
"Gue mencintai Royyan, Jun! Kenapa semua orang nyuruh gue buat berhenti, sampai kapan pun gue gak akan pernah berhenti untuk mendapatkan Royyan, gue yang kenal lebih dulu dari Ra! harusnya gue yang mendapatkannya bukan dia!"kukuh Elshara dengan tatapan getirnya.
Ajun menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan jalan pikiran Elshara, pria itu sudah kehabisan akal sehingga dia mendengkus dengan kasar, "cukup El, lepasin Royyan. Dia udah memilih Ra sebagai istrinya, jika enggak sama Ra dia bisa gila,"pungkas Ajun berkacak pinggang.
"ENGGAK! Royyan itu milik gue, cuman gua yang pantas mendampingi Royyan, bukan Ra dan juga bukan siapapun! Camkan ini Ajun,"tegasnya menunjuk Ajun dengan kasar, "gue akan mendapatkan Royyan, bagaimanapun caranya termasuk menyingkirkan Ra dari hidup Royyan! Gue benci sama lu Ajun!"Elshara lempar tangannya ke bawah dengan kasar.
Lantas gadis yang masih berderai itu melenggang pergi dari hadapan Ajun, punggungnya masih bergetar, tetapi netranya mampu membakar apapun yang ada di hadapannya, termasuk tatapan Ajun yang melemah, dia tidak bisa menenangkan gadis itu. Ribuan air matanya berhamburan ke pipinya, tetapi jiwanya yang terbakar membuat air mata itu menjadi panas dan Ajun tak mampu mendekat.
Ajun menyapu wajahnya dengan kasar sampai rambutnya terdiam, beberapa detik kemudian angin berburai mengembalikan rambut Ajun menjadi berantakan, lantas lelaki itu menghela napasnya panjang.
"El ... El ... lu itu kenapa sih hobi banget nyakiti diri lu sendiri, bukannya dulu lu pergi karena mau lupain rasa lu sama Royyan, kenapa lu jadi kayak gini sekarang, lu bukan cuman udah gila, tapi lu terlalu terobsesi sama Royyan,"cakapnya bersama para pawana yang mengembara seraya dia menggelengkan kepalanya.
Pria itu masih memandangi punggung indah Elshara sampai gadis itu tak terlihat lagi karena tenggelam di lorong gelap dan masuk ke dalam bulatan cahaya yang tercipta oleh sinar matahari yang berhamburan menikam segala benda yang ada di bawahnya.
"Tahu ah,"katanya mengacak-acak rambutnya sendiri, "terserah mau ngapain dah tuh anak, bukan urusan gue, kalaupun si El nekat sekalipun, Royyan gak akan diem,"tambahnya kemudian dia membuka pintu mobilnya dan dia masuk ke dalamnya.
...***...
Hari kemarin menjadi hari tersibuk Royyan, banyak sekali pekerjaan yang harus dia selesaikan sampai dia harus pulang tengah malam buta. Dan konferensi pers terpaksa harus di batalkan begitu pun dengan kunjungannya ke rumah orangtuanya dan mertuanya.
Dari matahari menyingsing sampai matahari kembali tenggelam dan berganti dengan gelap, pria itu tak habis-habisnya mengerjakan berbagai macam proyek besar dari tempat yang berbeda.
Dalam waktu dekat ini dia harus pergi ke Paris untuk pagelaran acara fashion tahunan yang akan di adakan di kastil yang dia namakan dengan kastil Rain, sebuah bangunan megah yang dia bangun untuk proyek film besar beberapa tahun yang lalu dan kini bangunan itu digunakan untuk berbagai macam acara besar, termasuk acara penghargaan para desainer dunia.
Pagi buta Royyan yang mengenakan stelan jasnya rapi segera keluar dari kamar apartemen meninggalkan Almira yang masih tertidur lelap di sampingnya, sebelum keluar pria itu sempat menyiapkan pakaian dan aksesoris mewah untuk istrinya gunakan hari ini, dia letakkan di atas ranjang.
Hanya memerlukan waktu setengah jam untuk tiba di lokasi yang akan dia pakai untuk acara konferensi pers, dalam konferensi pers itu akan menghadirkan Ajun, Manda, Rian, Rini, Aneu, dan juga Ressa serta Miranda.
