
Royyan menghantam setiap bidang yang terpijak oleh langkahnya, deru kemarahan bersibak dengan gemuruh mendekap jiwa pria bermata kecil itu. Dia tak akan memaafkan siapapun yang telah membuat istrinya atau orang-orang tersayangnya tersakiti, dia akan melahap atau bahkan mengunyah orang itu hidup-hidup tanpa terkecuali, termasuk temannya sendiri.
Dia tarik dasi yang bertengger di lehernya dengan rapi lalu dia lempar dengan sembarangan di lantai rumah sakit, langkahnya masih terus menggebu-gebu sampai tiba dimana mobilnya terparkir, Royyan melepaskan jas dari tubuhnya dan dia lempar ke dalam mobil bersamaan dengan dirinya yang terbenam ke dalam kursi kemudi.
Laju mobil itu layaknya angin yang bergerak kesana-kemari tanpa diketahui oleh penghuni muka bumi ini, ia melesat begitu saja melewati berbagai macam bangunan tanpa memerhatikan keadaan jalanan yang tengah ramai, Royyan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, bahkan para pebalap sekalipun tak lagi mampu melawan ketangkasan seorang Royyan.
Siapapun itu, gue akan habisi sampai jiwanya mati, tanpa terkecuali, jika itu lu El, gua akan ratakan keluarga lu sampai melebur bersama tanah, jika lu Dirta! Lu akan mengalami nasib paling buruk dalam kehidupan elu!
"Aaargh ...." Royyan memekik hingga kaca mobilnya bergetar dan urat-urat di dahinya mengeras memecahkan segala zat yang berkumpul di sekitarnya---cengkeramannya pada kemudi pun ikut menderas.
Dalam sekejap dan waktu yang singkat, Royyan memarkirkan mobil hitamnya di parkiran sebuah restoran mewah milik keluarga Dirta. Ya! Tujuan utamanya adalah Dirta, walau Royyan tidak mengetahui siapa yang menabrak sang istri, tetapi bayangan hitam yang selama ini menghantui Royyan adalah jeratan Dirta.
Langkah kaki pria bertubuh penuh otot itu begitu menggelegak, dia masuk ke dalam restoran itu dalam keadaan kacau, tiga kancing kemejanya terlepas dari lubangnya dan netranya terlempar pada setiap orang yang ada di dalam restoran tersebut.
Satu pelayan menghampiri Royyan dengan sopan, walau penampilannya sangat kacau, pelayan di sana masih memperlakukan Royyan dengan baik. "Mau pesan kursi pak?"tanya pelayan pria itu dengan hati-hati.
Jauh dalam lumbung batin pelayan pria itu ada sebuah ketakutan yang menghunjami hatinya, tetapi dia tidak bisa mengabaikan siapapun yang datang ke restoran tersebut---Royyan mendelik kasar pada pelayan tersebut.
"Di mana Dirta?"tanya Royyan dengan gigi yang mengerat.
"A-ada tuan, sedang di dapur,"sahut pelayan tersebut terbata-bata.
Tanpa aba-aba dan tanpa meminta untuk dipertemukan dengannya melalui pelayan tersebut, langkah pria berkaki panjang itu berkobar-kobar melahap keramik-keramik putih di sana dengan penuh kemarahan. Gejolak jiwa yang menggerogoti tatapannya berkesinambungan di sekitarnya, dia terus melangkah menuju dapur utama restoran tersebut, mendobrak pintu dengan kasar.
Semua penghuni dapur dengan cepat menoleh ke arah yang sama, wajah semua orang yang ada di sana tampak tegang sambil memegangi alat masak yang sedang mereka gunakan, terutama Dirta yang secara kontan melebarkan bola matanya dengan debur jantung yang berhamburan tak karuan.
"Royyan! Lu apa-apaan sih,"protes Dirta saat melihat pintu dapur restoran keluarganya mengalami kerusakan.
Ada lubang kecil di pintu itu. Lekas Dirta melepaskan celemeknya beserta topi putihnya dan dia letakkan di atas meja kosong yang ada di dekat area dapur. Dia menghadap pada Royyan merekam jejak kemarahan sahabatnya itu dengan sorot matanya yang memudar.
"Ikut gue!"rajuk Royyan mematri tatapan Dirta.
"Gue lagi kerja,"tepis Dirta berusaha untuk menghindar, dia tahu apa yang akan dibicarakan Royyan padanya.
"Gak peduli! Lu ikut gue sekarang atau gue obrak-abrik restoran ini sampai tutup dan rata dengan tanah,"ancam Royyan dengan tatapan getirnya.
Degh!
