Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 55 : Pertengkaran Elshara dan Almira.


__ADS_3

Di waktu bersamaan Almira dan Manda tiba juga di parkiran bersama managernya pula, mereka memilih untuk menaiki taksi online sebagai efektivitas waktu, ketiga wanita yang sama-sama mengenakan stelan jeans itu melenggang ke area hutan yang di mana mereka harus melewati mobil Royyan terlebih dahulu.


Aroma susu dan mentega yang wangi merasuki hidung Almira yang segera dia tebak jika itu adalah aroma pancake enak yang sebelumnya pernah dia santap di sebuah restoran di dekat hotel tersebut. Kepulan asap dari pancake itu menarik hidung lancip Almira untuk menoleh, kemudian dia lempar tatapan matanya menembus ke sebuah mobil dengan pintu yang terbuka lebar.


"Kak Royyan ..."seru Almira lirih, dia menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu masuk hutan hijau itu.


Menyadari jika Almira menghentikan langkahnya, lekas Manda menggerakkan kepalanya berputar ke belakang, dia mendekati wanita pemilik pipi tirus yang sempurna itu, Manda menepuk pundak Almira dengan lembut.


"Kenapa? Lu mau nemuin si cowok kebab dulu?"tanya Manda dengan tatapan serius.


Gadis berparas lembut itu menoleh pelan, lalu dia menggeleng seraya melontarkan senyuman lebarnya, kemudian dia berayun lebih dulu memasuki area hutan. Jiwa yang sempat sangat ingin menemui sang suami perlahan karam, berubah menjadi jiwa yang kasar dan menggebu-gebu, seharian kemarin dia tak bergelut dengan gaun-gaunnya.


Almira melipir ke kanan menghampiri staff-nya yang sudah berkumpul di sana, sepertinya mereka sudah menyelesaikan pekerjaannya masing-masing, wajah semuanya nampak berseri-seri.


"Apa yang membuat kalian sampai senyum-senyum begitu,"tanya Almira sesaat dia tiba di dekatnya.


"Kak Ra ..."Sara melambai-lambaikan tangannya.


Sedangkan staff yang lainnya hanya menyeringai melemparkan senyuman yang tak kalah cerianya dengan Sara. Semua pekerjaan Almira dan staff-nya selesai sampai di acara camp, sementara untuk pesta malam terakhir itu tergantung dari para model itu sendiri bagaimana keinginannya.


Tak lama dari itu, Van salah satu top model dari agensi lain datang mengunjungi Almira, dengan berpakaian kaos putih dan celana berbahan lembut berwarna coklat susu dia berdiri di belakang Almira.


"Selamat pagi kak Ra,"sapanya lembut dengan bingkai senyum yang manis.


Lambat laun wanita yang mengurai rambutnya itu menoleh dan sedikit memundurkan langkahnya, karena jarak mereka memang terlalu dekat.


"Pagi, ada yang bisa kami bantu?"sahut Almira.


"Saya dengar, malam terakhir nanti para model di perbolehkan memilih desainernya masing-masing, boleh saya meminta kak Ra untuk mengatur busana yang akan saya pakai nanti,"pintanya dengan sopan seraya dia menggendong tangannya di belakang.


"Tentu saja, kebetulan saya hanya megang Manda, yang anda sukai busana seperti apa?"


"Saya percaya kak Ra pasti akan menemukan yang cocok untuk saya, aturkan saja segalanya."


Bibir kecil itu menyeringai, betapa bahagia dirinya ada yang begitu mempercayai kemampuannya selain sahabatnya. Sebelumnya ada Rala yang begitu mengagumi karya-karyanya, apakah Almira pantas mendapatkan penghargaan bergengsi tahun ini, sepertinya memang begitu.


Di sudut lain Manda yang baru saja duduk di tendanya segera di hampiri oleh Elshara yang memasang dadanya dengan lebar dan segala keangkuhan yang masih bersemayam dalam jiwanya.


"Balik juga lu,"seru Elshara dengan tatapan sinisnya.


"Iya lah. Karena pimpinan agensi kesayangan elu itu mohon-mohon sama gue, kalau enggak sih gak sudi gue ketemu iblis betina kayak lu,"hardik Manda tegas.


