
"Gua mau nemenin El, dia masih sakit, demamnya tinggi banget."
"Udah ada cewek, gitu ya lu,"
"Oke. Terserah."
"Yaelah Jun, elu jalan sana sama Nanda atau kalian nongkrong aja berdua biar kagak gabut,"
"****** lu! Payah lu."
"Wkwkk...."
"Royyan!"
"Ya. Gue ada urusan."
Ruang obrolan dalam aplikasi WhatsApp itu sudah dipenuhi dengan obrolan antara Royyan, Ajun dan juga Dirta. Bedanya kali ini adalah tak ada lagi rencana akhir pekan yang mereka habiskan bersama. Kehadiran Elshara merubah segalanya, Ajun yang paling terkena dampak pertikaian cinta segitiga ini.
Ajun yang tidak ingin ikut campur terhadap permasalah ini, segera mengakhiri percakapan group dan mematikan ponselnya. Dia tidak bergerak dari ranjang, dia tetap duduk di atas rangjang yang dibaluti sprei hitam garis kotak-kotak dan menenggelamkan tubuhnya kembali ke dalam selimut tebalnya itu.
Sementara di kediaman Royyan. Rumah yang dipenuhi oleh barang-barang mewah itu, nampak sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, kedua orangtua Royyan sudah berangkat untuk bekerja, begitupun dengan kakak perempuan satu-satunya yang bernama Haneuyani yang kerap di panggil Aneu itu ikut bersama kedua orangtuanya mengelola perusahaan keluarga.
"Rumah besar dengan dua belas asisten rumah tangga dan enam pengawal serta satpam dan sopir, kalau dipikir-pikir ini rumah kayak perpustakaan, banyak penghuninya tapi kayak gak ada orang,"celoteh Royyan di balkon kamarnya dengan menempelkan sikut ke atas pagar balkon itu dan juga terulurkan keluar dari balkon.
Dengan langkah yang malas, Royyan menyeret langkahnya ke dalam kamar, masuk ke dalam ruangan yang menyimpan pakaian dan barang-barang miliknya. Mengambil beberapa pakaian untuk dia pakai di pagi akhir pekan ini.
Setelah selesai memakai pakaiannya, dia mengambil sebuah jam tangan berwarna hitam dan memakainya di tangan kiri. Beralih ke sepatu yang berwarna putih senada dengan celana jeans yang dia gunakan.
Dia berjalan keluar dari kamar pribadinya seraya memakai jaket baseball berwarna putih dan juga kunci motor yang di letakkan di ruangan kerja, lebih tepatnya ruangan khusus dia belajar. Di dalam ruangan itu dipenuhi dengan buku-buku yang tertata rapi di rak bagaikan di perpustakaan, dan juga laptop serta beberapa alat elektronik lain.
Setibanya Royyan di lantai satu menggunakan lift yang tersedia di rumahnya itu, dia melengos keluar dari rumah. Melewati para pekerja yang tengah mengerjakan berbagai macam pekerjaan rumah. Melihat tuan muda rumah itu keluar, sang kepala pelayan segera mengekorinya keluar dari rumah.
"Tuan muda mau pergi kemana? Biar saya siapkan mobil yang akan tuan gunakan,"tanya kepala pelayan wanita itu yang bernama Narti, setelah Royyan berhasil menyelesaikan langkahnya.
"Gak perlu. Saya mau naik motor."sahut Royyan tegas, seraya dia sedikit menoleh tanpa menggerakkan kepalanya.
"Baik tuan. Apakah tuan muda mau kami siapkan makan saat tuan muda kembali?"Narti kembali bertanya dengan wajah yang tertunduk sopan dan kedua tangan yang terlipat di depan.
"Enggak perlu. Kerjakan kerjaan kalian aja, saya mau keluar lama."
"Baiklah kalau begitu tuan, hati-hati tuan muda."
"Iya."
