
Berayun dengan lembut pria bertubuh tinggi tegap itu masuk ke dalam ruangan dengan penerangan lampu yang bagus. Bukan istrinya yang pertama dia lihat, melainkan gaun-gaun yang berdiri di depan matanya, beralih dari gaun itu melesat ke lantai yang berserakan tak beraturan membuat kepala Royyan seketika berdenyut nyeri. Rasanya kepalanya ingin meledak melihat ruangan kerja sang istri, yang biasanya rapi kini jauh dari kata rapi, itu sangat berantakan tak berbentuk.
Berjalan ke depan semakin menyelami ruangan itu, Royyan berkacak pinggang melangkah dengan pelan seraya menggelengkan kepalanya lembut. Kemudian tatapannya terlempar ke arah meja Almira, dan mendapati sang istri tengah tertidur dalam kondisi terduduk dan menggenggam pensil runcingnya.
"Ini ruangan kerja apa gudang, duh pala gue pusing."Royyan memijat-mijat dahinya dengan satu tangannya. Perlahan pria dengan tubuh proforsionalnya melenggang mendekati Almira yang nampak sudah lama terlelap dalam tidurnya, lalu Royyan berlutut di hadapan wanita berparas cantik itu sedikit menyingkapkan beberapa helai rambut dari telinga Almira. "Mau kapan pulangnya?"bisik Royyan seraya memegangi rambut Almira dengan lembut.
Namun, Almira tidak menjawab bahkan wanita berambut coklat keemasan itu bergeming, dia masih tertidur, deru napasnya terdengar sangat lelah. Perlahan Royyan tarik tubuh istirnya sampai ke lengannya, melihat wajah sembap Almira. Pipi itu pun masih basah dan lembab, melihat wajah sang istri sontak senyuman Royyan berkembang sampai bola matanya nampak bersinar.
"Masih nangis aja,"serunya seraya menyeka lembut pipi Almira, sedikit membelainya dengan penuh cinta.
Tak perlu waktu yang lama, Royyan segera menaikkan tubuh Almira ke atas kedua lengan kekarnya dan membawanya pergi. Sebelumnya Royyan sempat meraih tas kecil dan juga laptop yang sering di bawa wanita bermata kucing itu bekerja. Keluar dari ruangan dan menutupi pintu ruangan itu dengan erat bahkan dia mengatur ulang kata sandi pintu tersebut, agar tak ada yang bisa masuk ke dalam ruangan itu selain istrinya.
Setelah selesai mengatur ulang kata sandi pintu, istrinya yang sempat dia turunkan dan masih dia dekap dengan erat segera dia naikkan lagi ke atas lengannya dan segera membawanya lagi, Royyan menyeret langkahnya dengan tegas keluar dari butik sebelumnya Royyan memakaikan Almira masker terlebih dulu.
Tiba di depan mobil, gegas dia memasukkan tubuh istrinya ke dalam mobil dengan lembut bahkan dia membelai rambut Almira terlebih dahulu dengan senyumannya yang masih bersemayam di wajah dinginnya. Lalu dia segera berlari ke arah kemudinya dan segera melajukan mobilnya meninggalkan butik, laju mobil itu melesat bagaikan angin yang bergerak cepat tanpa ada yang menyadari jika sang angin telah melintas beberapa jam yang lalu.
...***...
Masih dalam balutan rasa dingin yang kejam, sampai rasanya tulang-tulang merasakan ngilu yang berdecit, gesekan rasa dingin dengan tulang putih yang ada dibalik gumpalan daging terdengar sangat pilu. Piyama tipis yang digunakan Royyan berkibar-kibar karena angin malam ini berhembus dengan sangat cepat dan juga gulungan angin itu seperti menyerbunya, dia banting pintu mobil dengan secepatnya agar dia segera memasuki rumah besar yang telah dilengkapi dengan penghangat otomatis.
Pria bertubuh tinggi kekar itu tak membawa Almira kembali ke rumah yang mereka tinggali bersama, melainkan membawanya ke rumah besar milik kedua orangtuanya, sama hal-nya dengan mobil yang dia kendarai saat ini. Mobil hitam itu sesungguhnya milik kakak perempuannya, sedangkan mobil miliknya dia simpan di rumah Aneu untuk mengelabui para suruhan Dirta yang selama ini mengikuti kemana pun dia pergi.
