
Aroma permen karet betebaran dengan lembut ke setiap area yang di lewati oleh seorang wanita cantik bertubuh tinggi dengan berat badan yang sempurna, dia gadis berambut sebahu yang memasuki area perhotelan dekat dengan hutan yang di penuhi hijau alami dari dedaunan dan pohon-pohon yang terawat dengan indah, di lengkapi dengan bunga-bunga kecil yang merambat di antara pohon-pohon.
Gadis itu melimbai dengan terburu-buru memasuki lift, dia naik ke lantai tujuh dimana dia dan sahabatnya memesan kamar yang sama, tiba di lantai tujuh lekas dia berjalan dengan langkah cepat mendekati pintu kamar dengan nomor 203, dia buka kunci pintu itu menggunakan sebuah kartu dan dia masuk ke dalamnya.
"Ra ... tahu gak, kalau tadi a-da ...."ucapnya seraya dia berjalan dari pintu ke dalam.
Namun, perkataannya tidak dia selesaikan karena terburu oleh rasa terkejut melihat sebuah pemandangan yang membuatnya ternganga dengan bola mata yang ikut membuka dan membeku di waktu yang bersamaan. Langkahnya pun ikut membatu dan perlahan raganya bergetar merinding dengan apa yang sedang dia lihat saat ini.
"Apa gue salah masuk kamar ya?"lirihnya bertanya pada benda-benda mati yang ada di sana seraya dia memegangi kepalanya yang sedang membeku.
Sekali lagi dia tatapi sepasang suami-istri yang sedang tertidur dalam posisi saling mendekap, dia pasati wajah keduanya dengan dalam seraya dia melangkah dengan sangat pelan-pelan, dia berbisik pada kerami-keramik di sana untuk tidak menimbulkan suara langkahnya yang mendekat.
"I-itu ... bajunya Ra kok? Masa sih suami yang sering Ra bilang,"bisik Manda seraya dia menyubuk ke tengah-tengah untuk melihat siapa wanita yang mengenakan pakaian Almira.
Udara menyegarkan dari aroma hijau di sana mendorong pria yang sedang mendekap wanita itu bergerak mengubah posisinya menjadi telentang dengan kancing-kancing kemejanya yang terbuka setengahnya. Dan saat itulah Manda mengetahui jika pria itu adalah Royyan, dia semakin terlonjak kaget, mulutnya yang setengah terbuka menjadi semakin terbelangah, lekas dia tutupi mulutnya yang enggan menutup itu.
Si cowok kebab? Ja-ja-jadi ... suami Ra itu si cowok kebab, gila! Pantesan aja mereka deket banget, anjirr gue tertipu, enggak! Ini mimpi sih pasti, apa otak gue yang terlalu kecapekan ya ...
Batin Manda berceloteh, dia tak bisa mempercayainya dengan mudah. Tubuhnya semakin terhenyak ke belakang sampai akhirnya dia terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, benturan tubuh Manda dengan para keramik itu terdengar oleh Royyan dan berhasil membangunkannya.
Perlahan bola mata kecil itu melangah dan segera meninggalkan rasa kantuknya yang bersemayam dalam bola matanya, lekas dia terbangun dan terduduk di pesisir ranjang lalu dia edarkan sorot matanya pada Manda yang masih mematung dengan posisi terduduk lunglai di lantai.
Dalam hitungan detik kedua pasang mata itu saling bertemu, dan Royyan segera tarik jari telunjuknya ke atas untuk berdiri di atas bibirnya seraya dia berdesis, untuk meminta Manda agar tidak mengeluarkan suara, lalu Royyan melempar pandangannya ke balkon dan dengan cepat Manda mengangguk, dia mengerti apa yang di inginkan oleh Royyan.
Lekas dia kayuh langkahnya keluar dari kamar menuju balkon, begitupun dengan Royyan yang cepat beranjak dari ranjang ke arah balkon seraya dia mengancingkan kemejanya lagi dengan benar, dia tak ingin tubuhnya di lihat oleh siapapun kecuali oleh istrinya sendiri.
