
Jingga yang melekat dengan langit tiba-tiba menggelap, menyeret netra Almira untuk memandanginya dan gadis itu terpaksa memangkas langkahnya dekat dengan sang suami. Saat seperti inilah, Royyan melingkari pinggang sang istri dan menariknya hingga terjatuh ke pangkuannya.
"Aaakh ..."pekik Almira, tubuhnya terpaku bisu sejenak.
Kemudian wajahnya menoleh pada sang suami yang tengah menatapnya dengan tatapan yang paling dibencinya. Sebuah sorotan tajam yang membuat Almira membeku dan seolah sebagian waktunya dirampas oleh tatapan itu, sekali lagi dia telan ludahnya dengan kasar.
"Kenapa kak ..."tanya Almira lirih, kedua tangannya menggantung di bahu lebar Royyan.
Pria bertubuh penuh otot itu merekatkan dekapannya di bagian pinggang istrinya. "Jawab dulu, kamu gak bisa mangkir, atau ... Aku bisa maksa kamu dengan cara yang gak akan kamu bayangkan,"desak Royyan yang kemudian menjatuhkan tatapannya pada bibir Almira.
"Apa?! Kamu jangan aneh-aneh ya,"tepis Almira mendorong dada sang suami hingga melanggar sofa yang tengah mereka duduki bersama.
"Jawab pertanyaan aku tadi?"
"Pertanyaan apa?" Dahi gadis itu mengernyit.
"Sudah berapa kali motor itu mendatangimu?" Pertanyaan Royyan kali ini sangat jelas, dan Almira tak bisa lagi mengelak atau beralasan hal lain untuk menghindari semua pertanyaan itu.
"Euum ..."Almira hanya bergumam panjang tanpa melontarkan satu patah kata pun.
Bola matanya terlempar ke arah lain menghindari sang suami. Lidahnya seakan kelu bersamaan dengan tubuhnya yang ikut membisu, sedang kedua tangannya menggantung di leher Royyan dengan kuat. Sungguh dia tidak tahu harus menjawab apa.
Melihat istrinya mengisyaratkan tingkah yang aneh, gegas dia apit dagu sang istri dan mengarahkan padanya. Akhirnya Almira terdiam, dan terpaksa membekukan tatapannya pada sang suami.
"Sebenarnya ... Kejadian seperti tadi pernah terjadi satu kali, dan ...." Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa Almira sadari.
Belum habis Almira merangkai kata-katanya untuk menjelaskan apa yang terjadi saat itu, Royyan segera membeliakkan tatapannya bersamaan dengan kerutan di dahinya dengan dalam. "Kenapa kamu gak bilang soal itu sama aku, kamu tahu hal itu bahaya buat kamu, kenapa malah menyembunyikannya dari aku,"gerundel Royyan menurunkan istrinya dari pangkuannya.
Langkahnya beralih pada jendela yang memancarkan sinar mentari hari ini dengan penuh kegagahan, Almira terpaku diam di sofa yang semula diduduki oleh Royyan, dia memandangi punggung suaminya dengan penuh rasa bersalah.
"Kamu lupa, kalau aku pernah dalam posisi kamu saat ini, semuanya sangat menakutkan. Aku dihantui oleh bayang-bayang kematian, tapi beruntungnya Dirta hanya menyuruh mereka untuk mengancam ku, tidak untuk melenyapkan ku,"jelas Royyan, netranya merajam setiap benda yang ada di hadapannya.
Almira menghela napasnya panjang, mengatur pola pernapasannya dengan benar untuk mempersiapkan diri menghadapi sang suami. Punggung lelaki itu tampak tegap menegangkan, jiwa-jiwa kelam kembali memeluk lelaki itu hingga sesak di dadanya berkumpul dengan penuh.
"Aku gak mau kamu kepikiran sama masalah aku, mungkin ini kebetulan aja kak ..."sanggah Almira mendekati sang suami.
Wanita berambut coklat keemasan itu, memutar tubuh suaminya untuk mengarah padanya. Dia relai tangan yang terlipat di dada Royyan dan dia genggam tangan yang berukuran besar itu, bahkan tangan mungilnya bisa dengan begitu saja dilahap habis oleh tangan pria itu.
"Kebetulan tidak akan terjadi berulang kali,"cetus Royyan menarik kedua tangannya dari genggaman Almira.
Wajah gadis itu mengendur merasa sakit hati karena genggamannya tertolak secara nyata di hadapannya, bibirnya menganjur ke depan dengan kesal. Tatapannya terjatuh pada kedua kakinya yang mencium kaki suaminya.
"Jadi berapa kali kejadian itu terjadi sama kamu,"tanya Royyan sambil mengapit dagu istinya dan membawa tatapan gadis itu tenggelam pada binaran jingga yang terekam di bola matanya.
