
Bangunan megah yang beberapa waktu lalu dilanda sepi kembali disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan, semua pelayan sangat antusias mempersiapkan penyambutan kepulangan Royyan dan Almira kembali ke rumah, tapi kini kedua pemilik rumah itu tidak datang sendirian, mereka datang dengan Rian, Rini, Ressa, Miranda, Anneu dan suami, serta Ajun dan Manda.
Ini kali pertama rumah sunyi itu mendapatkan hal ramai, satu tahun lebih rumah itu tidak di perbolehkan adanya kebisingan, semua pelayan sudah terbiasa dengan suasana hening dan tidak nampaknya keramaian yang sering dilakukan para orang kalangan atas, sering mengadakan pesta untuk menghabiskan uang mereka.
Berbeda dengan Royyan yang lebih menyukai susana hening, tapi kali ini lelaki itu tak bisa mengelak lagi, terpaksa rumahnya harus dia pakai untuk mengadakan pesta kecil setelah pernikahannya terburai ke hadapan umum. Hanya saja Royyan masih belum mempercayai Dirta sepenuhnya, sehingga dia melewati Dirta dalam acara pesta kecil ini.
Almira menarik Manda ke lantai empat, lantai teratas di rumahnya. Gadis itu tak sabar menunjukkan atap rumah besar itu yang selalu menjadi tempat favoritnya, sebuah taman kecil yang penuh dengan tanaman-tanaman kesukaannya yang di rawat dengan baik oleh para pelayannya.
"Tadaaa ...."seru Almira membuka pintu yang menyambungkannya dengan atap hijau dengan warna-warni bunga-bunga yang tumbuh segar.
Pintu itu terbuka, perlahan netra Manda menyelinap masuk ke dalam keindahan yang tersorot langsung oleh sinar matahari, dengan gerakan lambat keduanya menyambangi suasana hijau yang menyegarkan itu, bergerak ke sebuah kursi dengan meja bundar di depannya, sedang di atas di tutupi oleh payung dengan warna pelangi.
"Wow! Gila! Ini sih impian lu banget Ra, si pecinta mawar memiliki taman bunga mawar sendiri,"puji Manda pada pemandangan indah yang sedang memanjakannya.
Tawa kecil Almira mencuat ke permukaan, kedua tangan yang semula terlipat di depan mengendur ke bawah menjadi terjuntai dengan pasrah, membiarkan para pawana berkelintaran meniup sehingga bergerak ke depan dan ke belakang.
"Karena awalnya gue nikah sama kak Royyan itu karena perjodohan, jadi dia memberikan apa yang membuat gue nyaman selama ada di rumah dan pada awalnya kak Royyan itu jarang ada di rumah, jadi rumah sebesar ini cuman gue yang menikmatinya,"jelas Almira pada Manda seraya dia mengendurkan bokongnya dan terduduk di salah satu kursi berwarna hitam.
Gadis bermata almond itu mengikuti pergerakkan sahabatnya untuk duduk di sampingnya, "jadi Royyan menyediakan semua fasilitas untuk keperluan lu?"tanya Manda dengan bola mata yang sedikit melebar.
"Iya, dari mulai mobil, keperluan gue, sampai pelayan pribadi,"balas Almira menyandarkan punggungnya pada kursi yang sedang dia duduki.
"Wah ... sumpah gue iri sama elo, kalau di jodohin sama cowok yang perlakuannya kayak Royyan, gue juga mau Ra, lu beruntung bisa dapetin Royyan, eh tapi ..."gadis itu tak henti-hentinya memuji. "Royyan emang suka sama lu Ra, lu inget kan waktu itu gue pernah bilang kalau Royyan pernah ngasih gue coklat karena sebenarnya coklat itu buat lu Ra, cuman saat itu lu kan udah pindah ke Paris,"lanjut Manda mengungkit sesuatu yang pernah dia lontarkan pada sahabatnya itu.
