Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 43 : Kemunculan Dirta part 2.


__ADS_3

Pria yang tengah dikungkung emosi itu mendorong Royyan ke belakang dengan tenaga penuhnya, urat-urat di tangan dan dahinya ikut menegang menyerak ke bagian tubuhnya yang lain, terlebih pada bagian kedua tangannya yang masih mencengkeram kemeja pria yang tetap tenang dengan tatapannya yang lurus menembus bola mata menyala milik pria yang memiliki paras yang tampan juga.


"Setelah elu sembunyikan dia dan elu pacari dia dan elu bilang gak butuh! Maksud elu apa hah?!"hardik pria tersebut sembari dia mengepalkan tangannya di udara dan melayangkan satu tinjuan kasar di wajah Royyan.


Sampai Royyan tersungkur ke bawah, tetapi pria yang memiliki kemampuan bela diri itu terdiam dan tidak melakukan pembelaan, dia masih mengizinkan pria di hadapannya untuk melampiaskan emosi kebodohannya. Lalu pria itu masih lanjut mencengkeram kerah baju Royyan sampai wajahnya memerah dengan urat-urat wajah yang semakin ketara mendapatkan dorongan cengkeraman dari emosinya.


"Mau sampai kapan elu nyiksa gue, gua berusaha membalaskan dendam sama elu karena gue tahu El pasti tersiksa tapi ternyata hidup elu masih saja nikmat, b*j*ngan lu! Elu bilang dia mati, tapi ini apa? APA?!"sungutnya seraya menarik Royyan untuk berdiri lagi dan menjatuhkan pukulan yang lebih kasar dari yang tadi tanpa melepaskan cengkeramannya.


Untuk pukulan kedua emosi Royyan mulai terpancing, bola matanya sudah memercikan api membara dan wajahnya sudah menimbulkan lebam di kedua pipi mulusnya, dengan sekali tarikan tangannya terlepas dengan mudahnya, kekuatan Royyan memang lebih tinggi darinya, dia hanya mengalah untuk mendengar apa yang ada dalam otak lawannya.


"Yang nyiksa lu adalah diri lu sendiri, lu tanamkan kejahatan dalam diri lu sendiri, dari awal gua emang gak pernah tertarik sama cewek lu, tapi dia yang berjalan sendiri ke gua,"terang Royyan masih berusaha untuk menahan emosinya seraya mendorong pria itu menjauh darinya.


"Basi lo *nj*ng! Gak usah munafik lo!"pria itu kembali mendekati Royyan hendak melayangkan pukulan lagi pada Royyan.


Namun, kali ini Royyan yang memukulnya lebih dulu dengan pukulan yang sama kasarnya dari pukulan pria tersebut, "dulu dia dinyatakan mati! Tapi tiba-tiba dia datang lagi, dan gua gak tahu kenapa dia nemuin gue bukannya nemuin elu, kalau emang elu cinta ya elu kejar b*ngs*t! Jangan cuman nyerang gue terus-terusan,"sungut Royyan sembari mencengkeram kemeja pria itu sampai menariknya untuk berdiri dan melemparnya jauh ke belakang.


"Jadi maksud elu, El sengaja nemuin elu bukan gue, hahaha ...."


"Terserah elu mau berpikir apa, elu neror gue karena El mati kan? Sekarang dia udah balik, jadi ... stop ganggu hidup gua sama istri gua lagi,"tunjuk Royyan calak. "Silakan lu mau ngapain aja sama El, gua gak peduli! Gua cuman mau hidup sama istri gue dengan damai,"tambah Royyan menegaskan.


Pria itu terdiam. Namun, bukan untuk mencerna perkataan Royyan melainkan untuk mengumpulkan tenaga, "pers*t*n sama penjelasan lo, gue gak peduli, yang gue tahu elu itu b*j*ngan!"pria itu masih tetap teguh dengan pendirian dan pengetahuan bodohnya, dia berlari mendekati Royyan dan memukulnya lagi.


