Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 123 : Manda dan Ajun?


__ADS_3

Langit mengatakan jika dia kelelahan dengan pancarannya yang tak pernah ingin padam, terjatuh pada sosok gadis bermata almond yang tengah menggenggam rasa takut bercampur dengan raga yang bergetar tak beraturan. Bokongnya terus bergeser ke belakang dengan bola mata yang mulai mengembun.


Kilatan kerikuhan menciptakan nyanyian pilu dari gadis itu. "Pergi! ..." Teriakan Manda semakin mengencang, membangunkan para mega yang tertidur di langit.


Namun, kedua lelaki itu nampak mendapatkan permainan yang amat mengasyikan, langkahnya semakin tegas saja menyentuh tangan halus dari gadis itu. "Ayolah ... Gak usah takut, kita cuman mau main-main aja, kita ke hotel untuk menikmati waktu bersama,"goda salah satu lelaki itu.


Dengan sekejap raga Manda terasa terguncang hebat, tubuhnya melemah. "Gak! Pergi ...."tepis Manda menendang lutut lelaki itu.


"SIAL! Dasar cewek gak tahu diri!"cibirnya berdiri dengan tegak.


Goresan kemarahan terlukis dengan jelas di paras keduanya, saat seperti itu Ajun tepat waktu, dia segera menghampiri Manda dan berlutut di samping gadis yang tengah bergetar ketakutan itu. Bahkan serpihan kristal mulai berjatuhan ke pipi tirusnya.


"Man ..." Suara Ajun lirih, mengelus punggung Manda sambil mengedarkan tatapan tajamnya pada kedua lelaki yang ada di depannya, tengah berdiri dengan angkuh.


Degh!


Raga yang bergetar itu seketika mengendur, netranya beralih dari kedua lelaki yang membuatnya takut itu pada Ajun yang ada di sampingnya. Lega. Seperti hujan yang menghampiri tanah kering karena kemarau melandanya dalam waktu yang tak menentu.


"Ajun,"seru Manda lega.


Mendadak Manda melabuhkan tubuhnya memeluk Ajun dan gadis itu menangis di sana, di bahu lebar milik Ajun, tangisannya terdengar pilu, pelukan Manda semakin merekat, lekas Ajun mengelus punggung kecil milik Manda untuk menenangkannya


"Udah tenang ..."pinta Ajun membalas pelukan Manda.


Gadis itu terus menangis sampai sedunya terdengar menyakitkan. Bahkan tubuhnya masih saja bergetar. Manda menyeret tubuhnya untuk terus masuk ke dalam dekapan yang lebih dalam lagi, dia berlutut sambil menggantung di leher Ajun.


"A--juun ... Me-re ...." lirih Manda dengan nada suara yang lebih rendah, suara parau menguasai diri Manda.


"Iya. Gue paham, lu berdiri dan diem di belakang gue, ngerti?"titah Ajun menarik tubuh Manda berdiri tegap, lingkaran di pinggang Manda ikut menguat guna membawa tubuh Manda untuk bangkit.


"Euuum ..."gumam Manda dengan isaknya yang mulai memudar.


Manda menyeka wajahnya dari sisa air mata yang membanjiri pipinya, dan Ajun menyeret Manda ke belakangnya. Dia melangkah menghadapi kedua lelaki itu.


"Ada urusan apa lo berdua sama dia,"tegas Ajun merajam tatapan kedua lelaki yang nampak tengah dipengaruhi alkohol.


"Lu siapa? Gak usah ikut campur, dia cewek gua,"akunya.


Mendengar hal itu lekas Ajun terenyak dan wajahnya mengerut, lalu dia mencanangkan tawanya sampai memecah angin yang bersibak di sekitarnya. Mendadak Ajun membuka jas yang menempel di tubuhnya, lalu memakaikan Manda jas tersebut membuat Manda tertadah dan memasati wajah Ajun dengan rasa kagum.


"Tunggu di sini, gue urus dulu mereka,"ungkapnya menaikkan kedua sudut bibirnya dengan lembut.


Tak ada jawaban dari Manda, karena Ajun sudah lebih dulu berputar dan menghadap pada kedua lelaki itu.


"Cowoknya itu cewek,"tanya Ajun sembari menyingsingkan kedua lengan kemejanya dan membuka dua manik kemejanya.


Dia menekuk lehernya ke arah kiri dan kanannya, kemudian mengepalkan kedua tangannya sambil menekannya hingga mengeluarkan suara otot tangannya menekuk. Namun, kedua lelaki itu masih saja angkuh di hadapan Ajun, dada keduanya semakin membusung dengan tatapan meremehkan.


"Tentunya, jadi lu gak usah banyak bacot, serahkan cewek itu,"timpal salah satu lelaki itu.