"I-ini ada apa? Tolong ... gue butuh penjelasan dengan cepat,"tanya Manda yang nampak kebingungan, bukan hanya bingung, tetapi dia juga terkejut hebat.
"Gue bakalan jelasin semuanya,"jawab Royyan dnegan suara beratnya yang tegas.
"Oke ... apa?"sahut Manda menatapi Royyan dengan serius.
"Ra itu istri gue, kita udah nikah satu tahun,"pungkas Royyan seraya dia berkacak pinggang menatapi Manda.
Pria bertubuh tinggi itu merekam mata Manda yang semakin melebar, sepertinya dia sedang terkejut bagian kedua, dia mencengkeram pagar balkon dengan sangat kencang sepertinya ada sebuah badai angin yang menerpanya.
"Ke-kenapa? Kenapa kalian menyembunyikannya? Ra juga kenapa gak ngomong sama gue,"tukas Manda kesal karena dia tidak mengetahuinya dengan cepat.
"Gue yang larang Ra untuk bicara pada siapapun, termasuk lu,"jawab Royyan dengan wajah datarnya.
"Hah?! Kenapa? Lu gak percaya sama gue, kalau gua gak bisa jaga rahasia ini?"
"Walau elu gak niat untuk membocorkannya, tapi elu bisa aja keceplosan?"pungkas Royyan membuat Manda melelehkan wajah tegangnya.
Lantas gadis pemilik alis sedikit tebal itu mengangguk dan mulai setuju dengan perkataan Royyan, cengkeramannya pada pagar balkon pun perlahan lemah dan akhirnya terlepas.
"Gue menyembunyikan ini semua untuk keselamatan Ami ... Ra sahabat lu itu,"terang Royyan lagi sembari dia menoleh memasati wajah istrinya yang tengah tertidur nyenyak.
"Keselamatan? Maksudnya ... Ra dalam bahaya?"tanya Manda semakin serius.
"Gue, Dirta dan El atau Rala terlibat cinta segitiga."
__ADS_1
"Dirta? Siapa itu? Cowok yang berantem sama lu beberapa waktu lalu?"Manda terus bertanya karena dia ingin tahu dengan jelas titik permasalahannya ada di mana.
"Ya. Saat itu El kecelakaan pesawat dan di nyatakan meninggal karena jasadnya tidak di temukan, dan Dirta marah dia nuduh gue sebagai pembunuh El, karena El pergi karena gue gak mempedulikannya dan dia ngancam gue, siapapun yang jadi pasangan gue maka dia akan menghabisinya dan ini adalah cara gue untuk melindungi Ami,"jelas Royyan dengan panjang.
Manda tersekat oleh penjelasan Royyan, dia tidak menyangka jika permasalahan yang di hadapi Royyan bisa seberat ini. Sorot matanya menjadi kabur pada ingatan yang baru saja terjadi, kata 'menghabisi' benar-benar telah merampas fokus Manda menjadi tidak karuan.
"Si Dirta itu suka sama Rala?"tanya Manda serius.
Royyan membalasnya dengan anggukan kepala yang tegas.
"Kalau elu jauh dari si Rala harusnya dia seneng dong, kenapa dia malah jadi nyerang elu,"tanya Manda lagi.
Hambusan napas Royyan dalam terlempar keluar seraya dia memicing lelah, apapun yang dia lakukan semuanya selalu salah di mata Dirta. Pria dengan rambut wavy bergelombang itu selalu ingin membuat wanita yang dia cinta itu berbahagia, tetapi dia tidak ingin orang lain yang mendampinginya. Ini adalah sebuah situasi yang membuat Royyan bingung untuk melangkah dan juga bergerak.
"Dirta sangat mencintai El, dia hanya ingin melihat El bahagia, tetapi El yang membuat semuanya menjadi semakin rumit. Sekarang ... lu bantu gue untuk menyembunyikan semua ini, ngerti!"ucap Royyan kemudian menegaskan pandangannya pada Manda.
