
"Gue denger sih kacau ya, si cewek stress itu kan gak mau tahu apapun, brand juga udah memutuskan kontrak sama agensi dan brand itu lagi nyari agensi lain, sedangkan gue kan belum bisa tanda tangan kontrak sama Van karena sidang gue masih berlangsung sama agensi gue,"beber Manda malas.
Jiwa Manda sudah cukup lelah dengan drama agensinya itu, tetapi bagaimana pun kekerasan hatinya, dia tak bisa menikam agensinya seorang diri. Pria setengah botak itu cukup licik, banyak model yang mengundurkan diri, tetapi mereka merelakan hak gaji mereka karena tidak ingin berurusan lebih panjang lagi.
Namun, berbeda dengan Manda, gadis itu keras dan memiliki jiwa yang tangguh. Dia tak akan membiarkan haknya direnggut begitu saja oleh mantan bosnya. Sampai titik darah penghabisan dia akan terus maju menikamkan panah yang paling runcing di muka bumi sampai mantan agensinya tunduk padanya.
Saat matahari berada di atas kepala, Ajun melampai masuk ke dalam sebuah gedung apartemen terbesar di pusat kota Jakarta pusat, lelaki itu menenteng berbagai macam berkas di satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain menggenggam tas yang berisikan laptop.
Ajun menekan tombol bel yang ada di samping pintu dengan nomor kamar 809, tak lama dari itu Manda muncul dari dalam kamar apartemen tersebut, dia menyeringai menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Hai Jun, ayo masuk,"ajak Manda mempersilakan Ajun masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar bukan hanya ada Manda, melainkan ada manager dan juga asistennya yang setia terus bersamanya. Walau saat ini Manda tidak memiliki pekerjaan, kedua wanita muda itu masih setia bersama Manda, menunggu persidangan selesai.
"Gimana Jun?"tanya Manda tak sabar untuk lepas dari jeratan agensi lamanya.
"Gue udah mengumpulkan bukti tentang kesulitan elu selama di agensi, dan agensi itu juga punya banyak daftar hitam yang bisa di naikkan di pengadilan, kemungkinan elu menang di agensi sekitar 70%, lu tenang aja aman kok,"terang Ajun menyerahkan berkas-berkas bukti yang sudah dia kumpulkan.
Tanpa menunggu lama lagi, Manda segera menyambar tumpukkan berkas itu, satu persatu dia baca dengan teliti sampai tak tersisa, daftar hitam yang di maksud oleh Ajun adalah, hak para model yang sudah lebih dulu mengundurkan diri yang sengaja di pendam dan di makan sendiri oleh pimpinannya.
"Ini maksudnya apa ya?"tanya Manda pada deretan angka dengan nama-nama para model yang telah tidak ada di dalam agensi tersebut.
"Itu adalah daftar nama para model yang mengundurkan diri dan nominal yang harusnya mereka terima, tetapi pimpinan agensi itu tidak memberikannya dan masuk ke dalam rekening pribadinya,"terang Ajun.
Wajah gadis itu berkerut tak percaya jika pimpinannya itu ternyata seorang penjahat, bola matanya tiba-tiba saja mematung seraya dia menyugar rambutnya ke belakang dan menyandarkan punggungnya pada sofa yang sedang dia duduki saat ini, begitupun dengan Eriana sang manager dan juga asisten Manda.
"Jujur, gue baru tahu lo Jun,"seru Manda masih terkejut dengan apa yang barusan di jelaskan oleh Ajun.
"Ya makanya gue ngasih tahu ini,"cetus Ajun membuka laptopnya.
"Eh tapi si Rala tahu gak kalau keluarganya menanam saham di agensi red-flag begitu,"tanya Manda penasaran.
"Tahu,"celetuk Ajun tanpa menoleh pada Manda.
"Hah?! Terus kenapa mereka masih menanamkan sahamnya? Padahal mereka juga kesulitan sampai minta bantuan ke tante Miranda dan om Ressa."
Ajun menghentikan aktifitasnya menari-nari di atas keyboard, bola matanya menaik menatapi Manda yang nampaknya penasaran. "Mereka bukan menanam saham, cuman keluarga El membantu agensi lu itu untuk menutupi kasus para model ini dengan bersekongkol dengan hakim dan jaksa yang saat itu termasuk pengacaranya, dan keluarga Rala punya akses terhadap hukum jadi ya begitu lah,"jelas Ajun lagi.
