Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 113 : HAJARRR 2


__ADS_3

Hari keempat Almira berada di negara yang selalu menjadi impiannya, tepat di kota Paris dia menghabiskan masa pendidikannya lebih dari lima tahun, saat itu Almira masih berumur kelas satu SMA sampai kuliahnya selesai. Sedangkan Royyan sudah lulus SMA saat Almira masih menduduki bangku kelas satu SMA, terhitung umur keduanya hanya terpaut sekitar empat tahun. Dan kini pernikahannya sudah menginjak tahun kedua.


Saat itu Almira harus mengulang pendidikan SMA-nya di negara lain yang sudah berjalan setengah semester di Indonesia. Dan Royyan telah mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di salah satu universitas terbaik di negara Indonesia dan bersembunyi dari Dirta yang saat itu entah menghilang kemana sosok Dirta.


Jika diingat lagi, perjalanan kisah Almira dan Royyan terbilang sangat singkat dan terburu-buru, tetapi hal itu bukanlah masalah, karena saat ini hati keduanya sudah saling bertaut dan mengabaikan apa yang terjadi di masa lalu. Perjodohan yang dirancang oleh Royyan berhasil menarik Almira ke dalam kehidupannya seperti apa yang dia inginkan.


Di depan gedung hotel dimana Royyan dan Adrian menginap, taksi online berwarna merah berhenti di depan gedung hotel itu, dua gadis cantik yang mengurai rambutnya tanpa mengenakan hiasan rambut apapun keluar dari taksi itu, taksi merah itu segera pergi dari pekarangan hotel meninggalkan kedua gadis yang berpakaian rapi.


Kedua gadis itu sepakat menggunakan pakaian santai yang memudahkannya untuk bergerak kesana-kemari. Almira menyingsingkan kedua lengan bajunya dan menyisir rambutnya ke belakang, menandakan jika dia siap untuk bertempur dengan seseorang yang masih ada di dalam kamar hotel suaminya.


"Lu yakin, kalau tuh cewek gila masih di kamar hotel suami gue,"tanya Almira meyakinkan.


"Kata manager gue sih gitu, soalnya udah di cek sama managernya tuh cewek kalau dia gak pulang ke kamarnya malam tadi,"sahut Manda.


"Oke! Awas aja tuh cewek, gue hajar habis kali ini,"tekad Almira menggebu-gebu.


Manda mengerut bingung. Sebenarnya gadis bermata almond itu tidak mengetahui apapun tentang apa yang terjadi tadi malam pada rivalnya itu. "Ada apa sih? Kok lu kayaknya marah banget,"tanya Manda ingin tahu.


Wajah gadis mungil itu menoleh kasar pada Manda, membuat gadis berambut sebahu itu terhenyak ke belakang terkejut dengan tindakan sahabatnya barusan. Mata almond nya merekam jejak ketajaman sang pemilik mata kucing.


"Dia udah melewati batas, gua biarin dia karena kak Royyan mengabaikan wanita itu, tapi ... Lama-lama dia gak tahu diri, jadi gue harus hajar tuh cewek,"ketus Almira dengan deru napas yang berkobar-kobar.


Manda mengernyit, dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Apa yang dia lakukan?"tanya Manda hati-hati.


"Cewek gila itu ngasih obat perangsang ke suami gue,"celetuk Almira tegas.


"Hah?! What? "seru Manda tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar, dia menyugar rambutnya kasar ke belakang, "wah gila tuh cewek."Manda membuang kasar wajahnya ke arah lain, tak lama dia kembali mengarah pada Almira, "tapi di antara mereka gak ada yang terjadi kan?"sambung Manda penuh harap.


Almira mengurai helaan napasnya lega. "Untungnya kak Royyan segera sadar dan dia lari ke apartemen gue."


"Oh syukurlah. Kalau emang itu yang terjadi, ayo hajar aja tuh manusia,"sahut Manda menarik tangan Almira memasuki hotel mewah itu.


Nuansa putih menyebar dengan sempurna dan perpaduan warna yang senada mendekap tatapan Almira yang tajam pada setiap benda yang ada di depannya. Langkahnya meruncing dengan keganasan hentakannya, kedua gadis itu tak berhenti melangkah sampai mereka mencapai tujuannya.


Di depan pintu kamar hotel Royyan dengan di temani salah satu petugas hotel yang membawakan kunci cadangan dari kamar hotel dengan nomor 1307. Almira dan Manda berdiri tepat di depan pintu itu, kedua tangan gadis mungil itu terlipat dengan kokoh di depan dadanya seraya mencengkeram kemeja yang dia kenakan.


