
Namun, tidak begitu bagi Almira, melihat kemesraan suaminya di depan, yang membuat semua orang berseri-seri mendukung kedekatan mereka dengan melupakan fakta jika Royyan sudah menikah. Wanita yang mengenakan jepit rambut mutiara di belakang kepalanya dengan gerakan cepat beranjak dari kursinya dengan sorot mata yang meruncing.
Dia cengkeram gaun panjangnya yang di bagian betisnya terdapat belahan, deru napasnya semakin kasar bersamaan dengan Elshara dan Royyan kembali berdansa di sana, keduanya telah berhasil menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana termasuk Almira sehingga menumbuhkan butiran embun dengan cepat membuncah di bola mata wanita berparas memesona itu.
Keretek, suara hati yang retak di dalam sana membuat napas Almira tersendat, seirama dengan daya tahan tubuh Almira yang ikut melemah dan merasa lemas. Lekas Almira berputar sampai menyenggol meja di dekatnya sehingga gelas dan piring berisikan kue kesukaannya itu terjatuh dan menimbulkan suara pecahan, dengan cepat serpihan gelas dan piring itu berserakan di sekitarnya.
Tetapi gadis itu terus melangkah keluar dari gedung dengan perasaan dongkol dan perih di hati yang sebenarnya dia sendiri pun benci dengan perasaan ini. Seharusnya perasaan ini tak boleh dia miliki sampai sang suami benar-benar mengungkapkan hubungannya dengan jelas pada publik, tetapi siapa yang bisa menghentikan hati untuk merasakan apa yang ia inginkan.
"Ra ... lu kenapa pake acara cemburu sih, aneh banget. Harusnya gak boleh dong."Almira mendengkus kasar, dia kesal dengan perasaannya yang menurutnya terlalu mudah untuk merasakan kejengkelan tentang hubungan Elshara dan Royyan.
Dari belakang Manda mengejar Almira yang kini sudah berjalan keluar dari pintu gedung, "Ra ... tunggu! Lu mau kemana, jangan sendirian nanti elu hilang,"panggil Manda mengayuh kakinya mendekati Almira.
"Mau makan angin, lu di dalam aja,"jawab Almira, dia tidak menghentikan langkahnya.
Dia sibuk mengatur perasaannya yang terasa di acak-acak tak karuan, jiwanya terasa berantakkan dan dia harus merapikannya dengan segera, tetapi dia harus pergi dari hadapan semua orang. Perlahan butiran kristal berjatuhan ke pipinya, dengan derasnya mereka menjatuhkan diri dari kubangan pelipis Almira.
"Ra ... lu mau nangis kan?"Manda masih mengejar sahabatnya itu sampai Almira berhenti di depan parkiran dengan pencahayaan yang baik.
Dia ingin berlari atau bahkan jika dia punya sayap, Almira ingin membentangkan sayapnya dan terbang sejauh mungkin dan menjatuhkan air matanya menjadi butiran hujan yang membasahi tanah-tanah yang kekeringan. Sangat disayangkan Almira hanya seorang manusia yang sangat mudah menjatuhkan benih-benih air dari dalam bola matanya.
Seperti saat ini dia terdiam dengan wajah yang tertunduk, sekeras mungkin dia menahan air matanya untuk tidak terjatuh sampai dadanya merasakan sesak yang hebat, benih-benih kristal yang sudah terlanjur berjatuhan segera dia seka dengan jari-jari lentiknya yang cantik.
"Lu kalau mau nangis boleh,"ujar Manda, dia melangkah ke depan Almira dan memeluk tubuh gadis yang tengah di landa badai kecemburuan itu.
"Enggak boleh,"jawab Almira yang sudah bergetar.
"Boleh ... wajar kok kalau elu marah dan gak suka sama apa yang mereka lakukan,"sahut Manda menenangkan Almira, dia terus menepuk-nepuk punggung Almira dengan lembut.
Almira merengek, menumpahkan sesak di dada menjadi butiran kristal yang membasahi pipi tirusnya sampai kuyup tak terkendali. Dia rekatkan pelukannya pada Manda, dia tak peduli jika wajahnya menjadi jelek karena tangisannya, bukan hanya sesak yang dia rasakan, tetapi juga luka yang menganga itu terasa sangat perih sehingga dia sulit untuk menelan ludahnya sendiri, ada sesuatu yang menghalangi aliran napasnya.
"Gak mau na-ngiiiiss ..."tertumpah juga rasa perih itu ke pundak Manda hingga pundak yang tidak terhalang oleh kain itu merasakan hangatnya butiran air mata sang sahabat.