"Dua kali sama hari ini,"jawab Almira menepis tangan suaminya yang masih menggantung di dagunya.
Lantas dia melempar tatapannya ke arah lain. Langkahnya bergerak cepat meninggalkan Royyan yang nampak kebingungan dengan sikap istrinya, tiba-tiba saja Almira menciptakan jarak yang begitu nyata dengan Royyan.
Dengan sigap Royyan tahan pinggang istrinya dan menyeretnya untuk masuk ke dalam dekapannya, lingkaran tangannya mengerat. Tangannya yang lain menggenggam salah satu tangan istrinya dengan lekat.
__ADS_1
"Mulai sekarang, apapun yang terjadi kamu harus bilang, kalau terjadi apa-apa dengan kamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri,"papar Royyan panjang yang kemudian dia mengusap sebuah ciuman hangat di telinga Almira.
"Euum ..."gumam Almira menganggukkan kepalanya.
Lelaki bertubuh kekar itu tahu betul jika istrinya sedang kesal, lantas dia menganjurkan tubuhnya ke depan, melekatkan dadanya dengan punggung sang istri dan dagunya terjatuh di bahu Almira.
"Kayaknya ada yang marah, kenapa sayang ..." Suara lirihnya menerobos masuk ke dalam rongga telinga Almira.
Gadis itu menepisnya dengan memutar kepalanya ke arah lain dengan tegas, tetapi dia tidak bisa melepaskan dekapan sang suami yang melekat di tubuhnya. Pria kekar itu jika sudah mengunci tubuh istrinya, tidak akan mudah terlepas begitu saja.
"Maaf ..."seru Royyan dengan nada suara yang amat pelan, ia layaknya embusan lembut yang menjelma menjadi ribuan embun.
"Kamu nyebelin, dah ah lepasin, pulang aja sana,"kesal Almira mendorong tubuh sang suami untuk terlepas dari tubuhnya.
Namun, lelaki itu tidak membiarkan istrinya lepas dari dekapannya. Dia memutar tubuh Almira menghadapnya, mengekang sorot mata kesal yang berkumpul di bola mata kecoklatan gadis itu, sedangkan dirinya menurunkan lututnya menyejajarkan tinggi badannya dengan Almira.
"Kenapa lagi?! Apa yang aku perbuat, aku kan cuman gak mau kenapa-kenapa, maka dari itu aku agak kesal saat kamu tidak memberitahu kejadian apa yang mendatangimu,"pungkas Royyan melepaskan alisnya ke atas.
Almira mencebik kesal, bahkan kedua tangan yang terlipat di depan ikut mengerat. "Bukan itu ..."rengek gadis bermata kucing itu.
"Lantas ..."
"Kamu gak mau aku genggam, jadi yaudah sana kamu pulang aja,"cetus Almira memunggungi suaminya lagi.
Kaki jenjangnya melangkah menjauh.
Royyan melahap langkahnya dengan suapan besar sehingga langkah gadis mungil itu bisa tersusul olehnya, kini lelaki itu sudah berada di depan Almira, membuat mata kucing itu terpaksa harus tertadah dan terpatri pada tatapan yang selalu membuat raganya bergetar penuh rasa yang mendebarkan.
"Kenapa sekarang jadi sering marah-marah sih."
Tanpa aba-aba Royyan genggam pinggang wanitanya itu dan membawa tubuh mungil itu melayang di udara, seketika bola mata kucing itu melebar dengan penuh, dan kedua kakinya terapung di udara sesekali dia menendang-nendang ruang hampa di depannya.
"KAK! ... Turunin aku cepetan! Kamu kenapa sih,"pinta Almira melantingkan suaranya.
Pria dengan lengan berotot itu tak mendengarkan ocehan istrinya, langkahnya terus bergulir mendekati meja kerja gadis mungil itu. Dia letakkan bokong istrinya di ruang kosong yang dikepung oleh tumpukan kertas---lembar kerja Almira.
"Mana tangan kamu,"pinta Royyan menjulurkan tangannya di hadapan Almira.
"Gak mau,"sanggah Almira menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Mana ..."tegas Royyan.
Raga gadis itu semakin terenyak menjauhi sang suami ; netranya terjatuh pada kelembutan yang menjadi bagian terindah di paras Royyan, ia adalah bagian bibir yang tampak lembut, bibir itu terus saja menyeringai menggoda Almira.
"Sayang ..."panggil Royyan lembut menegaskan keinginannya untuk menggenggam tangan istrinya.
Hanya saja gadis mungil itu masih saja gigih untuk menyembunyikan kedua tangannya. "Enggak! Gak usah maksa."
