha ...."seruan itu kembali menggema dengan iringan tawa yang melambung menembus para pawana yang membawa udara ke atas menemui para awan yang tengah berjalan santai di langit.
Begitupun dengan Elshara dan Ajun di depan yang tak kalah serunya, Ajun adalah sosok yang mudah berbaur dengan siapapun, satu kelemahannya adalah dia belum menemukan wanita yang bisa membuatnya benar-benar jatuh hati, dia bukan mati rasa hanya saja dia lebih mementingkan kelangsungan hatinya untuk tidak terluka.
Speed boat itu mendadak berjalan lamban, tetapi itu hanya bertahan selama beberapa menit saja, karena setelahnya kendaraan putih itu melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi yang kemudian tiba-tiba saja ia membelok dan membuat banana boat kehilangan kendali dan beruntungnya semua yang ada di atasnya hanya berteriak karena terkejut.
Namun, tidak dengan Almira yang benar-benar lepas kendali sampai akhirnya dia meluncur bebas terlempar ke laut lepas itu, dan tanpa sengaja pelampungnya lepas, karena dia tidak memakai pelampung itu dengan baik, saat Royyan mengenakannya tadi dia sempat melepaskan beberapa perekatnya karena dia merasa engap.
"Aaahhhh ...."teriak Almira yang segera tenggelam ke dalam lautan.
Membuat semua yang ada di atas banana boat melempar pandangannya ke arah dimana Almira tenggelam dan pelampungnya terlepas dan mengambang di atas lautan, mereka nampak panik, dada mereka bergemuruh, bahkan mereka mematung dengan dahi yang berkerut. Tetapi tidak dengan Manda, dia berkerut heran, harusnya Almira segera menyembul keluar dari air, karena dia tahu betapa hebat sahabatnya itu berenang.
Tanpa tunggu lama Royyan segera melepas pelampung yang menempel di tubuhnya dan melemparnya begitu saja dan pria bertubuh kekar itu segera masuk ke dalam air yang menyebarkan warna biru yang menyegarkan, terlebih sinar matahari di sana sedang terik-teriknya.
"Udah lu tenang aja, Royyan itu jago berenang,"balas Ajun menahan Elshara untuk tidak bergerak.
Ra kan jago berenang, kenapa dia gak langsung naik ke atas sih, ada yang aneh nih, kayaknya mereka sengaja deh, suami-istri ini ada-ada aja sih kelakuannya. Batin Manda menggegar dengan heran.
Lantas Manda menoleh pada Ajun yang sedang menoleh ke arah Royyan dan Almira tenggelam, dan kebetulan speed boat yang membawanya pun ikut berhenti karena mendengar teriakan Almira, lekas dua orang yang menjadi pemandu itu berlari ke belakang speed boat dan memasati air laut yang tengah tenang dan ombak mendadak lenyap.
"Apa semuanya baik-baik aja? Kita pakai alat pernapasan dulu,"tawar salah satu pemandu itu.
Ajun membeliak, pikirnya Royyan sudah melakukan sesuatu pada Almira, jika mereka turun ke air maka rencana Royyan akan hancur, segera dia menimpali perkataan pemandu itu, "tidak usah! Sahabat saya sudah turun untuk menolongnya, kita tunggu aja. Royyan itu jago berenang dia bisa bertahan di dalam air lebih dari lima belas menit, tenang aja."
"Ah begitu, baiklah."
Satu meter dari permukaan lautan, seperti perkiraan Ajun di atas, Royyan sudah mengarik pinggang Almira, mereka saling melontarkan senyuman, perlahan kedua tangan Almira melingkar di leher sang suami seraya dia mengayuh kakinya di bawah agar tubuhnya tetap mengambang.
Dalam satu tarikan napas, Royyan melekatkan bibirnya dengan bibir manis sang istri, setiap kali dia menyentuh bibir Almira rasa manis dengan cepat meresapi seluruh raganya sampai bergairah tak terkendali.
Dengan di selimuti air lautan yang asin dan terasa hangat karena matahari yang menyorot dengan terik, sentuhan itu semakin lama menjadi lebih melekat dengan tekanan yang lebih kuat. Pola pernapasan mereka sangat baik, sehingga mereka bisa menikmati sentuhan intim pada bibir mereka dengan mudah tanpa takut mereka akan kehabisan napas di dalam dekapan laut.
Royyan menghentikan permainannya tanpa ********** seperti yang dia lakukan biasanya, jika menikmati permainannya di atas ranjang. Hanya memerlukan waktu tiga menit untuk menikmati sentuhan itu, lalu Almira memosisikan dirinya menggantung di punggung Royyan, seolah-olah dia kehabisan napas dan benar-benar tenggelam.
