
Masa-masa kelam Manda perlahan memudar, di detik terakhirnya dalam agensi yang membuat namanya memuncak Manda mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan. Untuk ke depannya, apapun yang terjadi dengan agensi tersebut bukan lagi urusan gadis cantik itu.
Mata almondnya menyiratkan sebuah rasa lapang yang membahagiakan, di ujung senja yang membiaskan warna jingga yang memukau, gadis itu termangu di atap rumah Almira dan Royyan. Pria berbadan tegap itu mengizinkan Manda untuk mengunjungi Almira kapan pun dia menginginkannya.
Dari ambang pintu Almira membawakan sebuah minuman kemasan botol yang memiliki rasa buah-buahan yang pekat, gadis mungil itu memberikan satu buah botol kemasan yang memiliki rasa jeruk lengkap dengan butiran jeruknya.
"Nih ... "Almira menjulurkan botol kemasan minuman itu pada Manda yang tengah terduduk di sebuah kursi panjang di bawah payung berukuran besar di atap itu.
Lantas Almira menganjurkan bokongnya ke salah satu kursi yang ada di depan Manda, dan gadis berambut sebahu itu lekas mengambil botol kemasan itu dan membukanya dengan segera.
"Lu gak ke butik?!"tanya Manda sebelum dia meneguk isi yang ada di dalam botol kemasan itu.
"Mau sih, tapi males. Gak tahu akhir-akhir ini gue ngerasa ada yang beda sama diri gue,"sahut Almira yang kemudian membuka botol kemasan yang ada di dalam genggamannya.
"Aneh kenapa? Sakit?! Apa yang lu rasain?"tanya Manda beruntun, sorot matanya enggan untuk terlepas dari paras sang sahabat.
Sebelum menjawab deretan pertanyaan Manda, wanita bermata kucing itu sempat meneguk minumannya dulu sampai habis setengahnya, rupanya gadis itu sudah kehausan. "Bawaannya males aja gitu lo, terus ya ..."jawab Almira antusias, dia memutar tubuhnya untuk mengarah pada sahabatnya.
"Apa?"sahut Manda melepaskan kedua alisnya ke atas.
"Kalau lihat kak Royyan tuh pengen marah-marah mulu, dan ... Kadang gua gak mau di tinggalin, kayak tadi pagi, masa gua marah-marah kak Royyan mau berangkat kerja, kan aneh,"terangnya kemudian melanjutkan perkataannya tadi.
Manda mengenyakkan tubuhnya ke belakang dan bersandar pada kursi yang dia duduki sekarang, bibirnya terjulur ke depan sambil dia merangkai beberapa kemungkinan apa yang terjadi dengan sahabatnya.
"Euum ... Gejala lu ini kayak orang hamil tahu gak,"cetus Manda dengan penuh keyakinan.
Almira tersekat. Dia mematung sejenak, rahangnya mengeras. Gadis itu ingin mengelak dari dugaan Manda, tetapi dia menyadari jika dirinya bukan hanya satu kali melakukan hubungan intim dengan sang suami. Lantas dia mengurai helaan napasnya keluar.
"Hamil?"seru Almira menaikkan sudut bibir kanannya dengan tatapan berkelintaran tak karuan.
"Heuum ..." Manda mengangguk penuh keyakinan.
Almira terenyak ke belakang menyandarkan tubuhnya pada kursi yang sedang dia duduki, sorot matanya melesat jauh ke depan menari-nari bersama angin yang tengah berkelana di udara.
"Lu udah dapet haid lagi?"tanya Manda meyakinkan dirinya jika sang sahabat memang tengah hamil.
"Euum ... Eh iya,"sahut Almira, bola matanya melebar.
Gadis mungil itu baru menyadari jika dalam satu bulan terakhir selepas malam panas di Paris, dia belum juga mendapatkan haid yang seharusnya dia mendapatkannya dengan rutin, tak pernah terjadi sebelumnya.
"Kenapa?"
"Gua udah satu bulan gak dapet haid, gimana ya?"seru Almira mengernyit takut.
__ADS_1
Manda mendelik yang kemudian senyuman tipis membias di wajah cantiknya dengan wajah yang mulus bersih, bahkan pori-pori di wajahnya pun tak terlalu tampak. "Beli alat tes kehamilan deh lu sama cek ke dokter, gua yakin sih kalau lu hamil,"cetus Manda dengan yakin.
"Heh! Kenapa lu yakin banget gue hamil sih,"protes Almira, netranya melebar.
"Lu istrinya Royyan, lu punya suami ya wajar kalau lu hamil, kalian pasti sering berhubungan intim kan?! Jadi ya wajar aja kalau lu hamil, orang-orang juga gak bakalan hujat lu, kecuali lu hamil gak tahu bapaknya,"beber Manda.