Sejauh ini mereka masih terkecoh dengan segala upaya yang dilakukan Royyan, seringkali orang suruhan Royyan merekam jika beberapa orang suruhan Dirta nampak kesal dan bingung karena lagi-lagi kehilangan jejak targetnya. Namun, mobil Aneu pun sangat berbahaya. Pikirnya, besok akan ada kegaduhan para pelaku gosip di sosial media, entah artikel apa yang akan ditulis oleh para penulis yang haus akan ketenaran dengan menghalalkan segala cara walau harus bergosip dengan fakta yang belum benar adanya.
Rumah itu menggunakan pintu smart lock, jadi Royyan tidak perlu menunggu seseorang untuk membukakan pintu di jam yang seharusnya di gunakan untuk tidur lelap, dia hanya perlu memecahkan password pintu itu maka pintu telah terbuka, password rumah itu tak pernah berubah dari sejak Royyan masih tinggal disana sampai sekarang sudah tak lagi tinggal di sana.
Tepat pada pukul 02.16 wib Royyan masuk ke dalam rumah besar milik kedua orangtuanya itu, lambat laun dia menyeret langkahnya menaiki lift yang ada di samping kanan di lantai satu rumah itu. Sesungguhnya kedua lengannya sudah merasakan pegal, walau berat badan istrinya tak terlalu berat, tetapi rasanya membawanya dalam dua jam penuh membuat tangannya merasakan kebas.
Sesampainya di dalam kamar pribadinya yang sampai saat ini tidak ada yang menempatinya, kamar itu sengaja dibiarkan kosong dan tertata rapi, bahkan penataan ruangan pun masih saja sama, agar anaknya masih punya tempat tidur saat berkunjung ke rumah orangtuanya, dia turunkan Almira dengan gerakkan yang sangat lamban ke atas ranjang berukuran besar itu. Dia selimuti istrinya dengan selimut tebal yang beraroma vanilla, sepertinya sprei dan selimut itu baru di ganti.
"Syukurlah anak kecil gue kagak bangun, kalau bangun bisa rewel dia,"celetuknya dengan nada suara yang sangat pelan.
Lantas dia tarik kedua tangannya yang menjuntai dengan lemah ke pinggangnya, dia berputar untuk menutupi pintu kamar. Namun, tiba-tiba kedua orangtuanya datang menghampiri. Sepertinya mereka mendengar langkah putra dan menantunya itu masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Sayang ... jam segini kamu baru pulang atau gimana? Kok pake baju tidur gitu,"tanya Rini lirih, dia masih berusaha untuk membuka matanya dengan kesadaran yang utuh.
"Iya, kamu habis dari mana, pake piyama lagi keluar rumah,"timpal Rian dengan mata yang masih lengket.
Royyan yang sudah meraih kenop pintu segera melepaskannya lagi dan membuka pintu itu kembali, "Jemput Ami,"sahutnya singkat.
"Hah?! Ami gak pulang? Kamu buat kesalahan nih pasti, jadinya anak mami itu marah gak mau ketemu sama kamu,"cetus Rini yang segera melebarkan bola matanya, seketika rasa kantuknya lenyap seraya mendorong tubuh putra bungsunya itu.
Pria bertubuh penuh otot itu terdiam. Tiba-tiba saja dia ingat saat di mal, apakah benar jika Almira marah padanya, tapi ... dengan alasan apa? Cemburu? Ataukah karena tidak di tolong saat menghadapi badut. Begitulah segerombolan pertanyaan Royyan yang bersembunyi di balik wajahnya yang dingin dan juga datar, tak menampilkan wajah ketegangan ataupun kebingungan seperti yang ada di pikirannya.
"Yaudah kamu tidur sana, udah malam. Besok kamu harus kerja juga kan,"pungkas Rian mendorong anaknya dengan lembut masuk ke dalam kamarnya dan menutupi pintu dengan rapat.