"Hmm ... iya elu gak nangis,"bujuk Manda mengelus-elus rambut Almira.
"Ta-ta-tapi ... mata gue gak mau berhenti, pipi gue jadi bengkak ...."Almira semakin menguatkan isakannya.
"Itu cuman air mata, lanjut aja sampai elu lega. Lu itu kalau belum nangis kagak bakalan bener.
Manda sangat mengetahui seperti apa seorang Almira, dia sangat mahir dalam merancang busana dan mempadukan berbagai macam model busana menjadi sebuah outfit yang memukau, tetapi Almira adalah seorang wanita rapuh air mata, dia memang sangat mudah menerjunkan air matanya lalu berhenti menangis secepat kilat seperti air matanya yang terjatuh hanya dalam hitungan menit.
Perlahan tangisan Almira mereda, tinggal tersisa sedunya saja. Manda melepaskan dekapannya pada Almira, begitupun dengan Almira yang segera mengambil tisu dari dalam tas kecil yang sedari tadi berada dalam pelukan tangannya. Setelahnya dia segera menarik napas dengan dalam dan membuangnya dengan kasar, tetapi wajahnya masih sendu dan muram.
"Udah tenang kan? Yuk balik aja, dan nikmati pestanya tanpa memedulikan apa yang mereka lakukan,"saran Manda.
Tiba-tiba Almira menguap sehingga embun di matanya perlahan mencair yang segera dia tutupi mulutnya dengan kedua tangan sembari menggenggam tas kecilnya yang berwarna senada dengan gaun yang sedang menempel di tubuh mungilnya.
"Ngantuk, pengen tidur aja ah,"imbuhnya dengan sayup-sayup matanya yang nampak sudah memberat.
__ADS_1
"Heh! Kebiasaan banget lu ya, kalau udah nangis malah ngantuk, udah ayo ikut gua balik lagi ke dalam,"tepis Manda yang kemudian menarik Almira kembali ke dalam gedung.
"Aaaah Manda ... ngantuk beneran gue, kagak bohong,"rengek Almira, dengan terpaksa dia kayuh kakinya melenggang masuk ke dalam gedung lagi.
Namun, gadis berambut sebahu yang sedang menggunakan wig panjang berwarna dark blonde itu tidak memedulikan Almira dan tetap melangkahkan kakinya dengan tegas masuk ke dalam gedung. Dia menyeret Almira kembali ke meja dimana mereka duduk tadi, dan ternyatra serpihan pecahan gelas dan piring itu telah di bersihkan.
"Udah duduk, kita nikmatin pestanya. Lu itu udah dandan cantik-cantik, warna bibir lu juga bagus gak kayak biasanya, masa iya lu mau cabut gitu aja,"titah Manda sedangkan dia sudah lebih dulu menjatuhkan bokongnya ke atas kursi di dekatnya.
"Bibir?"seru Almira yang baru menyadari jika bibir itu hasil kerjaan Royyan, seketika dia katupkan bibirnya dan dia terduduk di dekat Manda. "Oh ini ... dia yang--"sambung Almira yang tidak dia selesaikan.
"Dia?"seru Manda masih belum terkoneksi dengan isi pikiran Almira, tetapi beberapa detik kemudian Manda dengan segera menyadari siapa yang dia maksud dia oleh sahabatnya itu, lantas dia pun mengangguk dan menaikkan garis-garis wajahnya ke atas dan kedua sudut bibir lembutnya itu menyeringai, "oh ... i know, i know ...."
Almira mendelik, menatapi Manda dengan tatapan mengintimidasi, dia picingkan matanya menerobos senyuman Manda yang sepertinya terselipi pikiran-pikiran konten dewasanya.
"Mikir apa lu? Kagak ada ya begitu gue,"sanggah Almira merendam wajahnya dengan kemerahan tersipunya.
"Masa sih ... kalian kan udah satu tahun, masa kagak pernah tergoda. Lagian ya kalian mau jungkir balik sampai roboh juga kagak bakalan ada yang marah, karena kalian udah sah secara agama maupun negara,"ucap Manda tidak percaya.
Mendengar penuturan Manda, sontak saja bola mata Almira dan kedua daun telinganya menjadi sangat merah dan juga suhu tubuhnya mendadak menjadi memanas.
"Enggak ada ih gila lo ya pikirannya aneh-aneh, sumpah gue gak pernah. Kita nikah karena perjodohan jadi gue pikir dia gak suka sama gue dan kita selalu menghindar untuk hal itu,"tegas Almira menggebrak meja di hadapannya sampai meja itu bergetar.
