Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 5 : Cinta?


__ADS_3

Pada malam sunyi tepat di sabtu malam, Elshara di dekap malam penuh bintang-bintang di jalanan sepi dekat mal besar di Jakarta pusat. Dia berdiri di pinggir jalan memeluk dirinya sendiri seraya menonton jalanan sepi di hadapannya, wajahnya ketakutan. Ponselnya sudah tidak bisa menyala karena kehabisan baterai, mengakibatkan Elshara tidak bisa melakukan apapun untuk menolong dirinya sendiri, dia hanya berdiri menunggu kendaraan ataupun angkutan umum lewat.


Satu jam, bahkan tiga jam berlalu, tidak ada satu pun kendaraan yang melewati dirinya. Tubuhnya sudah menggigil, telinga, hidung dan tangannya memerah karena tak bisa menahan dinginnya malam ini. Bola matanya berputar ketakutan, dia mengatupkan bibirnya, sambil menghamburkan pandangan ke sekitarnya.


"Kalau hape aku nyala, aku minta bantuan Royyan deh buat jemput."gumamnya seraya memeluk dirinya sendiri.


Belum ada lima menit Elshara berucap, tiga motor besar melintas dan kemudian mundur menyejajarkan dengan Elshara. Serempak ke-tiga membuka helmnya, dan barulah Elshara mengenalinya, Ajun, Royyan dan Dirta.


"El! Ngapain di sini sendirian?"tanya Dirta panik, seraya dia turun dari motornya dan mendekati Elshara.


"Eh kalian, aku habis beli hadiah buat Mama Papa, soalnya mereka mau balik ke paris, ada kerjaan. Dan aku gak ikut,"jelas Elshara lembut.


"Kayaknya kamu kedinginan,"celetuk Royyan setelah dia melihat hidung Elshara memerah.


Dirta yang berada di sampingnya segera menoleh dan menggenggam tangan Elshara yang juga nampak memerah. Kepanikan dalam raut wajahnya terlukis begitu jelas.


"Kamu kedinginan?"


"Hmm...."gumam Elshara pelan seraya mengangguk.


Segera Dirta membuka jaket denim navy-nya dan memakaikannya pada Elshara.


"Yaudah ayo kita pulang."Dirta menuntun Elshara ke motornya.


Namun bola mata Elshara terus memandangi motor Royyan, pria yang hanya memakai sehelai kaos panjang garis-garis jingga dan hitam itu menoleh. Seperti mengerti jika Elshara ingin menumpang di motornya.


"Ayo cepetan naik."celetuk Royyan menatapi wajah sendu Elshara.


Saat itu juga senyum Elshara merekah bagaikan bunga mawar yang terkena matahari dan air yang sangat menyegarkan. Penuh antusias Elshara naik ke atas motor Royyan dan lagi-lagi Dirta terabaikan. Namun, Dirta berusaha untuk tersenyum dan segera naik ke atas motornya. Mereka segera melaju meninggalkan tempat itu.


...***...


Dalam rumah mewah dengan pagar tralis berwarna jingga dengan perpaduan warna hitam menjulang tinggi menyelimuti rumah dengan gaya klasik berlantai tiga itu. Di ruang tamu bergaya amerika, Ajun, Dirta dan Royyan duduk di sofa ruang tamu dengan tenang menunggu pemilik rumah kembali turun.


"Yan! Lu suka sama Elshara?"tanya Dirta tiba-tiba saja dengan wajahnya yang tertunduk dengan tatapan tajamnya.


Dengan tenang Royyan menoleh pada salah satu sahabatnya itu, menjelajahi garis-garis wajah Dirta yang ternyata sedang mengendur, meredupkan cahaya matanya yang selalu penuh dengan ambisi.


"Iya."jawab Royyan singkat.


Iya. Karena Elshara adalah bagian dari pertemanan mereka, kata iya mengartikan banyak hal, iya bukan hanya tentang rasa cinta, tetapi tentang kasih sayang antar persahabatan. Dirta menegangkan wajahnya, tatapan matanya menajam, menautkan jari-jemarinya dengan erat. Dia tidak memahami perkataan Royyan, sedangkan Royyan sendiri masih tetap acuh dan tidak berpikir jika perkataannya membuat Dirta menjadi geram.


"Iya apanya? Lu kalau ngomong gak pernah tuntas Yan,"timpal Ajun mencoba menengahi.


Royyan menyeringai seraya menyandarkan punggungnya ke sofa yang dia duduki, kemudian dia lipat kedua tangannya di depan.