Pria berambut mullet itu sudah terlalu banyak mengeluarkan energi sehingga dia sudah malas untuk menjelaskannya lagi, akhirnya dia menerima tantangan ini, kedua pria itu berakhir dengan saling pukul sehingga silih berganti tersungkur ke bawah bahkan mereka berguling-guling di pasir-pasir itu mengotori seluruh pakaiannya.


"Munafik lu!"


"Gua gak akan pernah cinta sama cewek lu!"


Begitulah selipan cibiran dari kedua insan yang masih saling memukul tanpa ada yang ingin mengalah, sehingga mengundang semua orang yang melintas bahkan dari dalam resort pun keluar termasuk Manda dan Elshara yang berada di bagian sudut lain, mereka terbelangah apalagi Elshara, bola matanya terus membulat dengan dahsyat, dia berlari mendekati keduanya, tetapi dia terhenti karena tubuhnya bergetar ketakutan dengan dahi yang berkerut.


Mulutnya mulai bergerak hendak memanggi kedua sahabatnya yang tengah berkelahi itu, tetapi Ajun datang lebih dulu dan berteriak, "DIRTA! ROYYAN! STOP ...."suara Ajun menggema sampai telinga semua orang yang mendengarnya berdenging.


Ajun yang muncul tiba-tiba dari balik tembok resort tersebut bergegas mengayuh kakinya dengan kecepatan layaknya kilat yang mengukir penanya di langit, dengan berpakaian jas yang tak lagi rapi, kemeja berwarna biru telor asinnya telah muntah keluar dari dalam celananya melebihi dari jas yang dia gunakan.


Setelah tiba di antara Royyan dan Dirta yang sudah terdiam karena pekikan dari Ajun, lekas Ajun mendorong tubuh kedua sahabatnya itu untuk saling berjauhan. Namun, Ajun tak bisa meredam tatapan mata Royyan dan Dirta yang sudah saling terpatri dalam emosi yang meninggi, deru napasnya saling bersahutan dengan kasar.


"Apa-apaan sih kalian! Jangan kayak orang gak sekolah, lu berdua lulusan sarjana dengan nilai yang bagus, bisa kan gunakan otak kalian untuk menyelesaikannya,"bentak Ajun dengan nada suara yang tinggi yang sudah geram dengan pertikaian kedua sahabatnya yang tidak ada habisnya sampai dia menunjuk-nunjuk keduanya dengan tajam, "Kita bukan remaja yang baru lulus SMA lagi, lu berdua dan gua udah dewasa,"sambung Ajun sedikit menurunkan nada suaranya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Ajun, Royyan segera membuang hembusan napasnya dengan kasar seraya berkacak pinggang dia memalingkan mukanya untuk meredam emosi yang sempat menjadi pilar tertinggi dalam jiwanya, berjalan sedikit ke belakang mengeratkan gigi-giginya. Sedangkan Dirta tidak demikian, entah bagaimana bisa meredam emosinya, sedangkan semua rasa sakit itu dia sendiri yang membangunnya.


Dengan langkah tegas Dirta menoleh dan menatap Ajun dengan tatapan tajam yang memburu, dengan cepat sasarannya berganti menjadi Ajun, kali ini jas Ajun yang dia cengkeram sampai jas itu kusut bahkan Dirta sedikit mendorong Ajun ke belakang, "berani ya lu sekarang sama gua! Dari mana lu dapet keberanian ngebentak gua hah?! Ini urusan gua sama b*j*ngan itu dan elu gak ada hak buat ikut campur,"bentak Dirta membulatkan kedua bola matanya sampai mata kecil itu memerah.


"Sejak kapan gua gak berani sama ELU!"sergah Ajun menepis tangan Dirta sampai pria berbadan kekar itu terpental ke belakang, "gua diem, karena gua menghargai elu sebagai temen, tapi makin lama lu makin GILA! Elu selalu merasa tersakiti padahal elu sendiri yang nyakitin diri sendiri."


"DIA!"tunjuk Dirta dengan penuh emosi ke arah sampingnya di mana Royyan berada,"dia menyembunyikan El dan dia pacaran sama cewek yang gue suka, gue hidup dalam kesengsaraan karena dia membunuh El, tapi ternyata itu akal-akalan dia biar dia deket sama El dengan leluasa,"tuduh Dirta dengan penuh keyakinan sambil dia terus mendorong-dorong Ajun.