Bibir dengan pewarna bibir yang di berikan oleh Royyan beberapa waktu lalu dan riasan tipis seperti yang dia lakukan biasanya, Almira menolehkan wajahnya pada petugas hotel tersebut. "Please, open the door,"pinta Almira lirih.


Petugas itu hanya mengangguk dan segera membukakan pintu kamar tersebut menggunakan sebuah kartu berwarna biru, tak lama dari itu, pintu kamar segera terbuka. Tanpa menunggu lagi, gadis bermata kucing itu segera berayun masuk ke dalam kamar hotel itu.

__ADS_1


Berbeda dengan Manda yang masih ingin berbicara dengan petugas hotel tersebut. "You can go now,"kata Manda meminta petugas itu untuk segera pergi dari sana.


"Ok, miss ..."petugas wanita itu segera berangsur pergi.


Langkah tegasnya menikam keramik-keramik putih di dalam kamar hotel itu dengan ganas, aura panas dengan segera menyelimuti Almira dengan penuh. Gaun merah yang di kenakan tadi malam tergeletak dengan lemah di lantai berkeramik itu, tatapan Almira memanas bersamaan dengan kepalan tangan yang membuncah hingga tumpat.


"Wanita sialan!"cibir Almira mengeratkan gigi-giginya.


Wanita berambut coklat keemasan itu melahap langkahnya dengan suapan yang lebih besar lagi ; Dia melihat sosok Elshara tengah meneguk segelas air putih dengan mengenakan handuk kimono berwarna putih.


Dahinya berkerut dengan dalam dan gigi-gigi yang masih mengerat serta kepalan yang semakin meluap-luap. Punggung gadis bermata pipih itu nampak tenang dengan rambut yang masih basah terurai dengan manja.


Lu pikir, lu bisa lawan gue Elshara Daniar? Selama kak Royyan melabuhkan cintanya sama gue, maka gue akan maju dan menghajar siapapun yang mengganggu kehidupan kami.


Penuturan batin Almira semakin bergejolak. Kemudian dia berayun dengan ganas ke dekat Elshara yang tengah menghadap ke pintu balkon dengan tenang, pintu balkon terbuka dengan lebar, sehingga gadis berambut lurus itu tak menyadari kehadiran orang lain di dalam kamar hotel itu.


Gerakan Almira secepat kilat mengambil gelas yang berada di dalam genggaman Elshara, sontak gadis itu mengerjap terkejut dengan apa yang barusan terjadi, kontan dia menoleh dengan kasar dan mendapati Almira sudah berada di depannya.


"Ra! Gak sopan lu masuk kamar orang tanpa izin,"sergah Elshara dengan tatapan getirnya dan melempar kedua tangannya terjuntai ke bawah.


"Tepatnya kamar hotel su-a-mi gue!"sentak Almira melayangkan air mineral yang masih tersisa di dalam gelas itu ke hadapan muka Elshara.


Tangannya terangkat ke atas dengan wajah yang tertunduk. Tak lama dari itu Elshara menarik tatapannya melesat ke dalam paras cantik Almira yang kini tengah tersenyum miring.


"Gerah kan lu?"ucap Almira menaikkan satu alisnya, "makanya gue siram, biar lu sadar! Biar otak lu yang dangkal itu bisa berpikir dengan sehat dan waras!"tambah Almira menukikkan telunjuknya ke dada Elshara, bahkan dia mendorong tubuh ramping Elshara ke belakang dengan kasar.


"ALMIRA!"tepis Elshara dengan pekikan yang membuat telinga Almira berdengung.


"BERISIK! Kenapa?! Wanita mana yang akan menahan emosinya, ketika suaminya di jebak wanita gila!"sergah Almira melengkingkan suaranya sambil mendorong dada Elshara dengan kasar, "Lu bukan cuman gila, tapi stres atau bahkan psikopat!"tambah Almira.


"Harusnya gua yang marah sama elu setan!"balas Elshara mencoba untuk mendorong Almira, tapi siapa sangka gadis mungil itu memiliki gerakan yang cukup cepat untuk menghindari Elshara.


"Gua istrinya, kenapa lu marah sama gue, stres lo."


"Royyan itu harusnya milik gue, gara-gara elu semuanya berantakan." Tatapan Elshara membuncah hebat.


"Basi banget sih perkataan lo. Kapan lu akan sadar, kalaupun gua gak ada di kehidupan kak Royyan, jika suami gue itu gak suka sama elu, hasilnya tetep sama, lu gak akan mendapatkan dia,"beber Almira dengan tatapan yang mengeras.


"Gak usah banyak bacot lu ya,"tunjuk Elshara dengan tatapannya yang meruncing.

