Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 30 : Siapa Rala?


__ADS_3

"Rala dari agensi Jakarta international model management,"tutur wanita berparas cantik itu.


"Baiklah nona, saya akan memberitahu pak Royyan terlebih dahulu, sesudah itu baru nona boleh menemuinya, mohon maaf. Karena pak Royyan menerapkan aturan seperti itu, yang bisa menemuinya tanpa janji hanya pihak keluarga,"jelas resepsionis tersebut seraya dia mengatupkan kedua tangannya di atas tepat di depan dadanya.


Wanita yang memiliki nama panggilan Rala itu mengangguk sambil dia melukis wajahnya dengan senyuman indah yang mampu menghipnotis semua orang yang melihat dirinya, gadis yang baru saja melepaskan semua benda-benda putih yang merupakan kain rumah sakit itu beberapa hari yang lalu. Rupanya dia sangat berbahagia bisa menampilkan wajah lama yang telah kembali padanya dengan sempurna.


"Oke. Kabari saya dengan segera, saya ingin bertemu dengannya secepatnya,"ucap gadis cantik bermata pipih itu seraya dia mengenakan kacamata hitam yang berukuran besar yang sempat dia lepas saat dia berbicara dengan wanita berpakaian rapi di hadapannya.


"Baik nona, terimakasih,"balasnya sopan masih mengatupkan kedua tangannya.


Gadis bermata pipih itu memutar langkahnya dan melenggang pergi keluar dari gedung perusahaan. Dia memasuki mobil berwarna putih yang memuat delapan orang, tetapi di dalam mobil itu hanya diisi dengan satu manager dan satu sopir, sedangkan gadis cantik itu masuk ke dalam mobil bagian belakang setelah di bukakan pintunya oleh sopir. Mobil itu melaju dan meninggalkan gedung perusahaan.


Tak lama dari perginya mobil putih itu, Royyan memasuki area parkiran gedung perusahaan miliknya, tanpa basa-basi Royyan dan Adrian keluar dari mobil dalam satu ketukan yang sama. Royyan berjalan di depan Adrian, melangkah dengan tegas memasuki gedung perusahaan yang nampak hening. Sepertinya para karyawan/i sudah mengetahui jika Royyan akan segera memasuki area gedung, semuanya tetap bekerja di kursinya masing-masing tetapi tanpa mengeluarkan suara.


Sifat Royyan yang tegas dan juga dingin membuat ketakutan tersendiri untuk semua karyawannya, sebenarnya Royyan tidak lah jahat ataupun kejam, dia hanya menyukai suasana yang sunyi dan jauh dari kebisingan hal-hal tidak penting selama dia bekerja. Namun, kemarahannya akan membuat seisi perusahaan menjadi beku seperti ditiup dewa es dari atas langit.


Resepsionis wanita yang berhadapan dengan gadis bermata pipih itu segera mengayuh langkahnya mendekati Royyan dan juga Adrian, dengan terbata-bata dia memijaki lantai berkeramik putih untuk sampai ke dekat Royyan dan Adrian yang terus berjalan tanpa mempedulikan sekitarnya.


"Ma-maaf pak Royyan,"sapanya terbata-bata seraya dia menundukkan wajahnya di samping Royyan.


Pria berwajah dingin itu menoleh dengan tatapan tajamnya yang khas, dia memutar tubuhnya sampai dia menghadapkan tubuh pada salah satu karyawannya itu. "Ada apa?"tanya Royyan seraya dia membenarkan jam tangan yang melingkari lengan kirinya tanpa menatap pada resepsionisnya.


"Beberapa waktu yang lalu ada seorang gadis cantik ingin menemui bapak"jelasnya dengan nada suara yang amat rendah.


Royyan berkerut. Angannya berkelana mencari dan menerka siapa gadis itu, rasanya dia tak membuat janji dengan siapapun. Lalu dia mendengus kecil dan mendongak pada resepsionisnya.


"Saya tidak memiliki janji dengan siapapun, jadi jangan biarkan dia masuk."Royyan mengabaikannya dan tidak memikirkan gadis itu lagi, segera dia melangkah untuk melanjutkan langkahnya tadi.


Sedang Adrian tetap mengekori Royyan di belakang. Belum habis Royyan meraba keramik ke lima, resepsionis itu kembali mengikutinya dan berbicara tiada henti untuk menyampaikan apa yang dia ketahui, "gadis itu seorang model dari agensi Jakarta international model management, namanya Rala,"jelasnya lagi.