Kata-kata yang sangat dihindari oleh semua orang dari mulut Royyan, jika Royyan sudah berucap maka tidak akan lama lagi perkataan itu akan menjelma menjadi sebuah kenyataan pahit, Dirta tidak ingin kedua orangtuanya merasakan kepahitan karena ulahnya.
Dengan bola mata yang melebar, pria berambut wavy bergelombang itu menelan ludahnya secara kasar. "Oke."
Kedua pria itu keluar dari restoran, langkah keduanya mengarah ke belakang restoran tersebut, sebuah taman kecil dengan hamparan hijau yang memukau, di antara ribuan hijau itu ada beberapa tanaman berbunga dengan warna-warna yang cantik.
Bunga-bunga itu nampak merunduk takut, karena sebentar lagi mereka akan kehilangan keindahannya. Mereka tahu kala matahari menarik awan-awannya untuk berkumpul bersama menutupi sinar mentarinya yang galak, tetapi sinarnya kali ini memudar.
"Gue tahu, permintaan maaf lu saat itu hanya omong kosong yang menjijikan,"celetuk Royyan menajamkan tatapannya sambil dia berkacak pinggang dengan kokoh di hadapan Dirta.
Dahi lelaki itu mengerut dalam. Napasnya tercekal, dan sesak di dadanya semakin berkumpul menjadi balok besar yang memangkas setiap aliran napasnya. "Maksud lo apa sih Yan?"
"Gak usah mangkir, atau lu mau beneran gue ratakan dengan tanah." Sorot matanya semakin menghunus Dirta di depan.
"Ya gue beneran gak tahu, ada apa emangnya?"tanya Dirta yang sebetulnya dia memang tidak mengetahui apapun.
Tak segan-segan Royyan mencengkeram kerah baju Dirta dengan deru napas yang terlempar secara kasar keluar, tatapannya mengeras dan warna merah dengan sigap menguasai bola matanya.
__ADS_1
"Katakan dengan jujur." Giginya mengerat, "siapa yang udah menyuruh orang bodoh itu mencelakai istri gue, KATAKAN! DIRTA!" Suara Royyan semakin lama semakin meninggi membuat Dirta bergetar ketakutan.
Sebenarnya inilah yang ditakutkan oleh Dirta, kala Royyan dipengaruhi emosi maka akal sehat lelaki itu dengan sekejap mata akan terbenam entah di bagian mana.
"Untuk apa lu minta maaf kalau lu lakuin lagi bodoh!"hardik Royyan dengan getir, lalu mendorong tubuh Dirta sampai pria itu terjatuh ke bawah. "Cara lu murahan! Denger dan ingat ini,"tunjuk Royyan berkobar-kobar seakan telunjuknya siap menghunus jiwa Dirta kapanpun itu, "sampai lu melakukan hal itu, siap-siap! Lu dan keluarga lu akan HANCUR! Melebur dengan tanah atau gue gak akan segan-segan kubur seluruh keluarga lu hidup-hidup!" Ancaman Royyan tak lagi bernada rendah.
Ia telah menjelma menjadi ribuan duri atau bahkan pedang bermata tajam---dengan sigap Dirta kembali bangkit dan menegakkan tubuhnya berdiri di depan Royyan.
"Lu kenapa sih, gue gak paham, maksud lo apa? Kenapa lu tiba-tiba ngancam gue,"sanggah Dirta nampak limpung.
Royyan mendengkus, lalu dia bertepuk tangan dengan kasar dan tatapan yang mendelik dengan tajam. "Wow! Akting yang sangat alami, lu pura-pura tolol setelah lu mencelakai istri gua!"pekik Royyan mendekati Dirta lagi.
"APA?! Gue gak pernah melakukan itu semua, gua udah bilang, gua gak akan ganggu kehidupan lo lagi karena El udah balik, tujuan gue ganggu lo karena gua kehilangan El selamanya, lantas kenapa gue harus melakukan itu lagi,"terang Dirta berapi-api.
"BULSHIT! Penjahat seperti elu,"tunjuk Royyan tepat di tulang hidung Dirta, "gak akan pernah berhenti untuk menyakiti orang lain,"sambung Royyan.
"Sumpah demi apapun, gue gak melakukan itu semua." Dirta masih berusaha menyangkal praduga Royyan.
"Kalau bukan elu siapa?! Siapa Hah?"
"Mana gua tahu, mereka adalah pembunuh bayaran, bisa siapa saja yang membayar mereka."
Dada yang bergemuruh mendadak senyap. Lelaki itu berkacak pinggang menghadap ke arah lain, melemparkan tatapannya jauh ke langit, merekam jejak para gegana yang bergerak lamban bersama anginnya.