"Kalau gak suka ngapain gua berteman sama dia, harus se-jelas itu ya ngomongnya?"jawab Royyan sambil menaikkan kedua alis tipisnya yang lurus rapi.


Sesaat wajah Dirta kembali cerah. Senyumnya pun telah kembali menghiasi wajah tampannya. Tak lama dari itu Elshara turun dari lantai dua rumahnya, beralih ke ruang tamu menemui ke-tiga sahabatnya itu.


"Ayo kita makan."ajak Elshara yang baru saja mengganti pakaiannya dengan baju tidur.


Rambut panjangnya pun terurai dengan indah, sembari dia menautkan rambutnya ke salah satu telinganya. Senyuman indah yang mampu menghipnotis Dirta itu merekah dari balik garis-garis wajahnya yang halus.


Elshara beringsut mendekati Royyan dan melingkarkan lengannya di salah satu lengan Royyan dan menariknya untuk segera berdiri dari sofa empuk itu dengan meja kaca bening di depannya.


"Ayo kita makan dulu, setelah makan baru kalian pulang,"ujarnya dengan nada suara manja khasnya.


Menyeret lembut Royyan mengikuti langkahnya menuju meja makan, yang berada cukup jauh dari ruang tengah rumahnya.

__ADS_1


Dengan paras yang kembali masam Dirta melangkah dari sofa dan diikuti oleh Ajun, mengekori Elshara yang telah menyeret Royyan ke meja makan. Ke-empatnya duduk di kursi depan meja makan yang sudah tersaji berbagai macam menu makan malam, dimulai dari ayam goreng kremes, sambal bawang yang super pedas, tumis sayur hijau, mie goreng, dendeng sapi pedas dan beberapa buah-buahan yang sudah terpotong dan juga sudah terpisah dari kulitnya.


"Ayo mau makan apa, aku siapin ya...."ucap Elshara yang kembali berdiri mengambil piring dengan ukuran besar berwarna putih.


"Kayak istri aja nyiapin makan suami,"celetuk Dirta mencondongkan tubuhnya ke depan seraya dia melontarnya senyuman lebar.


"Hahaha...."tawa Elshara merebak ke seluruh telinga Ajun, Dirta dan Royyan. Sementara Royyan tetap pada pendiriannya untuk diam dan hanya menonton Dirta yang berusaha menunjukkan rasa sukanya pada Elshara.


Acara makan malam berjalan dengan tenang. Piring putih dengan ukuran besar itu perlahan kosong, semuanya telah berpindah ke mulut ke-empat insan yang baru saja menyelesaikan makan malamnya. Buah-buahan yang sudah terkelupas pun telah kosong meninggalkan piring berukuran besar dan berbentung oval itu, di meja hanya tersisa beberapa menu makanan yang tak mungkin mereka lahap secara langsung ke dalam perut mereka.


Royyan dan Ajun beralih ke luar rumah untuk menikmati langit malam yang tengah ditinggal bulan dan bintang-bintang. Meresapi angin yang menerobos masuk ke dalam pori-pori tubuhnya yang tak tampak, kulit mulus Royyan sama sekali tidak mempertontonkan pori-pori itu di tubuhnya ataupun di wajahnya.


"Kayaknya Dirta suka sama El,"ungkap Ajun tiba-tiba saja seraya dia berkacak pinggang dan menendang batu kerikil yang berada di dekatnya.


Royyan tertunduk seraya melipat kedua tangannya di depan. Tak lama dia segera mendongak dan menatap lurus, tanpa menjawab pernyataan Ajun. Royyan seringkali berpikir sendiri tanpa oranglain tahu apa yang ada dalam benaknya, dia sangat sulit mendeskripsikan suatu hal dengan mulutnya. Kata-kata kecil yang keluar dari mulutnya selalu menggambarkan banyak hal, dan satu arti pasti hanya diketahui oleh Royyan sendiri.


Mungkin Ajun bener.


Dirta mencintai El, dia selalu bersama El. Ya sudah.


Itu bagus. Gumam batin Royyan.


"Balik yuk. Si Dirta lama,"ajak Royyan seraya dia beralih ke atas motornya.


"Gak nunggu dulu, kan kita mau nge-game di rumah lu,"jawab Ajun mengekori langkah Royyan, sedangkan dia tetap berdiri di tempat yang sama.