"Gak sering kok." Almira berpaling dari tatapan Manda, untuk menyembunyikan warna merah muda yang telah menguasai paras cantiknya.
Manda memiringkan wajahnya guna menyilik wajah sahabatnya yang tersipu malu. "Emangnya kapan kalian terakhir berhubungan intim?"tanya Manda penasaran.
"Di Paris,"celetuk Almira keceplosan, lekas dia mengatupkan bibirnya seraya dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, lalu dia menoleh pada Manda dengan tatapan yang membulat.
Terlihat Manda mengereseng sambil mengangguk. "Itu artinya satu bulan yang lalu, euum ... Eh bentar,"seru Manda mengangguk-angguk yang kemudian dia menghentikan perkataannya kala dia mengingat jangka waktu itu yang menurutnya terlalu jauh.
"Seriusan lu satu bulan yang lalu?"tanya Manda seolah dia tidak mempercayai jika lelaki itu tidak memburaikan kelelakiannya.
"Ya serius gue, kenapa sih lu?"sahut Almira mengernyit heran dengan respon yang di berikan Manda.
"Wah hebat banget dong si Royyan,"celetuknya kemudian.
"Maksudnya apa sih?! Lu gak jelas banget."
"Gue denger, kalau udah suami istri, si suami suka minta jatah satu minggu sekali atau bahkan ada yang tiga kali, laki lu kagak begitu?"papar Manda.
Secara impulsif Almira menggelengkan kepalanya dengan polos. Manda semakin terbelangah, dia merasa kagum dengan Royyan. Lelaki itu rupanya sangat mampu menahan nafsunya untuk tetap bertahan dalam lokap batinnya, bagaimana tidak? Manda mengetahui jika lelaki tidak akan bisa menahan nafsunya jika sudah melihat istrinya berpakaian sempit.
Sementara Almira selalu menjadi penonton di ambang pintu seraya melipat kedua tangannya di depan dan meruncingkan tatapannya pada sang suami yang tertidur di atas meja dan kedua tangannya yang menjadi tumpuan agar kepalanya tak langsung mencium meja yang berbahan kaca dilapisi kayu tebal di bawahnya.
"Ketiduran lagi di ruang kerja,"kata Almira dengan nada suara yang rendah, "kayaknya ruang kerja lebih menarik dari istrinya,"gerutu Almira masih terdiam di ambang pintu.
Lantas wanita yang mengenakan piyama serba panjang itu lekas mengayuh langkahnya mendekati sang suami, aroma mawar yang melekat dengan tubuh Almira menyebar ke seluruh penjuru ruangan membuat lelaki dengan rahang tegas itu menyeringai dengan pejaman mata yang mulai melemah tak sekuat saat Almira masih di ambang pintu.
Almira memosisikan dirinya tepat di samping kiri suaminya yang masih berpura-pura tertidur. Satu tangannya dia lekatkan dengan meja kaca tersebut, di atas meja itu berbagai macam berkas proyek perusahaan Royyan dan laptop yang sering digunakan oleh pria itu, sedangkan di bagian lain komputer dengan layar besar berdiri dengan kokoh. Ia miring agar Royyan dengan mudah menggerakkan penanya untuk merancang sebuah bangunan.
"Apa gak capek siang kerja, malam juga masih harus melanjutkan rancangannya,"gerutu Almira sambil dia beralih ke hadapan layar komputer berukuran besar itu.
Di sana terdapat sebuah rancangan gedung menjulang tinggi yang belum diselesaikan oleh Royyan, deretan angka di bagian samping dalam layar itu membuat mata Almira berkunang-kunang sehingga dia bergerak ke belakang karena merasa pusing dan membentur dada lebar sang suami yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
Satu tangan Royyan dengan sigap melingkari pinggang istrinya, dalam keadaan setengah mengantuk Royyan genggam salah satu tangan Almira dan gadis itu bersandar pada bahu lebar sang suami.
"Kenapa?"bisik Royyan seraya dia mengedipkan matanya beberapa kali.
Almira menoleh lembut pada Royyan, netranya sedikit mencugat. "Enggak papa." Almira menggelengkan kepalanya, "aku cuman agak pusing aja lihat kerjaan kamu,"sambungnya menerbitkan senyuman tipis yang manis.
__ADS_1
Sontak Royyan menyeringai yang kemudian dia luruhkan sebuah kecupan lembut di dahi sang istri. "Kenapa gak tidur, malah berkeliaran malam-malam,"ujar Royyan menggamit hidung Almira.
"Gak enak tidur sendirian berasa masih single,"celetuk Almira menggeser tubuhnya terlepas dari sang suami.
