
Sebuah butik di tengah kota yang sedang digandrungi anak-anak muda itu nampak agak sepi, sang pemilik yaitu Almira sudah tiga hari tidak membuka butik miliknya itu karena Royyan melarangnya untuk pergi ke butik dalam beberapa hari ini, dan hal itu membuat Almira kesal dan semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan sang suami.
Wanita yang mengikat seluruh rambutnya di atas secara acak nampak menopang dagu termangu di ruangannya. Tatapannya kosong seraya dia memutar sebuah pulpen dengan tangannya yang lain.
Kak Royyan ini sebenarnya kenapa sih, aku keluar gak izin marah, padahal dia bilang kalau diluar anggap aja kita gak kenal, tetapi dia selalu nanya kemana aja aku pergi seharian, ngaco banget sih manusianya, anak siapa sih? Eh! Kan anak mami ya, untungnya mami baik banget, kak Aneu juga baik.
Deretan pertanyaan yang selalu menjadi penghuni isi kepalanya, dan sampai saat ini Almira belum menemukan sebuah jawaban pasti tentang hal itu semua.
Kemudian dia mengerjapkan kedua matanya dan menggeleng, mencoba mengembalikan kesadaran dan memerintahkan dirinya untuk fokus dengan pekerjaannya. Gara-garanya, dia absen ke butik beberapa hari ini, membuat pekerjaannya menjadi sangat terbengkalai.
"Gara-gara suami tidak berguna nih, nyuruh gue diam di rumah tapi dia sendiri malah cabut kerja, eh! Tapi kan sama-sama di rumah juga ngapain, orang kita nikah secara tertutup dan ini adalah perjodohan."gerutu Almira seraya dia menggenggam pensil yang dia gerakkan dengan lihai merancang sebuah gaun pesanan dari kliennya.
Suasana kembali hening, rancangannya telah mengambil alih fokusnya. Mulut wanita berambut panjang ikal itu sudah berhenti mengomel dan fokus dengan kerjaannya, seketika atmosfer di sekitarnya pun ikut menjadi hening.
Tak lama Almira dalam heningnya, salah satu karyawannya masuk setelah dia mengetuk pintu ruangan Almira. Wanita yang berpakaian rapi itu masuk ke dalam ruangan Almira dengan tertunduk sopan dan tangan yang terlipat di depan seraya menggenggam buku catatan miliknya.
"Permisi bu Almira, ada yang ingin bertemu langsung dengan ibu,"ucap karyawan wanita tersebut.
"Siapa? Saya masih harus mengerjakan beberapa rancangan,"sahut Almira seraya fokus dengan tumpukkan kertas di hadapannya, sebagian di bawahnya telah menjelma menjadi rancangan khusus yang telah di pesan kliennya.
"Saya tidak tahu bu, beliau ini sudah beberapa kali datang ke butik ini dengan memakai masker dan juga kacamata, setelah keluar dari butik, beliau mengenakan selendang untuk menutupi kepalanya, dan beliau belum pernah menunjukkan wajahnya,"jelas karyawannya.
Almira mendongak dan berpikir keras, menerka-nerka siapakah wanita di balik penyamarannya ini, dengan perasaan malas, wanita bertubuh mungil itu beranjak dari kursinya dan segera keluar untuk wanita tersebut, sedang karyawan wanita itu mengikuti Almira di belakang, mengekori kemana pun Almira melangkah.
"Permisi nona, ada yang bisa saya bantu?"tanya Almira sopan, bola matanya terus membaca lekuk tubuh wanita misterius itu.
Tetapi Almira sama sekali tidak mengenalinya, jari-jari indahnya pun terbungkus oleh sarung tangan, membuat Almira kesulitan untuk mengenalinya. Apakah dia pernah menemuinya ataukah tidak, dia tidak bisa memastikan, wanita ini benar-benar sempurna menyembunyikan dirinya.
"Halo, saya sangat menyukai karya-karyamu, pakaian disini benar-benar sangat sempurna, bisa saya memesan pakaian pribadi saya?"sahut wanita itu dengan nada suara yang lembut.
