Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 31 : Rala?


__ADS_3

"Kapan dia kembali ke butik kamu?"tanya Royyan seraya dia menghentikkan permainan kursi putarnya.


"Gak tentu, Manda gak pernah ngabarin kalau mau datang, sesukanya aja."


Royyan menegakkan posisi duduknya, lantas dia menoleh pada istrinya yang tetap berdiri di depan meja, tanpa melakukan apapun dan hanya menatapinya sampai dia berhenti bermain dengan kursi, lalu dia menggeser kursi putar itu lebih mendekat dengan meja dan meraih tangan Almira untuk dia genggam.


Sontak Almira terkejut dan segera menarik tangannya, tetapi dekapan tangan Royyan pada lengan Almira sangat kuat, sehingga Almira tak bisa berkutik. "Lepasin. Mau ngapain sih, kalau udah beres yaudah sana cepet pergi."Almira menarik tangannya satu kali lagi.


Namun, saat itu juga Royyan berdiri dan menarik tangan Almira sampai tubuh wanita mungil itu mendekatinya dan berlabuh pada dekapannya, dengan segera Royyan melingkarkan satu tangannya di pinggang kecil Almira dan mendekapnya dengan erat. Almira masih saja terkejut dengan perlakuan Royyan, walau dia sudah sering di perlakukan seperti itu, dia melebarkan bola matanya dengan satu tangannya yang mencangkung di pundak Royyan sedang satu tangannya yang lain masih di genggam oleh sang suami.


"Aku akan menunggu teman kamu itu datang dan aku akan mempertanyakannya langsung padanya,"ucap Royyan dengan wajah yang berseri-seri, tak lama dari itu Royyan terduduk di kursi putar itu seraya membawa Almira bersamanya, sehingga Almira terduduk di pangkuannya, dekapannya pada pinggang Almira pun ikut mengerat.


"Kamu mau mengumumkan pernikahan kita sama Manda? Aku menyembunyikan ini dengan Manda karena aku menuruti perjanjian pernikahan itu, terus sekarang ...."sahut Almira seraya menggegarkan tubuhnya untuk lepas dari dekapan Royyan.


"Ssstt ..."desis Royyan seraya meletakkan jari telunjuknya di bibir Almira, sehingga Almira menghenyakkan tubuhnya ke belakang masih dalam pangkuan Royyan. "Dia sahabat kamu kan? Kalau memintanya untuk menyembunyikan hal ini, apakah dia akan keberatan? Enggak kan?"Royyan menaikkan kedua alisnya ke atas lalu dengan cepat turun lagi.


Dengan malas Almira memalingkan wajahnya seraya dia melenturkan tubuhnya dan membiarkan Royyan mendekapnya sesuka hati, melawan pun tak berguna. Tubuh Almira hanya kehilangan energi, tetapi tidak merubah apapun pada posisinya saat ini. Disini hanya Royyan yang merasa bahagia, senyumannya semakin menaik seirama dengan derap jantungnya dari detik ke detik semakin menggebu-gebu.


Bibir mungil dengan sentuhan warna lipstik yang ringan itu kembali menarik Royyan untuk menyentuhnya lagi, malam itu Royyan benar-benar menikmatinya. Ini adalah caranya untuk menjadi lebih dekat dengan istrinya, bagaimanapun keadaannya Almira adalah istrinya. Cinta yang berawal tabu namun perlahan rasa itu semakin kuat dan hati Royyan sungguh ingin melindungi istrinya dari jeratan masa lalu itu.


"Yaudah terserah kamu mau ngapain, aku mau kerja, bye ...."tukas Almira seraya dia mendelik sinis.


Lantas Almira menarik tubuhnya sekaligus, lepas dari dekapan Royyan yang kala itu tengah lengah, karena fokus Royyan sedang teralihkan dengan bibir Almira yang sangat memesona. Wanita dengan balutan gaun berwarna biru laut dan rok yang berada di atas lutut itu menyeret langkahnya kembali pada pekerjaannya.


Dengan senyuman manisnya Royyan kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi yang dia duduki, "Oke. Selamat bekerja."


Dengan bantuan angin yang melintas Almira mendelik sedikit kesal dan menajamkan pandangannya pada Royyan yang kini sibuk tersenyum dan menggoda atau bahkan memancing kemarahan Almira. Tanpa menjawab, Almira kembali pada gaun dan fokusnya dengan sekejap mata teralihkan dari tingkah Royyan.