Ajun mendengkus kesal. Sorot matanya menajam. "Bajingan!"cibir Ajun melayangkan sebuah pukulan kasar di salah satu pipi, lelaki itu.

__ADS_1


"Woyy! Santai dong." Lelaki yang lain mendorong Ajun.


Dengan sigap Ajun memelintir tangannya dan menendang kaki panjang itu sampai dia tersungkur dan berlutut di hadapan Ajun. "Aarrrghh ..." Lelaki itu memekik kesakitan.


"Sialan! Dia cewek gue, lu gak usah banyak tingkah,"angkuh lelaki itu.


Tanpa segan Ajun menghantam leher pria yang tengah berlutut di hadapannya menggunakan sikut tangan kanannya, dalam waktu singkat pria itu tersungkur dan tak berdaya.


"Wooi! Anj**g lo!"sentak pria yang lain mencengkeram kerah baju Ajun.


Manda yang melihat itu semua lantas terbelangah menutupi kedua tangannya, lalu menatapi Ajun dengan penuh rasa khawatir, aliran napasnya tersekat sejenak. Tatapannya terus mematri punggung gagah lelaki yang berulangkali membuatnya terkagum.


"DIEM LO!" Ajun mendorong pria itu sampai terpental jauh ke belakang, netranya merajam tatapan lelaki itu sehingga menciptakan kegetiran di sekitarnya.


Pria itu nampak berkerut gamang, langkahnya perlahan mengendur ke belakang. "Sebenarnya siapa lo, kenapa lu peduli sama cewek itu, mending lu gak usah ikut ca---"


"Bacot!"bentak Ajun lalu dia meludah ke arah kirinya.


Langkahnya begitu terburu-buru ; Tatapannya bukan hanya gusar, bahkan dia mengembun dengan kekesalan yang tak bisa dia artikan, hati Ajun begitu tersakiti dan dadanya bergemuruh kala mengingat tatapan ketakutan yang terlukis di wajah gadis bermata almond itu.


"Di-a ... Cewek gue! MAU APA LO!"gertak Ajun membenturkan dahinya dengan dahi pria itu.


Durja pria itu lekas memerah, netranya membulat dengan azmat. Rasanya udara di sana telah dikumpulkan oleh Ajun dan di rampas lelaki bermata downturned itu dan tidak menyisakan sececah saja.


Namun, pria itu tetap menjatuhkan bogeman kasar di pipi Ajun sehingga tubuh lelaki itu terpental ke belakang dan terjatuh tepat di hadapan Manda.


"Aaakh ..." Secara spontan Manda memekikkan suaranya sembari menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


"A-juun ..."seru Manda panik, dahinya mengerut dalam bersamaan dengan bahunya yang mengeras.


Namun, lelaki itu tidak menyerah, dia gegas berdiri dan menghantam pria itu. Dan terjadilah baku hantam yang tak bisa di elakkan lagi. Keduanya saling mengadu kekuatan, saling terjatuh dan bangkit lagi, menghunjamkan pukulan berulangkali, tetapi Ajun tidak menyerah.


Tekadnya untuk menghancurkan lelaki itu seketika menguasai dirinya, membelenggunya hingga tumpat dan Ajun tak bisa mengendalikan dirinya. Memar di bagian pipinya telah menjalar dan menciptakan rasa sakit yang membuatnya ngilu dan embun-embun yang semula bersembunyi, mendadak berkumpul di bola mata Ajun.


Sampai pada akhirnya lelaki itu mendapatkan pukulan keras di bagian perutnya dan membuatnya tak berdaya lagi, sesak mengepung dadanya dan rasa nyeri terus bergerak ke atas dan memangkas seluruh aliran pernapasannya.


Kedua pria itu tak lagi mampu menantang Ajun yang sampai detik ini nampak baik-baik saja, akhirnya mereka melarikan diri berjempalitan. Luka lebam yang mengendap di paras tampannya pun tak dia hiraukan.


"Ajuun ..."panggil Manda dengan suara bergetar.


"Euum ..."gumam Ajun menoleh dan memutar tubuhnya mengarah pada Manda. "It's ok,"serunya kemudian berdiri dengan tenang seolah tak ada yang terjadi.


Lekas Manda berlari dan menghamburkan dirinya memeluk Ajun, tubuh Ajun sedikit terseret ke belakang. Lantas dia mengundang senyuman merekahnya untuk menjadi penghuni wajahnya dalam beberapa waktu ke depan.


"Ajuuun ... Lu gak papa?"tanya Manda lirih, desakan sesak mengundang suara paraunya..


"Iya ... Seperti yang elu lihat." Ajun tanpa segan membalas pelukan gadis itu.


