
Setelah selesai mengoleskan salep itu Royyan segera melempar salepnya ke sofa yang ada di sana dengan sembarangan sampai salep itu luruh ke bawah menemani lantai berkeramik putih yang dingin karena pendingin ruangan yang selalu menyala itu. Sedangkan Royyan tetap berada di hadapan sang istri yang kini masih saja merunduk.
"Kamu tanya siapa yang aku cinta kan?"celetuk Royyan membuat wajah yang tertunduk itu mendongak dengan tegas.
Bola matanya mematri dengan penuh harap dan berusaha untuk mencengkeram hatinya untuk tetap kuat mendengar apapun yang akan di katakan Royyan, yang menurutnya wanita itu bukanlah dirinya, perlahan tangannya meraba saku celana yang dimana di dalamnya adalah cincin pernikahannya yang selalu dia bawa tanpa berani untuk memakainya.
"Dia adalah wanita yang aku temui pertama kali di mal dan aku kasih dia kebab tanpa mayo, dia adalah wanita yang aku c*um berulang kali, dia adalah wanita bawel yang selalu mengungkit bahwa hubungan ini tidak memiliki tujuan apalagi arti, dia ..."sambung Royyan membeberkan segala yang telah menumpuk dalam benaknya.
Perkumpulan hal yang selalu dia tahan itu satu persatu keluar dengan gagahnya, dia sudah tak ingin lagi mengubur rasanya hanya karena rasa takut ancaman Dirta, dia mulai menyadarinya. Semakin dia memendam segalanya demi melindungi Almira, maka semakin cepat pula dia kehilangan sang istri karena Almira akan lelah dan memilih pergi.
Rasa kesal di hatinya perlahan terasa lega, tetapi pikirannya berkelana sangat keras mencerna perkataan Royyan yang hanya menyebutkan ciri-cirinya, tiba-tiba saja otaknya yang sangat cerdas itu mendadak tidak bisa bekerja, tatapan polosnya dia terjalkan pada Royyan yang ada di hadapannya.
"Bentar ... kamu c*um siapa lagi selain aku,"serunya kemudian membuat Royyan membuntang tak habis pikir.
Bagaimana otaknya yang selalu menciptakan busana yang memukau itu berpikir sejauh itu dan menuduh Royyan dengan hal apa yang gak pernah di lakukannya.
"Enggak ada. Sembarangan banget itu mulut."
"Lah terus katanya wanita yang kamu suka adalah yang kamu c*um berulang kali,"ucap Almira lagi.
"Aku tanya, aku c*um kamu udah berapa kali?"tanya Royyan serius, sehingga dahinya menegang.
"Hah?! Ya mana aku tahu, aku gak ngitung, kurang kerjaan banget aku ngitung hal itu."Almira mendelik kesal.
Royyan mengdengkus pasrah seraya dia menyugar wajahnya, kemudian dia kembali terduduk dengan tegak, "cincin nikah kamu mana?"tanya Royyan tiba-tiba saja.
"Kenapa jadi nanya cincin, kan kita lagi bahas cewek yang kamu suka,"tepis Almira seraya dia menyelukkan tangannya ke saku celana yang di pakainya.
"Udah cepetan mana,"tegas Royyan menjulurkan satu tangannya dengan posisi tertadah.
Tak lama dari itu Almira mengambil cincin berlian dengan satu permata itu dan dia bawa ke hadapan Royyan lalu dia jatuhkan cincin yang pas di jari manis tangan kanannya ke atas telapak tangan Royyan.
"Tangan kamu,"pinta Royyan menjulurkan satu tangannya yang lain.
"Buat apaan?"Almira semakin bertanya-tanya, sebenarnya apa yang ingin coba di lakukan oleh suaminya itu, kemudian wanita berparas lembut itu dengan cepat menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Cepetan!"tegas Royyan menarik tangan kanan Almira secara paksa.
"Aw ... mau apa sih kak? Aku sengaja gak pake karena takut ketahuan sama semua orang, lagian kamu juga kan gak pake cincinnya,"ringis Almira yang berusaha untuk menarik tangannya dari genggaman Royyan.
