Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 38 : Kotak perhiasan.


__ADS_3

"Yan, lu gak takut di depan elu ada hantu, cantik lagi, mana napak pula kakinya. Kayaknya hantu bersertifitak gold nih,"celoteh Ajun yang bersembunyi di belakang tubuh Royyan.


Sedangkan Royyan hanya bisa tertawa kecil seraya berkacak pinggang, sementara itu Elshara yang merasa tidak terima dirinya dikira hantu oleh sahabatnya sendiri, segera menajamkan tatapan matanya dengan bulat sambil menaikkan kedua telapak tangannya dan menongkrong di pinggang rampingnya, lalu dia perlahan seret langkahnya menghampiri Ajun dan menepuk punggung pria bertubuh tinggi itu.


"Sembarangan kalau ngomong lu, heh! Hantu mana yang bisa nginjak tanah, lantai dan sebagainya, mereka itu melayang tanpa sayap, ngaco banget sih lu,"rajuk Elshara dan menarik Ajun keluar dari persembunyiannya dan melemparnya lembut ke hadapannya.


Ajun masih saja terbelalak dan terlonjak kaget, tubuhnya bergetar. Tapi akhirnya dia memberanikan diri untuk mendekati wanita yang sekarang sedang mengerucutkan bibirnya dan juga melipat kedua tangannya di depan, kesal.


Dia tangkup kedua pipi Elshara dengan lembut, tetapi tiba-tiba dia menekan wajah yang baru saja lepas dari kain-kain putih bekas operasi yang dia jalani, sampai wajah Elshara yang cantik menyerupai ikan buntal.


"AJUN!"pekik Elshara menepis tangan Ajun dari pipinya. "Sakit! Gue baru beres operasi wajah tahu gak, elu baru juga ketemu sama gue udah bikin emosi aja,"Elshara merutuk yang kemudian dia elus-elus wajahnya dengan lembut.


Ajun segera menutupi kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya seraya terpejam, begitupun dengan Royyan yang melakukan hal yang sama dengan Ajun.


"Wah asli, gue kira lu palsu El,"paparnya tidak merasa bersalah sama sekali, malahan dia segera menyusul perkataannya dengan senyuman sumringah.


Niat hati Elshara ingin mengumpat sekali lagi pada sahabatnya ini, Ajun lebih dulu menghamburkan tubuhnya memeluk Elshara dengan erat sampai pria berambut french crop itu membawa Elshara berputar-putar di tempat dalam dekapannya.


Elshara membalas pelukan itu dengan manis, dan lukisan senyum bukan hanya manis namun aura cantiknya semakin bersinar.


"Untunglah elu masih hidup, kalau enggak elu udah jadi hantu cantik,"ungkapnya kemudian.


Elshara kira, Ajun memeluknya akan mengatakan hal baik dan bersyukur dengan hati yang berkobar-kobar jika Elshara selamat, ternyata wanita berambut panjang lurus itu terlalu banyak berharap, nyatanya Ajun memang bukan tipe orang yang romantis. Lekas dia dorong Ajun keluar dari dekapannya.


"Elu ya,"serunya seraya menaikkan lagi kedua sudut bibirnya.


"Kok elu pada bisa ketemuan sih, gak ngasih tahu gue lagi,"pungkas Ajun kemudian memicingkan kedua bola matanya, sembari berkacak pinggang.


Royyan tahu betul apa yang sedang di pikirkan oleh sahabatnya satu ini yang terkadang akal pikirannya keluar dari nalar akal sehatnya, lekas dia melangkah mendekati keduanya, lalu dia menghela napasnya.


"El adalah Rala, salah satu hidden model di acara summer camp, dan gue sebagai perusahaan yang menyediakan tempat,"terang Royyan.


Barulah Ajun mengangguk dan dengan cepat raut wajahnya kembali seperti semula. "Ooh pantesan aja kalian terikat, eh El elu kemana aja selama ini, kenapa baru muncul sekarang?"tanya Ajun penasaran.


