
Pria paruh baya dengan rambut tipis itu tidak bisa berkutik ataupun membela dan selalu mengutamakan Elshara seperti yang dia lakukan selama ini, dia selalu berusaha memberikan job yang diinginkan oleh Rala walau job itu sudah di pegang oleh model lain yang ada dalam naungannya, terlebih pada Manda. Dia sudah merebut banyak job dari Manda, membuat power Elshara menjadi lebih kuat, padahal Manda sendiri jauh lebih baik dari bakatnya.
"Cukup! Saya tidak ingin mendengar alasan apapun lagi, bawa kembali Manda dan berikan posisi yang sesuai di jadwal awal, jangan ada yang merubahnya lagi atau saya akan mencari agensi model lain untuk memenui proses shooting ini,"tegas pimpinan penyelenggara itu.
"Pak tolong pak tenang dulu,"tepis pimpinan agensi yang nampak layuh.
Namun, pimpinan penyelenggara itu tidak lagi mendengarkannya, dia terus berlalu pergi dari lokasi shooting, dia melimbai kembali ke dalam resort. Begitupun dengan pimpinan agensi yang berlari untuk menyusulnya, dia tidak akan membiarkan pengorbanannya berakhir dengan sia-sia, menjadi pria paruh baya itu memang sulit, dia harus memenuhi keinginan dua orang yang berbeda yang sama-sama penting baginya.
Tapi Elshara tidak mempedulikan apapun selain apa yang dia inginkan terpenuhi dengan mudah, dia menangguhkan hatinya jika hal apapun yang ada di depan matanya adalah miliknya dan tak ada yang bisa mengalahkannya, tapi dia lupa jika tidak semua hal bisa dia dapatkan, bahkan banyak orang yang berjuang keras tetapi tidak semuanya berbuah manis.
"Gara-gara Manda jadi kacau semuanya, kekanak-kanakan banget sih tuh anak, cepet cari anak lu itu, menyusahkan banget sih, lebay! Terlalu berlebihan,"celotehnya dengan angkuh berbicara pada manager Manda yang tengah panik mencari model yang menjadi tanggungjawabnya.
Elshara yang lembut sudah menghilang, sifat yang selalu mempedulikan orang lain yang dulu ada di dalam dirinya ternyata sudah lenyap, entah lautan atau cintanya yang mati hanya pada Royyan yang telah merenggut sifat baiknya itu.
Karena geram, Van kembali menggerakkan bibirnya, "dasar gak tahu diri, lu yang lebay dan menyusahkan, semua masalah munculnya dari elu, hanya karena nyokap bokap lu punya saham di agensi bukan berarti elu bisa bersikap seenak jidat lu, dan elu selalu membangga-banggakan jika elu adalah sahabat dari pak Royyan, dan asal lu tahu Manda juga temannya pak Royyan,"celoteh Van mencibir Elshara tanpa rasa takut.
"Heh! Jahat banget sih lu ngomong begitu sama cewek, dan elu gak usah sok tahu soal Royyan, dia gak pernah berteman sama Manda,"pekik Elshara dengan pupil matanya yang membesar.
"Karena yang gue hadapi adalah wanita jahat, dasar bodoh, katanya sahabat tapi gak tahu apa-apa, cih ...."lontar Van lagi seraya dia beranjak dari hadapan Elshara.
"Aaaaarhh ... berisik lu!"Elshara menginjak-injak pasir dengan kesal sampai kakinya yang telanjang tenggelam ke pasir-pasir itu.
Van terus berjalan dan mengabaikan pekikan Elshara, jika dia meladeninya lagi, bisa-bisa emosinya pecah dan malah akan menambah masalah menjadi semakin serius.
...***...
Almira dan Manda sudah tiba di restoran yang sebelumnya sudah di pesan oleh Almira sendiri, sebuah restoran seafood yang sangat terkenal di daerah sana, letak restorannya pun tak jauh dari laut bahkan pemandangan restoran tersebut langsung pada lautan yang menyeret ombak lembutnya ke daratan.
