Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 24 : Mencari gaun part 3.


__ADS_3

Pagi yang selalu sama, senyap. Almira terbangun pada pukul 06.45 wib, memang sudah sangat siang dari biasanya dia terbangun. Menangis itu memang membuatnya lega, tetapi itu cukup melelahkan baginya. Berangsur dari ranjangnya, mengedarkan pandanga ke setiap sudut kamarnya yang luas itu, mencari sosok yang tinggal bersamanya, Royyan.


Dia tidak mendapati Royyan tertidur di sampingnya.


Wanita yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya itu berayun ke lorong kamar mandi, menguatkan indra pendengarannya untuk memastikan apakah ada suara gemerincik air dari shower di dalam sana, tapi tidak ada suara apapun disana. Senyap. Hanya sayup-sayup suara angin yang menerobos masuk pendengarannya.


Seraya kembali melangkahkan kakinya ke samping ranjang dia menggeliat lalu menguap sambil dia menutupi mulutnya setelah dia puas merentangkan tangannya untuk melenturkan otot-otot tubuhnya sisa tidur semalam. Wajah sembabnya masih layu, hatinya belum benar-benar puas menumpahkan air matanya semalam.


"Gimana gua bisa tidur saat masih nangis sih, mana di pelukan kak Royyan lagi,"celotehnya seraya berayun ke sofa depan televisi besar.


Lantas dia menyalakan televisi itu. Setelah beberapa bulan dia menempati rumah dan kamar itu, ini kali pertama wanita yang setengah mengantuk itu menyalakan televisinya. Selama ini dia selalu begitu bersemangat untuk pergi ke butik, pekerjaannya adalah sebuah hobi yang dia tekuni dari masa remaja.


Matahari yang sudah menyingsing dari satu jam yang lalu, mulai menyelinap masuk ke sela-sela jendela panjang yang langsung tersambung dengan balkon, sinarnya yang memesona menarik perhatian Almira untuk memandanginya, mata kucingnya berpindah fokus pada matahari yang bersinar cerah di luar sana.


"Cerah banget diluar, tapi mager ah keluarnya,"pungkasnya yang kemudian menidurkan tubuhnya di atas sofa panjang yang bisa di atur layaknya kasur mini.


Cahaya matahari itu terlalu memukau membuat Almira ingin sekali keluar untuk menikmati sinarnya, tetapi hal itu telah kalah dari hatinya yang tengah redup. Malam ini adalah malam pelelangan perhiasan yang sebenarnya dinantikannya, akan tetapi hal itu sudah musnah. Tak ada gaun yang cocok untuk digunakannya.


Siaran televisi itu tidak menampilkan hal yang menarik bagi wanita bermata kucing itu. Almira mengganti siaran televisi beberapa kali, tetapi tidak ada yang ingin dia tonton. Namun, tidak lama dari itu ponsel yang tertidur di atas nakas bergetar dan menggemakan dering panggilan masuk.


Dengan malas Almira menyeret langkahnya mendekati nakas dan segera mengangkatnya setelah dia melihat siapa yang meneleponnya sepagi ini.


"Kenapa kak? Kak Royyan berangkat jam berapa? Kok aku gak lihat kakak pas aku bangun, apa aku bangunnya kesiangan ya,"tanyanya beruntun tidak membiarkan Royyan membuka mulutnya, sambil dia kembali ke sofa dan duduk lagi disana.


"Kan kamu masih tidur,"jawab Royyan seadanya.


"Kenapa gak bangunin aku?"sahut Almira mengerutkan bibirnya, kemudian dia menghenyakkan punggung bersandar pada sofa panjang itu.


"Mau ke butik?"


"Enggak sih, mager. Pengen diem aja di rumah."


"Yaudah. Jam sepuluh kamu ke rumah mami papi ya,"ujar Royyan meminta Almira untuk mengunjungi rumah besar milik kedua orangtuanya tanpa memberi tahu alasannya apa.


Almira tersekat, wajah lembutnya melukiskan keheranan yang teramat dalam. Tak biasanya Royyan memintanya untuk berkunjung ke rumah mertuanya itu, jika pun itu terjadi, pasti ada suatu hal yang terjadi. Pikir Almira demikian.


Ada sesuatu nih pasti, gak mungkin kalau cuman nyuruh datang doang, ada apa nih? Mencurigakan banget kak Royyan, nanya pun percuma, kagak bakalan di jawab juga sama manusianya.


