
Nyanyian burung-burung penyambut fajar menggema di setiap sudut penjuru kediaman Almira, mereka bergerombol menuju butik ramai yang ada di pusat kota, di dalam sebuah ruangan yang di penuhi dengan patung-patung yang di balut dengan gaun-gaun rancangan gadis bermata kucing, gadis itu tengah terduduk di kursi kebesarannya seraya memainkan jari-jarinya di atas keyboard.
Di waktu bersamaan Manda sang sahabat masuk ke dalam ruangan Almira, dengan perlahan dia seret langkahnya mendekati Almira. Wanita mungil itu tak mengalihkan pandangannya dari layar komputernya.
"Ra ... lu masih di sini aja, ini udah jam lima sore,"tanya Manda seraya menenteng bingkisan makanan yang berisikan hamburger double beef, kentang goreng serta cola dengan tumpukkan balok es di dalamnya.
"Bentar, gue lagi beresin ini dulu, sayang kalau di tinggal, nanti ide gue ngilang kayak suami gue yang sekarang gak tahu kabarnya gimana,"jawab Almira fokus dengan komputernya.
Manda tarik kedua bahunya ke atas seraya dia memicing, melepaskan deru napasnya panjang. Lantas gadis itu beralih dari hadapan Almira mendekati sofa yang berada tak jauh dari kursi kebesaran desainer muda itu.
"Cek hape lu coba, kali aja laki lu ngasih kabar. Kan elu dari pagi juga gak pegang hape,"saran Manda menyandarkan punggungnya pada sofa itu.
"Gak mungkin lah, orang dia kesenengan jauh dari gue,"sahut Almira menepis dugaan Manda dengan bola mata yang semakin tak bisa menghindar dari layar komputer.
Gadis itu begitu fokus dengan pekerjaannya, kerangka busana yang sudah tergambar sempurna di layar komputer masih dia sempurnakan dengan sentuhan warna dan beberapa perubahan desain yang menurutnya akan cocok dengan selera kliennya.
"Eh ngeyel nih anak,"ucap Manda sembari dia melangkah kembali mendekati Almira, "sini mana hape lo, gue periksa, gak di kunci kan hapenya?"ucap Manda meraih ponsel Almira yang tergeletak tak berdaya di samping tas hitam milik Almira.
"Enggak kayaknya,"sahut Almira tanpa menoleh.
"Oke ..."saru Manda, dengan senang hati dia membuka aplikasi pesan berwarna hijau yang dimiliki oleh semua orang.
Manda masuk ke dalam aplikasi tersebut dan segera di sambut dengan kontak yang telah berubah nama menjadi My Rich Husband, seketika sudut bibir Manda menaik, sebelumnya Almira enggan untuk menyebutnya sebagai suami, tetapi kini nama kontak itu sudah sangat menjelaskan bagaimana hubungan sahabatnya itu dengan suaminya.
"Kok lu kasih nama My Rich Husband sih,"tanya Manda penasaran.
"Ya kan dia tajir,"celetuknya dengan alasan asal-asalan.
"Dih gitu doang alasan elu."
"Ya iya, terus apa lagi dong,"sahutnya lagi masih terfokuskan dengan pekerjaannya.
"Iya dah iya ..."kilah Manda memicing seraya dia tersenyum.
Manda melihat deretan pesan masuk dari Royyan, tanpa membacanya Manda arahkan layar ponsel itu ke hadapan Almira, tepat di depan mata gadis bermata kucing itu. "Nih lihat, apa kata gue juga, laki lu pasti ngabarin elu,"serunya puas karena semua perkataannya benar-benar terjadi.
"Bohong lu,"ketus Almira tak percaya.
"Eh gak percayaan ini anak,"balas Manda mengapit dagu sahabatnya untuk terfokus pada layar ponsel yang menunjukkan pesan masuk dari sang suami.
Sontak bola mata kucing itu melebar dengan wajah yang menyeringai bahagia, dia sambar ponselnya yang ada di genggaman Manda, membuat Manda terkejut tangannya di lahap begitu saja oleh kedua tangan Almira, lantas gadis bermata almond itu segera mengendur ke belakang dengan senyuman tipisnya.
Satu persatu Almira baca pesan dari sang suami sambil dia menyengih, seluruh raganya memanas ketika bola matanya membaca pesan terakhir yang di kirimkan oleh suaminya itu, wajahnya melebar dengan degup jantung yang berdetak sangat cepat.
__ADS_1
Wajah cantiknya mengerut. "Dih! Enak di elu, gak enak di gue dong,"gerutu Almira menggenggam ponsel dengan gemetaran.