Royyan kembai mengernyit, menatapi sang respsionis tak lama dari itu pandangannya beralih pada Adrian yang ada di belakangnya, bahkan dia memutar tubuhnya agar melihak sosok Adrian lebih jelas untuk menyampaikan keinginannya lewat sorot matanya yang langsung tembus ke mata bulat Adrian. Pria berambut mullet itu mematri tatapan Adrian.


Adrian terdiam. Mencoba membaca keinginan bos-nya dari tatapannya yang tajam. "Baik pak, saya akan cari tahu secepatnya,"papar Adrian dengan penuh keyakinan dan tubuhnya yang tegap.


Lantas Royyan pun dengan cepat menyeringai, menaikkan garis-garis wajahnya yang datar tadi, lalu dia melangkah lagi untuk melanjutkan langkahnya lagi yang sempat terhenti karena respsionisnya, dengan cepat Adrian pun segera mengikuti Royyan di belakangnya.


"Kamu memang pandai Yan, tanpa perlu menjelaskan dan kamu sudah mengerti apa yang saya maksud,"puji Royyan setelah dia mendekati lift yang ada di sebelah kiri dari pintu masuk.


"Terimakasih pak."Adrian tersipu, tetapi dia masih berusaha untuk tidak terlihat terbang karena secuil pujian Royyan, walau langka, akan tetapi dia harus tetap tegas dalam keadaan apapun.


Keduanya memasuki lift dan menekan tombol lima belas menuju ruangannya berada. Setelah beberapa menit berlalu, mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju. Lekas Royyan dan Adrian menghampiri ruangannya yang menyatu dalam satu pintu, Royyan masuk ke ruangannya dan mulai fokus dengan pekerjaannya begitupun dengan Adrian yang langsung bekerja dan juga mencari tahu tentang sosok Rala yang dimaksud resepsionis tadi.


Tiga jam lamanya Adrian menjelajahi sosial media dari berbagai macam aplikasi untuk melacak sosok Rala. Akhirnya dia menemukannya dari situs website resmi agensi tersebut dan nama Rala ada di nomor urut ke satu, hanya saja tidak ada foto wanita itu, hanya foto tubuhnya yang sempurna saja yang terpampang di website itu, sedang di nomor urut ke dua ada sosok yang akan dikenali Royyan, yaitu Manda, tetapi Adrian sama sekali tidak mengenalinya.


Sesungguhnya Adrian mengetahui tentang perseteruan antara Royyan dengan Dirta dan juga mengenai Elshara dia sangat mengetahui betul, karena semua apa yang dikerjakan Royyan selalu dia yang turun tangan untuk menjadi tangan dan kaki Royyan.

__ADS_1


"Permisi pak."Adrian mengetuk pintu Royyan dan dia enggan untuk membukanya sampai bos-nya itu mempersilakannya masuk.


"Masuk,"sahut Royyan yang terduduk di depan layar komputer seukuran televisi besar yang terpajang di depan ranjang di kamarnya.


Gegas Adrian masuk ke dalam ruangan Royyan seraya membawa ponsel pribadinya yang telah dia isi dengan data-data mengenai sosok Rala.


"Apa yang kamu dapat?"tanya Royyan yang tak mengubah posisinya.


"Baik pak. Nona Rala merupakan top 1 model dari agensi Jakarta international model management, dia adalah hidden model yang di katakan klien kita beberapa waktu lalu, nona Rala satu-satunya model yang menerima banyak job yang hanya menampilkan keindahan tubuhnya tanpa menampilkan wajahnya,"jelas Adrian panjang, tetapi dia belum menyelesaikan penjelasannya karena melihat Royyan mulai beranjak dari kursinya.


"Kenapa dia menyembunyikan wajahnya, bukahkah seorang model harus memiliki paras yang cantik,"tanya Royyan menghentikkan penjelasan Adrian, seraya dia beranjak dari kursi dan menghadap pada Adrian.


"Dari info yang saya dapat, jika nona Rala mengalami insiden kecelakaan besar sembilan tahun yang lalu dan nona Rala mengalami kecacatan pada wajahnya, karena keluarga yang merupakan bergerak di bidang fashion, nona Rala bisa masuk ke dunia model yang hanya menampilkan tubuhnya saja, dia masuk enam tahun terakhir selama enam tahun terakhir itu nona Rala menjalani operasi plastik untuk mengembalikan wajahnya seperti semula,"sambung Adrian seraya memberikan ponselnya pada Royyan.