"Gue hilang ingatan selama dua tahun,"ungkap Elshara yang belum selesai.


Dengan cepat Ajun menimpali Elshara dengan pertanyaannya yang lain, "hah?! Serius lu hilang ingatan? Terus gimana caranya elu bisa ada disini sekarang?"


"Dokter yang menangani gue berhasil menemukan keluarga gue, jadi saat ingatan gue kembali gue udah sama keluarga gue, dan setelah itu gue fokus pemulihan, makanya gue baru sempet nemuin kalian,"beber Elshara melanjutkan penjelasannya yang terpotong tadi.


Ajun akhirnya mengangguk dan tak lagi memotong percakapan Elshara. Tak lama dari itu dering ponsel Royyan berdering sangat lantang, sampai Elshara dan Ajun yang berada di dekatnya sedikit terperanjat, Royyan pun segera mengangkat teleponnya yang ternyata dari sekretaris pribadinya.


"Ada apa?"ucap Royyan setelah dia menempelkan ponselnya ke telinganya.

__ADS_1


"Orang-orang dari perusahaan B&D Jewellery datang mengantarkan satu set perhiasan yang bapak menangkan di pelelangan beberapa waktu yang lalu,"jelas Adrian.


"Oke. Saya akan segera kembali,"jawab Royyan dan segera mematikan panggilan teleponnya. "Gue balik duluan ya."Royyan segera berlari mengayuh kakinya keluar dari kafe.


"Eh Royyan tunggu ... aku mau na---nya ...."Elshara sedikit mengejar Royyan tetapi dia tidak melanjutkan langkahnya seraya dia menjulurkan tangannya ingin meraih Royyan.


Wajah bahagianya dengan sekejap mata berubah menjadi muram, parasnya yang cantik menjadi redup bagai awan kumulus yang bergerak malas di langit yang sudah mengumpulkan benih-benih hujan di perutnya. Lantas Ajun mendekati Elshara seraya dia menggendong kedua tangannya di belakang.


"Mau nanya apa lu?"tanya Ajun yang sangat penasaran dengan perbincangan keduanya sebelum dirinya datang.


Lamban laun, Elshara menoleh dengan lembut dan merias wajahnya dengan sendu yang muram, kemudian mendongak pada Ajun yang sedang ada di hadapannya.


"Soal gosip yang di portal berita itu, apa bener kalau nona Ra adalah sepupunya?"tanya Elshara memasang wajah memelas.


Sepupu? Ra itu istrinya Royyan El, tapi gak tahu kapan anak itu mengungkapkan fakta ini.


"I-ya. Udahlah gak usah bahas gosip, kadang kan wartawan bisa nulis semena-mena tanpa fakta yang bener,"kilah Ajun mengalihkan perhatian Elshara.


"Iya juga ya."tiba-tiba senyum Elshara dengan cepat menyeruak menyelimuti seluruh raut wajah Elshara. "Eh iya, ngomong-ngomong Dirta dimana? Kok gak bareng kalian?"tanya Elshara dengan wajah polosnya.


Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut wanita bermata pipih itu, Ajun kelimpungan untuk menjawabnya, sejujurnya dia tidak tahu menahu soal keberadaan Dirta saat ini. Pertemuan terakhir di Jakarta pusat acara pelelangan lukisan itu tidak memberikan jawaban tentang bagaimana kehidupan Dirta saat ini.


"Gak tahu."hanya kata inilah yang keluar dari mulut Ajun seraya dia mengedikkan bahunya dan mengangkat kedua tangannya ke atas dengan pasrah.


"Saat elu dinyatakan meninggal dunia karena gak bisa menemukan jasad elu, Dirta menyalahkan Royyan atas kecelakaan yang elu alami, nah dari situ kita gak pernah berhubungan lagi sama Dirta, jadi ya gue gak tahu tuh anak manusia ada dimana,"beber Ajun terus terang, dia tak ingin menyembunyikan semua ini dari Elshara.


