Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 54 : Acara Camp


__ADS_3

Gadis berambut sebahu itu masih terdiam sembari memperhatikan ponselnya yang tergeletak di atas meja, notifikasi yang masuk masih terus silih berganti bertandang dan belum ingin berhenti.


"Woii! Gue bukan buronan anjirr,"sentak Manda yang menaikkan kedua kakinya ke atas lalu dia dekap dengan menatap ponsel yang terus mengoceh dan dahi yang berkerut.


Almira yang berada di belakang Manda lekas tertawa lepas sampai dia mencondongkan tubuhnya ke depan karena tak bisa lagi menahan tawanya yang ingin segera termuntahkan, Manda menoleh dengan kerutan wajah yang semakin dalam lalu dia layangkan pukulan lembut di pinggang sang sahabat.


"Puas lo ngetawain gue,"rajuk Manda.


"Tuh udah berhenti, mending lu telepon manager lu dan minta jemput lu di sini,"saran Almira yang masih menyimpan senyumnya di wajah lembutnya.


Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Almira, dia harus segera kembali ke acara, sudah cukup dia membuat semua orang panik dan juga khawatir, walau bukan mengkhawatirkan keselamatannya melainkan karena pekerjaan Manda dan untuk menyelamatkan acara summer camp dan mengembalikan sponsor yang sempat ingin mengundurkan diri jika Manda tidak kembali dengan cepat.


Begitulah kiranya isi pikiran Manda, dia berdiri dari kursinya dan melakukan panggilan telepon dengan managernya yang sudah menjadi bulan-bulanan pimpinan agensinya untuk membawa Manda kembali, dan pria paruh baya itu tidak lagi memaksa Manda untuk meninggalkan posisinya hanya karena permintaan Rala.


"Manda ... ya ampun gila lu ya, lu kalau mau balas dendam ngomong sama gue, jangan kayak gini, gue habis di marah-marahin sama si setengah botak tahu gak,"omel sang manager di balik ponsel Manda dengan nada suara yang sangat pelan, dan sepertinya dia berlari menjauh dari semua orang yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


"Sorry ayangku ... ya lagian tuh si kepala setengah botak bikin jengkel aja, giliran gue takut sama balon waktu itu di suruh profesional, katanya harus lawan rasa trauma, lah giliran anak kesayangan, maklumin ya ... yaudah gue sekalian bikin ulah biar tahu rasa tuh pak tua,"gerutu Manda seraya dia melipat satu tangannya di depan dan satu tangannya yang lain dia tumpangkan di tangan yang terlipat itu seraya menggenggam ponsel di dekat telinga.


"Iya gue juga kesel banget, cuman karena si Rala anak pemilik saham terbesar di agensi jadi meremehkan anak yang lain, udahlah sekarang lu ada di mana? Ada tiga sponsor yang mengundurkan diri, tapi pimpinan penyelenggara lagi berusaha membujuk mereka lagi,"timpal sang manager itu.


"Gue sharelock, bawain baju dan perlengkapan gue ya ayangku ... dan jangan sampai ada yang tahu kalau gue disini, awas lu ya ...."


"Siap bu bos, gue susul lu sekarang."


"Hmm ...."


Udara di luar sana sudah menguap ke langit dan menyatu dengan lautan angkasa yang menyebarkan warna birunya yang memukau, dengan lukisan awan-awan putih selembut sutra, manager wanita Manda sudah tiba di gedung hotel di mana Manda dan Almira menginap, baru saja lima menit dia tiba di lobi wanita yang mengikat rambutnya menyerupai kuncir kuda itu segera mengayuh langkahnya memasuki lift.


Lift itu naik dengan cepat ke lantai 19, dan dia segera mencari kamar dengan nomor 2034 lalu dia tekan bel yang ada di samping pintu berwarna coklat yang mengkilap itu, tak lama Manda membukakan pintunya dan membawa sang manager masuk ke dalamnya dan mereka duduk di sofa yang tersedia di sana.


"Lu mau balik kerja lagi atau beneran serius mau out dari acara,"tanya sang manager dengan perasaan cemas, dia takut jika apa yang dikatakan Manda adalah sebuah kenyataan.


"Kalau gue bisa balik sih ya gue bakalan balik,"sahut Manda seraya dia membongkar tas besar yang di bawa oleh managernya.


"Semuanya juga mau elu balik lagi Man, tapi si setengah botak kayaknya ketakutan karena gak bisa menuhi keinginan tuan putrinya."


"Gue gak bakalan balik kalau si botak itu gak mohon-mohon ke gue,"ujar Manda tersenyum sinis.


"Pastinya dia minta lu balik, dia dari kemarin udah di bentak-bentak sama pimpinan penyelenggara, kalau lu gak kembali maka kontraknya dengan agensi akan di putuskan."


"Baguslah, gue mau mandi ya."Manda beranjak dari kursi seraya membawa beberapa helai pakaiannya berayun mendekati pintu kamar mandi.


