Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 15 : Awal pernikahan.


__ADS_3

Balutan kabut embun abu-abu menguasi setiap area dendang memorinya yang mencari serpihan ingatan yang sangat diingat itu. Pada hari itu tepat beberapa bulan yang lalu, delapan bulan setelah hari ini Almira berada di dalam apartemennya tengah mengerjakan project gaun pengantin untuk kesekian kalinya setelah kelulusannya beberapa tahun yang lalu.


Wanita berkacamata itu tengah mennyelesaikan gaun pengantin kliennya dengan penuh keseriusan. Tangan kirinya di penuhi dengan gelang kain tempat dia menyimpan jarum-jarum kecilnya sebagai penanda gaun yang akan dia jahit sendiri.


Kemudian dalam detak jarum jam yang sama, pintu apartement Almira memantulkan ketukan yang dilakukan oleh seseorang di balik pintu. Lekas dia melangkah untuk membuka pintu apartemennya.


"Mami, Papi, ada apa? Tumben banget datang jam segini,"ucap Almira setelah dia tahu siapa yang mengetuk pintunya.


"Iya sayang, kita ada yang mau dibicarakan sama kamu,"sahut Mami-nya.


Semuanya mulai menyelam ke dalam apartemen, dan berlabuh di sofa yang ada di dalam apartemen itu, Mami dan Papi Almira nampak tegang. Keduanya secara serentak tertunduk lemah.


"Ada apa? Kenapa kalian kayak begitu mukanya, jangan buat Ra takut deh Mi, Pi...."tanya Almira mengernyit.


Hanya helaan napas Papi-nya yang terdengar berat, tanpa mengatakan apapun, begitupun dengan Mami-nya. Mata yang penuh dengan rasa bersalah berkumpul dalam kelopak mata sendu itu. Namun, kemudian Mami memasukkan salah satu tangannya ke dalam tas keluaran terbaru itu dan mengambil sebuah foto pria gagah nan tampan dan tubuh yang kekar ke hadapan Almira.


"Kamu kenal sama dia?"tanya Mami-nya basa-basi.


Dengan wajah yang bingung, Almira mencondongkan tubuhnya dan mengambil sebuah foto itu dan menyipitkan kedua bola matanya untuk memastikan siapakah pria tampan di dalam foto itu.


****Deg****!


Cowok kebab? Pria yang selalu dia sebut dengan cowok kebab itu ada dalam foto yang ditunjukkan oleh Mami dan Papinya. Entah apa yang dimaksud oleh kedua orangtuanya itu, apa yang diinginkannya dengan menunjukan foto tersebut.


"Kenal? Tapi gak deket, cuman ketemu beberapa kali aja, itupun udah lama banget, saat aku masih di Indonesia, dan sekarang kan udah beberapa tahun yang lalu Mi, Pi, kenapa?"jawab Almira nampak bingung.


"Kalau Mami Papi jodohkan kamu sama dia gimana?"ungkap Papinya.


Bola mata Almira membulat dahsyat. Bukan hanya terkejut, dia juga tersendat mendengar perkataan Papinya, perlahan foto yang ada dalam jepitan jari-jemarinya itu tertiup angin sepoi dan akhirnya terjatuh ke bawah. Tatapannya melebar, jantungnya berdegup sangat cepat. Seluruh raganya pun terasa mulai lemas.


"Maksudnya? Aku nikah sama dia gitu Pi? Enggak. Ra gak mau, lagian kan aku gak terlalu kenal sama dia, kenapa aku harus nikah sama dia, gak mau!"sanggah Almira melingkarkan kedua tangannya di depan seraya menghenyakkan punggungnya ke sofa.


"Kenapa? Dia ganteng, kaya juga, apa salahnya?"Papinya mencoba untuk membujuk putri semata wayangnya itu.


"Pi! Aku gak kenal sama dia, gimana aku bisa nikah sama dia, jangan ngaco deh Pi."


"Bukannya kamu suka sama dia kan, kamu pernah bilang kalau ada cowok yang buat kamu tertarik dan cowok itu adalah Royyan ini kan?"celetuk Mami memotong pembicaraan Almira dengan Papinya.


Almira menoleh, lalu dia mengernyit. Bagaimana bisa Maminya masih mengingat perkataan Almira yang tertumpah beberapa tahun yang lalu, seketika Almira terdiam mendengar perkataan Maminya.