Perlahan langkahnya berangsur keluar dari ruang kerja Royyan, langkah kakinya yang lemah dengan mudah tersusul oleh Royyan. Pria itu dengan sigap meraih salah satu tangan Almira dan membawanya masuk ke dalam dekapannya.
"Sini aku peluk dulu,"bisik Royyan di telinga istrinya.
Almira mendelik kesal, bahkan dia melipat kedua tangannya di depan, menciptakan jarak antara dirinya dengan sang suami. Aroma tubuh Royyan menyelinap masuk ke dalam rongga hidung gadis mungil itu.
"Enggak mau, kamu lebih sayang sama kerjaan dibanding aku,"kesal Almira mendorong Royyan hingga melepaskan dekapannya.
"Jadi ... Sekarang apa yang sayang mau?"tanya Royyan lembut sembari melipat kedua tangannya di belakang dan mencondongkan tubuhnya ke depan mendekati wajah Almira.
Dengan sigap Almira membawa dirinya ke belakang dengan wajah yang masih memberengut, paras cantiknya memadam dan sorot matanya menajam. "Mau nendang kamu keluar dari hadapan aku." Gadis itu semakin mengerang kesal, lantas dia berlari menjauhi sang suami dengan kilatan kemarahan yang membekas di wajah cantiknya.
Pria berbadan kekar itu mengernyit, melepaskan satu alisnya ke atas sambil dia bertolak pinggang dan memandangi punggung istrinya tenggelam ke dalam ruang kamar utama di rumah itu.
"Bini gue kenapa sih, kenapa jadi marah-marah begitu,"ujar Royyan menggeragau ke bagian tengkuknya.
Dalam keadaan termangu dan terbelenggu oleh angin yang melintas, Royyan berlalu meninggalkan posisinya saat ini, kakinya bergulir ke dekat pintu kamarnya dengan sang istri, dia masuk ke dalamnya dan segera berlari kecil mengarik punggung Almira dan menariknya kembali tenggelam ke dalam dekapannya.
"Aaah ..."pekik Almira terperanjat dengan tindakan sang suami, lalu gadis itu menerjunkan sebuah pukulan kasar di dada Royyan, tetapi pria itu sama sekali tidak merasakan kesakitan. "Apa sih kak, hobi banget ngagetin orang,"protes Almira menautkan kedua alisnya.
Royyan merekatkan dekapannya, lalu mendekatkan wajahnya dengan paras cantik Almira membuat gadis itu mengeras bak patung yang tak bisa bergerak. "Kamu kenapa?! Kenapa akhir-akhir ini hobinya marah-marah sih, aku ada salah?!"tanya Royyan menaikkan kedua alisnya.
"Enggak ada,"jawab Almira ganar, sungguh gadis itu pun tak tahu apapun tentang perubahannya.
Namun, hatinya memerintah untuk melakukan hal itu pada suaminya. Dia katupkan bibirnya dan tatapannya terjatuh ke bawah, tepatnya pada kedua tangan yang menggantung di dada bidang sang suami.
"Sayaang ..."seru Royyan lirih memasati wajah istrinya dengan penuh pertanyaan.
Tatapan Almira melesat ke atas dan terkunci oleh tatapan tajam yang dipenuhi oleh cinta. Baru saja gadis itu menggerakkan bibirnya lagi, mendadak aroma parfume yang biasanya di gunakan sang suami membuat perut gadis itu terasa dikocok, perlahan sekumpulan gelembung menaik ke dadanya dan membuat Almira merasakan mual.
Segera dia tutupi mulutnya dengan kedua tangannya, dia berusaha untuk menahan rasa mual itu agar tidak membuncah di hadapan sang suami. "Oeeek ..." Rasa mual kembali melanda gadis itu, membuat Royyan membungkukkan punggungnya untuk melihat wajah istrinya yang memerah lebih jelas lagi.
"Sayang sakit?"tanya Royyan khawatir.
"Euum ..."gumam Almira menggelengkan kepalanya dan kedua tangannya masih menempel di atas bibirnya.
Desakan yang membukit di dalam dadanya perlahan berjalan ke tenggorokannya, lekas Almira mendorong sang suami dan berlari ke kamar mandi. Tanpa menunggu lama lagi, pria bermata kecil itu gegas mengekori langkah sang istri yang terbenam masuk ke dalam kamar mandi.
Di sana, Almira sudah memuntahkan seluruh isi perutnya yang membuat dirinya tidak enak, matanya merah dan berair karena menahan rasa mual tetap berada di bagian dadanya. Punggungnya bergetar lemas, lalu dia berkumur untuk membersihkan sisanya yang masih menempel di dalam mulut.
__ADS_1
"Kamu sakit?! Kenapa gak ngomong, sini aku gendong ke kasur,"ucap Royyan panik sembari dia mengusap punggung Almira dengan lembut.
NEXT ....