
Secuil artikel tentang kedekatan Elshara dan Royyan dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru negeri ini, tanpa terkecuali. Kecantikan Elshara membuat semua wartawan meyakini bahwa seorang top model dan pengusaha kaya raya itu memang memiliki hubungan spesial dan berpikir jika Royyan mengatakan itu agar para wartawan tidak mengusik hidupnya dengan kekasihnya yaitu Elshara.
Pikiran-pikiran itu yang membuat pria bermata kecil yang sedang sibuk menyiapkan berbagai menu di restorannya geram dan melemparkan kedua sapu tangan yang membaluti kedua tangannya tadi ke lantai.
Pria yang sudah bertranformasi menjadi sosok yang lebih gagah dan lebih berotot daripada yang dulu itu bergerak keluar dari dapur, berjalan cepat keluar dari gedung restorannya yang megah bak ruang makan kerajaan di film-film barbie ataupun film-film kerajaan, sosok pria berpakaian chef itu melempar topi putih yang dia gunakan ke lantai di area depan gedung restorannya.
"B*ngs*t! Gak cinta? Gak cinta sampai bisa pacaran sama cewek yang lu bilang enggak pernah lu sukai, dasar munafik! Ancaman itu ternyata tidak menggoyahkan pertahanan lu ya, tunggu aja, gue akan muncul sebagai hantu dalam hidup lu,"decak pria tersebut dengan tangan yang mengepal penuh emosi, wajahnya dipenuhi dengan urat-urat di dahinya menjadi tegang. "Siapa sebenarnya istrinya? Dua tahun gua menjadi penguntitnya, tetapi sosok istrinya tidak pernah bisa gue temukan, si*l*n!"lanjutnya dengan tatapan tajamnya.
Sementara itu, di tempat lain yang tak jauh dari keberadaan restoran tersebut adalah **resort** milik Royyan yang mulai menata tempat untuk acara summer camp yang akan segera melakukan shooting, Royyan dengan pakaian rapinya memeriksa setiap sudut area resort untuk memastikan tak ada yang kurang dari tempat miliknya.
"Bagaimana pak? Ini adalah konsep yang diberikan oleh pihak penyelenggara,"tanya seorang pria yang lebih tua dari Royyan yang bertugas menjadi penanggung jawab resort tersebut.
Royyan yang berdiri di depan semua orang yang sedang memasang berbagai properti dan menyiapkan meja dan kursi tepat di depan laut yang memesona itu tak langsung menjawab, dia berjalan terlebih dulu ke depan melempar tatapannya ke setiap area yang sudah siap di pakai untuk acara tersebut.
Sampai akhirnya dia melihat beberapa pegawai yang tengah membawa beberapa kostum badut dengan berbagai macam bentuk hewan dalam sebuah troli besar, lekas dia menajamkan tatapannya pada kostum-kostum itu.
"Kostum itu untuk apa?"tanya Royyan pada seorang pria yang sekiranya berumur empat puluh tahun, dalam keadaan Royyan masih menatapi apa yang ada di depannya.
"Untuk keperluan shooting pak Royyan, sebagai pemanis konsep summer camp, nanti malam mulai shooting pembukaan acara dan katanya membutuhkan konsep seperti itu,"jelasnya seraya sedikit membungkukkan punggungnya.
"Singkirkan mereka semua, saya tidak suka, katakan pada penyelenggaranya bahwa saya yang memintanya,"ketus Royyan seraya dia berjalan ke depan dan meninggalkan para karyawannya.
Ke-empat orang yang mengekori Royyan saling bertukar mata, sebenarnya mereka merasa sungkan untuk membatalkan konsep itu karena pihak penyelenggara bersi-kukuh untuk memasukkan kostum itu ke dalam acara, tetapi mereka pun tak berani membantah perintah Royyan.
"Hmm ... ba-baik pak,"sahut salah satu karyawannya terbata-bata.
Lantas pegawai pria itu segera berlari ke area di mana meja dan kursi sudah tertata rapi untuk menemui pihak penyelenggara yang sedang berkumpul disana, sedangkan Royyan terus berjalan ke depan dan orang-orang yang mengikutinya tadi mulai berpencar untuk melakukan pekerjaannya masing-masing.
Seraya dia melangkah Royyan menyelukkan satu tangannya ke dalam saku celana untuk mengambil ponselnya, lekas dia mencari kontak Almira dan meneleponnya.
"Kenapa? Aku lagi sama Adrian mau masuk ke pesawat,"jawab Almira di balik ponsel, suara lembutnya membuat senyuman Royyan perlahan menaik.
"Ada konsep badut di sini,"ucap Royyan begitu saja sesaat di tiba di depan pembatas antara resort-nya dengan pasir putih.