Almira terdiam. Menunggu pikirannya merangkai ingatan yang berceceran di kotak ingatannya, dia menganjur ke depan menopang dagunya dengan satu tangan, "hmm ...."gumamnya seraya melemparkan helaan napasnya. "Oh yang waktu di mall itu,"serunya kemudian melesatkan tatapannya jauh pada langit yang terbentang luas.
"Iya yang waktu itu gue bilang,"timpal Manda membenarkan ingatan Almira.
"Kak Royyan juga udah sering bilang kalau dia nikah sama gue bukan karena perjodohan, tapi karena dia suka sama gue dari sejak kita ketemu di masa lalu, ya gue gak percaya lah, lu tahu kan mukanya datar banget mana tatapannya tajam kek mau nerkam orang,"ucap Almira menyugar sebagian rambutnya ke belakang.
"Lu ya, itu suami lu."Manda mendorong punggung Almira dengan lembut.
Lantas gadis bermata kucing itu tertawa kecil menarik kembali tubuhnya ke belakang untuk kembali bersandar pada kursi hitam yang sedang dia duduki. Selang beberapa detik kemudian, wajahnya membiaskan sebuah cahaya yang berkilauan, warna merah muda dengan cepat menyebar ke setiap garis-garis yang ada di wajah wanita itu, dia tangkup kedua pipinya dengan tangan mungilnya itu.
Di lantai dua, Royyan membawa Ajun untuk pertama kalinya mengelilingi rumah yang menjadi impiannya dahulu, angan kedua lelaki itu dengan cepat melesat pada sebuah waktu yang pernah mereka ukir bersama tanpa kehadiran Dirta karena saat itu pria berambut wavy gelombang itu sedang mengejar nilai pelajaran yang tertinggal. Berbeda dengan Ajun dan Royyan yang segera lulus dalam mata pelajaran tersebut.
Ada satu waktu dimana Royyan dengan komputer berlayar lebar bak televisi tipis, sebuah komputer yang di khususkan untuknya merancang bangunan, di dalam sebuah ruangan yang ada di dalam rumah Rian dan Rini, sebuah tempat rahasia yang di temukan oleh Royyan saat masih menduduki bangku SMA, dari sana lah dia mulai memikirkan bagaimana rumah impiannya saat menikah nanti.
Saat Ajun berkunjung ke rumah besar hari ini ingatannya mengenai rumah impian yang pernah dibicarakan Royyan seketika masuk menguak semua ingatan yang dimiliki oleh Ajun, matanya tak henti mengedar ke setiap penjuru ruangan yang ada dalam rumah dengan empat lantai itu lengkap dengan lift yang membantu semua orang yang ada dalam rumah itu untuk beraktifitas dengan lancar, terutama para pelayan yang diharuskan turun naik demi menjaga rumah itu tetap dalam keadaan bersih dan rapi.
Seraya melangkah netra Ajun tak pernah berhenti memuji betapa luar biasanya rancangan rumah itu, dari area pekarangan depan rumah, pagar yang menjulang tinggi sampai setiap ruangan yang ada di dalam rumah megah itu pun nampak sempurna. Ajun tak berhenti memutar bola mata dan tubuhnya karena tak ingin melewatkan satu detik pun untuk merekam betapa luar biasanya rumah megah itu.
"Ini rumah impian lu kan Yan, gua inget banget waktu itu elu masih merancang rumah ini, sekarang bangunan yang sekedar gambar waktu itu udah jadi nyata, keren lu,"puji Ajun mengedarkan netranya ke arah lain.
__ADS_1
Langkah kedua lelaki itu mengarah pada sebuah pintu kaca yang lebar, kaca yang tidak bisa menerawang apapun yang ada di dalam dari bagian luar, kaca bening yang memantulkan keadaan yang ada di depannya, Royyan buka pintu kaca itu.
"Woaaah ...."seru Ajun penuh antusias saat melihat alat-alat yang biasanya ada di tempat Gym itu sekarang berada di depan matanya.
Pria itu berjalan dengan wajah yang masih terpukau, kakinya melangkah ke setiap alat yang berdiri di dalam ruangan itu dengan rapi, satu persatu dia sentuh alat-alat gym itu dengan wajah bahagianya, senyumannya merekah bak kuncup bunga yang baru mekar.