Tak perlu menunggu lama, Royyan segera menyambar ponsel Adrian dan dia lihat apa saja yang ada di dalam ponsel tersebut. Dengan bola mata yang menyipit dan dahi yang berkerut Royyan nanapi lekukan tubuh yang merupakan sosok Rala itu dengan serius. "Insiden apa?"tanya Royyan mulai penasaran. Batinnya langsung mengatakan jika Rala adalah sosok Elshara yang tenggelam sembilan tahun lalu dan tidak ada yang bisa menemukan jasadnya.


"Saya tidak menemukan kecelakaan seperti apa itu pak,"sahut Adrian tegas.


Elshara? Tapi ... tubuhnya benar-benar mirip dengan El, gak mungkin El kan? Sembilan tahun itu waktu yang lama, apakah mungkin itu terjadi? Rala? Elshara? Sungguh nama yang sangat mirip.


Batin Royyan sangat meyakini jika Rala adalah sosok Elshara. Namun, jauh di dalam lumbung hatinya sebuah fakta tentang kematian Elshara yang telah ditetapkan kembali menyambar dan menyadarkannya.


Pria berambut mullet itu segera menyugar wajahnya lembut, tanpa sengaja dia menggeser layar ponsel dan memunculkan sebuah foto wanita cantik berambut sebahu yang sangat dia kenali, walau dia tak pernah saling bertukar cerita dengannya, tetapi Royyan cukup mengenali sosoknya.


Royyan memberikan ponsel kembali pada Adrian, lantas dia berjalan ke arah kursinya untuk mengambil jas berwarna coklat tortilla yang menggantung dengan lemah di kursi itu, segera dia pakai seraya melenggang keluar dari ruangannya. Adrian yang nampak kebingungan tetap mengekori Royyan di belakangnya seraya menutupi pintu ruangannya dengan rapat.


"Bapak mau pergi kemana? Biar saya siapkan mobil,"tanya Adrian tetap mengekori Royyan yang terus berjalan dengan tegas tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Pria yang baru selesai merapikan penampilannya lekas menoleh pada Adrian yang kini ikut berhenti saat Royyan menghentikkan langkahnya di depan lift terdekat dari ruangannya.


"Saya mau ke butik istri saya, disana ada salah satu model dari agensi itu, saya akan mencari tahunya sendiri, dan kamu ... handle perusahaan sampai saya balik lagi,"papar Royyan tegas sambil dia menekan tombol yang ada di samping lift.


"Baiklah pak, kabari saya jika bapak butuh bantuan,"balas Adrian seraya membungkukkan kepalanya dengan sopan.


...***...


Royyan tiba di depan butik Almira tanpa seorang sopir. Sebelum masuk ke dalam butik Royyan sempat bertukar mata dengan beberapa orang suruhannya yang bertugas untuk memantau kegiatan Almira selama diluar rumah. Setelahnya barulah dia melangkah masuk ke dalam butik dengan penyamaran lengkap. Dia melepaskan jam tangan dan juga jasnya, bahkan dia memakai kacamata hitam, masker hitam dan topi yang berwarna tortilla seperti jas dan celana yang dia pakai.


"Selamat datang tuan? Ada yang bisa saya bantu?"tanya seorang karyawati yang menyambut kedatangan Royyan.


"Saya ingin bertemu dengan Ra,"jawab Royyan, sebelumnya Royyan tak pernah menggunakan nama Ra, tetapi berhubung diluar rumah maka terpaksa dia menggunakan kata panggilan itu.


"Oh mohon maaf tuan, jika belum ada janji a---"sahutnya yang segera terpotong oleh Sara yang merupakan orang kepercayaan Almira.


Sara menepuk pundak wanita yang menghadapi Royyan, dan melayangkan tangannya berayun-ayun di udara, memintanya untuk pergi dari sana. Wanita itu segera bergegas untuk enyah dari hadapan Royyan. "Maaf tuan, dia tidak tahu soal anda. Mari saya antarkan pada kak Ra,"kata Sara seraya menjulurkan tangannya ke arah ruangan Almira berada dan mempersilakan Royyan untuk berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


Royyan melenggang mengikuti interupsi dari Sara.


