
Royyan menyengih sambil dia menyelukkan kedua tangannya ke dalam saku ******. "***** bisnis tidak ada rasa kasihani bukan Mi ... Pi ...."tukas Royyan menegakkan kedua bahunya.
Mendengar perkataan Royyan membuat Ressa dan Miranda mengangguk dan tersenyum kecil. Inilah bisnis, dalam bisnis tidak mengenal siapapun, dalam bisnis hanya ada cara untuk meraup untung dan konsekuensinya. Terkadang ada beberapa perusahaan yang memakai cara hitam untuk meraup keuntungan dengan kejahatan dan kecurangan.
Pria bertubuh kekar itu kembali ke sofa bersama Ressa dan Miranda, tetapi kali ini raut wajah Ressa dan Miranda nampak tegas, garis-garis kemarahannya ikut mengerat dan menguasai paras kedua insan itu.
Ressa menyandarkan punggungnya seraya menaikkan satu kakinya ke atas kakinya yang lain. "Rencana kamu selanjutnya apa?"tanya Ressa mengerutkan alisnya, "libatkan kami dalam rencanamu nak, jangan berjalan sendirian, kamu harus melakukannya bersama-sama,"tambah Ressa penuh keyakinan.
"Iya nak, kamu terlalu banyak berjalan sendirian,"timpal Miranda.
Lagi-lagi Royyan menyengih sambil dia menganjurkan tubuhnya ke depan, tetapi sekelebat bayangan kelam kembali mengendurkan senyum kecilnya itu untuk kembali pada ruang paling gelap di dalam ceruk batinnya.
"Sebenarnya ada satu hal yang mesti aku beritahu pada Mami dan Papi, kak Anneu, mami Rini dan papi Rian sudah mengetahui hal ini, hanya saja Ami belum mengetahuinya, aku juga gak tahu bagaimana caranya untuk memberitahukan hal ini,"ucap Royyan lagi bernada sendu.
"Ada apa?"tanya Miranda.
Baru saja beberapa detik Ressa dan Miranda merasa lega karena mengetahui semua rencana yang telah dipersiapkan oleh menantunya, kini Royyan membawa kelam menyeruak ke setiap ruas hati Ressa dan Miranda.
"Ami ..."serunya lirih, kemudian perlahan wajahnya tertadah menatap lurus pada keempat mata di depan matanya, "kami terpaksa harus kehilangan anak pertama kami karena benturan yang sangat keras itu mengguncang janin dan akhirnya mengalami keguguran,"jelas Royyan kemudian, nada suaranya benar-benar pedih menyakitkan seperti ada sebuah desakan yang menyakiti lehernya.
"WHAT?! "sela Miranda menarik tubuhnya sekaligus untuk mencuar dengan kokoh.
Uraian kemarahan teranyam jelas di raut wajahnya yang telah dirias dengan sempurna. Namun, tiba-tiba tubuh Miranda terlempar lagi ke sofa dengan lemah, kepalanya bersandar dan tertidur di atas sofa sembari dia menggenggam kepalanya kuat dan mengurutnya untuk melepaskan rasa pusing di kepalanya yang perlahan semakin menjalar kala penuturan Royyan merasuki telinga dan jiwanya.
"Iya Mi, maafin Yan yang gak bisa jaga Ami,"ucap Royyan kembali meredup.
Ressa pun sama terkejutnya dengan Miranda, hanya saja lelaki itu masih berusaha untuk bersikap netral dalam situasi ini, bagaimanapun semua ini bukan kesalahan Royyan, Ressa sangat mengerti keadaan Royyan pun tak tampak baik, terlebih saat lelaki paruh baya itu melihat punggung tangan menantunya terbalut benda putih dengan noda merah dan kuning pekat.
"Ini bukan kesalahan kamu nak, mungkin tuhan belum mengizinkan kamu untuk memiliki anak, kamu baru berusia 31 tahun dan Ra baru 27 tahun, masih ada tahun-tahun lain untuk menyambut anak kalian,"ujar Ressa mencoba menenangkan Royyan yang kini sudah menjatuhkan bahunya lebih bawah lagi bersamaan dengan kepalanya yang ikut mengendur ke bawah.
Royyan menarik napasnya panjang masuk ke dalam sambil dia menyugar wajahnya dengan kasar, sedikit mengurutnya sampai ke bagian tengkuknya, bahkan dia tekan bagian tengkuknya itu. "Haah ...." Helaan napas terurai dengan berat.
Sementara di rumah sakit dimana Almira dirawat, masih tetap dalam keadaan hening. para pasien masih terbaring di ranjangnya masing-masing, dan hanya ada beberapa suster dan dokter yang silih bergantian memeriksa pasiennya dari kamar ke kamar. Sedangkan Anneu dan Manda yang berdiri di depan pintu dalam keadaan wajah yang meredup, ada rasa yang memberatkan hatinya. Mereka masih berdiri di sana dalam jangka waktu yang lama.