"Iya, lu tenang aja. Gue akan menyembunyikan ini dengan baik, Ra sahabat gue dan gue juga mengharapkan keselamatannya. Gue ngerti, karena tadi Dirta nyari Ra karena Rala di rumah sakit."Manda mengangguk.
"Tolong bantu gue jaga Ami ... hari ini gue banyak kerjaan dan gue juga akan menemui Dirta,"pinta Royyan dengan balutan binar matanya yang penuh harap pada Manda.
Manda segera mengangguk, dia tidak tega melihat seorang Royyan memelas padanya, ini kali pertama gadis berambut sebahu itu melihat sosok Royyan yang selalu dingin dengan wajah yang tertanam tegas itu menampilkan wajah ketakutan dan lembut tiada tandingannya.
"Gue cabut dulu, biarkan istri gue tidur, lukanya udah gue obati,"pamit Royyan seraya dia beranjak dari hadapan Manda, dia mengambil sabuk, dasi dan juga jasnya.
Dia gantungkan jas dan dasinya di pundak sebelah kanan, sedangkan sabuknya dia pakai seraya dia melangkah pergi keluar dari kamar hotel itu. Dan Manda hanya mengangguk, dia masih memangku rasa terkejutnya, gadis itu melenggang ke sofa dan terjatuh dengan lembut di sana.
Dia terpekur disana dengan tatapan menatap lurus ke depan dengan kosong, ranjang dan beberapa fasilitas yang ada di dalam kamar itu seolah lenyap di hadapan mata Manda. Tak lama dari itu Almira mulai bergerak dan menarik tubuhnya untuk terduduk, dia edarkan pandangannya sampai dia mendapati Manda ada di sofa tengah termenung.
Tentunya Almira sangat terkejut sampai dia mematung dan bibirnya terkatup, bola matanya tak kalah terkejutnya ia ikut membeku dengan dahi yang berkerut kuat. Perlahan dia turun dari ranjang dan mendekati Manda.
"Sejak kapan ada disini?"tanya Almira yang berusaha untuk tenang walau derap jantungnya sudah berdebar tidak karuan.
Mendengar suara lembut di dekatnya, lamunan Manda dengan segera berantakan, serpihan lamunannya mendadak menghilang entah kemana, lekas dia tolehkan wajahnya pada Almira.
"Eh udah bangun, gimana sama pipi lo, masih sakit?"tanya Manda masih menyembunyikan apa yang dia ketahui.
"Ah udah enggak kok, cuman perih dikit aja, lo ngapain ke sini, emangnya gak shooting?"jawab Almira mulai lega, pikirnya mungkin Manda tidak melihat apapun di dalam kamar itu.
"Enggak ... gue mulai shooting lagi nanti malam, makanya gue kesini mau lihat elu,"sahutnya menyandarkan punggungnya ke sofa empuk itu.
"Oh gitu ..."balas Almira yang sudah mulai nyaman dengan posisi duduknya di samping sang sahabat.
Tarikan napas semakin dalam, Manda berancang-ancang untuk mempertanyakan semua hal yang baru saja dia ketahui.
"Ra ..."panggilnya lembut dengan nada seriusnya.
"Hmm ... kenapa?"sahut Almira seraya dia memiringkan tubuhnya untuk menghadap pada Manda.
Begitupun dengan Manda yang mengikuti gerakkan tubuh Almira, dan kini mereka saling berhadapan dalam posisi terduduk di atas sofa yang sama.
"Gue udah tahu kalau lu istrinya si cowok kebab itu,"papar Manda tegas.
__ADS_1
Degh!
Darimana dia tahu?
Bagaimana bisa dia mengetahuinya dengan cepat?
Jawaban apa yang harus Almira muntahkan pada Manda.
Pikir Almira begitu, tetapi mulutnya seperti menggenggam benda keras sehingga menjadi kelu dan tak bisa berbicara seperti biasanya. Tubuh yang sudah merasakan nyaman, kini kembali tegang, bahkan tengkuknya ikut berdiri tegang, matanya menyorot Manda dengan kegetiran.