Royyan yang sudah di atas motornya segera menyalakan mesin dan meluncur meninggalkan pekarangan rumah. Dia kendarai motornya dengan kecepatan sedang, dalam tatapan kosong, pikirannya melayang entah kemana. Sudah lebih dari dua kali dia mengelilingi kediamannya tanpa tujuan, sampai akhirnya dia keluar dari komplek perumahan dan menyatu dengan jalanan besar serta kendaraan-kendaraan yang memenuhi jalanan tersebut.
Meninggalkan Royyan yang masih memilih kemana kah dia akan melangkah dan menghentikkan pengembaraannya bersama motornya. Di pekarangan rumah Elshara, Dirta dan wanita berambut panjang nan hitam mengkilap itu berdiri di depan tumbuhan hijau dan bunga-bunga yang sengaja di rawat oleh para pegawai di rumah tersebut.
Bunga-bunga itu menyebarkan aroma khas-nya yang menyegarkan, merasuki dua insan yang saling berdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Wajah Elshara kembali murung, seraya dia memeluk dirinya lalu dia menoleh dan menatapi Dirta dengan lurus.
"Aku kurang cantik ya Dir,"celetuknya tiba-tiba saja.
Dirta terperanjat mendengar Elshara yang tiba-tiba saja berkata seperti itu. Wajah sendu itu sungguh menyakiti hati Dirta. "Kamu cantik. Bahkan terlalu cantik, sampai aku mencintaimu segila ini El!"batin Dirta bergumam.
"Kenapa kamu ngomong begitu,"jawab Dirta dengan alisnya yang menurun iba.
"Royyan gak suka aku karena aku gak cantik kan?"
Pria dengan rambut pendeknya yang rapi itu memalingkan muka kesal. Hembusan napasnya sedikit terdengar lelah, hanya saja jiwanya benar-benar terhipnotis oleh cintanya pada wanita yang berada di hadapannya. Perlahan kedua tangannya itu masuk ke dalam saku celananya dan mengepal hebat di dalam.
"Royyan gak suka sama kamu bukan karena kamu gak cantik, tapi emang dia gak cinta sama kamu. Udahlah, kamu jangan memaksakan diri. Masih ada orang lain yang mencintai kamu El! Coba kamu lihat dia,"
"Siapa? Enggak ada Dirta, dan aku cuman suka sama Royyan gak ada yang lain,"
"Kenapa? Kenapa kamu sesuka itu sama Royyan, yang selalu ada sama kamu itu aku, kenapa kamu milih Royyan,"
Wajah sendu Elshara meleleh mendengar semua pernyataan Dirta. Ini kali keduanya Elshara mendengar percakapan serius dari Dirta. Dan sampai saat ini dia masih enggan untuk mengakuinya, dia masih bersikeras untuk menggapai cintanya pada Royyan.
"Cukup! Cinta gak bisa dipaksakan, aku cinta sama Royyan dan aku akan mendapatkannya."tegas Elshara melangkah mundur menjauhi Dirta.
__ADS_1
Tatapan Dirta menjadi getir. Kepalan tangan di dalam saku celana pun seketika mengencang, menonjolkan urat-urat tangannya yang kuat. Tetapi setelahnya Dirta mencoba melunturkan kekesalan, lalu dia menarik Elshara masuk ke dalam dekapannya, dia peluk Elshara dengan erat seeratnya.
"Dirta! Lepasin aku, Dirta!"berontak Elshara menggoyangkan tubuhnya keras berusaha melepaskan pelukan Dirta.
Pria bertubuh kekar dan berwajah kecil itu menurunkan satu tangannya ke pinggang Elshara dan melingkari gadis dalam dekapannya, menekannya. Sedangkan satu tangannya yang lain menenggelamkan wajah Elshara masuk ke lehernya, tanpa mengatakan apapun. Sampai Elshara kelelahan dan memilih untuk terdiam dan menerima perlakuan Dirta dengan suka rela.