"Tentu saja bisa nona, pakaian seperti apa yang anda inginkan? Mari ikut dengan saya ke ruangan, untuk membicarakan hal ini,"
"Baiklah."
Mereka kembali ke ruangan Almira. Pintu tertutup dengan rapat, dan karayawati tersebut masih berdiri di ruangan Almira di pojok kanan di belakang wanita berkulit putih bersih itu.
"Saya ingin memesan pakaian untuk pesta besar malam nanti, sekitar tiga bulan dari sekarang,"
"Oke, apa yang nona inginkan? Pakaian seperti apa?"
"Saya ingin gaun panjang tetapi menampilkan kesan seksi yang mahal, saya ingin tubuh saya di baluti gaun merah dengan sempurna,"
"Hmm, baiklah. Saya tahu gaun seperti apa yang cocok dengan tubuh indah seperti nona."
"Ah terimakasih."
Perbincangan itu akhirnya selesai, bahkan Almira telah mengukur tubuh wanita itu, dan rancangan pertama akan di serahkan dalam satu minggu ke depan. Wanita yang telah mengikat rambut ikalnya ke atas dengan acak kembali termangu di depan meja yang sudah di penuhi dengan kertas-kertas putih dengan balutan map dari berbagai warna.
Aroma vanila lembut eksotis, dipadu dengan harum woody dan sedikit kesan wangi apel tiba-tiba saja menyebar ke seluruh butik. Karyawan dan juga pengunjung di sana terpaku pada sosok si pemilik aroma tersebut. Pria gagah dengan dada yang bidang dan juga tubuh yang tinggi dan kaki panjangnya yang mempesona, menarik seluruh perhatian semua orang.
__ADS_1
"Wow! Cowoknya gagah banget, sayangnya dia menyembunyikan wajahnya,"ujar salah satu pelanggan yang tengah memilih pakaiannya.
"Iya, pasti ganteng sih,"sahut yang lain.
Pria dengan badan tegap itu terus melangkah maju seraya menurunkan topinya dan membenarkan masker yang menutupi wajahnya, kacamata hitam melengkapi penyamarannya. Bahkan jam tangan yang selalu dia pakai kali ini dia lepas untuk menyempurnakan penyamaran.
Dia melenggang masuk ke dalam ruangan Almira tanpa memberikan aba-aba ataupun meminta izin pada karyawan yang bertugas di sana.
"Ami."panggilnya lembut dengan suara yang benar-benar pelan.
Deg!
Tentunya Almira terkejut dengan kedatangannya, sedang Almira tengah sibuk dengan pekerjaannya di dalam laptop. Sehingga dia tidak menyadari jika ada yang memasuki ruangannya sebelum dia mengizinkannya.
"Heh! Main masuk aja gak sopan ya kamu,"sanggah Almira dengan matanya yang terbelalak dan membawa dirinya mendekati pria yang masih menyembunyikan wajahnya.
"Masa gak kenal sama suami sendiri,"
Almira memicing kesal. Sedikit memalingkan wajahnya seraya dia melipat kedua tangannya di depan. Tak lama wajahnya kembali menatapi sang suami yaitu Royyan yang mengenakan pakaian rapi lengkap dengan dasinya.
"Gimana mau kenal, kita aja tidur beda kamar, udahlah mau ngapain kesini? Dari pada ribet nyamar begini biar gak ketahuan kalau kita suami istri, mending telepon aja sih, ngeribetin diri sendiri aja,"balas Almira dengan mulutnya yang merengut.
"Ooh, jadi mau tidur sekamar, ayo! Aku gak masalah untuk tidur satu ranjang sama kamu,"ucap Royyan seraya melangkah maju mendekati sang istri yang sudah melangkah mundur sampai dia mentok berantuk dengan dinding di ruangan itu.
Bola mata Almira semakin melebar seraya dia menelan ludahnya dengan susah payah, degup jantungnya membatasi langkah aliran napasnya dengan normal. Dia menghirup udara di sekitarnya dengan penuh tenaga tetapi oksigen di sana, rasanya ikut mengurang. Perlahan seringaian kecil di wajah Royya merekah, dan kedua tangannya dia tempelkan ke dinding dan memblokir Almira di tengah-tengahnya.
