Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 79 : Permintaan maaf 2.


__ADS_3

"Kata siapa lu sia-sia, gue udah siapin strategi malahan,"cetus Royyan.


Dirta terkesiap. Lekas dia tarik tubuhnya untuk terduduk dengan tegak lagi, menatapi bola mata kecoklatan sahabatnya dengan dalam, memporak-poranda tatapan yang selalu terlihat tajam itu dengan pertanyaan yang kembali menyembul ke permukaan parasnya yang nampak limpung.


"Strategi apaan?"tanya Dirta penasaran sambil dia menautkan jari-jarinya dengan jari tangannya yang lain.


Royyan menyeringai puas melihat betapa polosnya wajah Dirta, "kalau lu sampai berhasil mencelakai bini gue, seluruh keluarga lu akan gue ratakan dengan tanah,"imbuhnya kemudian membuat bola mata Dirta melebar dengan tegang.


Debur jantungnya mendebur dengan pontang-panting, lalu dia telan ludahnya dengan kasar, "lu lebih kejam ternyata,"celanya becanda.


Tiba-tiba Royyan tertawa lepas, bukan jawaban Dirta yang dia tertawakan melainkan wajah polos Dirta yang sempat ketakutan karena penuturannya, sehingga Dirta kembali mengenyakkan tubuhnya ke belakang bersandar pada sofanya lagi.


"Kagak berubah,"ucapnya menggelengkan kepala seraya menyeka sebagian rambutnya yang menjulur ke depan, "lu masih aja kagak waras Yan ...."sambungnya mengembuskan deru napasnya untuk melegakan sedikit ketegangan hatinya, "tiba-tiba diem kayak kulkas, dingin tak terkendali, tiba-tiba ketawa, tiba-tiba ngomong nyeletuk."Dirta menghela napasnya untuk menyelesaikan celotehnya.


"Berubah jadi apa gue,"balasnya mengernyitkan dahinya seraya satu alis kanannya menaik, "jadi doraemon?"celetuknya membuat Dirta membeku dan akhirnya memecahkan tawanya yang tegang tadi.


Begitulah Dirta dan Royyan berbaikan, Royyan terlalu kelelahan jika harus terus-menerus menyimpan dendam dan menaruh hatinya dengan lebih banyak beban lagi, dia memutuskan untuk memaafkan Dirta begitu saja tanpa harus membalas semua perbuatan menyebalkannya selama ini.


Royyan hanya ingin Dirta menyadari dan kembali pada dirinya sendiri seperti dulu saat Elshara tidak ada di antara tiga sekawan itu, jika memang Dirta sudah bisa berpikir sehat lagi maka tugasnya sudah selesai. Pria berbadan tegap itu sungguh lega mendengar jika Dirta sudah memahami maksud dari cinta yang dia rasakan itu.


Tetapi bukan berarti Royyan mempercayai lelaki itu dengan sepenuhnya, sebelumnnya dia telah mengirim orang yang berada di bawah kuasanya untuk menyelinap masuk ke dalam perusahaan keluarga Dirta sebagai pedang penangkal malapetaka yang mungkin saja akan berguna di suatu hari nanti.


Pertemuan singkat itu segera berakhir, Dirta kembali ke restoran orangtuanya yang ada di daerah kota Tangerang, sedangkan Royyan sendiri melajukan mobilnya menuju kediaman rumah mertuanya, rumah mewah dengan pagar tinggi berwarna putih. Dia tiba di pekarangan rumah Ressa dan Miranda yang hanya menempuh perjalanan selama satu jam saja.


"Selamat datang tuan Royyan,"sambut kepala asisten rumah tersebut.


Pria berambut hitam legam itu masuk ke dalam rumah setelah dia mengangguk dan menyeringai kecil pada pria yang sudah sedikit berumur itu, lantas kepala pelayan tersebut mengekori langkah Royyan sampai pria itu terperenyuk di sofa ruang tengah yang empuk dan terbuat dari bahan katun.


"Mami dan papi ada di rumah?"tanya Royyan dengan suara beratnya yang lirih.


"Ada tuan, saya akan panggilkan segera,"sahutnya dengan sopan.