Sedang, di dalam Almira masih saja belum selesai dengan acara mandinya, sudah lebih dari tiga puluh menit wanita bertubuh mungil itu tenggelam di kamar mandi, lekas Manda mengetuk pintu kamar mandi dan menggemakan pantulan suaranya menyelinap masuk ke dalam telinga Almira yang baru selesai mengganti pakaiannya.


"Ra ... lu mandi apa semedi sih lama banget,"seru Manda berdiri di depan pintu.


"Gue lagi tapa dulu bentar,"sahut Almira sengaja bergurau.

__ADS_1


"Heh! Jangan aneh-aneh lu, gue telepon suami lu ya biar jemput bininya sudah kehilangan akal."Manda terus mengedor pintu itu.


"Kayak yang tahu aja lu suami gue siapa."


Manda terdiam, dia putarkan kedua bola matanya sembari dia mengacak-acak benaknya, "eh iya, tuh anak kan gak pernah nyebutin siapa suaminya."


Tiba-tiba pintu kamar hotel mereka memantulkan sebuah ketukan kuat, sang manager yang tengah duduk sembari memeriksa ponselnya segera beranjak dari kursi dan mendekat pada pintu kamar lalu membukakannya.


"Selamat pagi, ada apa ya?"tanya sang manager itu pada sosok pria bertubuh tinggi itu.


"Selamat pagi, saya mencari nona Ra?"ucap Adrian seraya dia membawa sebuah bingkisan yang berisikan sarapan pagi untuk Almira.


"Oh Ra ya, bentar ya Ra lagi mandi dulu,"sahut sang manager, kemudian dia kembali ke dalam dengan keadaan pintu masih terbuka.


Tak lama dari itu Almira bergegas keluar menemui Adrian, "ada apa Rian?"tanya Almira sesaat setelah dia tiba di hadapan Adrian.


"Ini nona dari pak Royyan,"ungkapnya memberikan sebuah bingkisan itu.


Wanita berambut coklat keemasan itu tak langsung mengambilnya, dia menatapi bingkisan itu dengan dalam, bergantian dia menatapi Adrian, dan setelah dia puas memandangi bingkisan itu barulah dia berani mengambilnya dari Adrian.


"Terima kasih,"ucapnya lirih masih dalam rasa bingung.


"Iya nona, saya pamit dulu."Adrian segera melangkah pergi dari hadapan Almira.


Kaki itu bergerak mundur dan kembali ke dalam kamar dan pintu tertutup dengan rapat. Lalu dia duduk di sofa depan manager dari sahabatnya itu, kemudian dia bongkar bingkisan itu yang ternyata berisikan jus strawberry yang di campur dengan susu creamy yang manis dan menyegarkan, sandwich daging dengan keju dan sekotak sushi yang sangat disukai oleh Almira.


"Yang nganterin sih Adrian, katanya dari kak Royyan,"jawab Almira seraya dia menyeruput jus strawberry-nya.


Manda kembali berkerut dengan iringan senyuman mengintimidasi, kali ini dia benar-benar sangat yakin, jika Almira dan Royyan bukanlah dua insan yang saling mengenal, tetapi ada sebuah hubungan yang terikat dengan keduanya.


"Nah kan ... gue bilang juga si cowok kebab itu suka sama elu, kalau enggak ngapain dia repot-repot ngasih lu sarapan,"tebak Manda seraya dia melempar tubuhnya di sofa dekat dengan Almira.


"Gak usah sok tahu, udah nih makan,"tepis Almira berusaha untuk menghindari pertanyaan yang menyangkut dirinya dengan Royyan, sembari dia mengambil sumpit dan mengapit sepotong sushi dan dia masukkan ke dalam mulut Manda.


"Hmm ..."mulutnya penuh dengan sepotong sushi yang memang ukurannya cukup besar.


...***...


Di hutan rindang dengan warna hijau yang memukau, seluruh staff sudah bersiap memasang kamera di setiap sudut dari hutan itu, di tengah-tengah hutan telah berdiri dua puluh tenda dengan berbagai warna yang cantik, warna tenda di sesuaikan dengan warna kesukaan dari para model tersebut lengkap dengan namanya masing-masing, termasuk milik Manda.


Satu hari penuh Manda melewatkan shooting, begitupun dengan Van yang juga melewatkan shootingnya, karena Van dan Manda memang dijadikan sepasang kekasih dalam acara ini, begitupun dengan Rala yang disandingkan dengan salah satu model pria lainnya dan para model lainnya juga sudah di pasangkan oleh naskah dari penulis.


Pimpinan penyelenggara dan pimpinan agensi berdiri di depan salah satu kameramen utama yang ada di tengah-tengah yang bertugas untuk mengabadikan keseluruhannya.


"Gimana? Manda sudah bisa di temukan?"tanya pimpinan penyelenggara itu.


"Kami sudah berusaha menemukannya, tetapi jejak Manda sulit untuk di lacak, bahkan managernya pun sekarang ikut menghilang, bersamaan dengan nona Ra yang juga sama menghilang,"jelas pimpinan agensi.