"Hah?! Iiih kak Royyan jangan dong, aku pingsan kamu mau tanggung jawab, po-"rengek Almira dengan deru napas yang ketara jelas jika dia sedang melompat-lompat kecil karena takut.
Dengan cepat Royyan memotong perkataan istrinya, "Iya, aku udah singkirkan itu semua."
__ADS_1
"Ah syukurlah, lega ..."
"Mau ganti jadi apa?"
"Hmm ... standee aja gimanna? Atau enggak ganti pake pajangan bunga kek atau apalah, asal jangan badut atau boneka apapun itu lah, iiih ...."ujar Almira bergidik takut.
"Oke. Hati-hati."Royyan segera mematikan panggilan teleponnya.
Sore bertandang, langit jingga berderai dengan indah, warnanya yang memukau mematri tubuh Royyan tetap berada di hadapan laut bersama dengan Elshara yang sedari tadi menguntitnya.
"Nih minum, dari tadi gue lihat elu cuman kerja aja, tapi gak lihat makan ataupun minum."Elshara menyodorkan satu gelas kopi dingin pada Royyan dengan bibir yang menaik dengan cerah.
Pria berambut mullet itu menoleh dan tidak mengambil kopi yang ada di tangan Elshara, bukan karena itu pemberian Elshara tetapi karena sebenarnya Royyan tidak menyukai kopi, dia lebih suka teh yang di campur susu dan madu, setelah puas memandangi kopi itu lekas dia putar lagi wajahnya ke depan melewat ke ujung laut yang membiaskan warna jingga yang indah.
"Gue udah minum tadi,"jawab Royyan seraya dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Tentu saja Elshara merasa terabaikan, dia bersusah payah membeli minuman itu sendiri yang biasanya dia dibantu oleh manager ataupun asistennya, tetapi ternyata usahanya tidak membuahkan hasil, wajah cerianya seketika lenyap bak di telan matahari yang saat ini sudah bergerak untuk tenggelam ke kaki langit.
"Kenapa? Masa gak di minum sih air dari sahabatnya sendiri,"rengek Elshara mengerutkan dahinya.
"Gue gak minum kopi."
Wajahnya mengernyit muram, ternyata rasa cintanya belum terlalu besar, sampai apa yang tidak disukai oleh Royyan dia tidak mengetahuinya, paras cantiknya yang sudah dia rias dengan sedemikian rupa menjadi redup, dua gelas kopi yang berada dalam genggamannya terjuntai ke bawah dengan lemas.
"Yaudah gue duluan ya, jangan lupa makan lu,"pungkas Elshara setelah dia menata kembali wajahnya menjadi ceria.
"Oke,"jawab Royyan seraya menoleh pada Elshara dengan wajah datarnya.
Elshara pun segera pergi dari hadapan Royyan, tubuh tingginya yang indah itu melimbai ke area resort dan perlahan tertelan oleh bangunga-bangunan megah di sana.
Seirama dengan langit yang perlahan menghitam, saat itu juga Manda berjalan di depan Royyan, lekas Manda mendekati Royyan, menyadari jika Manda mendekatinya, pria bermata kecil itu menoleh dan wanita berambut sebahu itu tersenyum seraya melempar satu botol air mineral, dengan cepat Royyan mengambil botol itu yang melayang ke dekatnya.
"Hai cowok kebab, minum ya,"tuturnya kemudian seraya dia juga meneguk setengah botol air mineral.
Royyan mendelik seraya membuka tutup botol itu dan meneguknya, setelah selesai Royyan menaikkan salah satu ibu jarinya ke atas, lalu dia tutup kembali botol air mineralnya.
"Telat lu,"tukas Royyan.
__ADS_1
"Lah, kenapa gak di ambil tadi dari si top model, aneh lu."
Lagi-lagi Royyan tak menjawab, dia berlalu pergi seraya mengukir senyum tipisnya. Manda yang mendapatkan perlakuan seperti itu sontak mengernyitkan dahi, lalu dia terbelangah dan bola matanya berputar kesal.
"Dih! Cowok kagak jelas, tahu ah."
Setelah puas mencibir, Manda berlalu dari sana, melaju ke area resort dan kali ini Manda yang tenggelam di bangunan-bangunan yang dirancang dengan sempurna itu, meninggalkan Royyan yang masih betah bersama laut. Walau gelap dan hanya ada remang-remang serpihan cahaya dari lampu-lampu pinggir pantai, Royyan tetap berjalan di sana seorang diri.
Namun, tiba-tiba aroma hitam melesat di hadapan Royyan membuat area sekitarnya menjadi terasa mencekam, entah apa yang terjadi, tetapi suasananya sangat tidak mengenakkan. Jantungnya berdebar sangat kuat menghirup aroma hitam yang entah datang dari mana.