Bukannya menjawab Elshara malah menggemakan tawanya yang melengking dan masih dengan tatapan sinisnya yang menyebalkan.


"Oke lah kali ini gue ngalah,"pungkasnya kemudian.


"Btw lu bayar berapa sampai perusahaan sebesar Remira bisa tunduk sama lu,"lanjutnya.


Bibir Manda dengan segera menyungging seraya dia tarik kedua tangannya ke atas dan terlipat di depan, "perusahaan bokap nyokap lu bersaing sama perusahaan sebesar Remira, tapi lu gak tahu siapa putri tunggal dari perusahaan itu?"balas Manda.

__ADS_1


"Hah?! Maksud lu?"wajah cantik yang begitu tenangnya itu seketika menjadi berkerut kebingungan, pupil matanya ikut melemah.


"Gue ini sahabatnya putri tunggal dari pemilik perusahaan fashion terbesar di negara ini,"jelas Manda.


Mendengar hal itu membuat pikiran Elshara bekerja sangat keras, dahinya berkerut sangat dalam dengan bola mata yang terpaku dengan kuat dan juga garis-garis wajah yang semakin lama menjadi menegang, tetapi kemudian dia melenturkan ketegangan di wajahnya dan kembali menajamkan tatapannya pada Manda.


"Pers*t*n sama hubungan lu sama perusahaan itu, yang jelas di agensi ini gue yang berkuasa."


"Bukan elu, tapi sponsor. Agensi tidak akan melepaskan para sponsor begitu aja hanya untuk memenuhi keinginan bodoh elu."


"HEI! Jaga ucapan lu ya, jangan mentang-mentang elu juga temennya Royyan dan elu bisa besar kepala kayak gini, lagian Royyan kok mau sih temenan sama cewek kayak elu,"sungut Elshara.


"Jadi elu cemburu sama gue, gara-gara Royyan deket sama gue."Manda menaikkan kedua alisnya ke atas dengan bibir yang melengkung ke atas tersenyum tipis.


"Diem lu!"sentak Elshara.


Lantas Manda tertawa lepas sampai dia menepuk tangannya sendiri seraya dia menggelengkan kepalanya, merasa lucu, melihat seorang top model yang selalu bersikap elegan dan mahal ternyata bisa bersikap serendah ini, dan hal itu hanya terjadi disaat cintanya menguasai jiwanya yang rapuh dan terasa perih.


"Lu baru lihat gue di puji sama Royyan sampe mau rebut kerjaan gue dan menyebabkan kegaduhan, gimana lihat betapa dekat dan romantisnya perlakuan Royyan pada Ra, kayaknya lu bakalan kejang-kejang atau bahkan lu bisa pingsan,"oceh Manda.


"Ra?"seru Elshara terkejut hebat sampai bola matanya melebar dengan kuat.


Jiwanya seketika menjadi membara, rasa cemburu yang tak sepantasnya menghuni jiwa Elshara perlahan menyelar jiwanya yang sudah terlalu sakit karena dirinya sendiri yang membuat hati itu terlalu banyak menyelami rasa luka. Langkahnya yang berapi-api itu berayun ke area di mana Almira yang tengah mengukur badan Van untuk pakaian di malam terakhir nanti.


Elshara begitu berani menyalakan api cemburu dan hendak memburu siapapun yang dekat dengan Royyan, pikiran jahatnya perlahan menggerogoti dirinya. Nasihat Dirta tadi malam sama sekali tidak masuk ke dalam aliran darahnya, begitu saja dia dorong dengan angin keluar ke telinganya yang lain.


Hatinya semakin panas dan bergejolak lagi saat wanita yang dikungkung amarah itu, melihat Almira yang tengah tertawa-tawa kecil bersama Van dan juga staff-nya yang lain. Dia gerakkan kakinya mendekati Almira dengan perasaan yang berkobar-kobar.


Mendengar hal itu Almira dengan cepat menyadari siapa yang berbicara tidak sopan padanya, lekas dia putar tubuhnya dengan tegas menghadap pada Elshara, lalu dia menghela napasnya panjang dan membuangnya dengan kasar di hadapan wanita yang memangku keangkuhannya.


