Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 52 : Manda out, sponsor ikut out.


__ADS_3

"Katanya elu kan salah satu model andalan dari agensi elu, jadi agensi gak akan semudah itu melepas elu juga kali,"ucap Ajun seolah dia benar-benar mengetahui segala hal.


Hembusan napas terbuang dengan lega, "maybe ... but, your friend is truly the devil incarnate,"papar Manda seraya menganyam senyum tipis dengan tatapan seperti akan mengunyah Elshara hidup-hidup.


Seketika semua orang yang ada di sana tergelak, terutama Ajun yang berada di samping Manda, tawanya paling lama bersemayam dalam keadaan riuh dari restoran tersebut. Semakin lama mereka saling bertukar kicauan dalam keadaan meja hanya diisi satu minuman manis di depan mereka masing-masing, dalam waktu itu pula mereka saling dekat.


Meninggalkan kelima insan yang saling bertukar mata itu, gegana yang selalu menemani langit segera bergerak dari tempat asalnya ke arah lain karena perintah sang bayu yang melintas menari-nari di udara yang tengah mengirimkan udara panasnya.


Di bawah langit biru dengan sorot matahari yang menusuk, kegaduhan lokasi shooting masih berlangsung, tetapi para model lain masih berusaha untuk melakukan shooting dan sutradara terpaksa untuk melewati bagian Manda.


Dan Elshara masih di posisi awalnya, karena pimpinan penyelenggara tidak memberikannya izin untuk menempati posisi Manda walau pimpinan agensi terus membujuk dan mengabaikan segala hal.


"Ayo lah pak ... Rala lebih baik dari Manda, dia pasti bisa melakukan yang jauh lebih baik dari Manda,"bujuk pria berambut tipis itu yang terus mengekori pria paruh baya yang memiliki mata agak sipit.


"Anda ini benar-benar pemimpin yang buruk,"celetuknya seraya dia berputar menghadap pada pria yang mendekati botak itu, "anda itu terlalu jelas jika anda meremehkan anak didik anda yang lain, semua pekerjaan yang tidak bisa di lakukan oleh Rala, semuanya di lakukan oleh Manda dengan sangat baik, lantas dengan alasan apa jika Rala anak kesayangan anda itu jauh lebih baik dari Manda,"sambungnya dengan tegas.


Pimpinan agensi tersekat sesaat mendengar perkataan kliennya, apa yang dikatakannya memang benar, jiwanya dihantui rasa takut kehilangan jabatannya sehingga dia lupa mempertahankan kualitas agensi yang menjadi daya tarik klien untuk menggunakan anak-anak didikan dari agensinya.


Se-menakutkan itu kah? Elshara terlalu manja dan keluarganya memenuhi sifat manja yang di miliki oleh Elshara. Dia tidak bisa bergerak, menolak permintaan Elshara adalah sebuah malapetaka bagi jabatannya sedangkan tidak menuruti kualitas untuk acara ini juga akan berdampak pamor agensinya akan semakin menurun.


Dengan balutan terik matahari yang semakin galak, orang kepercayaan dari pimpinan penyelenggara itu tergopoh-gopoh menghampiri dua pimpinan yang sedang beradu argumen, pria yang terlihat masih muda itu menghadap bos-nya seraya menenteng tablet warna putih miliknya.


"Maaf pak, ini darurat,"ucapnya terengah-engah.


"Ada apa ini?"tanya pimpinan penyelenggara.


"Coba tenang dulu, bicara dengan baik-baik,"timpal pria berambut tipis tersebut.


Pria muda itu masih berusaha menelan ludahnya yang kering seraya mengatur pola napasnya, "sponsor terbesar kita mengundurkan diri setelah dia mengetahui jika Manda keluar dari acara,"bebernya.


"Hah?!"seru kedua pemimpin itu dengan lantang sehingga pria muda itu menghenyakkan wajahnya karena terkejut.


"Perusahaan Remira mengundurkan diri?"tanya pimpinan penyelenggara sekali lagi dengan tatapan paniknya.