"Woahh ..."seru Manda mengendur, jiwanya yang merasa percaya diri tadi seketika menghilang, "terus gue gimana dong Jun, bisa menang gak ya?"pungkasnya pesimis.
"Keluarga Rala sekarang tidak sekuat dulu, terlebih perusahaan Romz sekarang ada di kaki Remira, jadi lu pasti menang. Dan pimpinan agensi tidak akan banyak berkutik karena bentengnya sudah lemah,"jelas Ajun terperinci.
__ADS_1
Manda mengangguk, hatinya merasa lega dengan penjelasan Ajun. Lelaki itu terlihat biasa saja, tetapi di balik itu semua dia adalah pengacara yang gigih dan tegas. Dia tidak akan menerima klien yang bersalah, kecuali klien itu mau menerima konsekuensi atas kesalahannya, artinya siap dengan hukuman yang akan di berikan pengadilan dan Ajun hanya membantu untuk meringankan hukuman itu.
"Ngomong-ngomong sahabat lu kemana?"tanya Ajun seraya dia mengetikkan sesuatu di laptopnya.
"Oh itu ... Tapi lu jangan bilang sama sohib lu ya?"ancam Manda meruncingkan telunjuknya pada Ajun.
"Iya,"sahut Ajun mengangguk.
"Dia berangkat ke Paris lebih dulu dari jadwal, soalnya temen lu itu tiba-tiba cabut ke Paris setelah pemutusan kontrak brand itu sama agensi,"jawab Manda sembari memeriksa berkasnya yang lain.
"Mau ngapain si El ke Paris?"
"Kan mau hadiri acara penghargaan fashion dunia, gue juga kan harus ke sana besok."
Ajun mengangguk-angguk dan menghentikan aktifitasnya bersama laptop. Mereka melanjutkan perbincangan tentang persidangan yang akan di laksanakan setelah Manda pulang dari Paris, dan menunggu Ressa dan Miranda kembali ke Indonesia. Tangan terbesar ada di bawah kendali Miranda dan Ressa, mereka yang akan membungkam keluarga Rala untuk tidak ikut campur dalam urusan hukum Manda dan agensi.
...***...
Almira tiba di bandar udara Charles de Gaulle Paris, gadis itu menghabiskan 16 jam 25 menit untuk sampai ke bandara tersebut. Garis-garis di wajahnya merekah, senyumannya melebar saat dia menutupi kedua bola mata kucingnya dengan kacamata hitam yang berukuran besar, dia dorong kacamata hitam itu untuk bertengger di hidungnya dengan sempurna.
"Hello Paris, i'm back,"lirih Almira mengeratkan cengkeramannya pada koper.
Setelah di luar dia segera masuk ke dalam mobil, saat itu juga Adrian yang sedang menjemput klien dari German menyadari kehadiran Almira, lelaki itu memutar langkahnya mendekati taksi online tersebut, netra Adrian merekam jelas sosok Almira dari balik kaca taksi online tersebut.
"Nona?"seru Adrian bertanya-tanya, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak merasakan gatal. "Kenapa nona udah nyampe sekarang? Pak Royyan kan belum memerintah untuk jemput nona?"sambung Adrian.
Adrian :
Saya melihat nona di bandara, baru saja nona pergi mengenakan taksi online.
Tulis Adrian di ponselnya, dan segera mengirimkannya pada Royyan yang kini sedang bersiap-siap di kamar hotelnya. Suasana hati sedang tidak baik-baik saja, pikirannya di kuasai oleh Almira yang tak kunjung menghubungi pria itu.
Mendengar ponselnya bergetar, lelaki yang tengah mengenakan dasinya segera beralih dari kaca dan mengambil ponselnya yang tertidur di atas nakas, nama Adrian melambung di layar notifikasi ponselnya itu.
"Adrian?"lirih Royyan berat.
Tanpa menunggu lama lagi, dia buka pesan yang di kirim oleh Adrian. Seketika bola matanya melebar, menatapi layar ponselnya dengan nanar.
"Kenapa Ami datang lebih cepat? Apa dia ada pekerjaan lain?"lirih Royyan bertanya-tanya, dia bergerak ke arah lain, melempar tatapannya pada jendela balkon yang tengah terbuka.
Belum habis Royyan meraba-raba kemungkinan apa yang di kerjakan sang istri yang mengharuskannya berangkat lebih dulu dari jadwal yang telah di tentukan, pintu kamar hotel Royyan kembali memantulkan suara yang lantang.