Pikirnya, mungkin Elshara bisa menjadi penengah perang dingin antara Royyan dan Dirta, Ajun ingin Royyan mendapatkan kehidupan yang layak, bisa berbahagia menunjukkan istrinya dengan bangga. Tak perlu lagi bersembunyi hanya karena khawatir akan ada hal buruk yang akan menimpa istrinya karena ulahnya sendiri.


"Gue harus nemuin Dirta, tapi setelah pekerjaan gue selesai,"tekad Elshara seraya menoleh pada Ajun.


"Ya emang harus, kalau lu gak nemuin dia, dia bakalan makin murka sama Royyan. Inget ya El, Dirta itu cinta banget sama elu,"timpal Ajun menegaskan.


Deg!


Cinta? Ya ... hal ini yang tidak bisa Elshara wujudkan, seperti hal dirinya yang selalu mencintai Royyan, cinta itu terlalu dalam sehingga tak tahu jalan pulangnya, walau tersesat dalam rasa sepihak, tetapi Elshara tetap mencintai Royyan tanpa alasan. Mungkin ini yang dirasakan oleh Dirta.


"Tapi gue sukanya sama Royyan,"lirihnya sendu dengan wajah yang merunduk.


"Hah?"seru Ajun yang nampaknya tidak mendengar ucapan Elshara.


Elshara menoleh dan menaikkan simpul senyumnya mencoba untuk menyembunyikan perkataannya barusan, beruntungnya Ajun tak mendengar perkataannya, jadi dia sedikit merasa lega. Lalu dia menggelengkan kepalanya untuk menegaskan jika apa yang dia ucapkan bukanlah suatu hal yang penting.


"Maksud gue itu gue bakalan nemuin Dirta dan elu yang bakalan bantuin gue temuin Dirta, oke,"kilah Elshara dengan nada suara lembut nan manjanya yang khas.

__ADS_1


Ajun seketika tersekat dengan perkataan Elshara sampai dia kembali melebarkan bola matanya seperti pertama kali dia melihat Elshara tadi, "ngapa jadi gua, cari aja sendiri,"pungkas Ajun seraya melangkah pergi meninggalkan Elshara acuh tak acuh.


"Heh! Ajun! Bener-bener lu ya jadi cowok kagak ada romantisnya gitu sama cewek,"rengek Elshara mengerutkan wajahnya.


"Bodo amat! Lu bukan cewek gue, jadi ya cari aja ya, selamat berjuang arwah cantik ..."sahut Ajun seraya dia melangkah masuk ke dalam area indoor kafe tersebut.


Wanita pemilik warna rambut dark blonde itu lantas mengentak-entakkan kakinya kesal, menginjak-injak lantai berkeramik putih dengan aksen garis bergelombang berwarna coklat seraya dia membulatkan kedua telapak tangannya.


Di tempat lain Royyan telah kembali ke gedung perusahaannya. Dengan langkah buru-buru Royyan memasuki gedung perusahaannya, menuju ke sebuah ruangan dengan pintu warna putih dan di depan pintunya tertuliskan 'ruang tamu', ya! Ruangan itu khusus untuk tamu yang berkunjung sebelum akhirnya di tuntun untuk ke urusannya masing-masing.


Royyan masuk ke dalam ruangan itu dan mendapati pimpinan perusahaan B&D Jewellery tengah duduk sembari menikmati minuman yang disajikan bersama dengan Adrian yang duduk di hadapan kedua staff perusahaan itu dan pimpinannya.


Mendapati Royyan ada di ruangan itu Adrian segera berdiri, begitupun dengan pihak perusahaan perhiasan itu yang ikut berdiri menyambut kedatangan Royyan, lekas Royyan menyuruh semuanya untuk duduk kembali, kecuali Adrian. Dia membiarkan bos-nya itu duduk terlebih dahulu sebelum akhirnya dia duduk di kursi lain tepatnya di sebelah kanan sang bos.