"Lu ngo-ngomong apaan sih, kesambet lu ngomong gue istrinya tuh cowok,"elak Almira seraya dia meraba-raba cincin yang melingkari jari manisnya dengan tatapan yang kabur-kaburan.
"Dari awal gue udah nyangka kalau kalian ini ada apa-apa, dan tadi gue lihat lu sama si cowok kebab itu tidur berdua dan Royyan ngasih tahu gue segalanya,"papar Manda memojokkan Almira menjadi tak bisa berkutik lagi.
Wajah yang tegang itu perlahan redup, cahaya wajahnya ikut padam bersamaan dengan telinga yang mendengar penjelasan dari Manda. Lekas dia hembuskan napasnya merasa lega, dia tak perlu menyembunyikan hal ini lagi, setidaknya pada sahabatnya sendiri.
"Dasar cowok ngaco, dia bilang kalau gue gak boleh bilang pada siapapun termasuk sama lu Man, tapi dia sendiri yang ngomong,"pungkas Almira kembali menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kan gue mergoki kalian, jadi dia gak bisa ngomong apa-apa lagi,"jawab Manda ikut bersandar ke sofa itu.
"Sorry ya Man ... gue gak jujur sama elu selama ini,"lirih Almira seraya dia memejamkan matanya.
"Apa sih lu pake minta maaf segala, gue ngerti kok, karena Royyan udah ngomong kalau itu semua untuk keselamatan elu, eh bentar ...."tiba-tiba saja dia menyadari suatu hal, angannya mengukir nama Ajun, lalu dia tarik tubuhnya untuk mengendap dengan tegak.
Begitupun dengan Almira yang ikut terduduk dengan tegak seraya dia menoleh dan menatapi wajah Manda yang nampak sudah sangat serius, wajah yang selalu terlihat tenang itu mendadak menjadi tegang dan Almira cukup takut dengan wajah sahabatnya di saat seperti ini.
"Ajun!"ucapnya menyerukan nama Ajun dengan pupil yang melebar.
"Kenapa? Lu suka sama Ajun, sahabatnya kak Royyan?"tebak Almira asal.
"Heh! Lu ya kalau ngomong asal nyeletuk aja,"sanggah Manda sembari mendorong tubuh Almira dengan lembut.
Almira tertawa lepas sehingga dia menghenyakkan tubuhnya ke sofa yang dia duduki lagi, dia merasa puas berhasil mencairkan wajah tegang Manda, sejujurnya wanita dengan pipi tirus sempurna itu tidak ingin melihat sahabatnya dengan wajah serius seperti itu.
"Ya terus apa? Elu tiba-tiba aja nyebut nama Ajun,"katanya lagi.
"Waktu kita makan di restoran seafood, elu kan sama Royyan di pantai tuh, terus Ajun kayak mengalihkan perhatian gue gitu dari elu sama suami elu itu, dan sekretaris lakik lu dan Ajun kayak bertukar mata gitu, apa mereka tahu ya?"beber Manda kembali dengan wajah tegangnya.
Lagi-lagi Almira menggemakan tawanya yang lembut seraya dia menutupi mulutnya dan satu tangannya yang lain tertidur di atas perutnya yang bergetar karena tawanya, sembari dia masih bersandar pada sofa.
"Ya iyalah dodol! Adrian orang kepercayaan kak Royyan, dia bekerja dengan sangat baik. Dan Ajun itu sahabatnya dari sejak SMP, ya pasti mereka tahu. Pas gue nikah Adrian ada, cuman Ajun emang gak datang karena dia lagi kerja di sini di Bali,"jawab Almira yang segera menghentikan tawanya.
"Wah parah si Ajun, ketemu gue pites palanya,"seru Manda merasa terkhianati oleh semua perkataan Ajun saat itu.
"Kan dia juga harus menyembunyikannya, karena si Dirta masih keras walau si El itu udah balik."
"Oh iya ..."pungkas Manda seraya dia memiringkan tubuhnya lagi menghadap pada Almira yang masih betah bersandar pada sofa, "tadi si Dirta-Dirta itu datang ke lokasi nyari elu,"tambahnya.
"Hah?!
NEXT ....
__ADS_1