"Enggak. Lain kali aja game-nya, kita balik,"


"Serius lu? Apa lu cemburu sama kedekatan Dirta sam El, tapi kayaknya El sukanya sama elu Yan,"


Tiba-tiba Royyan memecah keheningan malam dengan tawa renyahnya seraya menangkupkan kedua lengannya di atas motor bersamaan dengan wajahnya yang menunduk melekatkan dahi dengan lengannya itu. Lalu dia mendongak dan tawanya telah menghilang, wajah seriusnya kembali menghiasi paras tampannya.


"Tapi lu temenan sama gua udah lebih dari lima tahun,"


"******! bener lagi"


Tawa kecil menghiasi wajah dingin Royyan. Kedua tangannya menjalar ke helm putih miliknya dan segera dia pakai, menarik standar motornya dan dengan cepat menyalakan mesin motor.


"Gua balik ya."celetuknya yang segera melajukan motornya meninggalkan pekarangan rumah Elshara.


Ajun tertegun. Dahinya berkerut dengan sudut bibir kirinya yang menyeringai kesal.


"Woii! Anjir lu ya Royyan! nyokap lu ngidam apaan dah, punya anak kelakuannya kek begini."cibir Ajun masih tetap berdiri tanpa berpindah sedikitpun.


"Udahlah gua balik."lanjutnya berlari ke motornya dan melajukan kendaraannya itu meninggalkan pekarangan rumah Elshara.


Di jalanan besar yang dipenuhi banyak kendaraan dari berbagai macam jenis, salah satunya motor besar milik Royyan yang tengah melaju tenang, karena jalanan terlalu ramai jika menggunakan kecepatan layaknya pebalap profesional. Wajahnya begitu tenang, sama sekali tidak menggambarkan kegelisahan ataupun hal lain seperti dugaan Ajun.


Cinta? Haha....


Ngaco banget si Ajun, kalau emang Dirta suka sama El ya silahkan, bukan urusan gua kan.


Gua emang suka El, karena dia lembut dan perhatian. Apapun itu, semoga berhasil lo Dirta.


Batin Royyan bergumam lagi.


Sabtu malam berlalu. Hari sekolah kembali dimulai dengan segala aktifitas yang membosankan, yaitu belajar. Kabut embun masih menyelimuti muka bumi di sekitar dan juga di segala penjuru muka bumi yang memiliki waktu yang sama, matahari masih malu-malu dibalik awan, bersembunyi di sana. Dirta tiba lebih awal dari biasanya, dia nampak terburu-buru masuk ke dalam kelasnya, melempar tas ke atas meja di samping tas Ajun.


"Kenapa lu?"tanya Ajun yang berada di kursi Nanda tengah duduk bersama dengan wanita yang selalu mengikat satu rambutnya itu di tengah.

__ADS_1


Dirta yang melangkahkan kakinya lagi keluar dari kelas segera menoleh dan berdiri di ambang pintu.


"Jadian lu ya,"serunya saja tiba-tiba.


"Beuh.. si ******! gua nanya bukannya jawab,"


"Hehehe.."


"Gua mau beli roti sama susu hangat dulu."


"Hah?!"sahut Ajun yang segera berdiri dari kursi sedikit memiringkan tubuhnya menyubuk keluar dari kelas.


Nanda yang tadinya terdiam, ikut mengikuti Ajun yang berjalan keluar dari kelas dengan paras yang nampak kebingungan. Kini pria dengan seragam putih rapi dan bertubuh tinggi itu segera bergerak berkacak pinggang dan masih mempertahankan wajah bingungnya.


"Kenapa? Kok mukanya bingung gitu, Dirta mau sarapan aja kali,"tanya Nanda berdiri di samping kiri Ajun.


"Nah itu anehnya, si Dirta mana mau sarapan roti, diantara kita bertiga yang suka roti itu gua, Dirta sama Royyan gak terlalu suka roti. Apalagi susu, Dirta kalau minum susu dia suka eneg,"


Wanita berambut se-pinggang itu berkerut, lantas dia menoleh ke arah kemana Dirta pergi dan sekarang sudah tidak ada, tertelan oleh bangunan sekolah.


Setelah kebingungan itu terabaikan oleh Ajun, Dirta kembali dengan susu kotak yang baru di hangatkan oleh microwave dan juga roti keju di kedua tangannya. Langkahnya begitu bahagia, paras tampan itu semakin terpancar indah. Dirta melaju ke meja Royyan dimana kursi di sebelahnya adalah milik Elshara. Dia meletakkan roti isi keju dengan susu hangat itu di atas meja Elshara.