Langit menjelang sore sangat cantik, angkasa melukis badannya dengan warna jingga yang manis dan memesona. Dua gadis cantik itu meraba keramik-keramik hitam di restoran tersebut sampai membawa mereka ke area outdoor untuk menempati kursinya, mereka memilih kursi itu karena ingin melihat laut dengan jelas dan merasakan aroma angin dari laut secara langsung.
"Mau pesan kepiting saus padang yang supernya satu, udang asam manis satu, dua piring nasi, kerang abalone manis pedas porsi jumbo, sosis bakar pedes satu porsi, jus jeruk dua sama air putih botolnya dua, udah itu aja, terimakasih,"ucap Manda yang menggebu-gebu.
Menurutnya, daripada mengomel tidak jelas apalagi harus menangisi apa yang sudah terlewati lebih baik menggunakan mulutnya untuk mengunyah makanan yang akan membuat lidahnya termanjakan dan perutnya terisi dengan penuh.
Setelah beberapa belas menit berlalu, satu persatu pesanannya berdatangan dan meluncur ke atas meja yang berbentuk kotak dan sedikit panjang, karena kursi yang di pesan Almira adalah kursi yang berisikan empat sampai lima orang.
"Ayo kita makan,"seru Manda penuh antusias sehingga dia bertepuk tangan pelan yang tidak menimbulkan suara.
"Lu pesen sebanyak ini emang mau habis, lu seorang model Manda ... bisa-bisanya makan sebanyak ini, emangnya gak papa sama berat badan lu,"pungkas Almira yang masih tercengang dengan banyaknya makanan di depan matanya.
"Sebenarnya gak boleh sih, gue selalu di tuntut untuk makan-makanan sehat dalam porsi yang kecil, padahal gue tinggal olahraga ketat dan minum vitamin dan berat badan gue akan stabil,"jawab Manda dengan bola mata yang berpendaran seraya dia mengambil satu buah kerang dan dia pisahkan daging dan cangkangnya lalu dia lahap dalam satu suapan. "Hmm ... enak, rasanya pas banget,"lanjutnya memuji makanan tersebut.
"Sebenernya ada apa sih?"tanya Almira seraya dia memotong kaki kepiting yang di penuhi daging di dalamnya.
"Nyebelin banget sumpah sahabatnya si cowok kebab itu,"jawab Manda yang sibuk mengunyah kerang dan juga kepitingnya.
__ADS_1
"Kenapa emangnya sama si El itu?"sahut Almira keceplosan menggunakan nama panggilan yang selalu terlontarkan dari mulut Royyan.
"Hah?! El? Siapa itu?"tanya Manda mengerutkan dahinya.
Almira mendongak dengan wajahnya yang setengah menegang, tetapi itu bukan masalah, segera wanita yang mengikat rambut ikalnya menyerupai kuncir kuda menjawab pertanyaan sahabatnya, "Rala, namanya Elshara, kak Royyan sama temennya yang lain manggilnya El."Almira menjatuhkan pandangannya lagi pada makanan.
"Oh gitu, elu makin deket ya sama si cowok kebab, gimana sama suami lu itu,"sahut Manda.
Degh!
Pertanyaan yang sangat di hindari oleh Almira maupun Royyan, sebuah pertanyaan yang memiliki jawaban tetapi tak pernah bisa terungkap dengan gamblang, kelopak matanya terkulai, sungguh dia tidak bisa menjawabnya.
"Hmm ... aman kok, tenang aja. Lagian gue sama kak Royyan bukan apa-apa, deket biasa aja."akhirnya yang keluar dari mulutnya hanya sebuah kiasan kata klise.