Ajun segera menepis tangan Dirta menjauh darinya, bibirnya mulai bergetar dan segera ingin dia muntahkan fakta yang dia tahu, tetapi dia kalah cepat dengan Royyan yang sudah berjalan dari posisinya menghamburkan pukulan di wajah Dirta, seraya dia menderu napasnya dengan kasar lalu dia menyugar wajahnya sama kasarnya dengan napas yang keluar dari hidung dan mulutunya.


"*nj*ng!"cibir Dirta yang berada di bawah berkat pukulan Royyan.


Royyan segera mencengkeram kerah baju Dirta, "Gua gak pernah menyembunyikan El, dia memang kecelakaan pesawat dan jasadnya hilang! Elu tahu itu, beberapa hari yang lalu dia kembali menemui gue dan Ajun, kenapa gak ngabarin elu karena satu pun di antara kita gak ada yang tahu keberadaan elu, gue memang menyuruh orang buat ngikuti elu karena gua yakin elu yang neror gua, tapi gua sama sekali gak tahu keberadaan lu,"beber Royyan dengan emosi yang sudah membuncah di ubun-ubunnya.


"BULSHIT! Bilang aja elu juga suka sama El!"tepis Dirta berusaha melepaskan cengkeraman Royyan dari kerah bajunya.


"GU-A! Gak pernah sekalipun jatuh cinta sama El, cewek lu yang suka sama gue, gua udah nikah dan gua sangat mencintai istri gua, camkan itu!"tegas Royyan seraya dia melayangkan kepalan tangannya di atas, tetapi dengan segera dia luruhkan lagi ke bawah dan melempar tangannya sendiri dengan kasar.


Elshara yang mendengar hal itu sontak terperanjat hebat, matanya memulat dahsyat dan mulutnya terbelangah, tetapi segera dia tutupi mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya. Lalu dia melangkah gontai membaca setiap butiran pasir yang ada di sana, perlahan mendekati Ajun, Dirta dan juga Royyan.


"Gimana nona? Apa ini sudah cukup?"tanya Adrian dengan sopan, sedangkan dua pegawai itu sudah lebih dulu keluar karena perintah dari Adrian sendiri.


"Bagus ... aku suka, kamarnya luas, fasilitas juga lengkap, thankyou Rian ...."jawab Almira masih mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamarnya. "Eh tapi ... kenapa kamar aku jauh dari staff aku ya?"tanya Almira yang merasa aneh dengan letak kamarnya yang jauh dari staff penyelenggara, terutama dari para staff-nya.


"Oh itu karena permintaan dari pak bos,"jelas Adrian.


Almira lekas mengangguk, dia mengerti jika itu permintaan dari suaminya, ini dilakukan agar mereka bisa bertemu tanpa ketahuan oleh orang-orang yang mengenali mereka ataupun orang-orang yang kepo dengan kehidupan Royyan dan juga Almira.


Tak lama dari itu ponselnya berdering sangat nyaring sampai menghentikkan langkah Adrian yang ingin keluar dari kamar Almira, lekas wanita yang mengikat rambutnya menyerupai kuncir kuda itu mengangkatnya.


"Ra ..."panggil Manda lantang.


Segera Almira menjauhkan ponselnya dari telinganya sampai dia mengernyit dan menyentuh telinganya dan sedikit mengusap-usapnya lembut, "Apa woi! Telinga gue sakit dodol."


"Lu udah nyampe kan? Sekarang cepet ke pantai pokoknya, waduh disini gaduh banget parah."


"Gak waras lu ya nyuruh gue ke pantai malam-malam begini, mana gue baru nyampe juga, capek ah,"sanggah Almira dengan malas.

__ADS_1


"Si cowok kebab berantem sama cowok, gue gak tahu cowoknya siapa,"jelas Manda di balik ponsel.


"Hah?! Seriusan lo,"tanya Almira dengan bola mata yang membuntang kaget seraya dia menoleh pada Adrian. "Bos-mu berantem di pantai, cepetan lihat dia,"titah Almira panik.