Keduanya tidak saling bicara lagi, Almira yang sudah fokus dengan pekerjaannya, sedangkan Royyan yang tidak melepaskan pandangannya dari sang istri. Tak lama dari itu, derap langkah yang sudah biasa terdengar di telinga Almira mulai mendekat, langkahnya begitu tegas dan nampak tengah berbahagia.


Wanita berambut sebahu itu memasuki ruangan Almira tanpa mengetuk terlebih dahulu, dengan wajahnya yang ceria dan juga kacamata coklat berukuran besar menyelinap masuk ke dalam ruangan Almira. "Hello ... bestieku tercinta,"seru Manda yang belum menyadari jika ada Royyan di dalamnya.


Almira yang tengah membungkuk di hadapan gaun itu segera berdiri tegak dan menoleh pada sahabatnya itu, dia memberikan isyarat untuk menoleh ke arah kursi kerja miliknya. Dengan cepat Manda memahaminya walau masih dalam kebingungan sampai alisnya terangkat ke atas, saat melihat ke arah kursi tiba-tiba mulut Manda sedikit terbuka seraya melepaskan kacamata berwarna coklat yang dia kenakan, kemudian dia melangkah untuk mendekati Royyan yang kini tengah memejamkan matanya.


"Wah ... ada apa ini? Kalian diem-diem ternyata saling berhubungan ya ...."tukas Manda seraya dia menyeringai dengan lebar.


Seketika Almira mencelang seraya dia menggerakkan kedua tangannya di atas ke arah kiri dan juga ke kanan berulang kali, bahkan dia menggelengkan kepalanya. Lalu dia melangkah untuk mendekati Manda yang sudah di dekat meja, tetapi tak terlalu dekat, dia masih menyisakan lima belas sentimeter untuk menciptakan jarak.


"Kak Royyan, nih Manda datang,"seru Almira mengetuk meja sebanyak dua kali.


"Hah?! Gue?"nampaknya Manda sangat kebingungan sehingga dia mengerotkan mulutnya seraya dia menunjuk dirinya sendiri.


Saat itu juga Royyan terbangun dan segera berdiri, lalu berayun mendekati Manda dan berdiri di samping Almira, sambil dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dengan dada yang tegap dan gagah Royyan menghadap pada Manda.


"Ada apa ya? Gue perasaan gak ada hubungan kerja deh sama lu cowok kebab?"tanya Manda masih mempertahankan posisinya berdiri.


"Gue langsung aja ya, lu kenal sama Rala?"tanpa basa-basi, Royyan segera menimpali Manda dengan pertanyaan yang sangat mengganggu pikirannya.


"Rala?"seru Manda dengan mulut yang sedikit membuka seraya dia mencari serpihan ingatan di benaknya tentang sosok Rala yang memang tak lagi asing baginya.

__ADS_1


Rala? Hidden model yang sering dibicarakan oleh banyak orang di agensinya, Manda segera menutup mulutnya dan bersiap untuk menjawab semua pertanyaan dari Royyan. Selama Royyan dan Manda berbincang, Almira melipir meninggalkan keduanya dan melanjutkan untuk menyelesaikan pekerjaannya pada gaun yang sama.


"Dia hidden model di agensi gue, mau tahu soal apa?"jawab Manda seraya dia melipat kedua tangannya di depan menempel dengan perut rampingnya.


"Kecelakaan."


"Oh kecelakaan, gue pernah denger sih kalau Rala itu pernah kecelakaan pesawat gitu sembilan tahun yang lalu,"seru Manda tenang dan menjawab pertanyaan Royyan tanpa mengira apapun.


Royyan semakin yakin jika itu adalah Elshara, tetapi dia masih mempertahankan paras datarnya.


"Dimana?"tanya Royyan semakin serius.


"Pesawatnya tenggelam di sebuah laut, perjalanan Indonesia-Paris,"ungkap Manda seraya berjalan mendekati Almira yang sama sekali tidak tertarik dengan perbincangan suaminya dengan sahabatnya itu. "Katanya, Rala ini sempet hilang dua tahun dan tidak ada yang menemukan jasadnya, tetapi ternyata pihak keluarga di beri tahu kalau Rala selamat hanya saja wajahnya rusak, untuk tiga tahun pertama Rala tidak melakukan operasi karena dia harus pemulihan dan di tahun berikutnya barulah dia mulai mendaftar untuk melakukan operasi plastik,"jelas panjang Manda.