"Mau mulai dari mana, mau...."ujar Royyan kemudian seraya bola matanya turun menatapi bibir Almira yang kecil nan manis dengan sentuhan perona bibir nude pink dengan ombre merah di tengahnya.
Segera Almira mendorong Royyan menjauh darinya, dan dia sendiri segera berjalan ke depan menuju sofa putih di depannya, seraya menghela napasnya, mengatur jantungnya untuk kembali berdetak normal, lantas dia duduk di sana.
"Udah mau ngapain? Inget ya kamu yang buat perjanjian pernikahan ini, kita nikah sah secara agama dan juga negara, tetapi kita akan hidup masing-masing dan tidak akan melakukan apapun dalam hubungan suami istri ini,"terang Almira untuk menghindari terkaman sang suami.
Terlihat alis panjang tipis Royyan terangkat, kemudian Royyan melangkah untuk duduk di sofa depan Almira.
"Hari ini ada acara keluarga di rumah mami papi dan ada ka Aneu juga sama suaminya, jadi kamu gak usah datang aja, atau kita datangnya agak jauhan."
"Maksudnya?"dahi Almira berkerut.
"Kalau kamu datang pertama, maka aku akan datang sangat terlambat, sebelum aku datang, sebaiknya kamu udah pulang,"
"Iya iya, terserah. Udah bereskan, sekarang lebih baik kamu pergi aja, keburu ada yang sadar kamu ke sini."
"Oke. Kabari aku,"
"Hmm...."
Tanpa basi-basi lagi, Royyan segera beranjak dari sofa dan keluar dari ruangan Almira dengan segera setelah dia menutupi wajahnya kembali dengan sempurna. Dan benar, butik mulai ramai dengan pengunjung, semua karyawan yang bekerja nampaknya sangat sibuk melayani para pelanggan dengan berbagai macam permintaan yang berbeda.
Royyan mengabaikan apapun yang ada di dalam butik istrinya itu, dia terus melajukan langkahnya keluar dari butik dan segera masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh sopir pribadinya dan juga Adrian sang sekretaris kepercayaannya.
__ADS_1
Tepat di salah satu sudut dekat ruangan Almira, Manda yang sedang memilih-milih gaun, perhatiannya segera teralihkan dengan sosok misterius yang keluar dari ruangan sahabatnya itu. Dengan lekas dia mengayuh langkahnya masuk ke dalam ruangan Almira.
"Ra! Itu siapa?"ucapnya setelah dia masuk ke dalam ruangan Almira.
Tak ada jawaban. Hanya dinding putih kosong yang pertama menyambut kedatangan Manda ke dalam ruangan seluas 25 meter persegi itu.
Almira yang sedang berdiri di depan jendela yang menampilkan langsung area depan butiknya untuk memastikan sang suami telah meninggalkan gedungnya tempat bekerja. Sehingga dia tidak menyadari jika Manda telah berada di sampingnya.
"Iya, pria itu siapa?"celetuknya tepat di telinga Almira.
Seketika Almira terperanjat sampai dia mengerjap dan meloncat ke belakang, lalu dia menoleh pada sosok yang membuatnya terkejut, saat itu juga Almira membeliakkan matanya dan sedikit menggertakkan gigi, lalu menepuk pundak Manda lembut.
"Heiii, anda ya, datang-datang ngagetin aja, dosa tahu bikin jantung orang mau copot, kebiasaan banget deh kalau datang kagak ada bayang-bayangnya tiba-tiba udah nongol aja lu."gerutu Almira dengan derap jantung yang masih saja cepat, dan enggan untuk melangkah normal.
"Gua udah manggil elu dulu sebelum masuk, elunya aja yang kagak denger, sibuk merhatiin cowok itu, siapa sih?"bantah Manda yang disusul dengan pertanyaan yang sebelumnya.
"Siapa? Yang mana?"Almira kembali bertanya dan berpura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan sang sahabat. Seraya dia melangkah untuk kembali ke kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang sempat terhambat karena kedatangan Royyan.