Royyan menyengguk. Kepala pelayan itu naik ke lantai atas, sementara Royyan menyandarkan kepalanya pada sofa yang dia duduki dengan kedua tangan yang terlipat dan saling tertaut di atas perutnya, dia lengkungkan deru napasnya keluar dari bongkahan jiwanya yang lelah.


Tak lama dari kepergiannya kepala pelayan itu, Ressa dan Miranda segera turun dari lantai atas, berayun mendekati Royyan yang nampak kelelahan di atas sofa. Lantas Miranda mengernyih, memasati wajah yang berkerut dengan keruh itu.


"Ada apa nih anak mami mukanya kusut begitu, kayak kertas yang di remas emosi,"seru Miranda sambil mengelus dahi Royyan dengan lembut.


Dalam satu entakkan detak jarum jam, bola mata Royyan terbuka yang kemudian dia tarik tubuhnya untuk duduk dengan tegak, lantas dia mencium punggung tangan Miranda yang baru saja beranjak ke dekat Ressa yang terduduk di depan Royyan.


"Kenapa nak? Berantem sama anak papi ya?"tanya Ressa yang sepertinya sudah mengetahuinya.

__ADS_1


Royyan terkesiap. Darimana ayah mertuanya itu mengetahui masalahnya dengan sang istri, sedangkan Royyan ataupun Almira belum mengatakan apapun pada Ressa dan Miranda, Dia garuk kepalanya yang tak gatal dengan wajah yang kembali merunduk seraya dia tersenyum kecil dengan tatapan mata yang polos.


"Papi tahu dari mana, Yan belum ngasih tahu,"ujarnya sambil menggelengkan kepalanya, "Ami udah ngasih tahu?"tanya Royyan karena pikirnya istrinya yang memberitahu.


"Anak mami itu gak bakalan ngomong, karena dia kalau marah sukanya menghilang dan kabur dari permukaan,"sahut Miranda yang sangat memahami putri tunggalnya itu.


"Bener nak, kami emang gak tahu permasalahan kalian, tapi saran papi biarin istri kamu itu tenang dulu sambil kamu mantau dari jauh,"timpal Ressa menambahkan.


"Masalahnya Yan gak tahu Ami ada dimana, itu yang bikin Yan kepikiran, takutnya Ami kenapa-kenapa?"Royyan mengerut redup, rasa khawatirnya kali ini bukan main.


Rasa rindunya sangat menyiksa Royyan, rasanya aliran napasnya tersendat karena tidak bisa melihat sang istri, mungkin jika bisa mendengar suaranya rasa rindu itu akan sedikit terobati. Karena Rindu tidak memiliki penangkalnya selain pertemuan, setidaknya Royyan bisa melihat Almira dalam keadaan baik-baik aja dari kejauhan.


Namun, pada nyatanya Royyan belum bisa menemukan keberadaan Almira saat ini, walau dia sudah mengerahkan orang suruhannya untuk mencari keberadaan Almira, bahkan orang yang sudah terbiasa menjadi penguntit Almira tidak bisa menemukannya, karena Almira belum juga kembali ke butiknya.


Ressa dan Miranda berkerut memikirkan suatu tempat yang kemungkinannya bisa menjadi pelarian anak semata wayangnya, dia berkelana di ingatannya yang berhimpitan dengan proyek kerjaan yang dia tangani, terlebih saat ini Ressa harus mantau perkembangan sahamnya yang dia tanam di perusahaan keluarga Elshara, menjadikan isi kepalanya di penuhi deretan rencana kerja.


"Kamu tenang dulu nak, jangan panik, papi yakin Ra akan segera keluar karena anak itu gak betah di rumah, pasti dia keluar rumah, tapi kalau dia udah pergi ke Paris kemungkinan sulit untuk di temukan,"ucap Ressa menenangkan menantunya yang nampak kacau.


Wajahnya bukan hanya kusut, tetapi juga tidak berpendar mematikan langkah semua orang yang terpukau dengan penampilan dan ketampanan Royyan, tapi kali ini mertuanya sendiri pun merasa iba dengan Royyan.


Berbeda dengan Ressa yang nampak bahagia melihat Royyan seperti ini, bukan karena bahagia karena Royyan tak bercahaya, melainkan dia bahagia karena menantunya ini sangat mencintai dan menyayangi putri semata wayangnya. Setidaknya dia tidak salah memilih untuk pasangan seumur hidup putrinya, walau dia harus berulang kali mengecewakan putrinya karena keperluan bisnis.