Beruntung saja suara musik lebih besar dari pukulan Almira pada meja itu, sedangkan Manda sibuk dengan praduganya dan juga rasa tidak percayanya jika sahabatnya yang sudah menikah setahun yang lalu itu masih perawan. Bagaimana seorang lelaki bisa kuat menahan nafsunya sedangkan dia sudah tinggal bersama wanita cantik itu yang pastinya selalu berpakaian serba pendek kala akan tertidur.
"Seriusan lo?"tanya Manda masih belum mempercayainya.
"Wow! Gila!"seru Manda yang tidak berhenti terbelangah dengan bola mata yang membulat, "laki lu gak ada kelainan kan,"sambungnya berbisik pada telinga Almira.
Perkataan Manda berhasil membuat Almira terlonjak dan mengerutkan dahinya dengan dalam, "Hush! Lu kalau ngomong sembarangan aja, ya enggak lah gila, dia gak berani karena gue yang menghindar, dia itu walaupun mau gak pernah maksa,"terang Almira mematahkan praduga konyol sahabatnya.
"Ya kan aneh banget, satu tahun lo ... tapi gak pernah nyentuh lu, tapi kalau kiss udah pernah dong,"pungkas Manda lagi penasaran seraya menarik satu tangannya ke atas meja untuk menopang dagunya.
"Sering,"lirih Almira seraya dia memalingkan wajahnya ke arah lain."
"Hah?! Gue kagak denger, lu ngomong pelan banget udah tahu disini musiknya lagi kenceng,"protes Manda.
Dan Almira tidak menjawabnya lagi, dia terus abai dan fokus melihat orang-orang yang nampak dikepung rasa bahagia, wajah mereka begitu ceria dan berseri-seri tidak seperti wajah Almira, cahaya wajahnya sudah meredup, entah kemana perginya cahaya-cahaya itu, bahkan senyumannya pun ikut tenggelam.
Selagi Almira memandangi satu persatu orang-orang di depan yang tengah asyik berdansa dengan pasangannya, tibalah Van seorang diri menjulurkan satu tangannya di hadapan Almira, dia menyeringai dengan manisnya.
"Halo kak Ra, boleh saya mengajak kak Ra berdansa?"ajak Van.
Almira menoleh dan mendongak pada Van yang berdiri di sampingnya, lantas dia ikut menumbuhkan senyuman yang tadi sudah tenggelam.
"Panggil Ra aja, gak usah pake kak, kamu kayaknya lebih dari saya,"jawab Almira seraya dia berdiri menyejajarkan tubuhnya dengan Van.
"Iya saya memang lebih tua dari kamu, jadi ... bolehkan saya berdansa denganmu, sebagai tanda terimakasih karena sudah merancang pakaian saya dengan sebagus ini, saya sangat menyukainya,"ungkap Van kembali menjulurkan tangannya di hadapan Almira.
__ADS_1
Sebetulnya Almira ragu untuk berdansa dengan orang yang baru di kenalinya, terlebih dia sudah lupa bagaimana caranya berdansa. Hanya saja dia merasa Royyan sedang memperhatikannya, akhirnya dia bersedia berdansa dengan Van, dia jatuhkan tangan mungilnya di atas tangan Van yang lebar. Almira dan Van pun beranjak ke depan bergabung dengan semua yang tengah berdansa di sana, mengikuti alunan musik yang menggema dengan merdu.
Dari sudut lain Royyan berdiri dengan sorot mata tajamnya yang khas, bedanya kali ini tatapan itu bukan hanya tajam, tetapi ada sebuah percikan merah yang membara di sekitar netranya, membuat Elshara yang tengah berdiri di sampingnya merasa ada aura yang berbeda menghantamnya, dia mendongak untuk memastikan keadaan Royyan.
Namun, yang dia dapat hanya tatapan yang mencekam, bola mata Royyan memang tidak membulat tapi sorotnya terasa menusuk jantung Elshara yang secara nyata melihat tatapan menyeramkan itu, gelas wine yang berisikan minuman perisa rasa buah itu Royyan cengkeram dengan sekuat tenaganya.
Adrian menyadari kemarahan Royyan sudah berada di puncaknya, lekas dia rampas gelas itu dari cengkeraman Royyan, dia harus menyelamatkan gelas itu dari terkaman Royyan, jika tidak maka gelas itu akan menemui kehancurannya seperti nasib gunting baru milik Elshara beberapa saat yang lalu.