"Saya juga tidak menyangka, ternyata anda selalu melakukan hal keji untuk memenuhi apa yang anda inginkan, sahabat saya berhak mendapatkan apa yang sudah dia usahakan, untuk masalah sponsor itu urusan orangtua saya dan saya tidak memiliki wewenang untuk mengaturnya,"balas Almira dengan tegas.


Bibir itu menyungging kecil dengan tatapan mata yang tajam, "jadi anda putri tunggal dari keluarga Ressa-Miranda."


"Ya. Ada apa? Apakah anda sibuk? Sampai tidak membaca portal berita yang menyangkut saya dan keluarga saya."


"Sudahlah saya tidak peduli lagi sama urusan sponsor itu, yang paling penting adalah ... ada hubungan apa lu sama Royyan?"akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Elshara.


Faktor utama dari tindakannya adalah Royyan, semuanya dia lakukan hanya untuk mencari perhatian dari Royyan. Mendengar pertanyaan itu terlontar dari mulut Elshara, sontak membuat bola mata Almira menatap dengan getir dan mengeratkan gigi-giginya, tetapi dia berusaha untuk tetap menampilkan wajah tenang dan kuatnya.


"Kenapa anda begitu peduli dengan hubungan saya dan kak Royyan? Bukankah anda hanya seorang sahabat dan tidak lebih dari itu, harusnya anda tidak perlu sejauh ini,"tangkis Almira.


"Berisik lu! Gue sahabat Royyan yang akan jadi istrinya yang sesungguhnya,"bentak Elshara seraya dia melangkah mau mendekati Almira.


Gila kali ya ini cewek, pede banget lagi ngomong bakalan jadi istrinya, kayak yang bisa aja nembus ke keluarga Alzaro. Tenang Almira ...


Umpatan menggema di batinnya yang mulai bergetar, menggerakkan amarahnya.


"Elu! Jangan sekali-sekali deketin Royyan lagi, walau gue belum lihat kedekatan lu sama Royyan kayak gimana, tapi gua janji sama diri gue, wanita mana pun yang dekat dengan Royyan maka gue akan menyingkirkannya, termasuk ELU!"bentak Elshara dengan wajahnya yang memerah seraya menunjuk Almira.

__ADS_1


"Ssst ...."desis Almira seraya dia menyingkirkan telunjuk Elshara dari hadapannya dan dia lempar tangan Elshara ke samping kanannya, "daripada sibuk menyingkirkan semua wanita yang ada di dekat kak Royyan, mending lu fokus deketin kak Royyan, dan dapatkan hatinya, kalau gak dapet berarti elu harus sadar diri dan berhenti mengejar hal yang sudah jelas kalau lu gak bakalan dapetin itu, jangan buang-buang waktu,"sambung Almira panjang lebar.


"Kurang ajar!"cela Elshara seraya dia melayangkan tamparan keras di pipi Almira, sampai wajah Almira terlempar ke samping kanannya bahkan tamparan itu terdengar sangat nyaring. "Gak usah lancang berkata kayak gitu sama gue, Royyan itu cinta sama gue, cuman dia hanya belum mengakuinya,"tambahnya.


Wajah lembutnya terasa perih dan nyeri, Almira sempat tersekat dengan tatapan kosongnya yang terkejut hebat, perlahan dia raih pipinya yang nyeri dan dia usap-usap lembut, lalu dia menoleh dengan kasar mematri tatapan Elshara yang nampak puas berhasil menampar Almira dan dia merasa jika dirinya sudah menang.


"Jangan macam-macam, ini hanya tamparan kecil, gue bisa lakukan lebih dari ini,"gertak Elshara berkacak pinggang dengan lukisan senyum tipis yang merasa bangga pada dirinya sendiri.


"Gue gak ada hubungan apa-apa sama kak Royyan, kita cuman deket biasa, dan lagian lu gak ada hak untuk cemburu seperti ini, elu bukan siapa-siapa,"bentak Almira yang sudah mulai geram.