Mendengar jawaban Ajun, gadis itu bukannya berhenti, tangisannya semakin menggema dan seluruh raganya bergetar hebat. Pelukan gadis itu semakin merekat, membuat Ajun tertawa kecil sembari mengelus lembut punggung kecil yang tengah dia dekap.


"Lu kenapa malah nangis, gue baik-baik aja,"ungkapnya menenggelamkan wajahnya di antara rambut sebahu milik Manda.

__ADS_1


"Apa-aan ... Lu bo-hong ...."tepis Manda tak ingin mempercayai perkataan Ajun.


Isak Manda terus berpendar layaknya air yang mengalir tanpa lelah, bola matanya telah mengembang, tetapi Manda masih terus menjatuhkan ribuan kristal yang memenuhi kelopak matanya.


Tiba-tiba Ajun merekatkan pelukannya di pinggang Manda dan menekannya, lalu membawa Manda melayang di udara, kaki jenjangnya berkimbang-kimbang. "Euum ... Udah ah nangisnya, jelek tahu gak,"ucap Ajun.


Menyadari jika dirinya tak lagi menginjakkan kakinya di jalanan, lekas Manda menghentikan tangisannya, dan menyisakan sedunya yang mengerat di dada. Dia tarik tubuhnya dan kedua tangannya menggantung di bahu lelaki itu. Seraya menyeka air matanya dan memukul lembut dada Ajun.


"Turunin gue,"pintanya lirih.


"Oke. Asal janji dulu, lu berhenti nangis. Gue takut disangka mau macem-macem sama lu lagi, mata semua orang udah kayak mau nerkam gue tahu gak, makanya gue meluk lo sampai gendong lu begini,"beber Ajun panjang.


"Euum ..."gumam Manda mengangguk.


Ajun menurunkan Manda dari lengannya.


Gadis yang masih mengatur sedunya itu lekas menengadah dan mencoba meraba-raba luka lebam yang mengendap di paras tampan Ajun. Pipi beningnya mendadak menjadi memerah.


"Sakit?"tanya Manda meringis, seolah dia mengetahui betapa sakitnya luka itu.


"Enggak ..." Ajun menggelengkan kepalanya sembari menarik kedua tangannya ke belakang, lalu dia mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga Manda secara impulsif mengenyak ke belakang.


Tangan gadis itu masih mematung di sekitar pipi Ajun.


"Udah ... Gak usah khawatir begitu, luka kecil aja, udah ayo balik,"ajak Ajun menegapkan tubuhnya.


Ajun melangkahkan kakinya lebih dulu dan Manda yang menggenggam jas lelaki itu lantas terdiam. Dia merasa terkepung oleh rasa bersalah karena telah membuat durja pengacara itu penuh luka, raganya masih saja bergetar ketakutan sampai melangkah pun rasanya harus mengumpulkan seluruh tenaganya.


Terlebih rasa bersalahnya berkesinambungan menikam diri gadis itu. "Jun ..."panggil Manda lirih.


Pria bertubuh tegap itu gegas berbalik dan menaikkan kedua alisnya. "Kenapa? Lu ngapain masih diem di situ,"tanya Ajun kembali melangkah mendekati Manda.


"Sorry ... Lagi-lagi gue jadi sumber masalah di kehidupan elu,"pungkasnya tertunduk dengan lemah.


"Ngomong apa sih lu, kagak jelas, udah ayo cepetan pulang,"tangkis Ajun menarik lengan Manda melangkah bersamanya.


Dari kejauhan Nanda melihat penampilan Ajun yang berantakan tengah menarik sosok wanita cantik bertubuh proporsional dengan sempurna, lantas Nanda menyeringai bahagia melihat Ajun akhirnya bisa dekat dengan wanita lain selain dirinya dan Elshara.


"Kalau sampai rela babak belur begitu demi satu cewek, suka bukan sih kak namanya?"tanya Nanda pada kakaknya Zarina yang ada di dekatnya.


Zarina yang baru saja selesai memasukkan seluruh belanjaannya ke dalam bagasi mobil, lekas menghampiri Nanda dan melihat apa yang tengah mengalihkan perhatian Nanda.


"Mungkin aja, temen kamu itu megangnya erat banget, ceweknya kah?" Zarina balik bertanya.


"Gak tahu, kakak kan tahu kalau aku ketemu Ajun baru hari ini."


"Oh begitu." Zarina menganggukkan kepalanya, "cemburu?"celetuknya kemudian.


Rahang Nanda mendadak mengeras, netranya berkelintaran dan akhirnya terjatuh di tatapan sang kakak, lalu dia menyeringai dan diakhiri dengan tawa yang menggema dengan nyaring.


"Ngomong apaan lagi sih, aku sama Ajun temen biasa aja, dari dulu kita gak ada perasaan semacam itu, ngaco ah kak Zarina,"sanggah Nanda.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2