Sebuah rumah dua lantai dengan halaman luas bergaya sederhana, tetapi elegan itu akan menjadi tempat konferensi pers tersebut, rumah yang baru di belinya di hari kemarin, sebetulnya rumah itu akan di berikan pada Adrian sesuai permintaan Almira saat di Bali untuk memberikan sebuah hadiah untuk Adrian karena kinerjanya yang luar biasa.
"Bagaimana pak, apa bapak menyukai rumahnya, rumah ini tak terlalu besar seperti rumah bapak yang sekarang, tetapi rumah ini pemandangannya bagus dan lokasinya juga tepat dekat dengan kantor dan juga dengan lokasi butik nona, di belakang juga pekarangan bunga terbentang luas, sesuai kesukaan dari nona,"jelas Adrian yang mengekori Royyan di belakang.
Anggukan kecil menyembul, seraya mengedarkan tatapannya Royyan menoleh pada Adrian, "oke. Rumah yang bagus,"puji Royyan pada rumah dengan nuansa putih yang menyegarkan, di ruangan lain terdapat warna-warna yang senada.
Rumah yang memiliki enam kamar tidur dan delapan kamar mandi itu membuat Royyan mengangguk kagum dengan sang perancang bangunan tersebut. Walau hanya memiliki dua lantai, tetapi rumah itu di lengkapi berbagai macam ruangan yang sangat cocok untuk Adrian.
"Kamu menyukai rumah ini?"tanya Royyan seraya dia melimbai ke ruangan lain yang masih kosong.
"Iya pak, saya menyukainya, tetapi saya takut jika bapak tidak menyukainya,"jawab Adrian tegas.
Jauh di dalam lubuk hatinya ada sebuah kekhawatiran jika pilihannya tidak sesuai dengan kriteria Royyan, karena setahunya rumah Royyan jauh lebih mewah dari pilihannya, bagaimana tidak? Rumah Royyan memiliki empat lantai dengan kolam renang yang luas, terlebih ada ruangan khusus untuk gym dan juga fasilitas lainnya.
"Tidak masalah, karena rumah ini bukan untuk saya,"celetuk Royyan menutup pintu ruangan kosong itu, lalu dia beranjak dari depan ruangan itu ke arah tangga yang membawanya ke lantai satu yang tak kalah luasnya dengan lantai dua yang di kelilingi balkon di setiap ruangan.
Adrian tercekat, fantasinya melambung tinggi tentang siapa yang akan menjadi pemilik rumah ini. Dia garuk dahinya dengan lembut, kernyitan di sana pun ikut melekuk. Hanya saja kakinya tidak berhenti untuk mengekori Royyan yang terus melangkah ke bawah, tepat di depan meja panjang dan banyaknya kursi di belakang meja itu yang sudah di tata dengan rapi di pekarangan luas itu.
__ADS_1
Sedang di depannya ada puluhan kursi lengkap dengan mejanya untuk para wartawan yang akan meliput konferensi pers tersebut.
"Rumah ini untuk teman bapak atau saudara bapak?"tanya Adrian penasaran, dia sama sekali tidak terpikirkan jika dirinya lah yang akan menjadi pemilik rumah sesungguhnya.
Royyan menghela napasnya, "simpan kuncinya bersamamu, karena rumah ini milikmu,"celetuk Royyan seraya dia menarik kedua tangannya terlipat di depan.
"Hah?!"seru Adrian lantang, mulutnya terbuka beberapa detik ke depan, lalu dia segera tutup mulutnya yang terbuka itu, "maksudanya pak?"tanyanya lagi masih belum bisa mempecayai apa yang sudah dia dengar.
"Permintaan istri saya untuk membelikan rumah buat kamu,"papar Royyan menatap lurus ke depan.
"Lah kenapa nona meminta hal seperti itu pada bapak?"tanya Ajun merasa aneh, mengapa Almira ingin membelikannya rumah, sedangkan Adrian hanya bekerja pada Royyan.
"Entahlah, saya hanya menuruti apa keinginan istri saya,"sahut Royyan lagi.