Pria itu dengan cepat mengayuh kakinya, dan perlahan tubuhnya naik ke atas dan muncul di permukaan, dia menaikkan tubuh Almira kembali ke atas banana boat seraya dia mengatur napasnya dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Ra ... are you ok?"tanya Manda panik, dia sempat merasa panik karena Almira selama lima menit tidak kunjung ke permukaan.
Almira mengangguk seraya mengatur pola napasnya kembali seperti semula dengan satu tangan bergerak ke belakang dan menyembul di sisi yang lain dan membidikkan ibu jarinya, Manda yang melihatnya dengan cepat menyadari apa yang di maksud oleh Almira, terlebih melihat wajah putih Almira terlihat menyemukan warna merah muda tersipu.
Seketika Manda menyeringai kecil dan mengangguk lembut, lalu dia kembali menatap lurus ke depan, dan saat itu Ajun menoleh pada Manda melontarkan senyuman kecil lalu menundukkan wajahnya, melihat hal itu Manda berkerut dan mendorong tubuh Ajun dengan lembut.
Sialan! Si Ajun kagak ngasih tahu gue, percuma dong gue panik tadi, nih pasangan suami-istri kompak banget, ada-ada aja kelakuannya.
"Ternyata bener apa yang elu bilang Jun,"seru Elshara yang dengan mudah mempercayainya.
"Ya iya, gua gak ada waktu untuk berbohong sama elu,"sahut Ajun dengan suara bergetar, dia tidak bisa menahan suaranya, sesungguhnya dia sangat ingin tertawa dengan lepas akibat ulah Royyan dan Almira.
Di belakang, Royyan telah terduduk dengan baik seraya satu tangannya menongkrong di atas paha mulus Almira, dari depan Elshara melihatnya dengan samar-samar, dan dia sempat berkerut kesal.
Namun, dia segera menyadari jika hal itu di lakukan untuk menjaga Almira dengan selamat, lantas dia mengembuskan napasnya dengan tenang.
Duh! Mati berdiri gue lama-lama, eh si Royyan udah nonton belum ya, kan udah gue kirimin link-nya, mampus! Gue kayak yang udah berpengalaman aja padahal jatuh cinta aja masih susah.
Gema batin Ajun yang tiba-tiba saja mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat dia masih di rumah pribadinya yang berada di tengah-tengah kota, dia sudah mengirimkan beberapa link situs legal yang menyediakan tontonan dewasa untuk di santap Royyan, hanya saja saat itu Royyan tak kunjung membuka pesannya.
Setelah memastikan semua penumpang banana boat telah terperenyuk dengan nyaman lagi, kedua pemandu itu kembali ke kemudinya dan melajukan speed boat lagi dengan kecepatan normal, membawa banana boat kembali ke tepi laut.
"Aku belum puas,"lirih Royyan di belakang.
Mendengar hal itu seketika warna merah muda dengan aura panasnya menyelar ke seluruh wajah Almira, seraya menggerakkan satu tangannya ke belakang dan memukul pinggang sang suami yang kekar.
"Berisik! Bisa mampus kita kalau lama-lama di bawah air."
Royyan terkekeh bisu dan membawa dirinya terhenyak ke belakang, dia tak lagi melekatkan tubuhnya dengan Almira. Dan gadis mungil itu sudah kembali mengatur wajahnya dengan datar, seolah tak terjadi apa-apa.
Tiba di tepi, semuanya serempak turun dari banana boat, perlahan semuanya menjauh dari air lautan.
Kemudian tiba-tiba Royyan berlari menjauh dari semuanya, membuat Ajun berkerut heran, apalagi kali ini yang ingin di lakukan sahabatnya itu. Lantas dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Royyan mau kemana itu?"tanya Elshara yang tidak rela ditinggalkan begitu saja oleh Royyan.
"Mana gue tahu lah,"sahutnya seraya melepaskan pelampung dari tubuhnya.
"Iih kok gak tahu sih, gimana sih lo jadi sahabatnya,"protes Elshara kesal sampai dia mendorong tubuh Ajun dengan lembut.
"Lu ini dua tahun lebih kenal sama Royyan, masa lu gak tahu kelakuan tuh anak kayak gimana."
"Ya wajar gue gak tahu banyak, lu yang udah berteman sama Royyan dari SMP masa gak tahu sih."
"Kita gak akan mengenal sifat manusia dengan baik, mau selama apapun lo kenal sama orang itu, tetep gak akan bisa mengenalinya dengan baik. Udah ah lu berisik tahu gak,"beber Ajun kesal, dia mendelik dan berlalu melangkah ke dekat dimana pelampung itu harus kembali.
NEXT ....
__ADS_1