Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 85 : Pengakuan?


__ADS_3

Silih berganti notifikasi demi notifikasi masuk ke dalam ponsel Almira dan Royyan, ponsel keduanya tak berhenti untuk membangunkan sepasang suami-istri itu. Setelah beberapa waktu berlalu, akhirnya Almira terbangun dari tidurnya. Dalam keadaan masih setengah sadar, salah satu tangannya menjalar ke setiap tempat untuk mencari keberadaan ponselnya yang berada di samping Royyan.


Almira menggeliat seraya tangannya meraih ponselnya itu, segera dia angkat dering telepon itu tanpa mengetahui siapa yang telah meneleponnya, "Ha-lo ...."ucapnya lirih, suaranya masih parau.


"Ra cepet bangun, dan lihat portal berita,"ucap Manda dari balik ponsel.


Kesadaran gadis itu belum sepenuhnya berkumpul, sehingga dia berangsur terbangun dengan gerakkan lambat, mengubah posisinya menjadi duduk seraya dia tarik handuk yang sedikit tertindik oleh kaki Royyan.


"Emang ada apaan?"tanyanya masih lirih, lalu dia menguap sampai menyemaikan butiran air mata kecil di pelipisnya.


"Lu lupa tadi malam ngapain di luar apartemen, itulah kenapa portal berita heboh banget,"kata Manda lagi.


"Ngapain? Euum ..."jawab gadis itu seraya memutar bola matanya.


Dia mengingat-ingat kejadian tadi malam, tetapi yang dia ingat hanya tentang permainan Royyan di atas ranjang, segera dia mengerjap dan menggelengkan kepalanya dengan kasar, lantas dia menunduk yang kemudian menepuk jidatnya sendiri karena merasa malu, terlebih jika Royyan terbangun apa yang akan dia katakan, apa yang harus dia lakukan.


Wanita itu terus memukuli jidatnya dengan lembut seraya menggigit bibir bawahnya, lalu dia memiringkan tubuhnya untuk setengah membelakangi sang suami yang masih terlelap tanpa sehelai kain pun di badannya, kecuali celananya. Beruntungnya pria itu masih ingat untuk memakai celananya, walau permainan itu membuatnya kecanduan, dia tetap mengingat untuk memakai pakaiannya.


"Bentar gue cari portal beritanya dulu,"ucapnya kemudian setelah dia mengingat apa yang terjadi tadi malam.


Tanpa mematikan panggilan telepon itu, Almira beralih ke aplikasi yang biasanya menaikkan berita secepat cahaya yang melesat, dia membuka aplikasi berwarna hitam itu, dan benar saja namanya telah trending nomor satu di pencarian, begitupun dengan Royyan.


Royyan Alzaro dan Almira Tisya kiss depan umum dan mereka menikmatinya.


Nama keduanya terpampang nyata di sana, ada ribuan artikel yang membahasnya dan ada satusan ribu komentar yang termuat di dalam artikel-artikel tersebut, ada yang mencibirnya karena beberapa ada yang menjodohkan Elshara dengan Royyan, tetapi tak sedikit juga yang mendo'akan keduanya menjalankan hubungan dengan baik sampai akhir.


'Apa itu? Aku terkejut.'


'Bukankah mereka sepupuan, kenapa bisa mereka melakukan hal itu depan umum?'


'Sebenarnya apa yang terjadi?'


'Hubungan mereka itu saudara atau sepasang kekasih.'


'Aku melihat mereka mengenakan cincin yang sama, apakah mereka telah menikah?'


'Pasangan yang cocok, jika memang benar, aku sangat mendukungnya, mereka tampan dan cantik. Karir mereka pun sama bagusnya, nona Ra adalah desainer kelas tinggi di negara ini.'


'Jika pun memang mereka saling mencintai, seharusnya mereka tidak melakukan tindakan seperti itu depan umum.'


'Aku sangat membenci mereka, Royyan Alzaro harusnya bersama Rala sang top model'


Beberapa komentar telah di baca oleh Almira, tetapi gadis itu sama sekali tidak goyah ataupun merasa sakit hari karena komentar netizen, yang sebagian besar mencacinya karena kebanyakan memilih untuk merestui hubungan Royyan dengan Elshara.


"Gue udah lihat,"pungkasnya masih tenang.


"Lu gak kaget gitu, gue aja kaget, gue jadi gak berani buat keluar dari rumah karena di agensi banyak wartawan nyari gue."


"Gua udah nyangka bakalan kayak gini, jadi yaudahlah. Karena ini semua ulah kak Royyan,"tuturnya seraya dia menoleh pada suaminya yang masih saja tertidur dalam keadaan tengkurap, "jadi biar suami gue aja yang meluruskan, gue gak mau ikutan mikir,"tambahnya santai.