Apakah cinta itu masih ada, lagian itu ketertarikan sesaat aja, emang bisa disebut serius. Iih kenapa begini sih, lagi asyik-asyiknya bangun karir disini, malah diusik lagi sama Mami Papi. Gak bisa sehari aja gitu mereka gak ngusik hidup anaknya, heran gue.


"Itu udah lama Mi, dia juga udah lupa kali,"


"Dia masih ingat kamu sayang,"balas Mami meyakinkan putrinya.


"Hah?!"


Mami dan Papinya kompak mengangguk. Senyuman tipis mulai menghiasi wajah penuh harap dari paras indah Mami dan Papinya itu.


"Kita menjalani kerjasama bisnis yang akan membangun bisnis kita menjadi lebih besar lagi, dan orangtua Royyan yaitu pak Rian Dzario Alzaro dan bu Rini Rainanda ingin anaknya menikah, dan Royyan memilih kamu."


"What?! Dia milih aku, kenapa?"Almira mengernyitkan wajahnya heran.


"Papi juga gak tahu kenapa? Tapi mereka meminta pernikahan ini disembunyikan, karena permintaan Royyan, sebenarnya Royyan tidak ingin menikah tetapi karena orangtuanya memaksa jadi dia terpaksa memilih pasangan dan tanpa sengaja kamu yang terpililh."terang Papinya, membuat Almira semakin kebingungan.


Wajah polosnya menjadi sangat memprihatinkan. Tak sengaja terpilih? Sungguh alasan yang tidak mudah untuk di terima oleh akal sehat Almira.


"Gak mau."

__ADS_1


"Ayolah sayang...."


Almira tersekat sejenak. Isi kepalanya terus berperang dengan akal sehatnya, pernikahan bukanlah sebuah wahana permainan, jika tidak menyenangkan bisa sesuka hati turun dan mengganti dengan wahana lain. Bagaimana dengan masa depan karirnya sebagai desainer, ini adalah impian besarnya yang baru saja dalam genggamannya.


Meninggalkan negara yang selalu menjadi kiblat fashion dari seluruh dunia ini adalah suatu hal yang tidak mudah baginya. Wanita berparas cantik putih bersih itu terus berpikir dalam waktu yang lama, untuk memastikan hal seperti ini tidaklah mudah. Dia harus memikirkan banyak hal, tentang dirinya dan juga masa depan karirnya.


Setelah satu bulan berlalu, akhirnya Almira memutuskan untuk menyetujui pernikahan dengan berbagai macam persayaratan sebelum pernikahan berlangsung.


Dalam udara panas yang menguap di sekitar kota Paris. Pertemuan pertama kalinya bagi Royyan dan Almira dalam status yang berbeda. Di sebuah kafe outdoor dengan payung khas dari kafe tersebut, Almira datang mengunjungi Royyan yang sudah menunggunya.


"Heh! Cowok kebab, ngapain milih gue sih, cewek diluaran sana yang mau sama elu itu banyak, kenapa harus gua sih,"protes Almira menggebrak meja dengan tas kecil yang dia genggam, seraya dia duduk di hadapan Royyan.


"Mau minum apa?"kata Royyan tidak menjawab pertanyaan Almira sebelumnya.


"Ih jawab dulu, kebiasaan banget sih, kalau ditanya bukannya jawab malah melipir ke pertanyaan lain,"


Royyan menghela napasnya, kopi hangat yang siap meluncur ke dalam mulut Royyan pun ikut terhenti dan kembali ke piring kecil di atas meja itu, berdiri di atasnya. Lalu tatapan Royyan menjadi lurus menatapi wanita cantik di hadapannya.


Karena aku tertarik sama kamu, tapi sebenarnya aku takut kamu menjadi bahaya jadi pasanganku, tapi aku juga gak bisa menikahi wanita lain.


"Yang gue kenal cuman elu."jawab Royyan singkat.


"Gitu doang alasannya?"


"Iya."


Wanita berambut coklat keemasan itu merasa geram, tetapi dia tidak bisa berteriak ataupun menjambak pria menyebalkan di hadapannya itu, dia hanya bisa mendengus kasar seraya melipat kedua tangannya di atas meja, dengan bibirnya yang masih mengerut.


