
Langit jingga yang memukau tak lagi membuat Manda terhenti dan memujinya, gadis itu terus melangkah bersama asisten dan managernya keluar dari agensi, di luar agensi telah berkumpul puluhan wartawan yang memang akan meliput keberlangsungan acara pemotretan dari brand ternama di dunia itu.
Dengan sigap para wartawan mengerubungi Manda, dia mendelik kasar pada para wartawan itu, membuat semua orang yang semula ingin menanyakan banyak hal seketika memundurkan langkahnya, mereka ketakutan tiada tara.
Manda terus melangkah dengan gegas seraya dia mencari nomor ponsel Almira di daftar panggilan teleponnya, sampai dia menemukannya segera dia melakukan panggilan telepon dengan Almira.
"Ra ..."panggil Manda tegas, nada suaranya masih belum mampu dia lembutkan.
"Apa? Kenapa lu, kayaknya lagi emosi,"sahut Almira dari balik ponsel.
Gadis berambut sebahu itu berhenti di depan pintu mobilnya yang berwarna hitam pekat, "gue mau ketemu sama kedua orangtua elu dong, gue mau minta bantuan, gue gak yakin kalau cuman mengandalkan pengacara doang,"celetuknya begitu saja tanpa menjelaskan apa yang ingin dia katakan.
"Hah?! Lu kenapa dah?"
"Gue cabut dari agensi,"jawab Manda kesal.
"What?! "sahut Almira lagi.
"Iya. Gue yakin 1000%, eh iya si Ajun lagi ada sama kalian gak, gue mau ketemu nih."Manda bersirkulasi masuk ke dalam mobil dan sang manager yang ada di belakangnya segera ikut masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan cepat sebelum para wartawan itu menyerbu Manda lagi.
Mobil itu melaju menyisakan ribuan pertanyaan di benak para wartawan yang ada di sana, tetapi satu pun yang ada dalam mobil itu tak ada yang memedulikan semua itu, termasuk sopir yang memandu Manda menuju gedung apartemen dimana Almira bersama suaminya berada.
Beberapa waktu yang lalu, Almira dan Royyan memang memutuskan untuk kembali ke apartemen untuk mengecohkan semua orang dari keberadaan rumah sepasang suami-istri itu yang sesungguhnya. Bagaimanapun keadaannya, Royyan belum benar-benar melepas dahaga kekhawatirannya pada sang istri, lelaki itu masih sangat membebani hati dan pikirannya dengan syair-syair ketakutan.
Waktu bergulir dengan cepat, secepat angin yang bergerak tenang dari posisi awalnya untuk menemui awan yang sudah bertengger bersama cakrawala, ia mengelilingi semesta sesukanya tanpa khawatir ia akan hilang di beberapa waktu di masa depan, secara bersamaan Manda mengurai langkahnya menuju lantai dimana Almira dan suaminya tinggal.
Tiba di lantai yang dia maksud, gadis itu gegas menekan bel yang ada di samping pintu kamar apartemen Almira. Tak lama dari itu Almira keluar membukakan pintu, tanpa basa-basi Almira menarik Manda masuk ke dalam kamar apartemennya dan lekas menutup pintunya lagi dengan rapat.
Kedua gadis itu melimbai ke area tengah apartemen tersebut dan di sana Manda melihat Ajun dan Royyan sedang bermain game bersama, mulut kedua lelaki itu tak lelah melontarkan kegeramannya terhadap permainan sepak bola yang sedang di mainkan, sehingga kedua bola mata Manda membeliak heran.
"Ini dua cowok ngapain malah pada main game sih,"lontar Manda.
"Dahlah biarin aja, mereka lagi mengenang masa SMA-nya,"timpal Almira melilitkan satu tangannya di tangan Manda dan menarik sahabatnya itu ke arah lain.
Tepat di meja makan yang berbentuk persegi panjang, kedua gadis itu terhenti. Manda menerjunkan bokongnya di salah satu kursi yang menghadap ke area dapur, sedangkan Almira berada di kursi samping kanan Almira.
"Kali ini lu yakin banget nih mau cabut dari agensi,"tanya Almira setelah dia meletakkan gelas berukuran tinggi yang dia isi dengan air putih dingin.
Lantas dia berdiri kembali ke kulkas yang memiliki empat pintu itu, dia mengambil beberapa balok es yang dia taruh di mangkuk kecil untuk di kunyah Manda, sebagai refleksi diri menurunkan emosinya.
"Yakin banget gue, gak akan mau gue balik lagi, mau tuh si botak sujud di kaki gue sekalipun,"gerundel Manda seraya menyambar salah satu balok es dan dia lempar ke dalam mulutnya.