Sedang Royyan masih saja memasati wajah istrinya yang tertidur dan tidak ada pergerakkan apapun darinya. Wanita cantik itu sepertinya sudah sangat dalam menyelam ke alam bawah sadarnya yang membaluti dirinya dengan harapan-harapan manis yang terbangun tanpa sadar oleh jiwanya dalam dunia mimpi.
Gegas pria bertubuh tinggi tegap itu menghamburkan tubuhnya terbaring di samping Almira, menjadikan satu lengannya sebagai tambahan penyanggah untuk kepalanya. Tak lama dia terbaring, Royyan kembali mendekati Almira, menidurkan kepalanya di bantal yang sama dengan istrinya sedangkan satu tangannya menyelinap masuk ke tengkuk Almira, berdiam disana membiarkan tangannya menyanggah kepala wanita berambut coklat keemasan itu.
Satu tangannya yang lain dia gunakan untuk membelai wajah sang istri, menatapi wajah cantik istrinya dengan dalam, sampai dia ikut terlarut dalam rasa kantuk dan akhirnya tertidur dalam posisi memeluk tubuh mungil itu dengan lekat. Begitupun dengan Almira yang tidak menyadari jika dia bergerak mendekat dan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Royyan sedangkan wajahnya dia masukkan ke dalam dada bidang sang suami. Hangat dan juga Nyaman.
Mungkin tidurnya malam ini akan sangat berbeda dari malam sebelumnya, lebih nyenyak, perlahan wajahnya berseri-seri dan semakin mendorong wajahnya untuk masuk ke dalam dada Royyan dan menghisap aroma wangi yang dikeluarkan dari tubuh sang suami. Semakin lama, Almira semakin mengenali aroma tubuh dari suaminya tanpa bantuan parfume ataupun sabun yang memiliki aroma khas yang bisa menghipnotis semua orang.
"What? Apa ini?"Almira terperanjat mendapati dirinya tengah memeluk sang suami, bahkan Royyan pun ikut mendekap tubuhnya.
Dia menarik tubuhnya sekaligus sampai dekapan Royyan terputus dengan cepat, Almira mengubah posisinya menjadi terduduk di samping pria yang masih terpejam, melipat kedua kakinya ke samping seraya dia menutupi mulunya dengan kedua tangan mungilnya, lalu dia menyeka wajahnya tak bisa mempercayai apa yang dia lakukan dengan suami kertasnya.
"Bentar ..."seru Almira membeliakkan matanya seraya merentangkan tangannya yang masih enggan untuk mempercayai jika dia tidur di atas dada Royyan. "Gue kan ketiduran di butik, kenapa tiba-tiba gue ada disini sama kak ..."sambungnya seraya menoleh dan memasati wajah tampan sang suami, "Royyan."Lantas Almira menampar dirinya sendiri dengan lembut.
"Kamu nangisin badut sampai ketiduran gitu,"celetuk Royyan dengan mata yang masih terpejam seraya dia menarik satu tangannya ke tengkuknya untuk menyanggah kepalanya.
Deg!
Tubuh Almira mengerjap bersamaan dengan matanya yang terkatup sejenak, kemudian dia menoleh kasar pada Royyan, memelotot pada suaminya yang baru membuka matanya dan tidak merubah posisinya, dia masih saja membaringkan tubuhnya di posisi yang sama.
"Kenapa aku ada disini? Kamu ngapain bawa aku kesini, dan lagi tahu dari mana lagi aku masih di butik, ngintilan ya,"ucap Almira setelah dia menggeser tubuhnya sedikit ke belakang.
__ADS_1
"Sangat mudah. Kamu tidak akan pernah berhenti untuk merancang busana, itulah kenapa aku bisa menemukan kamu di butik,"sahut Royyan yang kemudian membawa dirinya terbangun dari ranjang itu dan duduk di hadapan Almira. "Kenapa gak pulang? Ada masalah? Atau kamu takut badut itu?"lanjut Royyan menumpahkan gerombolan pertanyaannya.