"Yaudahlah terserah, sekarang gini, kan elu mau pernikahan ini tersembunyi, itu bagus banget, jadi gue masih gadis,"


Sontak Royyan tertawa kecil, kemudian dia segera menyeruput kopi dengan asap yang mengepul ke udara.


"Oke. Jadi persyaratan apa yang harus gua penuhi?"jawab Royyan seraya memejamkan matanya sejenak lalu kembali fokus terhadap wanita yang sibuk berbicara di hadapannya.


"Gua mau butik pribadi itu yang pertama, karena gara-gara elu karir gue disini harus berakhir jadi elu harus tanggungjawab."


"Oke. Terus apa lagi?"


"Kita tinggal satu atap tapi pisah kamar ya,"


"Iya, emang begitu kan."


"Bagus deh kalau begitu, jadi gua aman."pungkas Almira seraya bertepuk tangan satu kali.


"Tergantung mood gue ya,"


"Heh!"protes Almira menepuk tangan Royyan.


Royyan kembali tersenyum kecil. Ketakutannya akan ancaman Dirta membuat Royyan membatasi segala langkah yang dia buat, terutama pasangannya. Dia memilih pasangan secara tersembunyi yang hanya diketahui oleh keluarganya dan keluarga pasangannya yaitu Almira dan kedua orangtuanya.


Sudah bertahun-tahun dia mengasingkan diri dari Dirta, begitupun Ajun yang juga memilih untuk pindah ke kota lain, dengan alasan agar Dirta bisa berpikir dengan sehat. Tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi sampai Elshara kembali ke hadapannya.


Di satu waktu setelah lima tahun berlalu, Ajun tanpa sengaja bertemu dengan Dirta di sebuah gedung pameran lukisan yang berada di Jakarta barat. Seiringan dengan Ajun yang memiliki sebuah pekerjaan penting di sana.


"Royyan harus bertanggungjawab atas kematian El! Sampai kapanpun faktanya memang selalu begitu Jun!"gertak Dirta dengan dada yang melebar.


"Sampai kapan elu mau menyalahkan Royyan yang tidak tahu apa-apa, dia gak bersalah, ini murni kecelakaan."Balas Ajun masih sama seperti beberapa tahun yang lalu.


"Tapi El masuk pesawat itu karena Royyan menyakitinya!"

__ADS_1


"Elu yang nyakiti El, bukan Royyan."


"Diem lu setan! Gua akan menjadi hantu dalam kehidupan Royyan, dia gak akan hidup tenang selama gua hidup, tawanan masa lalu akan tetap membelenggu kehidupannya. Bilang sama sahabat elu, dia adalah pembunuh! Maka gua akan membunuh pasangannya juga!"hardik Dirta seraya mencengkeram kerah baju Ajun.


Dirta masih sama kerasnya dengan dahulu, tak ada yang berubah darinya. Bahkan dia lebih keras dibanding dulu. Alasan inilah yang membuat Royyan menunda pernikahannya sampai dia menginjak umur 29 tahun, dan saat itu Royyan memilih Almira bukan tanpa sebab. Dia ingin pernikahan untuk satu kali dan selamanya, tak ada keinginan dari Royyan untuk mengakhiri pernikahannya. Itulah mengapa Royyan memilih Almira, wanita yang sangat dia inginkan untuk dinikahi.


Kabut abu-abu dari bayangan itu telah lenyap, Almira yang sudah tersedu-sedu di hadapan Manda, segera menyeka bulir-bulir tetesan sedu dan menghentikkan tangisannya. Mengatur napasnya untuk bernapas dengan normal.


"Jadi elu udah nikah sama itu cowok secara private? Terus alasan cowok itu buat menyembunyikan pernikahannya karena apa?"tanya Manda penasaran.


"Gak tahu, kalau gua tanya juga, jawabannya kagak jelas. Bilangnya biar gue aman, entahlah ngomong apaan dia,"


"Cowoknya siapa? Gue kenal gak?"


"Kenal,"jawab Almira tenang seraya dia mengangguk.


Manda tersekat. Dia pikir mengapa Almira begitu tenang menceritakan semua hal padanya karena pria tersebut tidak dikenalinya, tapi ternyata diluar dugaannya. Dan ini semakin membuatnya sangat ingin mengetahui siapakah yang menjadi suami sahabatnya yang memiliki sifat manja ini.


"Siapa?"tanya Manda seraya membawa dirinya duduk dengan tegap di hadapan Almira.