__ADS_1


Pria paruh baya yang menjadi direktur utama dalam acara ini menoleh dengan kasar dan menatapi dengan dalam wajah kliennya, dia berkerut dan bibir yang terdiam. Pelan-pelan dia berpikir kembali, ada hubungan apa Manda dan Almira yang dia ketahui jika Almira adalah putri tunggal dari pemilik perusahaan Remira fashion.


"Ada hubungan apa Manda dengan nona Ra?"tanya pimpinan penyelenggara itu dengan serius.


"Oh itu kata manager Manda, mereka bersahabat sudah dari sejak bangku SMP, mungkin mereka sekarang lagi bersama,"sahutnya tenang.


Ketenangan itu hanya milik pimpinan agensi, tidak dengan pimpinan penyelenggara, setelah mendengar jawaban dari kliennya, lekas dia membeliak dan deru napas yang tersendat.


"Anda tahu siapa nona Ra? Desainer muda itu bernama Almira Miara Tisya, dan dia adalah putri tunggal dari pasangan pengusaha fashion Ressa dan Miranda yaitu pemilik perusahaan fashion nomor satu di negara ini Remira Fashion, bagaimana anda meremehkan Manda?"bebernya dengan tegas seraya dia berkacak pinggang. "Pantas saja perusahaan itu mencabut dananya."


"Apa?! Saya tidak mengetahuinya, bagaimana bisa perusahaan nomor satu itu menyembunyikan putri tunggalnya?"


"Nona Ra memang mandiri, dia tidak bergantung pada kedua orangtuanya, dia sekolah di luar negeri dan membangun bisnisnya sendiri tanpa bayang-bayang kedua orangtuanya, dia membangun butiknya sendiri. Memang banyak yang tidak mengetahui sosok Almira Miara Tisya kecuali yang sudah dekat dengan perusahaan Remira fashion."


"Itu artinya perusahaan keluarga Rala masih di bawah perusahan Remira?"tanyanya ingin meyakinkan.


"Iya."pria berambut klimis itu mengangguk.


Pria berambut tipis itu segera mengangguk, seolah-olah dia mendapatkan celah untuk lepas dari jeratan keluarga Rala yang selalu memaksanya melakukan suatu hal yang membuatnya mengabaikan bakat anak didiknya yang lain.


Di sudut lain Elshara yang tak mengenal jera mencoba sekali lagi memberikan sebuah kotak yang terbuat dari mika kualitas tinggi pada Royyan yang sedang memeriksa grafik perkembangan kenaikan pengunjung dari resort-nya bersama Adrian yang ada di belakangnya.


"Sibuk banget kayaknya?"tanya Elshara yang tengah memasang senyuman cerianya.


Royyan menoleh lembut pada Elshara seraya dia menandatangani berkas itu lalu memberikannya pada Adrian, selepas itu dia bingkai wajahnya dengan senyuman tipis. Dia merasa bersalah karena dalam beberapa hari terakhir ini dia sudah mengabaikan Elshara dengan jahat, setiap kali bertemu senyuman itu sengaja dia tenggelamkan ke dalam dirinya.


"Kayaknya Dirta melakukan hal baik sama elu,"ungkap Royyan kemudian sambil dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Ya begitulah ... kenapa enggak elu yang nyamperin gue, padahal elu yang tahu apa yang terjadi sebenarnya,"ujar Elshara menunduk lemah, wajahnya muram.


Namun, bagaimanapun rasa kesal di hatinya, jika di hadapannya adalah Royyan maka itu bukanlah masalah besar, karena Elshara hanya menginginkan Royyan bukan hal lain.


"Gue ini sibuk, harus mengadakan pertemuan sama berbagai macam klien, Dirta itu chef yang punya banyak restoran, dia pasti ada waktu luang,"pungkas Royyan.


Anggukkan lembut terpatri di hadapan Royyan, lalu wanita berambut dark blonde itu segera menyodorkan kotak yang ada dalam genggamannya itu pada Royyan.


"Belum sarapan kan? Nih, gue bawa pancake makanan kesukaan lu,"ucapnya dengan seringaian yang lebar.


"Thanks ..."kali ini dia mengambilnya, tidak seperti kopi waktu itu.


"Sama-sama, makan ya ... gue mau mulai shooting lagi."


"Hmm ...."


Elshara pergi dengan wajah yang berseri-seri, wajahnya selalu ceria ketika dia selesai bertemu dengan Royyan, entah apa yang membuatnya menaruh hatinya pada Royyan yang sudah jelas-jelas menolaknya dengan matang. Dari saat mereka di bangku SMA sampai saat ini hati Elshara untuk Royyan masih saja kuat.


Keadaan hutan yang sudah menjadi lokasi shooting itu mulai riuh dengan banyak orang dan Royyan mulai merasakan pening di kepalanya, gegas dia putar langkahnya keluar dari kegaduhan tersebut. Royyan dan Adrian berputar keluar dari hutan itu dan berayun ke area parkiran, tiba di parkiran dia segera memasuki mobil berwarna hitam miliknya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2