Manda yang mendengar hal itu lantas mengernyit heran, sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Almira, apa yang membuat gadis mungil itu menyerukan kekesalannya, begitulah pertanyaan-pertanyaan yang mengelilingi isi kepala Manda.
"Minta maafnya gak tulus, gak bakalan gue maafin, bodo amat,"seru Almira kesal.
Gadis berambut sebahu itu mengurai helaan napasnya keluar sampai dadanya merasa lega, lalu dia melangkah mendekati Almira lagi. "Lu kenapa sih, suami lo udah nelepon lu berulang kali, udah chat lu juga, terus sekarang kenapa lu malah gak mau maafin dia,"celoteh Manda menganjurkan tubuhnya bersandar pada badan meja.
"Ya habisnya nyebelin, minta maaf sih minta maaf ya, tapi ..."jawab Almira yang tak bisa melanjutkan perkataannya, menurutnya hal itu adalah privasinya dengan sang suami, orang lain termasuk sahabatnya sendiri tak berhak untuk mengetahuinya.
Netra gadis berambut ikal itu berputar tidak tenang sehingga Manda mengernyit dan dengan mudah mengetahui apa yang sedang di pikirkan oleh Almira, lekas Manda naikkan kedua sudut bibirnya lalu mengangguk seraya dia menarik kedua tangannya untuk terlipat di depan dadanya.
"Ooh ... gue ngerti kok, udah gak usah di omongin,"seru Manda tersenyum mengintimidasi.
Seketika wajah Almira memerah, ia membuncah kan rasa malu yang seharusnya tak terlihat jelas oleh siapapun, bahkan angin sekalipun tak perlu mengetahuinya. Hanya saja semuanya terlanjur, Manda yang sudah menjadi sahabatnya dari sejak bangku SMP dengan cepat menyadari perubahan warna dari wajah cantik itu.
Bibir merah muda merona dengan warna merah gelap di bagian dalamnya segera mengatup dan memalingkan wajahnya dengan lembut dari sang sahabat, dia berputar-putar di kursi kebesarannya di dalam butik itu.
"Gak mau ketemu pokoknya sama kak Royyan, bodo amat,"kata Almira menyandarkan punggungnya di kursi itu.
"Emangnya bisa?"tanya Manda meremehkan, kedua alisnya menaik lekukannya tergambar jelas sampai sudut bibirnya tersenyum miring, "koneksi suami lu itu luas, dan elu gak boleh jauh dari suami lu itu,"tambah Manda yang tiba-tiba raut wajahnya meredup.
Aroma kelam menyebar ke seluruh penjuru ruangan itu, Almira segera menyadari perubahan aura di sana, lantas dia menoleh pada Manda dan menatapinya dengan heran. "Kenapa muka lu jadi begitu, jangan nakut-nakutin gue deh,"ucap Almira mencelos, hatinya berderu dengan kekhawatiran.
Manda mendongak. "Si cewek gila itu tiba-tiba cabut ke Paris, padahal jadwalnya berangkat itu dua hari lagi sama kayak kita, tapi dia cabut pas hari dimana laki lu berangkat juga ke Paris,"terang Manda sendu.
"Lu ngapa jadi marah-marah begitu, mata lu serem banget anjirr,"ujar Manda meraba-raba dadanya yang berdebar hebat.
"Kalau sampai itu cewek beneran deketin kak Royyan, gue jamin besoknya dia gak bakalan ngapa-ngapain, kalau sampai kak Royyan juga meresponnya dengan baik, itu cowok bakalan gue cabik-cabik gak ada ampun pokoknya,"celoteh Almira dengan tatapan getir seraya meremas kertas -kertas yang berserakan di atas mejanya.
Kerlingan mata Almira memercikkan serpihan api yang membara sampai Manda merasakan panasnya api itu, gadis berambut sebahu itu menelan ludahnya dengan kasar dan tatapannya pada sang sahabat tidak bergerak, ia bertengger tanpa mengedip satu kali pun.
Mampus! Ra kalau begini gue juga takut, siap-siap dah lu Rala menikmati kemarahan Almira sekali lagi dan Royyan akan tahu bagaimana kemarahan istrinya. Gue sumpel aja lah pake hamburger, dari pada tuh anak makin jadi.
Batin Manda berceloteh, perlahan kedua kakinya melangkah mundur dan mengambil satu buah hamburger yang di balut dengan kertas minyak berwarna putih, lantas dia segera mendekati Almira lagi yang menatapi layar ponselnya dengan penuh kemarahan, cengkeramannya pada kertas-kertas itu semakin mengerat dan menjadikan kertas-kertas itu menjadi kusut dan terlempar dengan sembarangan tak berdaya di lantai.