"Nanti gua akan kasih tahu, tapi tidak sekarang, karena dia melarang gua untuk ngasih tahu siapapun."


Manda mengangguk. Dan mulai mengabaikan rasa penasarannya itu. Wanita berambut sebahu itu tidak ingin membuat sahabat manjanya ini kembali menjatuhkan bulir kristalnya yang sangat mudah terjatuh itu.


Ini masih menjadi misteri bagi Almira. Kuncinya ada di Royyan, sedangkan pria bertubuh tinggi tegap itu masih enggan untuk menceritakan semua yang terjadi di masa lalu pada istrinya itu, rasa takut kehilangan menjadi faktor utama mengapa dia tidak berani untuk berkata jujur.


Hari ini adalah hari ulangtahun pernikahan kedua orangtua dari Royyan, di rumah megah yang sempat Royyan tinggali itu akan mengadakan acara besar untuk merayakan hari pernikahan. Posisinya Almira saat ini sudah ada di dalam kamar yang sempat Royyan tinggali bersama ibu mertua dan kakak iparnya.


"Ini kamar Royyan, kalau kamu mau sesuatu panggil pelayan aja sayang,"ucap sang ibu mertua seraya membawa menantunya masuk ke dalam kamar yang masih sama seperti dahulu.


Wanita cantik dengan mata kecoklatan itu mengangguk sembari netranya menyisir setiap benda yang ada di dalam ruangan kamar, ranjang dengan ukuran besar yang dibaluti sprei coklat dengan perpaduan warna putih memberikan kesan tenang yang mampu menarik Almira terus masuk ke dalam kamar itu dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tersebut.


"Aku mau tiduran disini dulu ya Mi, capek banget habis dari butik."ucap Almira beralasan.


"Yakin sayang? Gak mau ikut ke bawah menikmati pesta, acara juga kan baru di mulai,"tanya Rini memastikan keinginan menantu keduanya ini.


"Hmm...."Almira mengangguk.


"Yaudah kalau emang itu mau kamu, kalau kamu butuh sesuatu panggil pelayan aja ya sayang,"


Almira menyeringai seraya dia menganggukkan kepalanya. Sedang Rini segera beringsut keluar dari kamar Royyan meninggalkan menantunya itu untuk tetapa terdiam di dalam kamar, sedangkan Aneu masih enggan untuk mengikuti ibunya, dia tetap bersama Almira, duduk di dekat Almira.


"Kak Aneu, kalau aku nanya sesuatu boleh gak?"tanyanya sungkan seraya dia menggeser tubuhnya mendekati Aneu.


"Boleh dong, mau tanya apa? Kamu kesulitan ya menghadapi suami kamu yang kayak es itu,"jawab Aneu menyernyih.


Almira terkekeh, sampai dia terjungkal ke belakang, menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dan dia merebahkan dirinya di sana sambil terus bertanya pada sang kakak ipar.


"Masalah sifat kak Royyan udah bukan masalah lagi buat aku kak Aneu,"jawabnya dengan mata yang terpejam meresapi angin sepoi yang berusaha masuk ke dalam pori-pori tipisnya.


"Terus kamu mau nanya apa?"Aneu kembali bertanya sambil menatapi wajah cantik adik iparnya itu.


"Apa ada masalah kak Royyan di masa lalunya?"celetuk Almira yang masih terpejam.


Deg!


Pertanyaan itu memang wajar terlontar dari istri adiknya, tetapi ini benar-benar menghantam Aneu dan membawanya masuk ke dalam bayang-bayang masa lalu Royyan yang sudah sepakat untuk tidak dibahas lagi. Biarkan itu tetap menjadi masa lalu yang tak perlu di perhatikan lagi, kenyataannya hal itu semua hanya lah sebuah kecelakaan, dan entah mengapa Royyan yang menjadi tersangkanya dan jeratan Dirta telah berhasil menjadi hantu masa lalu bagi kehidupan Royyan.


Aneu tidak memiliki jawaban pasti untuk pertanyaan adik iparnya ini. Dia terdiam dan membeku sampai angin tak lagi mengembus di sekitarnya. Hening. Diselimuti kesunyian, Almira menyadari kakak iparnya tak berbicara, akhirnya dia terbangun dan duduk kembali di samping Aneu.

__ADS_1


NEXT....


__ADS_2