Perbincangan itu dengan cepat berakhir, semua orang mulai memasuki pekarangan yang di penuhi tanaman hias dan berbagai macam bunga yang bermekaran di belakang rumah tersebut. Para wartawan yang di undang langsung oleh Royyan dengan cepat memenuhi kursi-kursi yang tersedia di sana.
Sedangkan di tempat lain, tepat di apartemen dimana Almira tinggal. Gadis berambut coklat keemasan itu telah terbangun dan mengenakan handuk kimononya yang berwarna putih, seraya dia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil yang juga berwarna putih. Bola matanya terlempat ke atas ranjang, di sana terbaring gaun berwarna biru tenang di atas lutut yang berkilauan dengan bagian dada sedikit terbuka berlengan panjang.
Lantas dia mengayuh kakinya ke dekat gaun tersebut, "gaun buat apaan nih?"tanya Almira pada dinding dan benda mati yang ada di sana sambil dia meraih gaun itu, dia bawa ke atas berdiri di hadapannya, "kenapa ada disini? Masa gue harus pake gaun ini sih, buat apaan?"gadis itu masih terus bertanya-tanya.
Wajahnya mengernyit meruncingkan tatapannya pada gaun itu, belum habis di sana, matanya sudha terlempar lagi ke sebuah kotak perhiasan yang tadi ikut tertidur di samping gaun, lekas dia lempar gaun itu ke tempat asalnya dan beralih pada kotak berwarna biru yang pernah dia lihat sebelumnya.
"Bukannya ini satu set blue diamond yang waktu itu,"lirihnya menyipitkan kedua bola matanya, "gue harus pake ini gitu, emangnya mau ngapain sih? Kalau konferensi pers bukannya kemarin udah ya, kalaupun jadinya hari ini ... buat apaan coba pake semua ini segala."gadis itu masih memenuhi kepalanya dengan agakan yang terukir di lembah batinnya.
"Halo Man, eh gue mau nanya dong,"papar Almira, bahkan Manda sendiri pun belum sempat untuk membuka mulutnya.
"Elu ya, gua belum ngomong udah nanya duluan, nanya apaan sih lu?"sahut Manda di balik ponsel.
Tawa kecil dari wanita bermata kucing itu mencelat, lalu dia lempar bokongnya ke atas ranjang terduduk di sana seraya mengenyakkan tubuhnya ke belakang dan satu tangannya yang lain dia gunakan untuk menjadi penopang tubuhnya.
"Kak Royyan nyiapin baju sama perhiasan di atas meja, gue pake atau enggak ya?"tanyanya kemudian.
"Ya pake dodol, laki lu nyiapin itu kan buat lu pake, orang laki lu mau konferensi pers juga buat pengumuman pernikahan kalian,"balas Manda.
"What?"seru Almira mengernyitkan seluruh wajahnya seraya dia menarik tubuhnya untuk kembali berdiri, lalu dia urut wajahnya yang berkerut terperanjat itu ke belakang kepalanya, "kok gue gak di kasih tahu sih."
"Lu udah tidur kali,"duga Manda.
"Iya juga sih, pas gue tidur kak Royyan belum balik, dan pas gue bangun dia udah gak ada,"sahut Almira kembali menerjunkan bokongnya ke atas ranjang.
"Nah kan bener."
"Eh bentar, gue tuh pengen nanya satu hal lagi, kapan lu kasih nomor gue ke Ajun, parah lu ya,"protes Almira menarik tubuhnya kembali untuk berdiri dan satu tangannya menongkrong di pinggangnya dengan wajah yang tertadah kesal.
Terdengar tawa kecil Manda di telinga Almira, suaranya sangat nyaring, seolah gadis itu puas telah mengelabui sahabatnya itu, membuat wajah Almira memberengut kesal.
__ADS_1
"Sorry ... ya lagian si Ajun maksa, lu tahu gak gua mau di kiss sama dia kan gila tuh orang, mana di restoran lagi, di liatin banyak orang anjirr, ya udah gue kasih aja,"terang Manda menggebu-gebu.
"Hah?!"seru Almira, pipi kirinya menaik tak percaya jika Ajun akan melakukan hal itu. "Dia suka sama elu?"celetuknya tidak mencerna perkataan Manda dengan benar, langkah mondar-mandirnya berangsur cepat.