"Gimana cara kasih tahunya kak Anneu?"tanya Manda lirih, gadis berambut sebahu itu tidak ingin sahabatnya mendengar hal buruk ini.
Anneu melempar tatapannya ke dalam ruangan Almira, dari balik pintu itu terlihat jelas jika Almira masih terlelap di atas ranjang rumah sakit dengan selimut sedikit tebal dibanding pasien lainnya, karena Royyan memilihkan kamar dengan kualitas terbaik di dalam rumah sakit itu.
"Kita pikirkan lagi nanti, Ra masih belum pulih keadaannya, dia masih sering ngeluh sakit dibagian perutnya,"balas Anneu hat-hati, suaranya nyaris tidak terdengar jika Manda tidak mendekat mungkin saja gadis itu tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Anneu.
Manda mengangguk mengerti dengan maksud dari Anneu. "Aku masuk ya kak,"pamit Manda sambil dia menurunkan kenop pintu itu.
"Iya, masuk sana. Kakak mau urus administrasi dulu, Royyan kayaknya sibuk banget,"sahut Anneu yang kemudian melangkah pergi dari sana.
Manda pun lekas tenggelam ke dalam ruangan yang tampak sunyi, suara tidur Almira nyaris tidak terdengar, membuat Manda tidak yakin jika sahabatnya itu benar-benar tidur, atau jangan-jangan wanita bermata kucing itu memang tidak tertidur.
Tubuh Manda miring ke samping sambil dia membaca setiap deretan keramik di sana dengan pijakan kakinya yang amat lembut, matanya melesat jauh ke kepala bagian belakang milik Almira.
"Ra ... Lu gak tidur?"tanya Manda menyibuk ke bagian bantal yang ditiduri Almira.
"Euum ...,"gumam Almira kecil.
__ADS_1
Rupanya gadis mungil itu tengah memasati layar ponsel yang nampak kosong, tidak ada tanda-tanda sang suami mengiriminya pesan, bibir kecilnya menganjur kesal, tapi menggemaskan. Sampainya Manda bersamaan dengan Almira yang menangkupkan layar ponselnya.
"Lu kenapa? Kayaknya kesel begitu mukanya,"tanya Manda lagi sambil dia duduk dikursi yang ada di dekat ranjang gadis itu.
"Kak Royyan kemana sih, kok dari pagi gak ada disini, apa dia gak khawatir apa istrinya di rumah sakit, padahal pas gue kecelakaan dia nangis kayak yang takut kehilangan, eh ... Sekarang malah ngilang gak ada kabar,"gerundel Almira, yang kemudian menarik tubuhnya untuk duduk.
"Suami lu itu pimpinan perusahaan group gede Ra, dia gak bisa terlalu lama libur kerja, lu tahu kan ada tujuh perusahaan yang berada di bawah naungan perusahaan suami lu itu,"papar Manda mencoba menenangkan sahabatnya.
"Euum ... Iya sih, tapi kan masa gak ada waktu jenguk istrinya bentar aja,"rengek Almira memutar-mutar ujung selimut dan dia lilitkan di beberapa jarinya.
"Udah lu tenang aja, bentar lagi juga datang, percaya deh Royyan itu mencintai elu lebih dari apapun, bahkan dia rela terluka buat elu Ra ...,"beber panjang Manda, yang tak sengaja mengatakan sesuatu hal yang tak seharusnya dia burai di hadapan Almira.
Almira tersekat karena penuturan Manda barusan, kata 'rela terluka' membuat pikirannya melayang pada sebuah pertanyaan tentang mengapa Manda berbicara hal seperti itu, kini Manda merunduk lemah di depan Almira, dan gadis mungil itu mengerut heran.
"Terluka? Siapa? Kak Royyan? Kenapa bisa terluka?"tanya Almira beruntun menerobos kerlingan mata Manda yang tampak tak tenang.
"Euuh ... I-itu---enggak, bukan apa-apa Ra,"ucap Manda terbata-bata dengan bola mata yang berkeliaran tak karuan bersama udara yang berlalu lalang di depannya. "Maksud gue itu, Royyan akan melakukan apapun untuk menjaga elu Ra, begitukan suami lu itu,"kilah Manda berusaha mangkir dari pertanyaan-pertanyaan Almira.
"Oh ...." Almira mengangguk mengerti dengan penjelasan sang sahabat.