Bunyi es yang tertimpa gigi-giginya yang kuat terdengar nyaring, setelahnya dia susul dengan air putih yang juga memiliki suhu dingin, "gimana gak marah gue, dari awal brand itu menunjuk agensi, gue yang meeting sana-sini, gue yang meyakinkan brand itu untuk memilih agensi, gue yang capek b*ngs*t banget tuh agensi, eh yang dapat malah yang gak melakukan apa-apa, peduli setan deh gue,"sungut Manda menggebu-gebu, sekali lagi dia menyambar balok es yang ada di dalam mangkuk kecil itu.
Dia kunyah es itu hingga menjadi serpihan dan berderai menjadi air melegakan dahaganya. Gadis bermata kucing itu mengangguk, jiwanya berusaha untuk masuk ke dalam kesakitan yang di rasakan oleh Manda seraya dia menggeser-geser layar ponselnya mencari kontak kedua orangtuanya yang selalu dia sematkan seperti yang dia lakukan pada Royyan.
__ADS_1
"Terus tanggapan bos botak lu itu gimana?"tanya Almira lagi penasaran.
"Ya gimana lagi coba, kamu harus perofesional, jangan kekanak-kanakan, hanya karena ini, hanya karena itu and bla-bla-bla ...."cebik Manda melipat kedua tangannya di atas meja. "Saya gak akan izinkan kamu keluar dari agensi, anj*ng banget tuh aki-aki, dia pikir gue gak bisa lawan apa, gue kan punya orangtuanya dua,"sambung Manda yang di akhiri dengan senyuman.
"Ya gue juga punya orangtuanya tiga dong, tiga mami dan tiga papi,"celetuknya cengengesan.
"Bisa aja lu."Manda mendorong bahu gadis di sampingnya dengan lembut.
Empat meter dari keberadaan kedua gadis itu, Ajun dan Royyan menghentikan permainannya, lantas mereka beranjak dari hadapan televisi melangkah mendekati Almira dan Manda yang masih terduduk di meja makan.
"Pada ngobrolin apa sih, kayaknya seru nih,"seru Ajun seraya dia duduk di samping Manda.
"Baku hantam lagi lu,"celetuk Royyan berdiri di belakang istrinya, satu tangannya perlahan menjalar ke bahu sang istri.
"Tuh tahu,"jawab Manda masih kesal.
"Kapan sidang?"tanya Ajun menatap lurus pada Manda.
Manda menoleh pada Ajun, rupanya lelaki itu sudah sangat mengerti apa yang diinginkan olehnya. Seketika raut wajahnya yang mengendur dengan cepat menjadi berkembang seperti kuncup bunga yang bermekaran.
"Besok,"jawab Manda menggebu-gebu.
Raut wajah Ajun mengenyak, dahinya berkerut. "Oii ... santai dong, lu mau perang, buru-buru amat lu,"ucap Ajun.
"Ya terus kapan?"tanya Manda lagi.
Manda menganjurkan bibir bawahnya seraya dia melepaskan punggungnya membentur kursi yang sedang dia duduki, sedangkan Almira dan Royyan hanya bisa menyeringai melihat Ajun dan Manda saling beradu argumen.
"Lu tenang aja Man, lu gak bakalan kalah, karena bekingan lu bukan cuman Ajun, ada Royyan dan juga om Ressa dan tante Miranda, agensi itu gak akan bertingkah lagi,"tambah Ajun mencoba menenangkan keresahan hati Manda.
Manda mengangguk, tetapi setelah beberapa detik waktunya terhenti, gadis itu kembali melukis wajahnya dengan ketegangan. Dia pasati wajah Ajun, Royyan dan Almira yang berada di dekatnya, dan Royyan masih berdiri di belakang kursi istrinya.
"Eh bentar, terus gue bayar lu pake apa Ajun, secara otomatis pekerjaan gue juga terputus gara-gara cabut dari agensi, ya gue nunggu sidang selesai dan honor gue turun dari agensi,"papar Manda.
"Tenang ... gue yang akan atur pekerjaan lu, lu bisa gabung dengan perusahaan yang ada dalam naungan perusahaan gue, dan itu adalah perusahaan Van,"pungkas Royyan seraya dia terperenyuk di kursi samping sang istri.
Gadis bermata almond itu kembali melunturkan ketegangan yang ada di wajahnya, lantas dia mengembuskan napasnya lega. Beruntungnya dirinya di kelilingi oleh banyak orang baik, Almira adalah faktor utama yang selalu menyelamatkan dirinya dari segala bentuk marabahaya.
"Yaudahlah gue cabut dulu ya, ada pekerjaan nih,"pamit Ajun beranjak dari kursinya.
Royyan yang sedang terduduk ikut berdiri dari kursinya bersamaan dengan wajah Almira yang tertadah pada wajah sang suami seraya menggenggam ponselnya di atas meja, "kamu mau pergi juga?"tanya Almira dengan wajah polosnya.
"Heuum ..."gumam Royyan seraya menyeringai, detik kemudian pria itu tanpa segan menjatuhkan kecupan manis di bibir sang istri sehingga Almira mengerjap dan menurunkan wajahnya.