Semakin banyak langkah yang dia telan, rasa yang tidak enak itu menjadi menguasai dirinya, lekas dia tolehkan wajahnya seraya dia memutar tubuhnya dalam satu waktu, tepat di hadapannya sosok seorang pria bertubuh kekar sama seperti dirinya tengah memasang tatapan tajamnya seperti ingin menerkamnya hidup-hidup, dia berdiri percis lima sentimeter dari tempat Royyan berdiri, sontak pria bertubuh tinggi tegap itu terlonjak kaget sampai dia spontan memundurkan langkahnya.
"Dasar munafik! Gak cinta? Apa lu bilang beberapa tahun yang lalu, elu bilang gak cinta? Tapi elu pacaran sama wanita yang gue suka dan elu menyembunyikannya, elu bilang dia mati! Tapi apa ini! DIA HIDUP! Dan elu ...."hardik pria itu seraya mencengkeram kerah kemeja Royyan.
Bola mata Royyan terus melebar dengan tatapan yang perlahan menjadi getir, urat-urat tangan yang tengah mengepal dan dahi yang mengerut dia tahan semampunya, deru napasnya pun ikut memburu setiap oksigen yang ada di sekitarnya sampai dia kehabisan tenaga karena amarah mulai menaik ke ubun-ubun Royyan, lantas dia patri tatapan pria yang selama ini selalu bersembunyi dan memilih untuk menguntitnya dari jauh.
"See ... gue gak perlu keluarin banyak tenaga agar elu keluar dan menampakkan wujud asli lu, sekarang bawa semua surat-surat sampah elu dari hadapan gue sebelum gue bakar sampai tak berbentuk lagi,"balas Royyan seraya mencengkeram kedua tangannya yang masih membalaskan dendamnya pada kerah kemeja yang sedang di pakai oleh Royyan.
Royyan melempar tangan pria yang tengah mengumpulkan tenaganya di kedua telapak tangannya dan sedikit mendorongnya menjauh darinya, lalu dia tegapkan badannya dengan penuh keyakinan. Kata persahabatan itu rupanya sudah lenyap dan tak ada artinya lagi bagi pria yang ada di hadapannya ini.
Tiba-tiba pria berambut wavy bergelombang itu memecahkan gelap dan sunyi dengan tawanya yang menggema sampai bintang-bintang yang ada di atas bersembunyi dilapisan langit yang ada di dekatnya.
"Ternyata elu pinter ya, tanpa harus gue ngomong, elu udah tahu, YA! Itu gua, dan gua gak mau elu bahagia di saat gue menderita karena kehilangan wanita yang gue sayang, tapi ternyata elu malah memacarinya,"ungkapnya dengan tegas dan penuh keyakinan, bahkan dia tidak merasa bersalah sama sekali.
"Lu udah tahu kan kalau gue udah nikah, gimana bisa gue memacari wanita lain di saat gue udah punya istri,"jawab Royyan dengan intonasi suara yang sedikit dia tegaskan.
"Kenapa enggak, zaman sekarang banyak lelaki yang tidak cukup dengan satu wanita,"balasnya dengan tatapan yang masih menajam seraya membentangkan tangannya.
"Itu bukan gua, elu gak pernah tahu gua seperti apa, elu kenal gue dari sejak SMP tapi elu gak pernah tahu apapun tentang gua,"tepis Royyan semakin menegakkan posisi berdirinya.
"Cih ..."desis pria tersebut seraya dia membuang mukanya ke samping. "Gua gak perlu tahu elu siapa dan bagaimana sifat lu, lu cuman seorang temen yang gak lebih dari tukang tikung,"lanjutnya masih mencibir Royyan dengan umpatan yang tidak benar adanya.
"Wanita elu udah balik, silakan ambil gue gak butuh!"rajuk Royyan mendorong tubuh pria yang memiliki bobot tinggi badan agak lebih pendek darinya itu.
Dulu mereka memiliki tinggi badan yang sama, tetapi kali ini Royyan jauh lebih tinggi dari sejak saat dia di SMA, pertumbuhan Royyan sangat cepat di banding pria yang ada di hadapannya ini.
Seketika emosi pria itu membuncah, matanya seperti mengeluarkan percikan amarah berwarna merah menyala dan siap untuk mencabik-cabik Royyan detik itu juga, tetapi dia masih memburu napasnya sendiri mengeluarkan segala amarahnya keluar untuk mengisi daya emosinya menjadi lebih penuh.
__ADS_1
"Maksud lu apa s*t*n!"cela pria itu seraya dia berlari menghamburkan tubuhnya mencengkeram kemeja Royyan lagi, bola matanya membulat dengan azmat, deru napasnya dia hembuskan keluar dengan penuh amarah.
NEXT ....