"Gak peduli! Royyan itu punya gue dan gak ada siapapun yang boleh dekat dengannya selain gue, GU-E!"hardik Elshara lagi dengan bola mata yang semakin bulat dan siap melayangkan satu tamparan lagi di pipi Almira.


Namun, Almira bukanlah wanita lemah yang akan menerima perlakuan kasar dari orang lain, dia adalah wanita berparas lembut dengan jiwa yang keras, dengan segera dia menepis tamparan Elshara, dia cengkeram tangan Elshara sampai wanita bermata pipih itu meringis kesakitan, wajahnya pun mengerut karena menahan rasa sakit, lalu tanpa segan Almira melayangkan tamparan keras sampai suara tamparan itu terdengar oleh semua orang yang ada di sana, dan Elshara tersungkur ke bawah.


"Aauuuugh ..."Elshara meringis dan dia menangis karena rasa sakitnya yang bukan main, tamparan itu bukan hanya panas dan juga perih, tetapi rasanya seperti menjalar ke seluruh tubuh Elshara sampai kepalanya berdenyut.


"Lu salah jika menganggap kalau gue gak berani melawan elu,"tukas Almira dengan napas yang menderu terburu-buru.


"Sialan!"cibir Elshara yang segera berdiri dan menyerang Almira, menjambak rambut coklat keemasan milik Almira.


"Aw ... apa-apan sih lu! Lu gila apa nyerang orang yang gak ada hubungan apapun sama kak Royyan."Almira pun ikut menjambak Elshara.


"Gue gak peduli, lu udah berani nampar gue dan lu gak akan lepas dari gue."


Suasana menjadi sangat gaduh, semua orang yang melihat pertengkaran itu nampak panik, tetapi mereka hanya bisa diam dan tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan keduanya.


Staff Almira dan juga Van di sana tidak bisa berbuat apapun, selain hanya sebagai penonton dan tak berani untuk melangkah dan merelai keduanya, kemudian Van berlari dengan niat mencari Royyan.


Dia menarik Royyan yang tengah bersama Adrian di sudut parkiran, mendengar penjelasan Van, Royyan segera mengayuh kakinya berlari untuk menghampiri Almira.


Tiba di dekat Almira dan Elshara, dengan cepat netra Royyan membulat dengan jiwa yang dibumbui amarah, saat tiba di sana Almira sudah melakukan ancang-ancang, dia kokohkan kakinya satu tangannya dia gunakan untuk menjambak Elshara dengan kekuatan yang lebih besar dan satu tangannya yang lain dia gunakan untuk menonjok perut Elshara agar wanita gila di hadapannya lemah dan tak lagi menjambaknya.


"Aaaaah ha ha ha ..."Elshara meringis kuat, kali ini dia menangis, air matanya berderai pilu menahan rasa sakit yang begitu hebat di bagian perutnya.


Sedangkan Almira masih berdiri dengan kokoh seraya dia merapikan rambutnya yang kusut dan juga merasakan nyeri, sembari mendengar raungan tangisan Elshara yang semakin kencang dan memilukan.


"Udah cukup ya, lu jangan kayak anak kecil deh, lu belum ada bukti tapi nyerang gue kayak yang kesetanan tahu gak,"pungkas Almira yang masih mengatur napasnya.


"Ah ... perut gue sakiiiit ...."ringis Elshara melebatkan butiran air matanya.


Royyan tiba di sana dan menoleh pada Almira yang masih menampakkan wajah marahnya, inginnya menenangkan sang istri, tetapi itu tidak mungkin dia lakukan di hadapan semua orang. Terpaksa Royyan berlutut di hadapan Elshara.


"Ada apa ini?"tanya Royyan bingung seraya menatapi Elshara dan bergantian dengan menatap Almira yang sudah mulai menumbuhkan benih embun di bola matanya.


Namun, tak lama dari itu Almira lempar pandangannya ke arah lain, dia tak ingin melihat betapa pedulinya Royyan pada Elshara, rasanya itu sangat menyakitkan.


"Royya--n perut gu-e sakii-t,"raung Elshara yang terus menangis tak bisa menahan rasa sakitnya.


"Ayo istirahat aja,"saran Royyan seraya menaikkan tubuh Elshara ke atas kedua tangan kekarnya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2