"Terima kasih ya nak,"ungkap Ressa tiba-tiba saja.


"Kenapa papi bilang terima kasih? Harusnya papi marah sama Yan, karena Yan udah buat Ami kabur dari rumah dan sekarang Ami hilang,"jawabnya sendu.


Sekali lagi Ressa mengembangkan wajahnya dengan penuh bahagia, "papi terima kasih karena kamu udah mencintai anak papi yang cengeng itu dengan setulus ini, awalnya papi takut anak papi tidak menyukai kamu dan dia akan semakin membenci kami,"ungkapnya lega.


"Iya nak, kami sudah berulang kali memaksakan kehendak kami pada Ra, termasuk pernikahan ini,"timpal Miranda.


Pria itu tidak menjawab perkataan kedua mertuanya, dia hanya melukis wajahnya dengan senyuman tipis, tatapannya melesat ke bawah, tepatnya pada lantai berkeramik putih yang mengkilap seraya dia menutupi mulutnya dengan satu tangannya yang membulat.


Sejak gua mengucap ijab kabul di depan penghulu dan keluarga, cinta itu telah tumbuh walau tipis-tipis bahkan samar-samar, tapi gue yakin kalau gue mencintai Ami. Pertemuan singkat itu membuat gue menyadari jika cinta itu menyenangkan, dan pernikahan ini hanya akan berakhir jika kita sama-sama pergi ke hadapan tuhan, bukan salah satunya karena singgasana ratu di samping gue tidak ada yang bisa mengisinya lagi.


Monolog panjang Royyan sesaat setelah dia menghentikan laju mobilnya karena lampu merah di depan menyala dengan lantang. Pria itu menyugar wajahnya dengan kasar, dia masih frustasi mencari keberadaan sang istri.


Royyan membuang napasnya kasar seraya dia membenturkan dahinya dengan kemudi setirnya, ini kali pertama Royyan merasakan betapa payah dirinya dalam mengendalikan masalah, dia yang dengan mudah melahap proyek-proyek besar dengan ide-ide rancangannya yang cemerlang sehingga para pesaingnya sering menghindar jika Royyan yang mengambil alih proyek, tetapi dia tak mampu menangani masalah pribadinya.


"Sial!"cibir Royyan memukul kemudinya dengan rampus, tangan yang dia gunakan untuk memukul merasakan sakit yang cukup kuat, tetapi dia mengabaikannya. "Kenapa lu bodoh banget sih Royyan ... harusnya elu itu gak usah pedulikan El, dasar bodoh."Royyan masih mencibir dirinya sendiri.


Impresinya melambung mengangkasa pada bait-bait penuturan Ajun beberapa waktu lalu saat dia sadarkan diri setelah tragedi laut itu, dia sangat menyesali perbuatannya. Tanpa sadar dia telah memberikan jawaban jika dia memang tak begitu mencintainya, entah pergi kemana pikirannya saat itu, sehingga berpikir untuk menyelamatkan Elshara di banding istrinya sendiri.

__ADS_1


Elshara itu bisa berenang lagi, ketakutannya terhadap laut pun sudah membaik, karena gue pernah lihat dia bicara dengan dokter yang menyelamatkannya saat itu, dokter itu cewek cuman gue lihat punggungnya doang.


Bait demi bait terekam dengan jelas di benak Royyan. Saat itu Royyan pikir Elshara masih trauma dengan laut seperti saat shooting acara summer camp sehingga dia mengabaikan raut wajah Elshara yang saat itu tidak terlihat pucat seperti yang terjadi pada Almira.


"****!"geram Royyan pada dirinya sendiri, cengkeramannya pada kemudi semakin kuat, seruan ketajaman sorot matanya pun ikut membakar setiap benda yang ada di hadapannya. "Wanita itu bukan lagi teman apalagi sahabat, dia adalah racun yang berusaha mengoyak setiap rajutan yang udah gue usahakan,"sambung Royyan dengan sorot mata yang menguat.


Setelah sepersekian menit lampu merah itu akhirnya berganti dengan lampu hijau, dan Royyan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan normal, ingin rasanya dia melajukan mobilnya bak para pebalap yang menaklukan arena tanpa memedulikan keselamatan. Kecepatan abnormal Royyan melebihi kapasitas para pebalap.