"Heh! Ngaco lu ya, si Ajun suka sama gue? Ya kali begitu, dia tuh keluarganya tajir melintir punya sirkuit, punya hotel dimana-mana dan dia pengacara terkenal, gak mungkin juga suka sama gue, gue itu cuman anak pemilik kedai ayam goreng kecil, kalau bukan karena jasa orangtua lu dan lu Ra gak mungkin gue bisa punya karir sebagus ini,"beber panjang Manda masih meremehkan dirinya sendiri.
"Hush! Lu ngomong apaan sih, udah ah males gue kalau lu udah merendahkan diri lu kayak gini."
Tawa kecil menggema lembut di telinga Almira, "iya iya, eh gue nelpon lu itu mau nanya, lu kapan ke lokasi konferensi pers-nya, gue di suruh ke sana tuh buat jadi saksi katanya,"jawab Manda.
"Bentar lagi gue meluncur, tapi sebenarnya gue gak tahu harus kemana, kak Royyan gak ada ngasih tahu apapun,"tanggap Almira melempar tubuhnya kembali ke atas ranjang dalam posisi telungkup.
"Telepon laki lu lah,"saran Manda.
"Iya nanti gue telepon tuh orang, udah ya gue mau ganti baju nih."
Tanpa menunggu jawaban dari Manda, wanita itu lekas melepaskan handuk kimono dari tubuhnya dan menggantinya dengan gaun yang sudah di sediakan oleh Royyan untuknya, satu persatu perhiasan yang terbaring di dalam kotak itu dia pakai sambil berkaca, bahkan Royyan sudah menyiapkan peralatan make up di atas meja depan kaca panjang yang menyatu dengan meja itu.
Setelah selesai merias wajahnya seperti biasa, tipis, gadis itu tidak terlalu suka dengan make up yang pekat apalagi sampai menampilkan wajahnya menjadi tebal, menurutnya hal itu sangat mengganggunya. Kemudian wanita bertubuh mungil itu beranjak dari kursi depan kacanya beralih ke dekat nakas, dia ingin menghubungi suaminya.
Namun, belum juga dia mencari nomor sang suami, Royyan sudah lebih dulu mengiriminya sebuah pesan singkat.
[Aku udah siapkan mobil dan sopirnya, nanti mereka yang akan mengantarkan kamu ke sini.]
Tanpa basa-basi lagi gadis dengan mata kecoklatan itu lekas membalas pesan sang suami, sebelumnya dia luncurkan bokongnya ke atas ranjang, terperenyuk dengan lembut di sana.
[Acaranya dimana? Kamu kok gak ngasih tahu aku sih, jahat!]
[Kan kamu tidur sayang, kalau kamu bangun nanti aku minta jatah gimana?]
Degh! Deg deg deg deg ....
Deru jantung Almira berhamburan kuat sehingga seluruh raganya merasa lemas, bulu di lehernya meringkik. Setelah dua hari malam panas itu perkataan Royyan sudah tak bisa dikendalikan lagi, lelaki itu selalu mengulangi perkataan yang mampu membuat Almira dan tak bisa menggerakkan bibir tipisnya itu.
"Wah ini laki siapa sih, mulutnya gak berfilter,"celanya dengan raga yang masih bergidik geli.
Jari-jarinya kembali menari-nari di layar pintar dengan ukuran layar 6,7 inchi, giginya mengerat geram, jika sang suami ada di hadapannya, sepertinya gadis itu dengan senang hati untuk memburunya dengan pukulan sembari dia mencibir.
[Heh! Awas ya kamu, aku gigit kamu.]
[Boleh, mau sebelah mana?]
Sekonyong-konyong bola mata Almira menjungkar hebat sampai rasanya bola mata itu ingin keluar dan terlempar menghantam lelaki yang ada di rumah baru milik Adrian, lelaki itu tengah tersenyum puas menggoda sang istri, dia sudah menyangka jika wanitanya itu tengah mematung dan tak bisa melakukan apapun selain menatapi layar ponsel dengan beku dan bola mata yang berputar-putar tak beraturan.
NEXT ....
__ADS_1