Dia mengangguk dengan tegas, sebenarnya dia juga sangat panik, sebuah proyek yang selama ini dia kerjakan akan sia-sia jika tidak segera diperbaiki, terutama pimpinan penyelenggara itu, dia segera mencengkeram kerah jas pimpinan agensi dengan sorot matanya yang menyalakan bara api yang membara.


"LIHAT! Ini karena keegoisan anda, semua model sudah mendapatkan posisinya masing-masing, kita sudah membicarakannya di awal dan anda mengacaukannya hanya karena anak kesayangan anda menginginkannya, saya tidak mau tahu, bawa Manda secepatnya atau saya akan ganti semua model dengan agensi lain kecuali Manda!"gertaknya dengan deru napas yang menggebu-gebu.


Di tempat lain Royyan yang berada di dekat pantai yang membiaskan warna jingga langit, dia berusaha menelepon Dirta untuk pertama kalinya, entah akan mendapatkan respon baik atau malah sebaliknya, yang jelas Royyan hanya ingin kelangsungan acara ini berjalan dengan lancar agar dia bisa kembali ke Jakarta tepat waktu.


"Kenapa lu nelepon gue, gue lagi sibuk di restoran,"ujar Dirta, sepertinya Dirta sudah lebih tenang sekarang.


"Setelah pekerjaan elu selesai, elu temui El,"pinta Royyan yang belum menjelaskan maksudnya apa.


"Ada apa? Mau minta apaan lu? Lu pasti mau minta gue melakukan sesuatu kan?"tebak Dirta di balik ponsel.


Perlahan bibir Royyan menyeringai, ternyata Dirta tidak sepenuhnya melupakan pertemanan mereka, dia masih mengingat kebiasaan yang sering dilakukan oleh Royyan.

__ADS_1


"Cewek lu bikin ulah, shooting jadi berantakan karena dia,"jelas Royyan.


"Maksudnya? Lu kalau ngomong yang jelas, kagak pernah berubah heran gue sama lu."


"Gini, El mau rebut posisi Manda yang juga top model di agensinya, Manda marah dan dia cabut, jadi tolong kasih tahu sama cewek lu kalau jangan membuat kegaduhan, suruh kerjakan apa yang sudah di jadwalkan dari awal, jangan merubah jadwal sesuka hatinya,"terang Royyan lagi.


"Ya. Nanti gue coba ngomong."


Dengan cepat panggilan terputus. Royyan membalik tubuhnya membelakangi pantai yang tidak memiliki banyak pengunjung itu dan di depannya sudah ada sosok wanita yang dia cintai tengah berdiri melahap ice cream vanilla strawberry kesukaannya sampai meleber keluar dari mulutnya, matanya tertuju pada bibir yang kemungkinan akan bertambah manis, pikir Royyan demikian.


"Kamu kenapa ngeliatin aku gitu sih, ada yang aneh?"tanya Almira tidak berhenti menjilati eskrim yang ada dalam genggamannya itu.


Dia tarik pinggang kecil Almira mendekatinya sampai tubuh mereka saling berdekatan, membuat Almira kembali membuntangkan pupilnya dan menghentikan aktifitasnya, lalu mendongak mematri tatapan sang suami.


"Kamu ngapain sih, ini lagi di luar, kamu lupa atau gimana sih?"sanggah Almira mencoba untuk melangkah mundur.


Namun, pinggangnya masih saja di genggam oleh Royyan, dan Almira terpaksa ikut terdiam dengan satu tangan menggenggam eskrim yang tersisa, sedangkan tangannya yang lain menongkrong di dada Royyan.


"Makannya yang rapi, kalau di rumah udah aku bersihkan mulut kamu pake bibir aku,"celetuknya seraya menyeka pinggir bibir Almira dengan sehelai tisu yang dia ambil dari saku jas yang dia pakai.


Degh!