Dengan spontan Almira memukul pinggang sang suami, "ih ...."protes Almira menganjurkan bibirnya, "depan Ajun sama Manda juga,"gertak Almira mendorong perut sang suami.
__ADS_1
Lelaki itu malah menyengetkan tubuhnya mendekati wajah sang istri yang menegang, "biar mereka iri dan mencobanya,"celetuk Royyan menyeringai lebar, kemudian kecupan kecil terjatuh di hidung Almira.
Ajun dan Manda yang menyaksikan kemesraan itu di depan matanya seketika merinding, terlebih saat Royyan mengatakan "mencoba", seluruh raga Manda dan Ajun bergetar hebat.
Ajun melangkah mendekati Royyan dan menarik lelaki itu dari hadapan sang istri, "mulut lu ya kagak di filter, udah ayo cepet kita pergi,"ajak Ajun menarik tangan Royyan enyah dari dekat Almira.
"Iya tuh,"timpal Manda yang juga merasakan hal yang sama dengan Ajun.
Kedua lelaki itu segera keluar dari apartemen seraya memakai jasnya masing-masing, pintu tertutup dengan rapat, atmosfer kamar apartemen seketika menjadi hening, kedua gadis cantik itu belum berbicara apapun lagi setelah di tinggal ledua lelaki itu.
Namun, beberapa detik kemudian Manda mulai menggerakkan mulutnya seraya dia memainkan ponselnya yang sempat dia matikan tadi, "laki lu ternyata kalau ngomong kagak di filter,"cetus Manda.
Membuat Almira menyeringai, lalu tertawa sambil dia mengenyakkan punggungnya melanggar kursi yang sedang dia duduki, "ya begitu lah orangnya, dingin di luar, nyebelin juga pas awal-awal kita nikah, tapi ke sininya aman kok. Cuman emang kadang omongannya suka bikin jantung orang lari marathon,"sahut Almira dengan wajah yang berseri-seri.
"Ya gimana kagak lari marathon gila,"pungkas Manda dengan bola mata yang melebar sambil mencengkeram lembut beberapa helai rambut yang menganjur ke depan, "masa ngomong biar nyoba, kan gila, suruh gue nyoba gitu sama Ajun kan ngaco laki lu itu."
Wanita bermata kucing itu tertawa lepas, mengacak-acak keheningan sehingga wajahnya tertadah ke atas, gadis itu tak lagi bisa menahan tawanya. "Kalau lu mau nyoba beneran juga gak papa sih,"celetuk Almira membuat Manda tersipu.
"Hoi! Anda ya kagak berfilter, sama aja kayak suaminya,"sanggah Manda melempar balok es kecil yang sudah mencair pada Almira.
"Iih basah dodol,"tepis Almira menyeka dadanya yang terkena balok es itu.
"Syukurin lu."
"Ish ..."cebik Almira.
Hening kembali melanda keduanya, tetapi beberapa detik kemudian kedua gadis itu saling melantingkan tawanya, tanpa ada perkataan ataupun tindakan yang mengandung candaan keduanya mampu tertawa sampai perut keduanya terasa menggelitik.
Manda menghentikan tawanya bersamaan dengan Almira yang juga selesai dengan tawanya, "eh tapi gue gak mau deh masuk agensi yang di pimpin Van,"pungkasnya kemudian.
"Why? "Almira mengedikkan bahu kirinya, "lu ada masalah apa sama dia?"tanya Almira di detik selanjutnya.
"Tadi Van ada di sana, dan dia ikut serta dalam penggarapan pemotretan brand itu, jadi gue rasa dia ikut andil di dalamnya,"jelas Manda pada Almira.
"Ya belum tentu lah, udah lu fokus aja sama sidang yang akan berlangsung,"ujar Almira.
Tak lama dari itu, gadis bermata kucing itu meraih ponselnya dan memeriksa beberapa notifikasi yang menurutnya penting untuk dia kunjungi, sampai akhirnya dia membuka notifikasi pesan dari Sara, lekas dia membukanya dan membacanya.
[Kak Ra, tiket pesawat sudah saya urus dan keberangkatan kak Ra di hari kamis yang akan datang dan untuk hotel pun sudah saya pesankan.]
Almira menghela napasnya lega, sungguh beruntungnya dia mendapatkan asisten yang begitu lihai dalam melakukan pekerjaannya, terkadang Sara melakukan pekerjaan atas inisiatifnya sendiri, membuat Almira merasa tertolong.
Seraya menyeringai membuat Manda meraba apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu, "lu kenapa senyum-senyum, dari suami lu?"tanya Manda yang juga memainkan ponselnya.
"Bukan, ini dari Sara. Eh,"sahut Almira menengadahkan wajahnya menatap lurus pada manda seraya dia melepaskan ponselnya tergeletak dengan sembarang di atas meja, "apa gue kasih hadiah aja ya si Sara,"ucap Almira meminta saran pada Manda.
__ADS_1
NEXT ....