__ADS_1


Dengan sigap Almira tepis tangan Elshara dari hadapannya ; Terlempar ke samping kanan dan dalam gerakan cepat juga gadis mungil itu menerjunkan tamparan keras di salah satu pipi Elshara, hingga terdengar nyaring dan melengking di telinga keduanya.


"Auuw ..."Elshara meringis sesaat setelah wajahnya terlempar ke arah kanannya.


Mata pipih itu segera bergerak cepat mematri tatapan mata kucing di hadapannya sambil memegangi pipinya yang memerah, tatapannya getir, derai kemarahan mengalir dengan deras dari kedua bola mata pipih itu, dia usap kasar pipinya yang masih terasa perih itu.


"Hak lu apa nampar gue hah?!"Elshara menggila, dia dorong Almira sampai membentur pagar balkon dengan terali hitam.


Lekas gadis mungil itu tepis kedua tangan Elshara dari tubuhnya, dan dia beralih ke sampingnya, memosisikan pagar terali itu ada di samping kedua gadis itu. "Gua punya hak penuh, karena elu udah mau jebak suami gue buat masuk ke dalam kehidupan elu,"tegas Almira, geram.


Langkah Almira mendekat dan tanpa segan dia jambak rambut Elshara hingga gadis itu meringis kesakitan, Elshara berusaha untuk menghindarinya dan mencoba mencengkeram salah satu tangan Almira, tetapi dengan kecepatan kilat Almira tahan salah satu tangan Elshara dan menariknya ke belakang tubuh gadis itu.


"Auuhh ... Aaarrgghhh ...."ringis Elshara histeris, benih air mata terjatuh di pelipisnya.


Rasa perih yang menjalari kepalanya bukan maen, cengkeraman Almira tidak seperti pertama kali pertengkaran mereka di mulai, itu adalah sebuah cengkeraman yang amat kuat. "Lo pikir gua bakalan diem aja, hah?! Enggak!"seru Almira kesal, dia berteriak di telinga Elshara.


Lantas Almira menendang salah satu kaki Elshara dan gadis itu terjatuh. "Aw ..." Lagi-lagi Elshara meringis. Tidak ada pilihan lain selain mengeluh kesakitan, karena membalas pun tak akan mampu, Almira menjambak rambut Elshara tanpa ampun sedangkan satu tangannya yang lain di pelintir ke belakang, sedangkan bagian tubuhnya yang lain ikut melemah karena tindakan Almira.


Almira tarik rambut Elshara ke belakang guna menengadahkan wajah gadis itu yang memupuk kemarahan lebih besar lagi. "Jangan pernah deketin kak Royyan lagi, atau ... Gua akan berbuat lebih ganas lagi, cam-kan itu!"gertak Almira mengeratkan gigi-giginya.


Setelah itu Almira melempar Elshara ke bawah hingga gadis itu melanggar lantai berkeramik putih mengkilap. Jantung Elshara berdebar hebat, dia bulatkan kepalan tangannya dan mengembuskan napasnya secara kasar, bersamaan dengan tatapannya yang melesat pun meruncing pada Almira yang berdiri dengan tegak.


"ALMIRA SIALAN!"pekik Elshara seraya dia membawa dirinya bangkit dari lantai dan hendak membalas Jambak kan Almira.


PLAK!


Namun, lagi-lagi Elshara kalah cepat, gadis mungil itu sudah lebih dulu melayangkan tangannya dan menampar pipi Elshara yang lain. Getir di matanya kembali menyeruak menguasai diri seorang Elshara.


Gadis itu tak bisa melawannya, dia mengakui jika Almira adalah wanita yang sulit untuk dia taklukkan dengan kedua tangannya sendiri, se-marah apapun Elshara, tetap dia tak bisa melawan kecepatan serangan Almira.


Hatinya tercengkeram kuat hingga rasanya sesak, dahinya pun ikut mengernyit dengan dalam dan kepalan tangannya membulat dengan azmat bersamaan dengan embusan napas yang terlempar secara kasar ke hadapan Almira.


"Gua akan balas atas semua perbuatan lo sama gue hari ini, lihat aja,"rajuk Elshara menunjuk Almira dengan ganas.


Bukannya takut, Almira malah menaikkan sudut bibir kanannya, menyunggingkan sebuah senyuman meremehkan. Tidak ada rasa takut di dalam diri gadis mungil itu, dia busungkan dadanya seraya dia melipat kedua tangannya di depan.


"Kenapa nunggu nanti, enggak sekarang aja?"Alis Almira menaik, "kenapa harus besok,"tambahnya kemudian.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2