Mobil hitam itu terus melaju melewati kantor miliknya yang kini Adrian yang menjadi atasan di perusahaan itu, selama Royyan tidak ada di kantor, bukan lah masalah bagi Adrian karena dia sudah terbiasa mengerjakan berbagai macam pekerjaan dengan baik, pengajaran Royyan berhasil membangun kinerja Adrian menjadi jauh lebih unggul dari karyawan lainnya.


Bahkan para senior yang sudah lebih dulu bekerja di perusahaan itu tak mampu mengungguli kemampuan Adrian. Kerap kali para senior itu mengucilkan Adrian, tetapi berulang kali juga mereka mendapatkan hukuman dari Royyan karena kinerja mereka yang kurang.


Di lobi perusahaan lagi-lagi Elshara dengan gaun kurang bahannya yang mempertontonkan dada dan juga kaki jenjangnya melimbai memasuki perusahaan lengkap dengan kacamata hitamnya, dia menghampiri resepsionis.


"Halo nona ... ada yang bisa di bantu?"tanya resepsionis itu dengan sopan seraya dia menangkupkan kedua tangannya di depan.


Seraya melepaskan kacamata hitamnya dan dia gantung di jari telunjuk yang menempel dengan ibu jarinya, "pimpinan perusahaan ini ada? Saya mau ketemu dong, saya ini sahabatnya,"tanya Elshara dengan senyuman manisnya.


Resepsionis itu mengangguk, kemudian menurunkan kedua tangannya ke bawah. "Maaf nona, pak Royyan sedang tidak ada di kantor,"jawabnya lembut.


Wajah Elshara seketika meredup, cahaya yang berpendaran pun perlahan berhamburan melarikan diri dari paras cantik milik Elshara, kacamata hitam itu pun ikut meleleh ke atas meja resepsionis yang dia jadikan sebagai tumpuan tubuhnya yang ramping.


"Kemana? Kok bisa gak ada di kantor?"kerut Elshara, sepertinya gadis itu tidak percaya dengan jawaban dari resepsionis itu.


"Pak Royyan keluar karena urusan pribadi."


"Sama sekretaris pribadinya itu?"tanyanya lagi.


"Tidak, pak Adrian ada di ruangannya."


"Tumben banget tuh sekretaris nyebelin kagak ngintilan Royyan, kemana ya?"lirih Elshara bertanya pada dirinya sendiri dengan sorot mata yang menyergap benda-benda yang ada di hadapannya seraya membelakangi resepsionis itu.


Sementara di tempat lain Royyan telah tiba di sebuah sirkuit terbesar di ibu kota, dia masuk ke dalamnya berganti pakaian dan memilih mobil mana yang ingin dia kendarai. Setelah semuanya selesai, Royyan dengan pakaian pebalapnya lengkap keluar dari ruang ganti menuju arena sirkuit bersama dengan petugas yang biasanya menemani Royyan.


"Tuan akan mengendarai berapa lama?"tanya salah satu staff dari sirkuit itu seraya menyodorkan sapu tangan berwarna putih pada Royyan.


Sigap Royyan ambil sapu tangan yang ada di tangan staff pria itu yang kemudian menghela napasnya panjang, "saya kurang tahu, saya ingin melepaskan kekesalan,"jawab Royyan dengan suara beratnya yang tegas seraya memakai sapu tangan tersebut.


"Baik tuan,"sahut staff tersebut, dia tidak berani untuk melontarkan pertanyaan lain.


Nada suara Royyan sudah sangat menjelaskan jika kemarahannya ada pada level berapa, sirkuit ini adalah sirkuit terpanjang di ibu kota dengan bangunan megah bak di luar negeri, negerinya para pebalap. Dan Royyan mengambil kelas VVIP untuk membatasi orang-orang menembus tempatnya, para staff yang berjaga di setiap pintu telah bersiap untuk berperang dengan siapapun yang ingin memaksa masuk ke arena VVIP.

__ADS_1


"Jangan biarkan siapapun masuk ke arena kecuali wanita bernama Almira dan pria bernama Ajun,"titah Royyan pada salah satu staff yang mengekorinya.


NEXT ....


__ADS_2