__ADS_1


"What? Yakin lu ya, tenang banget hidup lu, gue yang panik anj*rr."


"Udah lu tenang dulu, biar gue ngomong dulu sama kak Royyan, anaknya belum bangun, nan--"balas Almira menenangkan Manda.


Belum habis Almira melontarkan perkataannya, dia sudah terkesiap karena tiba-tiba tangan suaminya melingkari pinggangnya seraya pria itu menyeret tubuhnya untuk mendekap sang istri dan melabuhkan wajahnya di leher Almira, dia endus wangi alami tubuh sang istri seraya tersenyum berkembang sampai pipinya memerah.


Almira berusaha untuk menghindar karena dia masih merasa malu karena kejadian tadi malam, tubuhnya terasa kembali terbakar, tetapi pria itu tidak melepaskannya, bibirnya semakin berkembang melontarkan senyuman yang lebih mekar lagi, dia tetap menautkan tubuhnya dengan sang istri, melekapnya dengan erat dan dagu yang menggantung di bahu Almira.


"Pagi sayang ...."lirih Royyan dengan lembut.


"Hmm ..."gumam Almira, dia menoleh kecil, tak ada yang bisa dia lakukan selain menoleh.


Tangan kanannya masih menggenggam ponselnya yang belum mematikan teleponnya sedangkan tangannya yang lain terpenjara oleh dekapan Royyan, "kak ... periksa hape kamu deh,"pintanya lembut.


"Masih pagi, nanti aja,"balasnya seraya dia beranjak untuk mendorong istrinya kembali tertidur di bantalnya sedangkan dia tertidur di atas dada Almira.


"Aaaah ..."pekik Almira terkejut sampai bola matanya melebar dan ponsel yang ada di genggamannya tiba-tiba saja terlepas. "Kak Royyan ... kamu masih belum puas, awas ih aku mau bangun,"protes Almira mendorong tubuh Royyan yang menimpa dirinya.


"Mau lagi? Boleh?"lirihnya berbisik di telinga Almira dengan lingkarang tangan yang di pinggang gadis itu semakin pekat.


"What? NO! Aaah kak Royyan ...."sanggah Almira panik menguatkan dorongannya pada kedua bahu lebar sang suami.


Lelaki itu malah tertawa, kemudian dia turun dari atas tubuh Almira dan kembali telentang seraya dia mengambil ponselnya yang ada di samping bantal yang dia tiduri tadi, sedangkan Almira kembali mengambil ponselnya yang terjatuh tadi ke bawah bersama lantai berkeramik putih.


"Man ..."panggil Almira memastikan.


"Hmm ... duh telinga gue ternodai pasangan suami-istri yang baru sah jadi suami-istri,"seloroh Manda dengan selipan tawa kecil.


"Yaudah mana laki lu."


Almira menoleh seraya menyodorkan ponselnya ke arah suaminya yang tengah memainkan ponselnya, ratusan notifikasi masuk ke dalam ponselnya, terlebih panggilan Ajun yang sudah terhitung lebih dari 124 kali panggilan tak terjawab.


"Manda mau ngomong,"serunya dengan bola mata yang menunduk, mata kucingnya masih enggan untuk menatapi sang suami.


Tanpa menoleh Royyan mengambil ponsel yang ada di genggaman Almira, lalu dia tempelkan dengan telinganya seraya dia masih terfokus dengan ponselnya sendiri.


"Halo,"ucap Royyan dengan suara beratnya yang masih parau.


"Eh cowok kebab tanggungjawab lu,"tukas Manda di seberang sana.


"Apa? Lu jadi sasarannya?"tanyanya tenang dengan bola mata yang belum lepas dari layar ponselnya.


"Iya, gue mau pemotretan jadi gak bisa keluar nih."


"Kenapa?"


"Make nanya kenapa lagi, ya gue mau jawab apa coba, jujur gitu kalau kalian udah nikah satu tahun lebih, kalau mereka nanya kenapa pernikahan kalian di sembunyikan, gue jawab apalagi?"


"Jawab jujur, selesai. Tapi lu jangan sebutin nama yang bersangkutan,"balas Royyan tegas.

__ADS_1


"Hah? Yakin nih mau di bongkar?"


"Permintaan istri gue begitu, jadi tadi malam gue melakukan itu semua,"papar Royyan melempar ponselnya ke sampingnya, karena Almira sudah tak ada di sampingnya lagi.


Gadis itu sudah berpindah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya lagi, sepertinya Almira sudah merindukan aroma mawar yang keluar dari sabun-sabun miliknya itu.