"Di mana gue bisa menemukan mereka,"tanya Royyan tegas.
"Euum ..." Dirta hanya bergumam.
Sesungguhnya dia keberatan untuk memberitahu di mana lokasi para pembunuh bayaran itu berteduh, tetapi pria bertubuh tegap itu tidak bisa mangkir dari Royyan, jika tidak maka semua usahanya selama ini akan dengan mudah melebur dan dia tidak mendapatkan apapun.
Dirta mengetahui dengan benar, amarah Royyan tidak akan pernah berhenti sampai dia menghabisi semuanya sampai dia merasa lega.
Ah ... Entah hanya seorang teman atau bahkan buruknya adalah mantan teman. Jiwa Royyan tak lagi mau menganggap Dirta sebagai bagian dari garis persahabatannya, kesakitan yang selama ini ditelan olehnya disebabkan oleh pria di belakangnya.
"Gua akan antar elu ke sana,"pungkas Dirta ragu-ragu.
"Bagus!"
Ah Sialan! Kenapa harus melakukan kejahatan yang nyata, kenapa gak hanya ancaman aja, Royyan tidak akan pernah membiarkan orang itu hidup-hidup. Ternyata kamu tidak pernah memahami Royyan itu seperti apa, kenapa harus seperti ini? Semuanya menjadi sangat rumit.
Batin Dirta menggerutu tak ada habisnya. Paras tampannya berubah menjadi sangat menyedihkan---menggigit bibirnya hingga merah menahan segala hal yang dia ketahui. Tak mengapa jika dirinya yang menggenggam buah simalakama itu, biarkan belati kemarahan Royyan menikamnya tanpa henti, biarkan duri-duri itu dia genggam sendiri.
...***...
Royyan dan Dirta tiba di gedung tua dengan pencahayaan yang memudar sedang langit mendekap malam dengan kegelapan yang mencekam, pria dengan sorot matanya yang tajam itu mengedarkan tatapannya ke sekeliling gedung.
Netra kecilnya hanya mampu merekam benda-benda tua yang tampak seperti sampah memenuhi area luar gedung tersebut. Sebelum melangkah masuk ke dalam gedung itu, Royyan menoleh pada Dirta yang ada di belakangnya.
"Hape lo mana?"tanya Royyan membuat netra Dirta membuncah bersamaan dengan degup jantungnya yang berdebaran layaknya para kuda berhamburan.
"Buat apan?"sahut Dirta tidak tenang, lekas dia lekatkan genggamannya pada ponselnya itu, "gue udah tunjukkan tempat mereka, kenapa lo masih minta hal lain,"sambung Dirta semakin tidak tenang.
"CEPET!"gertak Royyan.
Mendengar suara Royyan melanting, terpaksa Dirta memberikan ponselnya ke tangan Royyan yang sudah terjulur, seketika ponsel hitam keluaran brand ternama itu berpindah ke tangan Royyan, segera pria berambut mullet itu memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Jalan!"titahnya lagi.
Kali ini Dirta tidak lagi memangkas perkataan Royyan ataupun mempertanyakan mengapa Royyan melakukan hal itu padanya, langkahnya begitu ragu-ragu melangkah ke dalam, memasuki ruangan kosong nan kotor, di dalam banyak sekali benda-benda tidak berguna yang nampak telah usang dan tak layak pakai lagi.
Hanya beberapa kursi dan meja kayu yang masih terlihat baik dan bisa digunakan walau tidak terlalu baik. Berayun ke dalam dengan langkah tegasnya, Royyan menyisir setiap sudut tempat tidak layak pakai itu dan mendapati lima orang pria berbadan kekar dan dua orang di antaranya adalah orang suruhan Royyan yang berhasil menyelinap masuk ke dalam komplotan mengerikan ini.
"Siapa lu!"teriak pria berbadan besar yang berhasil membuat Almira terkapar di rumah sakit.
Tak ada jawaban dari Royyan, apalagi Dirta. Pria berbadan tegap yang berdiri di depan Royyan tak bisa mengatakan apapun di sana, bibirnya kelu tak berdaya di hadapan semuanya, terutama di hadapan Royyan.
Royyan melempar embusannya keluar dengan kasar, lantas dia mendengkus secara kasar, tepat di hadapan lelaki bertubuh besar itu. Perlahan Royyan menyingkirkan tubuh Dirta secara kasar dari hadapannya, sembari menyingsingkan kedua lengan kemejanya, dia mematri sorot mata lelaki yang berada di depannya.
"Penjahat memang pantas di tempat sampah seperti ini,"celetuk Royyan mengangkat dagunya lebih memacak.
"Maksud lo apa?! Datang-datang kagak jelas lu."