"Nih makan."Manda menjulurkan satu hamburger itu ke hadapan hidung Almira membuat gadis yang di peluk kemarahan itu menoleh dan mengendurkan kemarahan yang tergambar di wajahnya, "besok lu cabut aja ke Paris, lagian lu kan punya apartemen di sana, minta aja satu sama nyokap bokap lu,"tambah Manda menyarankan sahabatnya itu untuk segera menyusul Royyan.
Segera Almira sambar hamburger yang masih mengepul itu dan melahapnya dengan suapan besar. "Mana bisa dadakan sih? Rencananya kan, gua berangkat bareng sama lu Man,"ucapnya kemudian sembari mengunyah dengan mulut yang penuh.
"Bisa. Lu itu anak tunggalnya, gak mungkin nyokap bokap lu itu gak nurutin sih."
"Oke deh."
__ADS_1
Almira meletakkan hamburger itu di atas meja dengan berbagai macam map pekerjaannya yang menumpuk, dia menyambar ponsel dan melakukan panggilan telepon dengan Miranda. Tanpa menunggu lama, Miranda segera mengangkat panggilan telepon dari putri tunggalnya itu.
"Halo mom,"seru Almira terburu-buru dengan mulut masih mengunyah.
"Iya sayang ... ada apa? Ada yang kamu inginkan?"jawab Miranda lembut dari seberang telepon.
"Aku mau apartemen dong di Paris, besok aku mau berangkat ke Paris,"terang Almira tanpa banyak basi-basi lagi.
"Kok dadakan sayang, suami kamu tahu kalau kamu akan berangkat besok, dia udah siapin orang buat jemput kamu lo,"sahut Miranda.
"Enggak mom, biar kejutan dong,"elak Almira menguraikan senyuman tipisnya.
"Oh begitu, yaudah nanti mami usahakan ya, papi kamu lagi meeting dulu."
"Oke mom, makasih mamiku yang paling cantik seantero jagat dunia raya,"seru Almira memuji Miranda.
"Heh! Kalau ada maunya begitu ya, udah ah mami jadi salting nih."
Almira tertawa kecil. Tak lama dari itu panggilan telepon dengan cepat selesai, wanita berambut panjang ikal di ujungnya itu berputar lagi mendekati sang sahabat yang masih setia dengan posisinya tadi.
"Gimana? Oke gak?"tanya Manda penasaran.
"Gak tahu,"sahut Almira mengedikkan bahunya, "nyokap bilang bakal di usahakan, jadi belum tentu dapet juga kan?"tambahnya menganjurkan tubuhnya kembali duduk di kursi putarnya.
"Euum ... dapet sih kayaknya, gue kenal banget sama orangtua lu, walau mereka sering maksa lu buat sekolah di sini, di sana,"gumam Manda seraya satu tangannya berkelintaran di udara bergerak ke kiri dan juga ke kanan, "kalau lu minta sesuatu pasti di kabulkan,"sambung Manda.
Almira mengendurkan punggungnya ke belakang sampai bersandar dengan bebas di kursi yang dia duduki. "Moga aja sih,"katanya kemudian.
"Eh tapi, lu gak ngasih tahu suami lu dulu kalau lu bakalan ke Paris besok,"tanya Manda lagi.
"Enggak lah, gue mau buat surprise. Hari ini pun gue gak bakalan balas pesan ataupun teleponnya, biar besok jadi kejutan,"pungkasnya menyeringai puas.
Manda memicing seraya tersenyum dan mengangguk. "Oke deh, have fun ya ... gue bakalan berangkat ke Paris sesuai jadwal."
"Lu berangkat sama siapa?"tanya Almira baru menyadari hal itu.
Gadis bermata kucing itu memalingkan wajahnya, menatapi sang sahabat dengan khawatir.
"Sama Van lah, kan sekarang dia bos gue,"jawab Manda bergerak ke sofa dan menganjurkan bokongnya di atas sofa itu.
Almira mengangguk tenang. Dia sungguh ketakutan jika sahabatnya itu berjalan sendiri, walau di temani asisten dan managernya, gadis itu tetap khawatir. Namun, jika Van ada bersamanya, Almira merasa lega.
"Nasib mantan agensi lu itu gimana?"tanya Almira penasaran soal persidangan itu.
__ADS_1
"Euuum ..."Manda bergumam menerjunkan kepalanya ke atas sofa seraya memejamkan matanya, dia terdongak ke atas, menautkan jari-jarinya dan dia letakkan di atas perut rampingnya.
NEXT ....