"Siapa bilang aku gak pake,"balasnya seraya memakaikan cincin itu di jari manis Almira yang memiliki kuku-kuku yang panjang dengan warna merah muda alami.
Lantas Royyan keluarkan kalung yang terbuat dari emas putih murni yang selalu ada di lehernya, ternyata selama ini Royyan selalu memakai cincin itu yang dia jadikan kalung, sontak Almira membeliak. Terkejut dan juga terharu karena Royyan tidak sepenuhnya melupakan cincin penikahan itu.
Wanita bermata kucing itu menyeret tubuhnya untuk lebih dekat lagi dengan Royyan, karena dia ingin melihat cincin itu lebih jelas lagi. Perlahan dia rampas cincin yang menggantung di kalung itu lalu dia tarik ke dekatnya sampai leher Royyan pun ikut mendekat.
"Kok bisa kamu kepikiran buat di jadikan kalung, pinter juga kamu,"pujinya yang tak melepas sorot matanya dari cincin yang sama persis dengan yang dimiliki olehnya.
__ADS_1
Hanya saja permata cincin milik Almira lebih besar dari milik Royyan yang cenderung kecil dan tak timbul keluar.
"Aku menikah sama kamu bukan karena perjodohan,"pungkas Royyan seraya dia mengapit dagu Almira dan membawanya untuk mendongak padanya.
Tangan yang masih menggenggam cincin di kalung Royyan lambat laun melemah dan terjatuh ke bawah terduduk di atas kaki Royyan, dia menelan ludahnya dengan kasar, menatapi sang suami sedekat ini membuat jantungnya lagi-lagi berdegup sangat cepat.
"Ma-maksudnya?"tanya Almira dengan sorot mata yang lembut.
"Aku sudah jatuh cinta sama kamu saat kita bermain ice skating bersama, tapi kamu udah pergi ke paris, dan saat mami papi minta aku buat nikah aku bilang carikan wanita muda yang sekolah di Paris, kebetulan orangtua kamu bilang kalau kamu lagi kuliah di Paris,"beber panjang Royyan dengan tatapan penuh cinta dan masih mengapit dagu Almira, bahkan dia semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri.
Tangannya yang lain dia gunakan untuk membelai rambut Almira dengan lembut. "Aku menikahi kamu karena aku mencintai kamu, sudah aku bilang, aku tidak akan menc**m wanita yang tidak aku suka, aku tidak akan memeluk wanita yang tidak aku inginkan,"tambahnya lagi menegaskan hatinya yang sedang bergejolak.
Perlahan Almira turunkan tangan Royyan dari dagunya, lalu dia genggam tangan lebar itu seraya dia mematri tatapan Royyan terdiam di dalam sorot matanya.
"Maksud kamu, wanita itu aku,"pungkasnya kemudian menunjuk dirinya sendiri.
"Hmm ..."anggukkan tegas terlukis jelas di bola mata Almira.
"Ta-tapi ..."wajah Almira berkerut tak ingin mempercayai apa yang barusan dia dengar.
"Kamu gak sadar, aku ci*m kamu, aku peluk kamu,"ucap Royyan seraya menjatuhkan kecupan hangat di bibir kecil lembut Almira dan menggenggam kedua tangan Almira. "Aku selalu berusaha untuk menggoda kamu karena aku sayang sama kamu, aku mencintai kamu, aku bukan pria yang pandai merangkai kata, jadi aku melakukan itu semua untuk menunjukkan jika aku mencintai kamu, dan aku menikahi kamu untuk selamanya bukan untuk cerai di kemudian hari, jadi stop-"celoteh Royyan yang kemudian terhenti karena Almira tiba-tiba saja menghamburkan dirinya memeluk leher Royyan dan menangis di sana.
Kekhawatiran yang selama ini bergelut di dalam jiwa Almira ternyata hanya sebuah sayatan kepalsuan yang berusaha Royyan sembunyikan, batin itu merasakan lega yang mendalam, api yang membara perlahan padam dan tergantikan dengan sebuah tangisan bahagia. Cinta yang selama ini selalu di sembunyikannya karena merasa tidak pantas untuk dia tunjukkan, akhirnya mendapatkan tempat pulang.