Melawan pun tak ada gunanya. Kekuatan Dirta lebih unggul dari Elshara, sekuat apapun Elshara berusaha melepaskan diri, dia tidak akan bisa melawan kebugaran tubuh Dirta.
Di samping itu, Royyan telah tiba di sebuah mal yang jarang sekali dia kunjungi. Mal itu tak memiliki banyak pengunjung, namun bangunannya yang mewah telah menarik Royyan menyelam ke dalamnya. Dengan langkah yang tak tahu tempat mana yang ingin dia tuju, pria yang rambutnya sudah mulai memanjang itu melenggang masuk lift dan menekan tombol secara acak tanpa tahu di lantai itu ada apa.
Tiba di lantai sembilan, Royyan berayun ke depan, membaca setiap lantai yang terbuat dari keramik putih bersih itu oleh pijakan kakinya. Dari kejauhan ada sebuah arena ice sakting dengan luas 1.248 meter persegi. Akhir pekan kali ini dia habiskan seorang diri tanpa teman ataupun pengawal, waktu yang sangat disenanginya. Pria dengan bobot tinggi 189 sentimeter itu sangat menyukai kesunyian dan menghabiskan banyak hal seorang diri tanpa gangguan dari siapapun yang dia kenal.
Royyan mengenakan sapu tangan, sepatu khusus skating, dan juga memakai headphone berbulu dengan warna hitam pekat menutupi telinganya. Arena ini sangat menarik perhatian Royyan, terlebih arena yang tidak memiliki banyak pengunjung, hanya beberapa orang saja dan semuanya tidak ada yang berjalan ke tengah arena dan itu memberikan ruang bebas untuk Royyan.
"Suasana begini nih yang gua suka."celetuknya sembari menepuk tangan beberapa kali, dengan seringaian bibirnya yang manis.
Uap yang di hasilkan dari arena ice skating itu menciptakan asap-asap lembut beterbangan ke udara. Terlihat jelas oleh mata Royyan yang tajam, penglihatannya sungguh tajam, dia bisa melihat dari jarak jauh dengan jelas. Di tengah-tengah arena ada seorang wanita yang bertinggung memeluk lututnya sendiri, wajah wanita yang mengikat rambut panjangnya itu memerah, terlebih di bagian hidung dan pipinya.
"Si cewek itu lagi."gumam Royyan memasuki arena skating, berjalan di atas es dan meluncurkan langkahnya bak penari es profesional.
Es itu cukup licin. Bagi pemula sungguh sulit untuk menaklukan arena tersebut, tetapi bagi Royyan ini hal yang mudah untuk dia taklukan. Langkahnya mendekati gadis yang sepertinya sedang menangis.
Tiba di dekat gadis cantik itu Royyan memperhatikannya seraya dia terus berselancar di atas es, berputar-putar mengelilingi Almira. Punggung gadis itu bergetar, tangisan kecil terdengar lucu di telinga Royyan, sehingga bibir yang selalu beku itu dengan mudahnya menyeringai.
"Hobinya nangis,"celetuk Royyan seraya dia berhenti di hadapan Almira dan menurunkan lututnya dan mencangkung.
Almira terhenyak ke belakang, pantatnya terasa dingin karena mencium es yang dia pijaki. Lagi-lagi Royyan berhasil membuat mata Almira membuntang hebat, bercak-bercak bekas tangisannya masih berkumpul di bawah mata, bahkan bibirnya masih bergetar menyisakan isakannya.
"Ka-ka-kamu kenapa bi-sa di sini,"ucap Almira terbata-bata.
"Ayo bangun,"
"Enggak mau. Kita gak kenal, ngapain aku harus ngikutin kamu."Almira memalingkan wajahnya seraya merengut.
"Gua Royyan."
Almira tersentak. Lalu dia menoleh dan menatapi Royyan penuh keheranan, dahinya berkerut sembari dia menyeret tubuhnya satu langkah mundur menjauhi Royyan.