Lantas Manda mengangguk, wanita bermata almond ini tidak pernah sekalipun berprasangka buruk pada sahabatnya ataupun merasa terkhianati karena dibohongi oleh sang sahabat, jiwa Manda benar-benar bebas seperti rasa amarahnya, yang selalu dengan cepat tenggelam ke dalam pangkuan batinnya.
"Si Rala itu sudah beberapa kali ambil job gue, dan gue enjoy aja ya gak masalah, tapi lama-lama menjengkelkan juga, dan yang paling gue benci itu pimpinan agensinya yang selalu membela si Rala dan selalu membuat gue menuruti perkataannya walau gue sakit hati,"terang Manda masih terus mengunyah makanannya.
"Kenapa lu gak jambak aja tuh si pimpinan agensinya."
"Masalahnya rambut dia tipis hampir botak malahan, gimana gue mau jambak,"kelakar Manda yang tengah mengunyah makanannya.
Dan Manda berhasil menarik tawa Almira keluar sampai dia menghenyakkan tubuhnya melanggarkan punggungnya pada kursi, wanita berparas cantik nan lembut itu terus tertawa sampai wajahnya menjadi merah seraya dia menutupi mulutnya yang tengah tertawa dengan kedua telapak tangannya yang kotor karena bumbu-bumbu dari makanan itu.
"Kurang ajar lu sama bos bilang botak,"katanya kemudian.
"Gimana kalau elu di pecat?"
"Ya tinggal keluar aja, gue punya power di agensi, jadi kalau gue keluar pasti ada sponsor yang juga ikut keluar."
"Hmm ... eh perusahaan bokap nyokap gue kan ikut jadi sponsor acara ini tahu ...."pungkas Almira seraya merangkai senyum cerianya.
Mendadak netra yang melipu tadi memercikan aroma cahaya manis yang legit, Manda menarik tubuhnya lebih melekat dengan meja dan menghentikan acara mengunyah makanannya, dia seperti mendapatkan sebuah harapan baru tentang posisinya di dalam acara ini.
"Gue baru inget, perusahaan tante Miranda dan om Ressa kan rivalnya perusahaan keluarga si Rala,"ungkapnya.
"Iya, dan ..."
Belum habis Almira menyelesaikan perkataannya seraya dia melepaskan daging kerang dengan cangkangnya, kedua orangtua Almira tiba menghampiri dua gadis tersebut.
"Lah kalian ada di sini,"ucap Miranda seraya mengelus lembut kepala putri tercintanya, lalu dia jatuhkan kecupan lembut di pangkal kepala Almira, "gimana kabarnya sayang, suami kamu baik kan?"sambung Miranda seraya dia duduk di samping Almira.
"Baik mom, sehat dan bahagia,"sahut Almira dengan senyuman manjanya, lalu dia lekatkan tubuhnya memeluk Miranda. Kemudian dia berdiri untuk memeluk Ressa yang ada di sampingnya yang lain seraya mencium pipi papinya dengan singkat. "Mami sama papi lagi ngapain di sini,"tanya Almira.
Ressa yang duduk di samping Manda segera menjawab pertanyaan sang putri tunggalnya, "biasa sayang ... urusan bisnis, mami sama papi hari ini beli saham di perusahaan fashion lain."
__ADS_1
"Woah ... tante sama om emang jagonya deh sama urusan bisnis,"puji Manda seraya dia membersihkan tangannya dari sisa-sisa bumbu makanan itu dengan beberapa tisu.
"Karena kita ada di bidangnya, kamu juga makin cantik ya Manda, pas SMA badan kamu kecil banget, sekarang pasti udah jadi top model nih, bisa dong nanti pakai jasa kamu nanti kalau peluncuran karya kami yang terbaru."Miranda balas memuji Manda.
Manda tertawa kecil, "bisa dong tante, om, kalau agensi mengizinkan. Soalnya aku selalu kalah sama top model sesungguhnya, sekarang pun aku keluar dari acara summer camp karena selalu disingkirkan dan posisiku selalu di berikan pada si top model itu."kekesalan Manda akhirnya termuntahkan lagi di hadapan kedua orangtua sahabatnya, Ressa dan Miranda sudah menganggap Manda sebagai anak keduanya.