"Enggak mau, ngapain ke rumah mami papi, orang gak ada tujuan juga aku ke sana, lagian nih ya mami sama papi kan kerja dan kak Aneu ada di rumahnya. Rumah besar mami papi itu isinya cuman pelayan doang,"sanggah Almira seraya menjatuhkan dirinya ke atas sofa dengan sembarang.


"Pokoknya kamu datang, ini perintah."


"Ih apaan sih perintah-perintah segala, emangnya kamu siapa nyuruh-nyuruh aku, enggak. Aku gak mau,"balas Almira mendelik kasar dalam kesadaran yang masih belum terkumpul.


"Gak ada penolakan, nanti sopir akan membawa kamu ke rumah mami papi, aku ada meeting. Cepetan siap-siap,"papar Royyan tegas, lalu dia segera menutup teleponnya tanpa menunggu Almira untuk menjawabnya lagi.


"Eh kak,"seru Almira membuntang, sehingga dia bangkit dari sofa dan berdiri dengan tegak, kemudian dia menatapi layar segiempatnya itu dengan dalam seperti ingin tenggelam ke dalamnya dan menampakan diri di hadapan sang suami. "What? Orang belum beres ngomong, main matiin aja, dasar cowok nyebelin tingkat dewa, iish ...."kesal Almira melempar ponselnya ke ranjang di hadapannya.


Dia mendengus kasar, satu detik kemudian kedua tangannya mencangkung dipinggang kecilnya dengan bola mata yang berputar malas. Lalu dia menyeka wajahnya kasar dan melimbai ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Walau malas, tetapi dia harus menuruti perkataan dari suaminya, bukan karena dia menurut melainkan karena rasa penasarannya.


Setelah usai mandi dan mengganti pakaiannya serta merias wajahnya dengan sentuhan warna lembut yang tidak terlalu berat, wanita yang sudah menikah itu nampak seperti anak remaja yang baru saja beranjak dewasa. Dia melipir keluar dari kamarnya dengan tas kecil berwarna putih susu.

__ADS_1


Menuruni tangga dengan santai. Dia tidak ingin terlalu terburu-buru terhadap hal yang masih menjadi tabu dalam benaknya. Dia kayuh langkahnya dengan tenang sampai dia tiba di luar rumah dan segera disambut oleh sopir yang ditugaskan Royyan untuk mengantarnya ke rumah mertuanya. Mobil hitam telah terparkir tepat di hadapannya.


"Selamat pagi nona, mau berangkat sekarang?"tanya sopir itu tertunduk sopan yang berdiri di depan pintu mobil.


Almira mengangguk seraya menyeka rambut coklat keemasannya itu ke belakang, tetapi karena angin yang nakal, akhirnya rambut Almira kembali ke depan dan beberapa kali mengganggu penglihatannya.


Sopir yang memakai seragam berwarna hitam membukakan pintu mobil, lekas Almira masuk ke dalamnya. Di dalam mobil, segera dia mengikat rambutnya dengan ikat rambut berwarna putih, dan mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah mewah tersebut.


Mobil hitam melesat ke jalanan dengan secepat kilat, sampai para tetangga sekitar rumahnya tidak mengetahui kapan penghuni rumah itu keluar dan masuk. Tidak sedikit mereka bergosip karena penasaran dengan penghuni rumah besar yang ada di komplek itu, bahkan para pelayan, satpam dan pegawai lainnya tidak ada yang membuka mulutnya untuk menceritakan apa yang ada di dalam rumah itu.


"Rumah itu sebenarnya punya siapa sih?"


"Gak tahu juga, gak pernah lihat yang punya rumah keluar, apalagi berbaur sama tetangga."


"Jadi penasaran."


Obrolan itu selalu terdengar oleh Syani dan juga pelayan lainnya yang bertugas untuk memenuhi kebutuhan makanan rumah besar itu, tetapi mereka mengabaikannya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan dan segera kembali ke dalam rumah berpagar tinggi itu.


...***...


Rumah besar bergaya klasik itu bahkan hampir menyerupai kerajaan, nampak sepi. Namun, rumah ini memang selalu senyap dari suara-suara tidak berguna. Rasanya angin saja harus meminta izin terlebih dulu untuk masuk ke dalamnya, mobil hitam yang dkendarai oleh sopir itu masuk ke pekarangan rumah mertua Almira, taman bunga yang berada di sudut kanan menyebarkan wangi bunga yang sangat di sukai oleh wanita bermata kucing itu.