Bibirnya menyeringai sambil mengelus perut rampingnya. "Awalnya gue gak siap dengan kehamilan ini, tapi ... Setelah melihat di layar monitor, rasanya gue gak sabar menunggu kelahirannya, anak gue hebat kan .... Setelah kecelakaan dia masih bertahan,"urai Almira memandangi perutnya, sepertinya gadis itu tak sabar melihat perutnya membuncit.
Degh!
Hantaman keras membantai jantung Manda hingga sesak di dadanya berkumpul di tenggorokannya dan menyekat semua aliran pernapasan yang dibutuhkannya untuk tetap bernapas dengan lega.
Kedua tangannya mencengkeram bagian bawah gaun putih dengan perpaduan bunga-bunga di beberapa bagian gaun yang tengah gadis berambut sebahu itu kenakan, lantas dia telan kasar ludahnya dan perlahan perih melanda kedua bola matanya hingga mengumpulkan embun-embun di sana.
Almira bergerak memasati wajah sahabatnya yang tiba-tiba saja memudarkan cahayanya yang selalu terlihat ceria. "Kenapa? Ada yang mau diomongin?"tanya Almira polos.
"Euum ...." Paras cantik Manda tertadah ke atas, tepatnya melesat masuk ke dalam bola mata Almira yang nampak polos dan penuh harapan. "Eng--enggak Ra, enggak papa." Manda menggeleng kepalanya dengan kuat, "gu-e mau keluar bentar ya,"pamit Manda yang segera berlari keluar dari ruang inap Almira.
Wanita bermata kucing itu hanya mengamati punggung Manda dengan penuh rasa heran, tak biasanya Manda bersikap seperti itu. Wajahnya miring ke samping kanan. "Manda kenapa sih, aneh banget deh sikapnya."
Manda bersandar pada pintu itu sembari membekap mulutnya sendiri, mencoba memerintah air matanya untuk tidak terjatuh dan membiarkan sesak menguasai dadanya hingga kesulitan bernapas, dia tak ingin Almira mengetahui jika dirinya tengah dilanda kesedihan karena dirinya.
Ra ... Anak lu udah di surga, gimana gue ngomong sama elu Ra, gue gak tahu harus bagaimana, gue takut lu sakit.
Ya tuhan ... Kenapa kau hadirkan kesulitan pada sahabatku yang sebaik malaikat itu.
Gue ini temen yang payah ya Ra, lu bisa bantu gue dalam keadaan apapun dari sejak kita berteman sampai sekarang, sedangkan gue gak bisa berbuat apapun buat lo ...
Batin Manda merayau pedih.
Gadis bermata almond itu tak lagi mampu menahan sesaknya untuk keluar, perlahan ribuan kristal berjatuhan, ia berderai membasahi pipi tirusnya hingga kuyup. Lantas tubuhnya merosot ke bawah dan terpekur di bawahnya, dia menangis bisu karena gadis itu berusaha untuk membekap mulutnya agar Almira tak mendengar tangisannya.
Beberapa menit Manda mencoba mengurai air matanya dan membiarkan dia bersama sedunya beberapa detik, lalu dia berlari dari pintu kamar ruang inap Almira menuju kamar mandi yang berada dekat dengan ruangan itu.
Tak lama dari itu Manda segera keluar dari kamar mandi, gadis itu hanya membasuh mukanya untuk merendahkan mukanya yang membengkak karena menangis. "Ayo Man ... elo harus jaga Ra, Royyan belum balik dan kak Anneu masih di lobi kayaknya,"imbuh Manda menarik napasnya panjang lalu dia lepaskan dan membuat dadanya merasa lega.
Namun, hal itu hanya bertahan beberapa detik saja, netra gadis itu kembali merekam kejanggalan yang membuatnya berlari ke salah satu lorong dinding putih dekat dengan ruang inap Almira.
__ADS_1
Di depan pintu itu ada dua orang yang menurutnya mencurigakan, satu wanita berpakaian modis bak seorang model profesional sedangkan wanita lain menggunakan pakaian suster rapi sambil menenteng sebuah mangkuk yang mungkin saja isinya bubur, sedang di samping mangkuk itu ada dua buah jeruk yang berwarna cerah dan segelas air putih.
Wanita yang mengenakan kacamata hitam dan masker yang juga berwarna hitam itu menyentuh jeruk dengan gemulai lalu dia memasukkan sebuah serbuk yang tak begitu kelihatan oleh Manda ke dalam air putih itu, lalu dia menggoyang-goyangkan gelasnya guna mencampur serbuk itu menyatu dengan air mineral itu.
"Siapa mereka? Apa yang mereka masukkan ke dalam air putih itu?"bisik Manda di balik dinding.
Suster itu masuk ke dalam ruangan inap Almira, membuat netra Manda berkelintaran tak karuan bahkan dia membuntang dengan derap jantung berhamburan dengan cepat, bersamaan dengan gadis modis itu berlari menjauh dari sana, dia tenggelam ke dalam salah satu lorong di dekat pintu ruang inap Almira.