"Pantesan aja, beneran ya, gua bakalan ngomong nih, tenang aja gue gak bakalan sebutin nama Dirta kok, aman."


"Oke."


Panggilan telepon pun akhirnya berakhir. Pria itu kembali melindungi seluruh tubuhnya dengan selimutnya, tadi malam memang sangat menyenangkan, tetapi tubuhnya pun kelelahan. Dia berniat untuk tidak pergi ke kantor, hari ini dia ingin pulang ke rumah orangtuanya, pikirnya mami dan papinya pasti terkejut dengan berita-berita yang beredar di luar sana, termasuk mertuanya pula.


Tak lama dari pikiran-pikiran Royyan yang merancang perjalanannya untuk hari ini, pintu kamarnya menggema, ada seseorang yang mengetuk pintunya dengan keras dan menggebu-gebu, dengan langkah malas dia seret tubuhnya untuk menemui pintu itu dan membukanya dalam keadaan masih telanjang dada.


"Berisik lu pagi-pagi, pengacara gak ada kerjaan apa di pagi hari,"protes Royyan setelah dia tahu Ajun ada di depan pintu kamar apartemennya.


"Kerjaan gue jadi banyak gara-gara lu,"rajuk Ajun sambil dia melenggang masuk ke dalam apartemen itu.


Pria itu melangkah mengekori langkah Ajun seraya dia menutupi pintu itu dengan rapat, keduanya terduduk di sofa yang tersedia di dalam kamar itu.


"Lu ceroboh banget sih pake kiss bini lu di depan umum gitu, gue bingung nih jawabnya gimana,"pungkas Ajun, bola matanya menghamburkan kepanikan yang dalam.


Punggung yang bersandar tadi segera mencondong ke depan dia tempelkan kedua sikutnya di paha, lantas dia menyugar wajahnya dengan lembut, "sengaja,"celetuknya masih menyeka rambutnya ke belakang.


"Hah? Sengaja? Yakin lu? Gimana kalau Dirta berbuat yang enggak-enggak, dari dulu itu kan yang elu takuti,"tanya Ajun khawatir.


Lelaki itu menghela napasnya panjang, "Dirta udah gak masalah, yang jadi masalah sekarang itu El,"paparnya kemudian.


"El?"Ajun mengernyit, "bener kata elu, dia pasti membabi buta. Terus sekarang apa yang mau lu lakuin?"


"Membuat pengumuman tentang hubungan gue sama Ami, setelahnya gue harus lebih ketat lagi jaga Ami,"ucapnya seraya menopang dahinya dengan mata yang sesekali menutup, rasa kantuknya masih belum berakhir.


"Kalau lu belum yakin, kenapa lu lakuin itu."


"Ami yang minta."


"Ooh ..."sahut Ajun menganggukkan kepalanya.


Barulah dia mengerti mengapa Royyan bisa melakukan hal itu tanpa membicarakannya dulu dengannya, sebelumnya Royyan selalu berbicara terlebih dulu dengan Ajun, walau tidak semuanya, tetapi Ajun selalu menjadi orang pertama yang mengetahui rencana Royyan.


Pagi yang seharusnya di gunakan untuk bersiap-siap menjalani hari, Ajun habiskan dengan menemui para wartawan yang kehausan berita dan fakta yang akan mereka jadikan artikel baru di portal berita esok hari atau seminggu ke depan.


Pria bermata downturned itu turun dari lantai apartemen Royyan menuju ke mobilnya sendiri, dan dia lajukan mobil itu meninggalkan gedung apartemen yang baru berdiri satu tahunan itu.


Langkahnya menuju gedung kejaksaan, karena dia memang ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan pagi ini.


Tiba di sana ratusan wartawan sudah mengerubungi gedung kejaksaan, lelaki itu menggeleng, lantas dia menghela napasnya panjang. Tangan yang mencengkeram kemudian segera turun beralih ke pintu mobil dan dia buka seraya dia turun dari mobilnya.


Dengan sekejap para wartawan mengerubungi Ajun dan melontarkan berbagai macam pertanyaan yang intinya sama, mereka ingin mengetahui kebenaran dari hubungan Almira dan Royyan, sampai mata Ajun merasa berkunang-kunang, bagaimana tidak? Para wartawan itu bagai semut bertemu dengan satu butir gula.

__ADS_1


"Oke, tenang dulu semuanya, saya gak bisa jawab kalau kalian bertanya secara bersamaan, otak saya cuman satu, telinga saya cuman dua dan mulut saya cuman satu, jadi tolong bertanya satu-satu,"ujar Ajun saat dia tiba di depan gedung kejaksaan, tepatnya di tangga lebar menunju pintu utama gedung tersebut.


NEXT ....


__ADS_2