Lekas Almira keluar dari mobil dan berayun ke depan pintu utama. Belum sempat Almira meraih kenop pintu tersebut, pintu sudah lebih dulu terbuka. Beberapa pelayan telah berdiri di depan pintu menyambut Almira, dan Aneu ada di depannya, menghampiri dan mendekapnya singkat.


"Selamat datang adekku sayang,"paparnya setelah melepaskan dekapan.


"Kenapa ini? Gak usah di sambut kayak gini juga kak, aku bukan princess,"balasnya heran, dahinya mengernyit menyiratkan kebingungan yang mendalam.


"Gak papa dong. Royyan meminta kakak untuk menemani kamu memilih baju,"kata Aneu sembari menarik adik iparnya menyelam lebih dalam lagi, beralih ke ruang tengah.


"Ini mau ngapain? Kakak pesen baju apa gimana ini? Kenapa kakak sampai repot-repot bawa orang butik ke rumah,"ujar Almira polos.


"Kok kakak sih, ini kerjaan suami kamu lah, mana di bawa ke rumah mami papi, bukannya ke rumah kalian,"balas Aneu berjalan di belakang Almira.


Wanita bermata kucing itu menoleh pada sang kakak ipar, mendelik aneh. Untuk apa Royyan menyiapkan mereka semua, begitulah pertanyaan yang terbit di benaknya. Jika pun untuknya dari mana dia mengetahui jika Almira membutuhkan sebuah gaun, padahal Almira tidak pernah menceritakan hal itu padanya.


"Halo nona, tuan Adrian bilang jika nona membutuhkan gaun untuk acara penting,"tanya perancang busana yang tidak pernah dikenalinya.


"I-ya .... tapi kan aku gak pernah bilang kak, tahu dari mana kalau aku kehilangan gaun,"serunya masih dalam kabut keheranan.


"Udah, kamu pilih-pilih aja dulu, pertanyaan itu tanya aja langsung sama suami kamu,"ucap Aneu yang selalu berdiri di belakang Almira.


"Hmm .... Oke."sahutnya mulai menerbitkan senyum.


Kaki wanita mungil itu mulai melangkah menyambangi satu persatu gaun yang ada di hadapannya. Gaun-gaun cantik itu sungguh memanjakan mata Almira, senyumannya kembali merekah seperti bunga mawar yang baru mekar saat embun merasuki kelopaknya.


Sedang Aneu melipir pergi dari ruang tengah, langkahnya menuju dapur yang berjarak tujuh meter dari ruang tengah, dia menemui kepala pelayan yang memiliki keahlian membuat milky strawberry yang begitu enak.


"Bu Narti gimana?"tanyanya setiba dia menjumpai dapur.


"Sudah nona muda, silahkan,"sahutnya sembari menjulurkan segelas milky strawberry dengan ukuran besar.

__ADS_1


"Oke. Thankyou ...."Aneu segera membawa gelas itu kembali ke ruang tengah.


Melimbai dengan lembut. Membaca setiap keramik yang dia pijaki, menyelam ke ruang tengah. Dia lekas mendekati Almira yang berada di troli kedua sedang memilih gaun yang dia sukai.


"Udah dapet belum gaunnya?"tanyanya setelah dia mendekati Almira.


"Belum nih kak, tapi aku suka sama gaun yang ini,"sahut Almira tanpa memalingkan pandangan dari deretan gaun-gaun itu.


"Yaudah coba aja dulu, tentukan mana yang mau kamu pake,"balas Aneu seraya menyodorkan milky strawberry pada Almira.


Sontak dia terkejut sehingga netranya membeliak, milky strawberry ada dalam genggamannya. Hari kemarin mungkin hari yang menyebalkan, tetapi tuhan membayar ketidaksenangannya kemarin, hari ini dalam satu ketukan. Segera Almira menyambar milky strawberry dari tangan kakak iparnya dan segera menerjunkan minuman manis nan lembut itu ke tenggorokannya.


"Kak Aneu tahu dari mana kalau aku lagi pengen minum ini dari kemarin, cuman kemarin itu menyebalkan banget tahu gak kak,"celoteh Almira menjatuhkan dirinya ke sofa yang ada di belakangnya seraya dia meneguk minumannya dengan senang.