Royyan tercekat. Tubunya benar-benar membeku, mendengar penjelasan Manda membuat seluruh aliran darah Royyan seketika terhenti. Apakah Elshara? Kisah itu hampir sama persis dengan perihal kecelakaan Elshara yang memang terjadi sembilan tahun yang lalu, tatapan matanya mendadak kosong.


"Selama masa operasi itu, Rala bekerja di agensi gue sebagai hidden model, dia banyak mendapatkan job dari brand fashion dan perhiasan yang hanya menampilkan tubuhnya, karena wajahnya masih dalam operasi, dan beberapa hari yang lalu katanya Rala sudah selesai dengan operasinya,"sambung Manda masih menjelaskan apa yang dia ketahui.


El! Apa itu elu El ...


Batin Royyan kembali menggemakan nama Elshara. Namun, kemudian Royyan segera mengerjapkan matanya dan sedikit menggelengkan kepalanya, lalu bergegas menegakkan tubuhnya dan berayun mendekati Almira yang sudah berdiri dengan benar, dia tak lagi membungkuk untuk mengerjakan gaun-gaunnya.


"Oke. Thanks infonya,"ungkap Royyan setelah dia merasa cukup dengan informasi yang dia dapat dari Manda.


"You're wellcome ganteng,"sahut Manda seraya dia melukiskan senyuman manisnya.


"Yaudah gue cabut ya."


Kaki Royyan mulai melangkah. Namun, tiba-tiba Royyan kembali berbalik dan berdiri di hadapan Almira, tanpa aba-aba dia mengapit dagu Almira dan membawanya sehingga mendongak padanya. Manda yang berada di sampingnya segera ternganga dan menutupinya dengan kedua tangannya, bahkan dia segera memundurkan langkah seraya membeliakkan tatapannya.


"Jangan terlalu banyak bekerja, nanti kamu kecapean,"ucap Royyan seraya mendekatkan wajahnya dengan Almira bahkan dia menempelkan hidung lancipnya dengan hidung Almira.


Seketika Almira menelan ludahnya dengan kasar seraya dia memasang tatapan getir. Tangannya yang menjuntai ke bawah rasanya terasa berat untuk terangkat dan menepis perlakuan Royyan, tetapi itu tidak bisa dia lakukan, tangannya malahan mengepal di tempat tanpa melakukan apapun.


"Lepasin. Sebelum aku tendang kaki kamu,"gertak Almira melebarkan bola matanya seraya dia menggeretakkan giginya.


"Iya sayang ..."seru Royyan lembut lalu dia menjatuhkan kecupan kecil di hidung runcing Almira, lalu dia segera berlari keluar dari ruangan Almira.


Meninggalkan Almira yang masih terkejut dengan sedikit membuka mulutnya dan wajah yang mengerut, "YA!"teriakan Almira menggetarkan kaca-kaca di dekatnya.


"Heh! Elu ya, sekali lagi kayak gitu gua remas-remas sampai remuk,"ucap Almira seraya *******-***** kertas yang ada dalam genggamannya kemudian dia lempar sampai tergeletak dengan sembarangan di lantai.


Setelah itu Almira mendenguskan napasnya seraya dia bertolak pinggang. Manda yang masih diserang rasa terkejut, segera mengayuh langkahnya mendekati Almira yang masih menatapi pintu yang sudah tertutup itu dengan tajam.


"Kalian pacaran ya?"tanya Manda hati-hati.


"Enggak. Cowoknya aja minta di hajar,"ketus Almira menurunkan tangannya dari pinggang dan berjalan kembali mendekati gaun-gaunnya.


"Ah masa sih,"ujar Manda mengerutkan dahinya, melambungkan kembali keheranannya.

__ADS_1


"Udahlah gak usah di bahas lagi."


...***...


Setelah beberapa jam berlalu dan Almira telah menyelesaikan pekerjaannya dengan dua gaun yang terpajang di ruangannya itu, wanita bertubuh mungil itu kembali melenggang terduduk di atas kursi putarnya dan mulai mengetikkan sesuatu di dalam laptopnya. Wajahnya pun ikut serius, bulu-bulu alisnya nampak menegang.