Tanpa aba-aba, Royyan menghantam wajah lelaki itu dengan pukulan kasarnya, sampai pria yang nampaknya lebih tua darinya itu segera terpelanting dan tersungkur ke bawah, menyisakan memar yang mengeluarkan beberapa percikan darah di sudut bibirnya.
"WOI! SIALAN!"pekik lelaki yang tengah tersungkur itu dengan tatapan nanar.
Dua di antara keempat lelaki berbadan besar itu mendekat. "Lu salah datang ke kandang orang lain, lu yang akan mampus di sini,"ancam lelaki lain yang kemudian meludah ke arah kirinya.
Tak ada ketakutan dari paras tampan yang dimiliki oleh Royyan, lekas dia tarik kedua tangannya untuk menggantung di pinggangnya, lalu dia gerakkan lidahnya memandu kekesalannya untuk bertahan agar dia bisa menghabisi ketiga pria berbadan besar itu dengan kedua tangannya sendiri.
Kemudian dia tekuk lehernya ke kiri dan kanannya, mengeratkan kepalan tangannya melayang di udara, mengambil kuda-kuda kokoh dan lagi-lagi Royyan tak memerlukan perintah dari siapapun untuk menghantam perut besar milik salah satu lelaki itu, dalam sekejap tubuh pria itu terpental jauh hingga membentur meja yang semula terlihat baik dan kini telah berubah menjadi serpihan sampah.
"AAaarrgh ...."teriak pria yang tak berbeda jauh dengan kawan-kawannya, dia terkapar langsung tak berdaya, terdiam merasakan kepalanya yang berputar-putar bak kincir angin yang terus bergerak tanpa hentinya.
Meja itu menjelma menjadi kayu-kayu kecil yang tak mungkin bisa di selamatkan lagi, bahkan kedua orang suruhan Royyan terbelalak dengan tindakan bos-nya sesungguhnya, ini kali pertama mereka melihat keganasan amarah seorang Royyan Alzaro.
"Mari bermain, seperti elu mempermainkan kehidupan istri gue,"papar Royyan melangkah ke dekat serpihan meja itu.
Mengambil serpihan meja yang memiliki bentuk paling besar, langkah gontainya memburu setiap benda yang ada di sana seraya menyeret serpihan meja itu dan menghadapi kedua pria berbadan besar yang masih bertahan, sedangkan Dirta, dia mematung di sudut ruangan lain.
"Ooh ... Jadi lu suami dari wanita itu, gue cuman di suruh, jadi itu bukan kesalahan gu--"terang salah satu pria itu tanpa merasa bersalah sama sekali.
Terkaman jiwa Royyan semakin berkobar-kobar, dengan kerutan hidungnya yang dalam, Royyan melayangkan serpihan meja itu dan memukulkan benda kasar itu ke pelipis pria yang telah berbicara angkuh itu dengan suara benturan yang menggema begitu kerasnya.
"Aakh ..."ringis lelaki itu kembali terjatuh, tapi kini di pelipisnya bercucuran darah segar yang mungkin para vampire akan sangat menyukainya. "Aaakh ..." Pria itu masih mengerang kesakitan, tubuhnya berguling kesana-kemari sebagai upaya mengirimkan sebuah isyarat jika dirinya kesakitan.
"SIAPAPUN! Yang sudah menyentuh istri gue gak berhak untuk hidup!" Royyan lempar serpihan kayu dari meja tadi yang kini tersisa setengahnya saja.
Pria yang tampak tak berbeda jauh dengan pria yang sedang terkapar di bawah itu perlahan mundur, pikirnya dia akan mengambil benda keras yang akan membantunya untuk melawan Royyan, tetapi langkahnya terlalu lamban sehingga pria bermata kecil itu dengan cepat menyadari apa yang tengah dipikirkan lawannya.
Tak segan-segan dia tendang perut lelaki itu hingga bernasib sama seperti kawannya yang lain.
"AAAaarrggh ...."
Brak!
Dia berguling ke depan setelah melanggar lemari tua yang ada di sudut ruangan.
"Jangan pernah berani untuk lari dari sini!"rajuk Royyan merajam tatapan lelaki itu hingga mengendur lemah.
Jantung Royyan berdebar-debar berambisi, hidung yang berkerut mengisyaratkan kemarahannya berada pada level tertinggi yang bersemayam di dalam dirinya, tangannya mengepal dengan kuat.
__ADS_1
"Sialan!" Pria itu bangkit dari sana, dan berlari ke dekat Royyan, "YAAAA ...." Dia berlari dengan penuh keyakinan jika kali ini dia akan menang melawan Royyan sambil membulatkan kedua tangannya.
NEXT ....