"Semuanya juga suami kamu, kemarin dia nelepon kakak buat minta nemenin kamu milih baju terus minta disiapin milky strawberry juga, emangnya kamu mau kemana sih sampe nyari gaun segala,"jelas Aneu seraya dia memilih-milih gaun yang sekiranya bagus untuk Almira.


Almira mengangguk. Tatapannya mulai kosong, tetapi mulutnya tidak berhenti menyeruput minuman yang dia gemari itu, walau pikirannya entah lari kemana.


Gue perasaan cuman nangis deh, kagak ngomong apa-apa, kok kak Royyan bisa tahu kalau aku nyari gaun dan pengen milky strawberry. Masa iya dia ngintilan gue, kan dia sibuk di kantor, mana ada sih pimpinan perusahaan berkeliaran sesuka hati, disaat proyek-proyek besar harus ada persetujuan dia.


"Ami ...."panggil Aneu seraya mengangkat dua gaun cantik yang menarik hatinya.


Almira mengerjap dan tersadar dari lamunannya. Segera dia menoleh dan meletakkan milky strawberry yang sudah ludes berpindah ke perutnya, lekas dia berdiri dan menghampiri Aneu.


"Ini sana cepet ganti dulu bajunya, kakak mau lihat mana yang bagus."


"Oke."


Almira membawa tiga gaun ke dalam pintu yang berjarak tiga meter dari sofa ruang tengah, pintu itu adalah sebuah kamar tamu yang telah dilengkapi ranjang dan kaca panjang seukuran tubuh Almira. Dinding putih di dalam sana memperjelas kecantikan gaun dan Almira menyatu dengan sempurna, warna kulit putihnya dan gaun merah muda dengan perpaduan gold itu menyempurnakan penampilannya.


Setelah puas berganti pakaian, dengan berbagai macam penilaian Aneu, akhirnya Almira memilih gaun panjang dengan bahan tile bagian luarnya berwarna merah jambu dengan perpaduan warna gold dan manik-manik bercahaya, sedang di bagian dadanya terbuka dengan rok panjang menyapu lantai, begitupun bagian punggungnya yang ikut terbuka, mempertontonkan tubuh indah Almira.


Bergegas dia keluar dengan wajah cerahnya mengenakan gaun tersebut, dia sungguh sangat jatuh cinta pada gaun itu, tak lama Almira keluar dari kamar tamu tersebut, Royyan bersama Adrian masuk ke dalam rumah, dan netra Royyan sudah terpaku pada wanita cantik di samping kirinya.


"Jangan pake yang itu,"celetuknya sesaat dia memasuki rumah.


Berayun mendekati Almira yang kini terlihat merengut seraya dia berkacak pinggang, wajahnya benar-benar menggemaskan.


"Aku mau yang ini pokoknya, gak mau tahu,"sahut Almira kukuh.


"Itu terlalu terbuka, lagian kamu mau kemana sih?"tegas Royyan.


Semua yang ada di ruang tengah mendadak membisu, termasuk Aneu yang segera menyingkir dari sepasang suami-istri itu, mendekati Adrian yang berdiri di depan pintu utama, karyawan butik dan juga perancangnya ikut menyingkir dan hanya menonton pertikaian Almira dan Royyan.


"Aku mau ke pelelangan perhiasan nanti malam, eh tapi kamu tahu dari mana kalau aku butuh gaun,"jawab Almira menajamkan pandangannya.


"Gak penting. Ganti bajunya,"pungkasnya melipir pergi dari hadapan Almira, seraya dia melucuti tiga kancing kemeja dan kancing lengan kemejanya.


"Gak mau. Aku suka yang ini, kan kamu yang nyiapin ini semua untuk aku, kenapa jadi ngatur sekarang."


Royyan menoleh kasar dengan tatapan tajam yang selalu ada di bola matanya itu. Kemudian dia berayun seraya melepaskan jas berwarna coklat susu dari tubuhnya dan kembali melangkah mendekati Almira. Langsung wanita yang menemukan cerianya itu segera mundur menjauhi Royyan.

__ADS_1


Lagi-lagi jantung Almira berdegup dengan sangat cepat. Almira sedikit mengangkat gaunnya untuk memudahkannya melangkah mundur, karena Royyan tidak mengucapkan apapun selain melangkah secara perlahan menuju padanya, sampai dia mentok dengan dinding di samping pintu kamar tamu tersebut.


NEXT ....


__ADS_2