"Silahkan pak perhiasan yang bapak menangkan di acara pelelangan, sudah bisa bapak bawa pulang,"ujar salah satu staff perusahaan perhiasan itu.


Royyan mengangguk lambat dengan tatapan tajamnya yang khas, lekas dia raih kotak perhiasan berwarna biru itu, di dalam kotak perhiasan itu ada kalung khusus, cincin, gelang dan juga anting yang sangat cantik. Tiba-tiba sudut bibir Royyan menaik diikuti dengan cahaya yang berbinar-binar di pelipisnya, perlahan dia sentuh dengan lembut kalung tersebut, berlanjut ke gelang, cincin dan juga antingnya.


"Cantik, saya suka ini,"puji Royyan, sedang dalam pikirannya adalah bayangan wajah istrinya yang melintas.


"Terimakasih tuan, semoga anda suka."


"Ya saya suka, ini cantik."


Pimpinan perusahaan dan dua staff tersebut nampak puas melihat Royyan menyukai produknya, untuk meraih kepuasan Royyan adalah suatu yang amat sulit, selama lima tahun terakhir Royyan tak pernah tertarik dengan benda-benda gemerlapan itu, padahal dia punya seorang ibu dan juga kakak perempuan yang suka mengoleksi perhiasan, tetapi dia tak pernah membelikan mereka perhiasan satu pun, pikirnya kedua wanita tertinggi di dalam keluarganya itu memiliki banyak uang untuk membelinya sendiri.


Kamu kembalikan uang yang aku gunakan untuk membayar tas dan sepatu kamu, maka aku akan membelikan yang melebihi harga itu. Ini adalah janjiku, jika kamu mengembalikan apa yang aku berikan maka aku akan terus memberikan barang-barang atau hal yang lebih dari harga awal.


Gerutu batin Royyan menantang sang istri yang baru-baru ini mengembalikan uangnya, lantas dia tutup kotak perhiasan itu, untuk mengantar para tamu keluar dari perusahaan dan melaju menggunakan mobilnya untuk pergi dari gedung perusahaannya.


Adrian yang berada di belakang Royyan senantiasa menunggu bos-nya untuk kembali masuk ke dalam gedung lagi. Karena terlalu lama menunggu Royyan memerintahnya, akhirnya Adrian membuka mulutnya lebih dulu.


"Besok bapak berangkat ke Bali, apa yang akan bapak persiapkan?"tanya Adrian.


"Tidak perlu heboh, bawa berkas yang penting-penting aja, kita disana dua bulan jadi harus teliti dengan barang bawaan kita,"jawab Royyan kembali memperhatikan kotak perhiasan itu.


"Baik pak, saya akan segera siapkan berkas-berkasnya,"sahut Adrian, seperti biasanya dia selalu dengan sigap memutar kakinya untuk bergegas mengerjakan pekerjaannya.


Sementara itu Royyan tetap berdiri di depan pintu masuk seraya terus memandangi kotak biru yang ada genggamannya, dia tidak bisa menghentikkan wajah berseri-serinya. Wajah Almira telah mengacaukan hati dan pikirannya, akalnya telah dirampas oleh wanita yang suka menangis itu. Inilah cinta pertama yang dirasakan oleh Royyan, sampai membuatnya hampir gila karena memikirkannya.


Wajahnya yang kian datar dan dingin, perlahan mulai lentur. Kehadiran Almira memang memberikan warna yang manis di kehidupan Royyan yang selalu datar, seperti tidak ada kehidupan lain selain kerja dan pulang kerja. Dia pasati keindahan perhiasan yang ada dalam genggamannya itu, seraya dia tersenyum kecil, walau setelahnya dengan cepat Royyan menurunkannya lagi mengembalikan wajah dinginnya lagi seperti semula.


"Mari kita lihat, respon si anak kecil itu seperti apa,"seru Royyan seraya menutup kotak perhiasan itu, lalu dia lempar tatapannya keluar dari area pekarangan gedung perusahaannya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2