Tak lama, pintu Almira menggemakan sebuah ketukan pintu sebanyak tiga kali. Mendengar hal itu Almira menoleh pada pintu dan mendongak sejenak dan mengira-ngira siapa yang mengetuk pintunya. Namun, kemudian Sara memanggil namanya. Lantas Almira mempersilakannya masuk seraya dia menundukkan wajahnya lagi kembali fokus dengan pekerjaannya yang ada di dalam laptop.


"Permisi kak Ra, ada tamu untukmu?"ucap Sara yang sudah berdiri di depan meja Almira.


Lekas Almira mendongak dan mendapati wanita si pemesan gaun merah itu datang kembali, bedanya kali ini dia tak lagi menyembunyikan wajahnya. Sepertinya dia sangat menyukai warna merah, kali ini pun dia mengenakan gaun merah yang memukau, kulit putihnya semakin menonjol dan memancarkan cahaya yang berkilauan.


Dia membawa dirinya berdiri untuk mendekati wanita cantik itu, dengan senyuman manisnya Almira menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengannya seperti sebelumnya.


"Halo nona, ternyata nona sangat cantik,"seru Almira memuji kecantikannya, sedangkan dirinya sendiri pun tak kalah cantik dan mampu membuat Royyan gemas dengannya.


"Terimakasih, bahkan nona Ra saja sangat cantik,"


Almira tertawa kecil. "Bisa saja. Ada yang anda inginkan nona?"tanya Almira menuntun wanita itu mendekati sofa dan mempersilakannya untuk duduk disana.


"Saya dengar butik nona Ra di kontrak oleh management yang menyelenggarakan acara summer camp?"ucapnya setelah dia duduk di atas sofa.


"Iya, itu karena sahabat saya yang merupakan salah satu model di agensi Jakarta International model management yang juga ikut serta dalam acara tersebut merekomendasikannya,"terang Almira bersikap manis di hadapannya.


"Manda?"serunya menerka-nerka siapa sahabat dari Almira.


"Iya. Ternyata nona mengenalnya."


"Tentu saja, Manda adalah salah satu model terbaik dari agensi, dia sangat terkenal di agensi, bagaimana bisa saya tidak mengetahuinya,"pungkasnya menata wajahnya dengan senyuman termanisnya.


Seraya mengedarkan pandangannya ke ruangan Almira dan akhirnya tatapan wanita itu terpaku pada gaun yang ada di ruangan Almira. Lekas dia menyeringai seraya dia membawa dirinya berdiri dan mendekati gaun itu. Perlahan dia menyentuh gaun itu dengan gerakan tangannya yang lentik dan juga lembut.


"Gaun yang sangat cantik. Rancangan nona Ra memang yang terbaik,"puji wanita cantik itu, kemudian dia menoleh pada Almira yang berada di belakangnya.


"Terimakasih. Apa nona ingin rancangan khusus untuk acara tersebut?"tanya Almira dengan sopan.


"Tentunya, saya ingin gaun yang sempurna untuk puncak acara summer camp di Bali, dan saya hanya ingin nona Ra yang merancangnya,"pungkasnya yang tidak bisa berhenti mengagumi gaun merah muda yang ada di hadapannya.


"Baiklah. Sebutkan nona ingin gaun seperti apa?"


Wanita cantik bertubuh indah itu menoleh dan memosisikan dirinya berdiri tegak dengan dadanya yang indah, lalu dia menjulurkan satu tangannya seraya mengukir senyumannya yang paling indah.


"Sebelumnya perkenalkan dulu, saya Rala ...."ucapnya memperkenalkan diri.


Seketika Almira membeliak mendengar nama itu, pikirannya melesat pada bayang-bayang Royyan yang sebelumnya mencari informasi tentang sosok bernama Rala. Wajahnya membeku dan tubuhnya ikut mematung, tetapi dia berusaha untuk bersikap biasa saja dan segera membalas jabatan tangan dari wanita cantik bernama Rala itu.


"Salam kenal nona Rala,"serunya dengan napas yang sesekali tersekat.


Terungkap sudah, wanita cantik yang sering berkunjung ke butik Almira adalah Rala, seorang model terkenal dari agensi yang sama dengan sahabatnya Manda. Keduanya mematung dalam senyuman yang saling terpatri.

__ADS_1


mukanya gak asing, siapa ya? Kok gue lupa sih.


NEXT ....


__ADS_2