"Pantesan lu gak pernah ke gym lagi, ternyata ada di rumah lu sendiri, bisa lah gue main ke rumah lu terus nih,"goda Ajun seraya dia naik ke atas treadmill dan mengatur kecepatan alat tersebut, perlahan dia menyelaraskan kecepatan alat itu dengan pergerakkan kakinya.
"Gak. Lu ganggu,"balas Royyan melipat kedua tangannya di depan.
"Dih ... gitu lo ya sekarang, mentang-mentang udah ...."jawab Ajun ketus yang kemudian tersenyum-senyum, seolah dia mengetahui apa yang telah di lakukan sahabatnya itu dengan Almira, dia kibaskan rambutnya yang menjuntai di depannya ke atas, "udah bisa kan lu sekarang?"tanya Ajun kemudian mengarah pada hal yang seharusnya Royyan mengetahuinya.
Degh!
Wajah datar yang bertengger dalam diri Royyan seketika menegang, bola matanya berkelintaran dengan ganas, memburu perapian tatapan Ajun yang memojokkannya, pria kekar itu tak bisa lagi mengelak dari dugaan sahabatnya.
Pria bermata kecil itu mendengkus yang kemudian senyumannya menyungging sambil dia memalingkan wajahnya dari tatapan Ajun, kakinya melangkah ke alat gym yang bernama smith machine, lantas dia duduk di hadapan mesin yang sudah di atur beratnya sesuai kemampuannya, di detik kemudian dia mulai menggunakan alat tersebut dengan tenang.
"Lu sendiri udah pernah kan?"celetuk Royyan kembali menggoda Ajun.
Sontak, pria yang berjalan santai di atas treadmill itu terlonjak kaget sehingga dia terhenti dan terlempar ke belakang dan turun dari alat tersebut, "wah gila lu!"rajuk Ajun tak terima di sangka seperti itu, kakinya bergerak mendekati Royyan yang sedang menggunakan mesin itu.
"Muka polos begini lu katain pernah melakukan hal itu tanpa ikatan pernikahan, sialan lu!"protes Ajun menampar punggung Royyan.
"Kagak gila! Gue punya cewek aja kagak, deketin cewek juga enggak, terus sama siapa gue melakukannya,"elak Ajun.
"Jadi kalau ada ceweknya, lu mau,"paparnya mencebik.
"Ya enggak begitu juga astaga ... anak orang udah di jagain sama nyokap bokapnya dengan baik ya masa gue rusak, dosa lu ...."jawab Ajun, wajahnya memerah.
"Lu masih bisa berpikir sehat ternyata,"celetuknya lagi.
"****** lu, sama temen sendiri kagak ada baik-baiknya lu."
Tanpa menjawab lagi, Royyan melenggang dari ruangan itu keluar dan Ajun mengekori Royyan di belakang, pria berambut mullet itu meraba keramik-keramik seraya mengedarkan pandangannya melesat jauh pada lift yang ada di belakang. Jiwanya merasakan aroma hangat nan manis itu mendekat, wajah cantik yang selalu dia rindukan seolah mendekat padanya.
Langkahnya terhenti dengan netra yang terkunci pada pintu lift yang masih tertutup, dia memeluk tangannya sendiri, perlahan bibirnya menaik, dalam bayangannya wanita bertubuh mungil itu berada di sana tengah tertawa merangkai langkah berlari padanya.
Ajun yang berada di belakangnya lantas menggaruk lehernya yang tidak merasakan gatal itu, tubuhnya miring ke samping untuk melihat Royyan lebih jelas lagi, wajahnya kebingungan, pikirannya melambung mencoba meraba apa yang sedang dirangkai angan sahabatnya itu.
Pria itu mendorong Royyan pelan, tetapi Royyan sama sekali tidak gentar, dia tetap berdiri dengan tegak dan langkah sorot matanya pun tak berubah dari sana, "lu ngapain berhenti di sini, mau makan nih gue laper,"tanya Ajun.