"Lagi jatuh cinta lu,"celetuk Ajun yang kini sudah duduk di kursinya tepat di depan meja Elshara.


Pria yang tengah menatapi roti isi keju dan susu hangat itu tidak menjawab, hanya bibirnya yang merekah, binar-binar cahaya bahagia terukir terlalu jelas di bola matanya. Rambutnya yang sudah mulai memanjang segera dia sisir dengan jari-jarinya. Tak lama dari itu Royyan tiba di ambang pintu, dia terdiam di sana, menghentikkan langkahnya seraya dia menelaah apa yang sedang terjadi di mejanya.


Dirta? Jadi beneran elu suka El. Ok.. gua akan pindah kursi, biar elu bisa lebih deket sama El.


Gumam batin Royyan menggema.


Pria yang baru saja tiba di kelasnya itu segera melangkah maju, tetapi bukan mejanya, melainkan meja Dirta. Dia memutuskan untuk duduk bersama Ajun, perlahan Royyan memindahkan tas dan buku-buku Dirta ke mejanya.


"Kenapa lu? Kesambet?"gumam Royyan seraya dia duduk di kursi yang semulanya milik Dirta.


Dirta menoleh dan mendapati Royyan sudah terduduk di kursinya. Tentu saja Dirta merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu, seumur dia mengenal seorang Royyan, satu kali pun pria bertubuh tinggi tegap itu tak pernah mau untuk pindah dari kursinya. Lekas dia berpaling ke hadapan Royyan dan Ajun berada di sampingnya.


"Lu kenapa duduk disitu,"tanya Dirta heran, bahkan dahinya berkerut.


"Tumben mau pindah meja,"timpal Ajun sama herannya dengan Dirta.


"Mencoba hal baru,"jawab Royyan seperti biasa singkat, padat dan terkadang tidak jelas.


Dirta dan Ajun serentak menoleh dan saling bertukar mata dalam satu waktu, kemudian keduanya secara bersamaan menaikkan kedua pundaknya. Dan kembali kedua pasang mata itu fokus pada Royyan.


Royyan menyadari jika kedua sahabatnya itu terus memperhatikan dirinya, sehingga dia merasa tidak nyaman. Sambil membuka resleting tasnya yang berwarna hitam pekat itu, dia mengambil sebuah buku latihannya yang berwarna merah kotak-kotak dengan beberapa garis hitam diantaranya.


"Gak usah ngeliatin, gua bukan lukisan,"celetuk Royyan dengan mata yang terus memandangi buku latihannya.


Dirta dan Ajun segera memalingkan wajahnya dan mencari objek lain untuk mereka pandangi bersamaan, walau kedua pasang mata itu sangat tertarik untuk memandangi pria tampan di hadapannya. Dalam kebingungan Ajun memilih untuk duduk dengan benar yang semulanya bersila di atas kursi yang dia duduki dan akhirnya beralih untuk menurunkan kakinya dan menatap ke depan.


Sedang Dirta terduduk di kursi yang semula milik Royyan itu. Terduduk tenang sembari membuka buku latihannya dan membaca beberapa paragraf untaian tulisan di dalamnya. Setelah semuanya kembali disibukkan dengan bukunya masing-masing, Elshara dengan rambut indahnya yang terurai lembut memakai seragam sekolah tersebut dengan rapi tersenyum ceria. Hanya saja senyum itu hanya bertahan sampai bibir pintu, setelahnya senyum itu kembali bersembunyi ke bilik wajah cantiknya.


Kok! Royyan pindah kursi sih, kenapa? Apa aku ada salah ya? Tapi apa?.


Begitulah segerombolan pertanyaan batin Elshara.


Langkahnya terbata-bata, Elshara mendekati kursinya dengan senyuman tipis. Dia duduk di samping Dirta, menyimpan tasnya di belakang tubuhnya dan di sana wanita bertubuh ramping itu telah disambut sarapan pagi yang dipersiapkan oleh Dirta. Senyum itu kembali merekah, roti isi keju dan susu kotak coklat dari brand yang dia gemari.


Bel jam pelajaran dimulai cepat berbunyi, sebelum Elshara menikmati sarapan paginya itu. Hanya satu tegukan susu kotak hangat itu yang meluncur ke dalam mulutnya, membasahi lidah dan tenggorokannya dengan rasa manis yang selalu membuatnya jatuh hati.

__ADS_1


NEXT....


__ADS_2