"Hah?! Kenapa? Kok bisa kamu di perlakukan begitu, tante lihat posisi kamu di agensi itu tinggi lo,"tanya Miranda heran mengernyitkan alisnya.
"Iya, om kok gak habis pikir sih, ada masalah apa di agensi kamu itu,"timpal Ressa.
"Orangtuanya punya saham di agensi, ya begitulah tante om ..."
"Pimpinan agensinya pilih kasih parah tahu gak mom, pap, apa mami sama papi gak bisa melakukan apa gitu sekedar untuk membuat mereka jera aja,"timpal Almira seraya bersandar pada pundak mami-nya.
Sejenak Miranda dan Ressa terdiam, benak mereka bertarung memikirkan cara yang pantas untuk menghukum orang yang telah menyakiti anak kedua mereka, setelah beberapa menit tercenung akhirnya Miranda dan Ressa beranjak dari kursi dan melukis wajah mereka dengan senyuman hangatnya.
"Kamu tenang aja ya, nanti kami akan mencoba meluruskannya,"pungkas Miranda.
"Baik tante, om,"angguk Manda senyumannya berkembang.
"Dah sayang, nanti mami papi telepon ya, baik-baik kamu sama suami kamu,"pamit Miranda seraya dia mengecup pipi Almira dengan lembut.
"Iya mom ..."sahut Almira seraya melengkungkan bibirnya ke atas.
Miranda dan Ressa pun segera berayun keluar dari restoran yang tengah dalam keadaan yang ramai dengan perbincangan-perbincangan ringan dari setiap insan yang berbeda, seiring berjalannya waktu, makanan yang tadi memenuhi meja telah lenyap dan benar saja Manda menghabiskan makanan paling banyak di banding Almira.
Tak lama dari itu Royyan, Adrian dan Ajun datang menghampiri kedua gadis yang tengah menyandarkan punggungnya pada kursi, mencoba melelehkan perutnya yang kekenyangan. Sontak Almira dan Manda membulatkan kedua bola matanya ke samping kanan di mana ketiga pria itu berdiri, dan entah dari mana mereka bisa mengetahui keberadaan dua gadis itu.
"Tahu dari mana kalau kita ada di sini?"tanya Almira heran.
"Adrian adalah intel, dia bisa tahu keberadaan seseorang hanya dengan nomor teleponnya aja,"pungkas Ajun memuji Adrian.
Adrian sendiri terkekeh pelan di belakang, pujian Ajun membuat kulit perutnya terasa tergelitik. Sedangkan Royyan dia memang tidak tersenyum, hanya saja pupil matanya membesar melantingkan cahaya cintanya lewat sorot mata yang tak mau lepas dari Almira.
"Oh pantesan, eh lu bukannya pengacara ya?"sahut Manda yang kemudian tatapannya tertuju pada Ajun yang ada di sampingnya.
Seraya berjalan dan duduk di samping Manda, Ajun menggerakkan bibirnya, "iya, ada apa nih?"
Begitupun dengan Adrian dan Royyan yang ikut duduk di kursi yang masih kosong, Royyan berada di samping Almira, keduanya saling berdekatan bahkan lengan mereka saling menempel tanpa mereka sadari.
"Kalau misalkan gue di pecat dan agensi gue gak bayar honor gue atas pekerjaan yang gue lakuin, elu bantu gue,"beber Manda dengan penuh keyakinan.
"Yakin banget lu bakalan di pecat, feeling gue sih kayaknya enggak ya,"jawab Ajun.
"Tahu dari mana lu, kita aja belum kenal,"tepis Manda mengernyitkan wajahnya dengan selipan senyum tipis.
__ADS_1
NEXT ....