Dengan cepat wajah Almira memanas, melelehkan semua embun yang sedari tadi berkumpul di bola mata kecoklatannya yang memesona, satu persatu butiran air berjatuhan dari kelopak matanya, dia berderai tanpa henti menyimbahi pundak Royyan yang gagah. Lambat laun tangisannya pecah sehingga dia tak bisa menahan sedunya, betapa bahagianya Almira mendapatkan kejelasannya hari ini.
Rasa cemburu itu benar-benar membakar kepercayaan dirinya akan cinta yang dimilliki sang suami terhadap dirinya, tetapi detik ini, hal itu bukanlah masalah lagi. Sebuah pengakuan Royyan sudah memberikannya bongkahan cahaya yang siap dia lahap setiap detiknya, api yang berkobar-kobar tadi lambat laun melarikan diri, entah kemanakah perginya para api cemburu itu.
"Ka-kamu jahaat ...."lirih Almira berbicara sambil meresapi tangisannya, lalu dia melepaskan dekapannya seraya menyeka air mata yang sudah membasahi pipi.
"I'm sorry my dear wife ..."sahut Royyan dengan senyuman tipisnya, lalu dia tarik tubuh istrinya sampai terduduk di pangkuannya dan dia lingkarkan kedua tangannya di pinggang Almira.
"Jangan lihat aku, kamu nyebelin."Almira tepis wajah sang suami ke arah lain seraya dia masih menyeka wajahnya yang basah sampai kering.
Royyan tak mengatakan apapun lagi selain senyumannya yang berkembang dengan mekar bagaikan bunga mawar yang baru mekar di pagi hari dengan balutan embun yang membuat bunga itu semakin harum menyegarkan. Detik ke lima belas Royyan menghamburkan tubuhnya mendekap Almira yang tengah membelakanginya dan dia letakkan dagunya di tengkuk sikut sang istri.
"Aku gak pernah mencintai El, aku udah bilang kan kalau Elshara yang suka sama aku dan membuat Dirta marah karena El deket sama aku,"katanya lagi mencoba meluruskan semuanya detik ini juga.
"Lalu sekarang bagaimana?"tanya Almira penasaran, dan akhirnya dia berputar menghadap pada sang suami.
"Kamu lihat perlakuan El sama kamu,"ucap Royyan mendongak menatapi sang istri lebih dalam lagi.
Wanita pemilik hidung lancip itu mengangguk, yang kemudian dia melingkari leher Royyan lagi dengan kedua tangannya.
"Dia masih saja menyukaiku, padahal aku sudah dengan tegas menolaknya. Aku bisa saja menjauhinya dan menyakitinya, tetapi aku gak tahu bagaimana dengan Dirta, aku takut Dirta menyakiti kamu,"terang Royyan yang kemudian wajahnya menjadi layu dan cahaya wajahnya seketika meredup.
"Aku mengerti, kamu gak perlu khawatir, lakukan apapun yang menurut kamu baik untuk kita,"sahut Almira sembari dia menangkup pipi Royyan dengan lembut.
__ADS_1
"Tunggu sebentar lagi ya ... kamu jangan ungkit masalah perceraian lagi, aku gak akan pernah mengabulkannya."Royyan menurunkan kedua tangan Almira dari pipinya, lalu memangku Almira untuk tertidur lagi di atas bantal yang sama.
Keduanya terbaring di waktu yang bersamaan menikmati bantal bersama, dekapan itu semakin lekat, terutama Royyan yang enggan untuk menjauhkan tangannya dari pinggang kecil sang istri.
"Kenapa kamu gak ngomong aja sih dari awal, bikin aku cemburuan kayak orang kagak waras tahu gak,"protes Almira tertidur di atas lengan Royyan yang mendekap punggungnya.
"Mager. Ngomong terus itu melelahkan, mending diem kan,"celetuknya.
Mendengar jawaban yang di luar nalar dari Royyan membuat Almira membulatkan bola matanya sembari dia mendongak dan menangkup pipi Royyan dan menekannya sampai bibir pria dengan rahang tegas itu berkerut.
"Hmmm ..."Royyan bergumam seraya dia menggelengkan kepalanya untuk meluruhkan kedua tangan Almira dari pipinya.
"Jawaban apa itu?"
"Udah ah capek, mau tidur."