Almira memicing, lalu memalingkan wajahnya dengan kasar seraya melipat kedua tangannya di depan. Keadaan sunyi kembali melanda keduanya, baik Royyan ataupun Almira terdiam dan tak saling bicara. Daun telinga itu hanya mendengar pergerakan angin yang tercipta oleh mesin pendingin ruangan.
Badut doang mah kagak bakalan nangis sampai begitu, semuanya gara-gara elu, kagak peka banget sih jadi cowok. Dan lagian lu Ra kenapa bisa cemburu sih heran, elu bukan istri yang sesungguhnya.
Duh Ra ... elu mengharap apa dari lelaki yang elu nikahi ini, perjodohan? Apa ada cinta dalam perjodohan, gak usah berharap lebih deh lu.
"Gak usah sok peduli, saat aku ketakutan juga kan kakak gak peduli kan? Yaudah sekarang juga gak usah sok peduli begitu, jangan memberikan harapan yang gak bisa kamu tepati,"celoteh Almira dengan tatapan sinisnya seraya dia bergeser ke belakang untuk turun dari ranjangnya. "Walau awalnya hati aku belum jelas tentang rasa yang aku rasakan, tetapi jika kakak bersikap seolah peduli padahal enggak sama sekali aku gak jamin kalau aku gak jatuh cinta sama kakak jadi stop ...."tambah Almira seraya merapikan rambutnya yang berantakan.
Royyan tertunduk lemah, hatinya benar-benar lemah. Cinta telah membuat dirinya selemah ini, dia tak ingin menyakiti wanitanya. Dia tidak ingin menempatkan Almira dalam situasi yang membingungkan seperti ini, apalagi sampai Almira merasa jika dirinya tak dicintai olehnya. Walau Elshara telah kembali, itu tidak menutup kemungkinan jika Dirta akan tetap bertindak bodoh dengan mencelakai Almira.
Pertimbangan ini yang membatasi Royyan untuk menunjukkan pada dunia jika Almira adalah istrinya.
Perlahan Royyan beranjak dari tempat tidurnya ke laci yang ada di dekat sana, dia buka laci itu dan mengambil sebuah foto kebersamaannya dengan Ajun, Dirta dan Elshara beberapa tahun yang lalu, kemudian dia mendekati Almira dan menggenggam tangan mungil yang terjuntai ke bawah dengan lemah.
"Ikut aku dulu sini,"ajaknya menarik Almira kembali terduduk di ranjang.
"Mau ngapain?"tepis Almira menarik tangannya dengan kasar.
Tetapi genggaman Royyan tak tergoyahkan. Royyan masih berhasil menarik istrinya duduk di pesisir ranjang bersama-sama, dalam satu ketukan Royyan menyodorkan foto itu lagi di hadapan Almira.
"Kamu tahu kan foto ini,"ujarnya kemudian setelah dia meletakkan bingkai foto itu di depan mata Almira.
Wanita bermata kecoklatan itu mengangguk lemah dengan rasa bingung yang kembali mendekap jiwanya.
"Ini Ajun, ini Dirta dan ini Elshara,"jelas Royyan seraya menunjuk satu persatu si pemilik nama.
"Iya ... terus,"sahut Almira seraya dia menatapi satu persatu wajah yang ada di dalam foto tersebut, kemudian bola matanya melebar tak lama dari itu dia tarik satu tangannya untuk menutupi mulutnya yang ternganga, seraya dia membawa foto itu ke atas untuk di lihatnya dengan jelas, lalu dia mendongak pada Royyan.
Seperti tahu apa yang membuat Almira seperti itu, Royyan lekas menyengguk sambil dia menarik satu kakinya yang menjuntai ke atas ranjang, dia merubah posisinya menjadi satu kaki bersila sedangkan kakinya yang lain dia biarkan menjuntai dan memijaki lantai berkeramik putih di kamarnya itu.
Perlahan pria bertubuh tinggi tegap itu menarik foto yang berada dalam genggaman Almira kembali ke bawah dan tergeletak di atas ranjang, sedangkan dia bergeser mendekati sang istri dengan tatapan yang menajam, mencoba merayu sang istri dengan tatapannya itu, dan berhasil. Almira kini terdiam dengan tatapan lurus padanya.
__ADS_1
NEXT ....