"Tadi katanya gak kenal,"
"Ya bukan berarti gua mau kenalan sama elo, mana ada sih yang mau kenalan sama cowok yang ngomongnya cuman seuprit begini"
Royyan mengangkat kedua alisnya dan juga menggerenyotkan bibirnya, tetapi kemudian pria beraliskan panjang namun tipis itu mengulurkan tangannya.
"Nama."tanya Royyan singkat.
"Hah?! Nama? Nama siapa dah, duh! kalau ngomong tuh yang jelas kenapa sih, itu mulut perasaan normal deh, kenapa ngomongnya seuprit-seuprit sih"kernyit Almira melipat kedua tangannya dan juga sedikit memalingkan wajahnya.
Royyan mendengus tersenyum tipis seraya dia menunduk.
"Nama kamu siapa?"celetuk Royyan kemudian dan senyuman tipis itu masih bersemayam dalam paras tampannya.
Pertahanan Almira runtuh. Mendengar suara berat Royyan, gadis yang mengenakan tank top crop top berwarna jingga dan celana jeans putih serta di baluti sweeter rajut putih itu perlahan menoleh dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Royyan.
"Almira!"
"Udah kenal kan, ayo bangun."Royyan menarik tangan Almira yang sudah dalam genggaman masuk ke dalam dekapannya.
"Akh...."Almira berteriak tipis. Dia sungguh terperanjat dengan perlakuan Royyan.
Dengan lembut Royyan menggenggam tangan Almira, sedang satu tangannya menempel di pinggang telanjang Almira, membawa gadis bertubuh mungil itu berdiri bersamanya.
"Tunggu,"pungkas Royyan setelah dia berhasil membawa Almira berdiri bersamanya.
"Hah?!"Almira kebingungan, dia menggaruk belakang telinganya lembut.
Netranya mengikuti langkah pria tampan yang baru saja di kenalnya. Royyan mempercepat langkahnya menuju loker yang di sediakan arena itu, mengambil tas-nya. Tas yang berisikan coklat-coklat yang menganggur beberapa hari ini menjadi penghuni tas hitamnya itu, dia bawa bersamanya dan segera mendatangi Almira yang tetap berdiri seraya mendongak menatap langit-langit mal tersebut. Begitu banyak lampu-lampu di atas sana untuk menerangi seluruh pelosok mal ini.
"Ini."Royyan mengulurkan tas itu ke hadapan Almira.
__ADS_1
Gadis yang baru beberapa menit mendongak itu segera menurunkan kepalanya menuju sesuatu yang diberikan oleh Royyan.
"Apa ini? Mau racuni gue, lu ya!"pungkas Almira memundurkan langkahnya.
"Coklat."jawab Royyan.
"Hah?! Coklat?"Almira segera melangkah maju pelan karena es itu sangat licin.
Senyuman ceria Almira merekah hebat, tanpa segan dia mengambil tas Royyan dan memeluknya erat. Royyan yang melihatnya sontak menyeringai tipis dengan satu alisnya yang menaik.
Kelihatan banget nih cewek suka coklat.
Batin Royyan bergumam.
Senyum ceria Almira itu, tiba-tiba kembali menenggelamkan diri dan raut wajah wanita berambut panjang dengan ujungnya yang ikal itu menatap Royyan dengan tatapannya yang serius, seraya menyodorkan tas itu kembali pada pria bertubuh tinggi di hadapannya.
"Gak mau, lagian ngapain lu ngasih gua coklat sebanyak ini, lu tukang coklat pasti kan, nanti gue disuruh bayar semua coklat itu kan, gak mau! nih bawa balik."
Mendengar perkataan Almira, Royyan tertegun dan tak bisa berbicara. Matanya terpaku pada wajah imut nan cantik Almira yang kini tengah menatapnya lurus. Sejenak Royyan memalingkan wajahnya seraya dia berkacak pinggang, tak habis pikir! Bagaimana wanita di hadapannya itu bisa berpikir jauh dari perkiraannya.