Royyan menenggelamkan wajahnya di tengkuk Almira dan dia benar-benar memejamkan matanya terlelap, deru napas Royyan terbenam ke dalam pori-pori kecil leher Almira dan dekapannya pun perlahan melemah.
Hal itu membuat Almira membingkai senyum cerianya lebih lebar lagi di wajahnya yang berseri-seri, dia belai kepala Royyan dengan lembut seraya dia perlahan ikut terlelap bersama sang suami.
"Cepet banget tidurnya, nyaman banget kayaknya,"lirih Almira dalam keadaan setengah mengantuk.
Sepasang suami-istri itu akhirnya tertidur di ranjang yang sama dalam posisi saling memeluk satu sama lain, sama seperti yang pernah mereka lakukan di malam perayaan ulangtahun pernikahan dari Rian dan Rini.
Di tempat lain, Dirta dalam keadaan marah mendatangi Manda yang dia ketahui sebagai sahabat dari wanita yang sudah menyakiti wanita yang dia cinta, dengan mata yang memerah tersulut api kemarahan, dia menarik Manda dengan kasar sampai Van yang ada jauh dari Manda segera berlari untuk mendekatinya.
"Apaan sih lu, lu siapa sih? Datang-datang main narik orang aja, emangnya gue hewan, hewan aja gak pantas di perlakukan kayak gitu,"omel Manda seraya dia menarik tangannya yang dalam genggaman Dirta.
"Di mana temen lu itu, berani-beraninya dia nyakiti El,"tukas Dirta kembali mencengkeram tangan Manda.
"Rala? Ya salah sendiri ngapain mancing emosi sahabat gue, masih untung cewek lu itu cuman di tonjok, gak tahu aja Ra kalau marah bisa lebih brutal dari ini,"sergah Manda kembali menarik tangannya terlepas dari cengkeraman Dirta.
"Gak peduli! Siapa pun yang menyakiti El, dia akan mampus di tangan gue,"hardik Dirta dengan bola mata yang membuntang.
"Heh! Lu gila apa emang udah stress."Manda mendorong Dirta menjauh darinya, "gak ceweknya gak cowoknya sama aja, sama-sama kerasukan setan! Cocok banget ya kalian,"tambah Manda mencibir pria yang baru beberapa kali dia temui.
"Banyak bacot banget sih lu jadi cewek."Dirta melangkah untuk kembali mendekati Manda.
Wanita berambut sebahu itu nampak ketakutan, dia mundurkan langkahnya untuk menciptakan jarak dengan pria yang tengah menarik urat-urat kemarahannya, beruntungnya Van datang tepat waktu, top model itu berdiri tepat di depan Dirta menghalanginya untuk melanjutkan langkahnya.
"Lu lagi berhadapan sama cewek, yang gentle dong ..."papar Van mendorong Dirta menjauh darinya.
"Gak usah ikut campur,"tegas Dirta.
"Jelaslah gue harus ikut campur, yang memulai pertengkaran itu adalah Rala, dia datang-datang nyerang kak Ra karena kak Ra deket sama pak Royyan, dia terus menyebut dirinya adalah wanita yang dicintai pak Royyan, dia marah karena ada wanita lain yang juga dekat dengan pak Royyan, padahal dia gak melihat sedekat apa kak Ra dengan pak Royyan, tapi dia sudah marah-marah kayak kesetanan,"beber panjang Van.
Mendengar perkataan Van membuat Dirta menjadi termangu, deru kemarahannya perlahan mereda tak terlalu menggebu-gebu seperti tadi, dia merasa telah berulang kali tersakiti oleh kenyataan jika Elshara sangat mencintai Royyan. Sebutan sayatan mungkin sudah tak terlalu menyakitkan, walau darahnya berderai dengan deras pun tetap saja kalah dengan rasa sakit yang dia rasakan.
__ADS_1
Rasa perihnya sungguh menyesakkan. Tangan yang mengepal perlahan mereda, lalu dia berputar dan pergi dari sana. Mungkin tujuannya untuk kembali pada Elshara yang berada di salah satu rumah sakit yang ada di dekat hutan hijau itu dan tengah bersama manager dan pimpinan agensi tersebut.
NEXT ....