"Bapak ingin makan sosis bakar?"tanya Adrian dengan hati-hati, biasanya Royyan akan lebih tenang jika sudah mengunyah sosis bakar dengan ukuran besar.
"Carikan cepat!"tegas Royyan seraya melimbai keluar dari gedung miliknya, tanpa memedulikan Elshara yang tengah bersamanya.
"Eh Royyan ... lu mau kemana?"panggil Elshara mengekori Royyan, dengan gaun panjangnya yang menjadikannya kesulitan untuk mengejar Royyan yang melangkah dengan cepat.
Kemudian Adrian menjulurkan tangannya di depan Elshara menghentikan lagkah gadis berambut lurus panjang itu, "tolong tinggalkan pak Royyan, jangan ganggu dulu,"pinta Adrian.
"Elu siapa sih, gue sahabatnya dan gue tahu bagaimana ngatasin Royyan,"jawab Elshara angkuh.
"Anda hanya sahabat pak Royyan selama dua tahun, dan saya bekerja dengan pak Royyan sudah lebih dari lima tahun, anda tidak akan sanggup mengatasi kemarahan pak Royyan, tolong anda jangan mempersulit pekerjaan saya,"tegas Adrian lagi, lalu dia beringsar dari dalam gedung keluar dari gedung.
Ah Sial! Si sekretaris pribadi Royyan itu bener-bener nyebelin banget sih, kalau cewek udah gue ajak berantem deh, sok tahu banget lagi orangnya.
Batin Elshara menggerutu kesal. Lalu dia mendengkus kasar dan beranjak dari tempat itu, dia beralih ke kursi awalnya. Sedang Manda yang melihat tingkah Royyan lekas membingkai senyumannya dengan lebar. Dia merasa puas melihatnya, lalu dia condongkan tubuhnya dan menopang dagunya di atas meja, jangkauan matanya tertuju pada Van yang dengan serius mengajari Almira berdansa.
"Perjodohan? Persetan sama perjodohan, yang jelas mereka memang saling mencintai, si Ra gengsian parah sedangkan si cowok kebab gak pandai mengutarakan apa yang dia rasakan, lengkap sudah hubungan suami-istri yang saling menyakiti tanpa tahu cinta itu sama besarnya,"oceh Manda pada pawana yang berkelana di sekitarnya.
Sorot mata semua yang mulai menyadari betapa indahnya tarian Almira dan Van seketika menghentikan tarian mereka dan menyingkir dari tengah-tengah gedung, membiarkan Almira dan Van menari-nari dengan indahnya dengan lampu sorot yang terus mengekori kemanapun tarian Van dan Almira melangkah.
Van bak pangeran berkuda putih, dengan cepat Van berhasil mengajari Almira berdansa dengan indah, mereka menari ke kanan dan kiri dengan lenggak-lenggok indahnya, sesekali tarian itu di selipi dengan sentuhan manis nan romantis, berputar, yang kemudian Van mengangkat tubuh mungil Almira ke udara seraya dia berputar dan kembali menari-nari di atas lantai.
"Woooh ..."seruan semua orang yang mengagumi penampilan keduanya seketika bertepuk tangan hingga area dalam gedung bergemuruh dengan kemeriahan.
Wajah redup Almira menjadi bercahaya kembali, lalu dia melangkah kembali ke meja dimana Manda berada, sedangkan Van kembali ke mejanya sendiri. Kini Manda sudah berdiri dan masih menepuk tangannya sendirian karena yang lain sudah kembali dengan aktifitasnya masing-masing.
"Katanya gak bisa dansa, kok bisa bagus sih tariannya,"goda Manda mengernyih mempertontonkan gigi-giginya yang berjajar dengan rapi.
"Partner lu itu yang pinter ngajarin gue, jadinya gue bisa,"tepis Almira seraya dia merapikan gaunnya.
"Hmm ..."Manda bergumam yang kemudian menganggukkan kepalanya, "eh tapi kan elu pernah belajar dansa kan waktu di Paris,"imbuh Manda kemudian.
"Iya sih, tapi kan itu udah dua tahun yang lalu, mana gue inget lah."
"Tapi kan elu udah punya basic."
Almira menyeringai seraya menaikkan kedua alisnya ke atas lalu dia turunkan lagi dengan segera. Setelah usai berbincang dengan Manda, dia edarkan sorot matanya pada area dimana terakhir kali dia melihat sang suami berdiri bersama Adrian dan juga Elshara.
NEXT ....
__ADS_1