Tiba di depan pintu ruangan Almira, Sara segera membukanya dan Royyan masuk ke dalamnya, lalu Sara segera menutup pintu itu kembali dengan rapat, dan dia bergegas untuk menyingkir dari depan pintu takut lancang mendengarkan perbincangan kedua orang itu di dalam ruangan yang dilengkapi dengan kedap suara. Walau iya ruangan Almira dilindungi dengan kedap suara, tetapi rasanya masih saja Sara merasa kurang sopan.


"Jangan sering kesini, nanti ketahuan media dan semua rencana persembunyian kamu akan terbongkar dengan cepat,"celetuk Almira tanpa menoleh dan dia terus fokus dengan manik-manik yang menempel di sebuah gaun berwarna merah merekah di hadapannya.


Deg!


Royyan terperanjat. Bagaimana bisa Almira tahu jika yang datang adalah dirinya bukan oranglain? Darimana Almira bisa mengetahuinya? Sedangkan wanita yang mengikat rambutnya menyerupai kuncir kuda itu tidak menoleh sama sekali, matanya terus terfokus dengan gaun merah itu. Perlahan Royyan mendekati sang istri seraya dia memasukkan kedua lengannya ke saku celana.


"Belakang kepala kamu punya mata?"tanya Royyan sesaat dia sudah berada di samping Almira.


"Maksudnya? Mana ada belakang kepala punya mata, jangan mulai membicarakan hal aneh deh, ini bukan di rumah?"sahut Almira dengan posisi yang sama, kali ini dia mulai menjahit beberapa bagian manik-manik yang menurutnya kurang sempurna.


"Kok tahu aku yang datang?"


"Parfume kamu lah, apalagi coba sama langkah kaki kamu, aku udah kenal."


Hah?! Ini cewek cenayang atau apa sih, masa iya cuman dari suara langkah kaki bisa tahu orangnya siapa yang datang.


"Aku mau ngomong sama kamu,"ucap Royyan yang segera menepis semua ocehan batinnya.


"Ngomong apaan?"sahut Almira tetap enggan untuk menoleh dari pekerjaannya.


Almira berjalan ke belakang gaun yang sedang membaluti mannequin yang menyerupai tubuh manusia lengkap, dia membungkuk untuk memeriksa apakah bagian belakang sudah sempurna ataukah tidak, dan Royyan mengekori istrinya di belakang seraya dia menggendong kedua tangannya di belakang.


"Temen kamu namanya Manda itu model bukan?"tanya Royyan tanpa basa-basi lagi.


Mendengar nama Manda keluar dari mulut suaminya Almira segera menghentikkan pekerjaannya dan segera berdiri dengan tegak, lalu menoleh dengan dahi yang sedikit keheranan. Ada urusan apa Royyan mempertanyakan soal sahabatnya itu? Apakah ada urusan bisnis? Atau hubungan yang dia tidak ketahui? Kira-kira seperti itulah pertanyaan yang ada di dalam benak Almira.


"Kenapa tiba-tiba nanyain soal Manda? Kamu ada urusan apa sama Manda?"tanya Almira mematri tatapan Royyan.


"Aku mau nanya suatu hal sama dia, kali aja dia tahu karena satu agensi dengan wanita yan bernama Rala,"jelas Royyan seraya berayun ke kursi Almira dan dia duduk di atas kursi putar itu.


Netra Almira terus mengekori kemanapun Royyan melangkah, menatapi Royyan yang kini bersandar di kursinya seraya dia terus berputar-putar di atas kursi. Lalu Almira mulai melangkah untuk mendekati Royyan.


"Rala? Siapa itu? Tumben kamu ngomongin cewek, biasanya juga enggak."Ada getaran menyakitkan di hati Almira, walau wajahnya tidak menampakan apapun, hanya wajah datar yang tidak menampilkan kemarahan ataupun kecemburuan, tetapi rasanya hatinya merasakan sedikit perih.


"Tadi pagi ada wanita yang ingin menemuiku namanya Rala, dan kebetulan dia satu agensi dengan Manda temen kamu itu,"beber Royyan santai.


Lega. Entah kenapa hatinya terasa lebih lapang, punggung yang tadi sempat tegang akhirnya bisa lebih lentur, lantas Almira mengangguk, dia baru mengerti apa yang di maksud oleh suaminya itu.


"Sekarang dia udah pulang ke studio. Mau nanya apa emangnya? Nanti aku yang tanyain aja sama dia."


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2