Seketika Royyan tertawa lepas sampai dia mencondongkan tubuhnya ke depan. Tawanya terlihat sangat lepas, wajah kakunya menjadi sangat lentur. Suaranya yang berat membuat tawa menggema menerobos pertahanan Almira.
Nih orang bisa ketawa juga?! Gue kira dia robot kagak bisa senyum.
Begitulah gerutu batin Almira yang kemudian memeluk tas itu lagi, dia termangu melihat Royyan tertawa lepas di hadapannya. Namun, tidak lama dari itu wanita dengan pipi tirus itu ikut tertawa bersama Royyan.
"Kenapa lu ketawa begitu,"ucap Almira kemudian, setelah Royyan berhenti dan telah berdiri dengan tegak.
"Tebakan elu ngaco,"jawab Royyan dengan wajahnya kembali seperti semula.
"Terus apa dong? Mana ada cowok ngasih cewek tanpa ada maunya, gak yakin gue."
Lagi-lagi Royyan menyeringai tipis, lantas dia mulai menggerakkan kakinya tergeluncur di sekitar Almira. Wanita bermata kucing kecoklatan itu, mengekori kemana pun Royyan bergerak seraya terus menunggu jawaban dari pria yang dia sebut sebagai pria kebab.
"Kalau gak mau, tinggal buang aja,"celetuk Royyan menari-nari di atas es.
"Sayang gila! Masa dibuang gitu aja, jangan mentang-mentang punya duit, maen buang aja lu."
"Ya makan."
Geram. Almira kembali menggerenyotkan wajahnya kesal dengan kepalan tangan yang membulat sembari salah satu tangannya tetap menggenggam tas hitam itu.
Iih ngeselin banget sih. Untung ganteng, kalau kagak udah gua kunyah tuh hidung mancungnya. Ini emaknya ngidam apaan dah, bisa-bisanya anaknya kelakuannya kek begini.
Almira menggerutu dalam batinnya.
Melihat Almira terdiam yang terus memandangi tas yang berisikan coklat itu, Royyan menggeser kakinya mendekati Almira dan menarik tangan wanita mungil itu, kembali masuk ke dalam dekapannya yang hangat.
"Akh...."teriak Almira membeliakkan matanya, beruntungnya tas itu tak terlepas dari genggaman tangannya.
"Sebagai imbalan, mari kita dansa."papar Royyan menaikkan kedua alisnya menggoda Almira, melingkarkan satu tangannya di pinggang kecil Almira sedangkan satu tangannya yang lain menggenggam tangan Almira yang menganggur.
"Heh! Siapa yang mengizinkan elu meluk kayak gini, lu pikir gua ini pacar elu apa,"bantah Almira mendorong Royyan dengan satu tangannya yang sudah sedari tadi menyentuh dada bidang pria itu.
Tubuh kekar Royyan sama sekali tidak bergerak, dorongan Almira terlalu lembut. Sudut bibir kanannya naik dan segera bergerak ke arah manapun dengan sembarang.
"Akh...."
"Kalau sampai jatuh, elu tanggung jawab ya,"
"Iya."
Berakhirlah keduanya menari di atas es dengan indah, layaknya seorang pangeran dan Cinderella dalam dongeng. Bergerak ke kanan dan kiri, serta depan dan belakang. Melenggok dengan gerakan indah, kedua pasang mata itu saling terpatri dan kedua bibir dua insan ini saling menyeringai dengan hangat.
"Coklatnya makan. Jangan di buang, sayang dapet beli orang lain,"bisik Royyan tepat di telinga Almira.
Deg!
Jantung Almira berdegup sangat cepat, berlari-lari. Menggetarkan seluruh raganya, bergidik, merinding. Tone suaranya yang berat membuat tubuh Almira lemas, ingin lepas pun tak bisa. Dekapan Royyan terlalu nyaman dimana hatinya tengah dilanda petir yang sangat keras, hari ini adalah hari terakhirnya di Indonesi, besok dia tidak akan menghirup udara Jakarta lagi.
__ADS_1
NEXT....