Tubuh Almira bergegar dengan parade degup jantung yang berdebar menyerupai para kuda yang berhamburan menghindari singa kelaparan, lalu dia mendorong Royyan setelah tidak merasakan sentuhan lembut dari sang suaminya itu.


"Jangan sembarangan ya kamu ngomong, di denger orang di sangka apa nanti, emangnya kamu udah selesai sama temen kamu itu?"sanggah Almira kembali melanjutkan aktifitas makannya.


"Belum. Nanti setelah kembali ke Jakarta aku baru tahu,"jawab Royyan mengepal bekas tisu lalu berjalan ke samping kanannya, di sana terdapat sebuah tong sampah berwarna hijau yang nampak bersih.


"Emangnya dia masih dendam sama kamu? Kan, cewek yang dia suka udah balik dan dia tinggal mendekatinya aja, kenapa kamu masih aja kerepotan?"pungkas Almira seraya celingukan mencari benda apa yang bisa membersihkan tangannya.


Melihat sang istri kebingungan, Royyan kembali menyelukkan satu tangannya ke dalam saku jas-nya dan mengambil dua helai tisu dari sana dan menarik kedua tangan Almira lalu membersihkan tangan sang istri dengan tisu itu.


"Tunggu dulu, El masih menunjukkan jika dia suka sama aku, jadi aku harus tahu respon dari Dirta, aku sudah berusaha untuk menghindarinya, tetapi karena pekerjaan aku gak bisa selalu menghindarinya,"terang Royyan.


Wanita bertubuh mungil itu mengangguk, dia sangat menunggu hari itu, hari di mana dia tak harus bersembunyi dari semua orang, hari di mana dia keluar rumah tanpa masker, kacamata dan topinya.


Keduanya beralih dari hadapan restoran itu menghampiri area pantai yang jauh dari jangkaun manusia-manusia dengan berbagai aktifitasnya, Royyan dan Almira berjalan saling berdampingan menelusuri pantai sembari menikmati debur ombak dan angin yang bersibak ke arahnya.


"Kalau Dirta gak suka sama El, apa kamu akan jatuh cinta padanya? Dia kan cantik, seorang top model juga,"tanya Almira pensaran, tersirat jelas di pupil matanya.


"Hmm ... entahlah,"sahut Royyan singkat.


Bersama lukisan langit jingga yang memukau, sepasang suami-istri ini terdiam tepat di depan sorot matahari tengah tertuju pada area dimana Royyan dan Almira berada, mereka saling berhadapan. Royyan memasati wajah cantik istrinya sedangkan Almira, wajahnya tertunduk dengan debur embun yang mulai menguap.


Walau Dirta tidak menyukai El saat itu, aku tidak akan mencintainya, karena saat itu ada kamu di antara detak jarum kehidupanku, intinya ... bagaimanapun jalannya kisahku, karena kamu ada di dalamnya maka cinta ini tetap menjadi milik kamu.


Batin Royyan kembali menggema.

__ADS_1


"Besok aku akan sibuk di luar resort, karena ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan,"ujar Royyan kemudian.


Almira mendongak, "hmm ... oke. Aku juga mungkin mulai besok akan sibuk."


"Selamat bekerja,"ucap Royyan yang lagi-lagi singkat.


"Hmm ..."Almira bergumam untuk merespon perkataan Royyan.


Di sudut lain terlihat Manda mengerutkan dahinya, rasa penasarannya kambali membuncah, angannya kembali meraba-raba kemungkinan yang ada tentang hubungan sahabatnya dengan pria yang sering dia sebut dengan cowok kebab.


"Gue yakin mereka pasti ada hubungannya, kalaupun iya sepupu-an gak mungkin perlakuannya semanis ini,"terka Manda yang tengah melipat kedua tangannya di depan seraya dia menghamburkan tatapannya pada Royyan yang tengah bersama Almira.


Sontak Adrian dan Ajun yang berada di dekat Manda segera saling bertukar mata, kemudian mereka saling mengangguk, mereka telah menyelesaikan perbincangan batinnya. Lantas Ajun melangkah ke depan tepat di hadapan Manda seraya dia berkacak pinggang.