Tanpa menunggu lama Adrian segera mengangguk seraya berlari mengayuh kakinya keluar dari kamar inap Almira, begitupun dengan wanita bertubuh mungil itu yang juga mengayuh kakinya berlari meninggalkan kamar inapnya yang sebelumnya sudah dia tutup lagi dengan rapat. Dalam benaknya hanya ingin melihat Royyan baik-baik saja, walau dia tak bisa menemuinya dengan cepat sebelum fokus orang-orang teralihkan.


Almira tiba di lokasi yang telah di sebutkan Manda tadi, dia menebarkan penglihatannya pada semua orang yang tengah berkerumun di depannya saling berbincang apa yang terjadi di depan mereka, pertengkaran hebat antara Dirta dan Royyan telah mengundang banyak masa untuk mereka tonton.


Perlahan Almira yang masih mengenakan celana pendek di atas lutut, kaos crop top berwarna putih dan kemeja oversize berwana merah jambu itu bergerak ke depan menyingkirkan beberapa orang yang ada di hadapannya, sejujurnya dia juga tak kalah khawatirnya dengan Adrian, dia ingin tahu bagaimana kondisi Royyan saat ini.


Beberapa saat setelah dia ada di depan dia melihat sosok Manda ada di dekat pohon dengan daun-daunnya yang rindang tengah berdiri di sana, lekas Almira mengayuh kakinya mendekati Manda.


"Ada apa sih?"tanya Almira begitu dia di dekat Manda.


Sontak Manda mengerjap terlonjak kaget, "Woi! Ngagetin lu ya,"sanggah Manda menepuk pundak Almira dengan lembut.


"Ya sorry ... ini ada apaan sih? Kenapa pada berantem begitu,"tanya Almira lagi seraya dia berkacak pinggang dan mencoba melemparkan pandangannya pada Royyan yang ada di depan bersama Dirta, Ajun dan juga Elshara sedangkan Adrian berada di sisi lain dekat suaminya.


"Gue juga gak tahu kenapa, karena pas gue datang mereka udah berantem sampe guling-guling di pasir,"jelas Manda dengan tatapannya masih terpatri dengan keadaan di depannya.


Almira termangu seraya dia menelaah satu persatu yang ada di depannya, lantas dia pun terus menjauhkan jangkauan tatapannya sampai dia bisa mencerling pada Royyan, memasati wajah lebam sang suami, bagian pipi kanan, kiri maupun bagian area bibirnya sudah dipenuhi dengan luka lebam dan sedikit bercak-bercak darah disana.


Seketika Almira terkejut hebat melihat wajah sang suami yang tampan telah dipenuhi luka-luka memar memerah bahkan menyerupai warna ungu, dia terbelangah sampai dia harus menutupi mulutnya sendiri.


Kak Royyan! Wajahnya lebam-lebamnya banyak banget, lagian ngapain berantem sih, biasanya juga males banyak aktifitas, jangankan berantem buat ngomong aja dia mager. Pungkas batin Almira seraya dia mengerutkan dahinya merasa iba, seolah dia merasakan rasa sakit yang tengah di dapat oleh Royyan.


Sedangkan di depan pertikaian masih saja belum berakhir, tetapi Dirta sudah mulai menurunkan egonya karena kedatangan Elshara.


"Dirta ... apa yang dikatakan oleh Royyan dan Ajun benar,"pungkasnya seraya dia mendekat.


Pria berambut wavy bergelombang itu segera menoleh, seketika tubuhnya bergetar derai embun yang selalu mencagak di hatinya kini menguap dan perlahan menjadi butiran air mata yang lembut, rasa rindu bercampur disana.


"El ... kamu masih hidup, ini nyata kan El? I-i-ini bu-bukan mimpi kan El?"Dirta perlahan beralih pada Elshara dan melangkah untuk mendekatinya.


Elshara yang berada di hadapan Dirta menyengguk dengan lembut seraya dia mengukir senyumannya. "Iya Dirta ... ini aku, nyata dan bukan hantu,"sahut Elshara.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2