Manda menyipitkan matanya, membaca gerak-gerik sahabatnya itu, wajah polosnya menggambarkan segalanya. Dan wanita berambut sebahu itu sungguh mengenali serpihan teka-teki yang mencoba dilukis oleh paras Almira. Lekas dia kayuh langkahnya untuk berdiri di hadapan wanita yang baru saja menjatuhkan tubuhnya di kursi seraya kedua bola matanya tak dapat berhenti untuk mengintip Manda.
"Kayaknya ada yang elu sembunyikan ya? Siapa cowok itu? Tadi gue lihat dia keluar dari ruangan elu, itu artinya cowok itu ada hubungannya sama elu, atau jangan-jangan...."ujarnya menerka-nerka kemungkinan yang dibuat oleh akal pikirannya.
Wanita mungil itu nampak panik, seluruh raganya terasa kaku menunggu apakah terkaan Manda benar sesuai fakta yang terjadi dalam kehidupannya. Selama ini dia sengaja menyembunyikan status pernikahannya karena pernikahan ini bukanlah pernikahan sesungguhnya, melainkan hanya tentang tinggal dalam satu atap saja. Tetapi di dalamnya hanya dua orang asing yang terpaksa hidup bersama.
"Suami elu ya?"lanjut Manda mematri tatapan Almira.
Deg. Deg deg deg.... jantungnya berdegup sangat cepat. Bibirnya tak bisa mengatakan apapun lagi. Semua jawaban telah terjawab oleh dugaan Manda. Bukan keinginan Almira untuk menyembunyikan segalanya dari Manda, hanya saja dia harus bersembunyi sampai waktu yang ditentukan oleh Royyan.
"Hahahaha...."tak ada jawaban, akhirnya Almira tertawa selepas mungkin sampai dia berputar-putar di kursi putarnya.
Bingung. Manda amat kebingungan dengan tingkah Almira. Tetapi dia tetap mengetahui jika sang sahabat masih menyembunyikan suatu hal besar.
"Udah jawab aja, gua tahu kok lu bohong, kenapa sih gak cerita aja sama gua. Sebenarnya gua udah merasa ada yang aneh sama elu dari beberapa bulan yang lalu, pas lu kembali ke Indonesia saat itu, soalnya elu terkesan terburu-buru, terus elu ngilang satu minggu, ada apa?"tanya Manda menajamkan pandangannya pada Almira.
Almira yang melihat sang sahabat bersikap tak biasanya, segera berdiri dan beralih ke sofa yang tersedia di ruangannya. Lantas Manda pun lekas mengikutinya dan duduk dekat wanita berambut ikal di bagian ujungnya itu.
"Manda...."Almira merengek, bahkan dia menangis di hadapan Manda.
Tak lama dari itu Almira menghamburkan dirinya memeluk Manda, melingkari leher wanita berambut sebahu yang tengah mengenakan jepit rambut berwarna putih itu dengan lengannya, erat. Membuat Manda sedikit terhenyak ke belakang, lalu dia segera kembali memeluk Almira.
"Kenapa? Kok nangis sih?"tanya Manda kebingungan.
"Sebenarnya saat itu gue baru menyelesaikan project kerjasama dengan salah satu perusahaan fashion besar di paris, terus papi dan mami nemuin gue, gue udah nyaman di Paris, tapi Papi sama mami masih belum puas mengusik gue Manda..."terang Almira diiringi dengan isakan tangisa yang lembut.
"Terus...."
Wanita yang tengah mengenakan gaun merah jambu pudar itu segera melepaskan dekapannya pada Manda dan duduk di hadapan sang sahabat dalam keadaan lesu. Cerita ini sangat panjang namun terlalu terburu-buru, sehingga Almira sendiri tidak bisa menghindarinya. Dia hanya menerimanya dengan berat hati, walau pria yang dia nikahi adalah orang yang memang dia sukai, tetapi rasanya tak bertuan bak kisah cinta sang cinderella.
Jarum jam berdetak senada dengan derap jantung Almira yang bersiap-siap menceritakan segalanya pada Manda. Satu-satunya orang yang dipercayainya, selain Manda, tak ada lagi orang lain yang bisa dipercayainya.
__ADS_1
NEXT....