"Lu duluan aja,"jawab Royyan datar.
__ADS_1
"Hah?!"bibir atas kanannya menaik bingung, "lu nungguin siapa? Bini lu? Lu tahu dari mana dia bakalan keluar dari sana,"sambung Ajun memindahkan posisinya menjadi di samping kiri Royyan.
Belum kering mulut Ajun berbuih, pintu lift itu perlahan terbuka dan dua gadis cantik keluar dari sana sembari tertawa dan tangan Almira melingkar di tangan Manda, sepertinya kedua gadis itu menemukan hal yang amat lucu di atap, sehingga tawa mereka menggema sampai ke lantai dua.
"What?! "seru Ajun melangkah ke depan melebihi langkah Royyan, dia kucek matanya, rupanya pria itu nampak tidak percaya bahwa Almira dan Manda benar-benar keluar dari lift itu, sedangkan dalam rumah itu ada dua lift yang berfungsi. "K-kok bisa sih."Ajun putar kepalanya pada Royyan yang ada di belakang, "lu cenayang?"celetuknya asal.
Wajah Royyan tertoleh seraya memicing, "lu gila? Cenayang apaan gue,"balas Royyan melunturkan tangannya yang terlipat melempai ke bawah.
"Nah itu,"tunjuk Ajun pada kedua gadis yang sudah menghentikan tawanya mendekat padanya dan Royyan, "lu tahu mereka keluar dari sana,"sambungnya bergantian menatapi Almira, Manda.
"Feeling."
"Hah?!"seru Ajun tak habis pikir dengan jawaban dari sahabatnya itu.
Kedua gadis itu tiba di dekat kedua pria yang sedari tadi terdiam di sana, Almira dan Manda ikut menghentikan langkahnya, menatapi Royyan dan Ajun bergantian, lalu mempertemukan kedua bola mata mereka dalam satu detik yang sama.
"Kalian kenapa sih?"tanya Manda menatapi Royyan dan Ajun bergantian.
Ajun menoleh, "nih ada cenayang,"tunjuknya pada Royyan.
"Hah?!"seru Manda dan Almira serempak.
"Ngaco,"timpal Royyan menarik tangannya kembali terlipat ke atas.
Tawa Ajun menyebar ke seluruh wajah tampannya, membuat Almira dan Manda kebingungan, wajah kedua gadis itu berkerut di waktu yang sama, bahkan mereka menaikkan satu sudut bibirnya di waktu yang sama pula.
"Ah udahlah ayo,"ajak Ajun seraya menarik tangan Manda pergi bersamanya.
"E-e-eh ... apa-apaan nih narik tangan gue,"protes Manda, terpaksa melangkahkan kakinya mengikuti kecepatan langkah Ajun.
Meninggalkan Royyan yang bersama Almira. Beberapa detik kemudian tepat setelah Ajun dan Manda menuruni tangga menuju lantai satu, gadis bermata kucing itu melangkah mendahului sang suami, dalam detik yang sama Royyan lingkarkan tangan panjang nan kekarnya itu di pinggang ramping Almira.
"Aakh ..."
Tak sengaja Almira berteriak karena dia terkejut sampai dia menutupi mulutnya agar menghentikan teriakannya, kakinya menggantung dan berayun-ayun, lantas dia tolehkan wajahnya untuk melihat sang suami yang ada di belakangnya, tak segan dia luncurkan satu pukulan keras di tangan kekar Royyan.
"Ih kamu ngagetin aja, apa sih? Itu di bawah udah banyak yang nungguin kamu juga, udah ayo turunin aku,"protes Almira turun dari dekapan sang suami.
"Aku kangen,"lirih Royyan mendekatkan wajahnya ke dekat hidung sang istri, dengan sigap dia kecup hidung sang istri sehingga gadis itu mengerjap kaget.
Almira telan ludahnya dengan kasar, rasa jantung membara itu masih saja terasa kuat, walau Royyan sudah melakukannya lebih dari satu kali, tetap saja Almira masih merasakan grogi yang tak terkendali.
NEXT ....
__ADS_1