"Gak usah kepo, dia sahabat lu kan? Kalau ada apa-apa pasti dia bilang jujur kan sama elu,"pungkas Ajun sampai aroma wangi permen yang menyegarkan hembusan napas Ajun menjalari wajah Manda.


"Iya sih, tapi mereka itu kayak yang pacaran tahu,"tepis Manda masih berdiri kokoh, dia sama sekali tidak bergerak dari posisi awalnya.


"Udahlah ... biarin aja mereka,"balas Ajun lagi sembari meletakkan kedua tangannya di bahu runcing Manda dan memutar tubuh Manda ke depan dan mendorongnya.


Membawa Manda menjauh dari jangkauan Almira yang bersama Royyan tengah menikmati senja, lalu Ajun kembai bertukar mata dengan Adrian seolah berbicara pada orang kepercayaan sahabatnya itu untuk tetap diam di sana menemani bos-nya, dan anehnya Adrian mengerti percakapan antara mata itu, kemudian Ajun segera mendorong Manda lagi menjauh dari sana.


"Eh eh eh ... lu mau bawa gue kemana?"protes Manda yang terpaksa berjalan karena dorongan Ajun sangat kuat pada pundaknya.


"Jalan aja, nanti juga lu tahu mau kemana,"sahut Ajun.


Sore itu mereka benar-benar menghabiskan waktunya di restoran itu tanpa ada yang mengetahui keberadaannya, Ajun dan Manda menghabiskan waktunya di arena playground, sedangkan Almira dan Royyan sibuk di pantai menikmati senja, dan bagaimana dengan Adrian? Ya ... tidak ada yang bisa dilakukannya selain terus mengekori Royyan kemana pun bos-nya itu melangkah, sambil dia mengatur jadwal pekerjaan Royyan besok.


Almira yang mulai bosan dengan pemandangan laut dan langit akhirnya beralih pada kursi yang di duduki oleh Adrian lalu dia kembali menatapi sang suami yang tengah tertidur di atas pasir, sebenarnya pria berparas tampan itu tidaklah tertidur, dia hanya memejamkan matanya menikmati deru angin yang mendekatinya.


"Kak ..."panggil Almira lembut.


"Hmm ..."gumam Royyan.


"Kamu gak mau kasih anak buah kamu yang setia itu hadiah apa,"ucap Almira, entah mendapatkan ide darimana dia bisa mengatakan hal seperti itu pada suaminya.


"Hadiah?"sahut Royyan seraya dia membuka matanya dan mengubah posisinya menjadi terduduk menghadap pada sang istri, "aku udah ngasih mobil sama Rian, hadiah apa lagi?"tanya Royyan memasati wajah sang istri.


"Rumah? Kayaknya itu hadiah yang setimpal untuk Rian, dia bekerja dengan sangat baik, bahkan saat urusan pribadi kamu aja dia masih setia nungguin tuh,"paparnya seraya dia kembali memutar netranya tertuju pada Adrian.


"Oke. Nanti aku pikirkan lagi."


"Bagus itu, kamu kan nyebelin, jadi kamu harus kasih hadiah untuk mengurangi rasa jenuh kerja sama kamu."


Seketika Royyan mendelik kasar menanapi Almira dengan dalam, lalu dia melukis wajahnya dengan senyuman manis nan hangatnya, "sembarangan kamu ngomong, emangnya kamu gak nyebelin apa."


"Ih enggak lah, aku kan baik, cantik dan tidak sombong,"ujarnya seraya melengkungkan bibirnya ke atas.

__ADS_1


Sekali lagi tawa Royyan pecah di hadapan Almira, dengan segera wanita bermata kucing itu ikut menyelam dalam tawa Royyan yang dia sebut dengan sebuah hal langka dan harus dengan cepat di abadikan dalam memorinya.


NEXT ....


__ADS_2