"Sial! Pasti ini ada yang salah,"tandas Manda yang segera berlari masuk ke dalam ruang inap Almira lagi.
Suster itu telah tiba di dekat ranjang Almira dan memberikan nampan yang mencurigakan itu, seketika bola mata Manda melebar lagi, langkahnya semakin tersera-sera kala Almira mulai mengambil sendok untuk melahap bubur itu.
"Stop!"teriak Manda berjalan cepat ke dekat ranjang Almira.
Suster dan Almira menoleh diwaktu yang bersamaan, terlihat garis wajah suster itu tampak tidak tenang, suster itu terus melangkah mundur kala Manda menghunjami sebuah tatapan tajam.
"Jangan dimakan,"titah Manda menarik nampan yang berada digenggaman Almira, lalu dia letakkan nampan itu di atas kasur sambil dia tak melepaskan tatapannya pada suste itu.
Almira yang merasa heran dengan sikap Manda lekas mengerut dan bibir kirinya ikut menaik sembari dia masih menggenggam sendok itu. "Kenapa? Kan emangnya waktunya gue makan."
"Gue mau meriksa dulu, makanan ini sehat apa enggak,"tukas Manda menaikkan nampan itu ke atas kedua telapak tangannya.
"Tentu saja nona, kami mempersiapkan makanan yang baik untuk para pasien,"timpal suster itu dengan suara yang sedikit bergetar.
Mata almond itu kembali menajam, menikam suster itu dengan tatapannya secara nyata. "Oh ya, kalau begitu coba kamu makan dulu, baru saya akan percaya kalau ini makanan yang aman untuk dimakan oleh pasien, karena kalau sampai pasien disini keracunan karena makanan ini, rumah sakit ini akan dalam masalah."
"Ah--ke-kenapa nona berbicara tidak sopan seperti itu,"katanya terbata-bata, tatapannya berkeliaran tak karuan.
"Heuh ..." Manda mendengkuskan senyumannya sambil dia menjatuhkan nampan itu kembali ke atas ranjang. "Anda tidak lupa kan, jika pasien di sini adalah Almira Miara Tisya istri dari pengusaha terkaya di negeri ini, pimpinan Rain Corporation, jika sesuatu hal terjadi di rumah sakit ini, kalian semua yang ada di rumah sakit ini akan musnah dan rumah sakit ini akan di tu-tup!"tegas Manda kemudian.
Almira turun dari ranjang untuk mendekati sang sahabat. "Man ... Udah, lu kenapa sih, gak biasanya kayak gini, makanan itu biasa gue makan kok, lu tenang aja,"tegur Almira mengusap punggung Manda.
"Enggak Ra, lu gak tahu apa-apa, gua yang tahu,"tepis Manda membawa nampan itu semakin mendekati suster yang sudah terpojok di sudut ruangan dekat dengan infus stand. "Ayo makan, kalau emang gak ada apa-apa, lu gak akan takut,"ucap Manda menahan dada sang suster dengan nampan itu hingga membentur dinding.
"Nona to-tolong ... Sa-sa-saya hanya bekerja, dan kami dilarang untuk menyentuh makanan yang sudah dipersiapkan pihak rumah sakit u-untuk pasien,"kilah suster itu semakin tak karuan, tubuhnya merunduk dengan wajah yang memerah.
"Basi! Bilang aja ini makanan ada racunnya, sialan!"kesal Manda melempar nampan itu jauh ke tengah ruangan hingga seluruh isinya berserakan di lantai.
"Aah---Manda ..."seru Almira terkejut.
Namun, Manda tidak bergeming, dia melangkah terus ke depan suster itu dan tak segan-segan mencekik suster itu detik itu juga sampai suster itu menganga mengumpulkan udara lebih banyak karena pernapasannya dicekal oleh Manda.
"Katakan! Siapa wanita itu, katakan sekarang sebelum Royyan mengetahuinya dan elu akan kehilangan pekerjaan elu,"ancam Manda menguatkan cengkeramannya dileher sang suster.
"A-aah sa-saya g-g-gak tahu no-na, uhuk uhuk ..."jawab suster itu terbatas-bata.
Mendengar jawaban itu kekesalan Manda membuncah, lalu dia lempar suster itu ke samping dan menginjak dada suster itu tanpa ampun. "JAWAB!"pekik Manda dengan tatapan berangnya.
Almira menutupi mulutnya karena terkejut dengan tindakan Manda, entah dari mana Manda mendapatkan keberanian yang selama ini dilakukan oleh Almira. Gadis mungil itu melangkah mendekati Manda dengan hati-hati.
NEXT ....
__ADS_1