__ADS_1
Gegas Royyan lajukan langkahnya mendekati pintu dan membukanya tanpa melihat siapa yang datang melalui monitor, dan dia adalah Elshara. Gadis yang sangat dihindari oleh Royyan saat ini. Wajah tampan itu terlempar dengan malas ke samping, lalu dia tutup kembali pintu kamar hotelnya dengan rapat.
"Ada keperluan apa?"tanya Royyan malas, wajahnya masam.
"Emangnya kalau mau ketemu kamu harus ada kepentingan dulu, kita kan sahabat bukan?"sahut Elshara mendayu-dayu.
Langkah seduktifnya mendekati Royyan yang telah beralih ke posisi lain dari pintu kamar hotelnya, lelaki itu terus melangkah mundur dengan tatapan yang semakin menajam, tetapi Elshara kali ini tidak gentar seperti biasanya. Gadis itu terus melangkah maju untuk mendekati Royyan sampai pria itu berhenti karena membentur tembok di belakangnya.
"Jangan melewati batas, atau gua bakalan dorong lu lebih kasar dari saat di Bali,"ancam Royyan menarik kedua tangannya ke belakang.
Raut wajah gadis berambut panjang lurus itu menciut, langkahnya yang seduktif tiba-tiba saja melemah, berubah menjadi tubuh yang berdiri dengan tegak, menajamkan tatapannya sampai butiran cahaya redupnya mengelilingi seluruh bola mata gadis itu.
"Oke. Tapi kenapa sih? Gue kan cuman mau ketemu lu doang, gak aneh-aneh, lebay banget sih bini lu itu,"cibir Elshara melempar wajahnya ke samping kanan.
"Jadi menurut lu gue lebay?"tanya Royyan menaikkan kedua alisnya ke atas.
"Bukan elu yan, tapi bini lu itu, ish ..."decak Elshara kesal.
Royyan mendengkus sambil dia memicing. "Gua yang emang mau jauh dari elu, gua udah muak dengan semua perlakuan elu,"celetuk Royyan tegas.
Degh!
Hantaman keras membentur dada Elshara, sesak di dadanya dengan cepat menyebar menyelimutinya dengan rasa perih itu. Namun, gadis itu tidak gentar, dia lebarkan dadanya untuk bersiap melangkah lebih dekat dengan Royyan.
"Apa sih yang buat elu bisa secinta itu sama wanita itu, gue lebih cantik, gue lebih sexy, apa yang lu lihat dari dia,"hardik Elshara dengan tatapan getirnya.
Royyan mengurai helaan napasnya panjang juga berat, sungguh dia sudah lelah dengan pertanyaan yang selalu di lontarkan oleh Elshara padanya, tangannya yang di belakang semakin mengerat dan mematung, dia tak akan menarik tangannya ke depan karena Royyan tak ingin menyentuh tubuh gadis di hadapannya itu.
"Gua cinta sama Ami, dan gue gak tahu kenapa gua sangat mencintai Ami, yang jelas gua gak bisa hidup tanpa kehadiran Ami, jelas!"terang Royyan dengan penekanan suara yang lebih tegas.
"Lu jahat Yan ..."lirih Elshara, perlahan netra pipih itu mengembun dan pertahanan punggung angkuhnya pun mengendur.
"Maka dari itu jangan mencintai orang jahat, cintailah orang baik yang selalu mencintai elu,"jawab Royyan mengalihkan tubuhnya dari tembok itu.
"GAK! Gue cinta sama elu, dan gue harus dapetin elu bagaimana pun caranya,"bentak Elshara seraya mencengkeram kemeja Royyan dan menarik tubuh lelaki itu melekat dengannya, dada keduanya saling menempel.
Royyan tarik kepalanya ke belakang untuk menghindar dari gadis itu dengan kedua tangan yang masih kokoh membeku di belakang, sedangkan Elshara masih terus mendekati Royyan bahkan mendorong lelaki itu terus ke belakang, lorong kosong yang panjang itu menjadi saksi kebegaran seorang Elshara.
Royyan berusaha keras tetap bersikap baik dan tidak melakukan tindakan kasar seperti apa yang dia lakukan beberapa waktu saat mereka di Bali. Namun, pertahanan itu tidak berlangsung lama karena Elshara terus mendekat dan berusaha menjatuhkan c*um*an di bibirnya, dengan sigap Royyan tepis tangan Elshara dengan kasar sampai gadis itu terpelanting ke samping dan membenihkan tatapan nanarnya.
NEXT ....
__ADS_1