"Oke ..." Anggukan tegas terlepas dari pertahanan lelaki itu.
__ADS_1
Dengan secepat kilat, wajah pria itu mendekat dan melekatkan bibirnya di atas bibir istrinya ; Almira terlonjak kaget, dia mengerjap sepersekian detik bersamaan dengan sebuah ci*m*n hangat itu melekat dalam beberapa detik.
Royyan tarik bibirnya dari atas bibir Almira, tetapi tubuhnya masih saja menganjur ke dekat Almira, sorot mata tajamnya mengepung jiwa Almira sehingga gadis itu membeku bak sebuah patung-patung miliknya yang menjadi penghuni butik.
"Jadi ... Mau aku lanjut atau serahkan tangan kamu,"pinta Royyan sekali lagi, embusan napasnya menyebar ke setiap pori-pori wajahnya.
"Euum ..." Almira bergumam sekali lagi.
Dengan terpaksa Almira julurkan satu tangannya ke depan ; Royyan sambar tangan Almira yang telungkup dan dia gerakkan menjadi tertadah, dia genggam tangan istrinya itu dengan erat, sedangkan tangannya yang lain menyeluk ke bagian saku celananya, pria berbadan tegap itu mengambil sebuah benda yang di beli Adrian tadi.
"Pakai ini, dan periksa,"titahnya kemudian setelah dia meletakan sebuah alat tes kehamilan.
Degh!
Bola mata gadis itu melebar kala merekam alat tes kehamilan yang semula sudah terlintas dibenaknya. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan, tangannya pun ikut bergetar, dia didekap oleh kecanggungan yang tiba-tiba saja tercipta.
"Kenapa kamu ngasih aku ini?"tanya Almira seolah dia tidak mengerti apa yang dimaksud benda itu.
Royyan melangkah mundur seraya menyelukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Cek, apa kamu hamil atau enggak,"lontar Royyan bersandar pada sofa yang tepat berada di belakangnya.
"Hamil?!" Dahi Almira mengernyit. Ini juga yang terlintas dibenaknya.
"Iya. Kita suami-istri dan sudah melakukan hubungan in**m beberapakali, ada kemungkinan kamu hamil bukan?"ungkapnya enteng.
Sementara dada Almira bergemuruh menyerukan sebuah kilatan yang mendebarkan, rasanya gadis itu belum siap menjadi seorang ibu, tetapi bagaimanapun itu dia harus menerimanya karena mereka melakukan hubungan in**m itu dalam keadaan sadar dan waras, mereka tahu betul apa akibat dari perbuatan mereka.
Almira mengendurkan bokongnya ke bawah, dia turun dari mejanya dan mendekati sang suami. "Gimana cara makenya?"tanya Almira polos.
"Euum ..." Royyan bergumam menyerukan ketidaktahuan.
Sesungguhnya pria itu pun tak tahu menahu cara pakai dari benda itu. Langkahnya kembali bergerak ke arah lain, melambungkan berbagai macam pertanyaan dan mencari sosok yang bisa dia tanya tentang semua itu.
"Tanya Manda bagaimana cara pakainya, aku juga gak tahu gimana cara pake benda itu,"celetuk Royyan memutar tubuhnya kembali mendekati Almira.
"Ya udah, nanti aku tanya. Soalnya Manda gak akan balik butik lagi kalau hari ini."
"Tumben?! Ada apa?" Alis pria itu terlepas ke atas.
"Katanya lagi ngobatin Ajun,"jawab Almira melenggang kembali ke kursinya.
Lalu dia termendak di atas kursi dan punggungnya dia sandarkan. Melihat istrinya beralih, Royyan lekas mengayuh langkahnya untuk mendekati wanitanya itu. Dia menganjur ke depan dan menjadikan meja kerja gadis itu sebagai tumpuan tubuhnya.
"Ajun kenapa? Kok gak ada bilang apa-apa itu anak,"pungkas Royyan bertanya-tanya.
Tak biasanya pria bermata downturned itu tak memberitahu kejadian yang ada dalam hidupnya pada Royyan. Wajah lelaki itu semakin mengerut saja, dia melepaskan sorot matanya pada pikiran-pikiran yang sudah menjelma jadi pertanyaan.
Melihat sang suami tampak khawatir, Almira segera berdiri dari kursinya dan menempatkan dirinya tepat di samping kanan sang suami. "Katanya Ajun nolongin Manda yang diganggu dua cowok gak jelas. Udah kamu gak usah khawatir." Almira mencoba menenangkan suaminya, bahkan dia membuai lengan kekar sang suami. "Mereka baik-baik aja kok, tadi Manda bilang katanya lagi ngobatin Ajun,"sambung Almira memasati rahang tegas milik suaminya.
NEXT ....
__ADS_1