
Degh!
Pukulan keras seakan menghantam dada Manda lagi dan lagi, rupanya Almira masih belum mengetahui keadaan bayinya saat ini telah tiada, membuat Manda merasakan sayatan pedih yang begitu menyesakkan dadanya.
Deru buih-buih kepedihan berkumpul di bola mata Manda, ingin sekali dia menumpahkan seluruh air mata yang telah dia bendung, tetapi gadis itu masih berusaha untuk menahannya.
Dia ingin Almira mengetahui segalanya, saat ini juga, dia tak peduli Royyan akan marah padanya nanti atau bahkan keluarga Alzaro akan memusuhinya karena memberitahukan berita ini tanpa persetujuan mereka, pikirannya sungguh tercabik-cabik kala Amlira terus mengungkit bayinya.
"Ra ..."panggil Manda berat, suara paraunya berkuasa.
Almira yang baru saja tiba ke pembatas arena segera menoleh dan terpaksa kembali berselancar ke dekat Manda yang kini tengah menunduk dengan tatapannya yang redup, bola matanya pun telah mengembun, dan embun itu nampak akan segera meleleh dari bola mata almond itu.
"Kenapa?! Lu sakit?"tanya Almira heran.
"Eng-g-gak Ra ...," Manda menggeleng lemah. "A-a-ada yang---mau gue omongin sama lu Ra,"sambungnya masih bernada rendah.
"Apa?! Ngomong aja, kenapa lu jadi terbata-bata gitu ngomongnya, gue gak akan gigit juga kali,"ucap Almira tesrsenyum tipis-tipis.
Perlahan Manda menarik napasnya panjang lalu dia embuskan keluar membuat buih-buih yang membukit di dadanya sedikit menyurut bersamaan dengan netranya yang bergerak ke atas untuk menatapi sahabatnya dengan lurus.
"Ada suatu hal yang gak suami lu bilang, ya gue ngerti kenapa dia gak bilang, karena dia gak mau lihat lu sakit apalagi terpuruk gu---"terang Manda kebingungan, entah harus memulai dari mana dia menjelaskan situasi itu semua.
"Bentar, maksud lo apa?! Kak Royyan gak ngomong soal apa?"potong Almira, seketika wajahnya berubah menjadi serius.
"Semuanya sudah tahu dan cuman lu yang gak tahu,"lanjut Manda yang masih saja berat untuk mengatakan hal sejujurnya.
"Hah?"seru Almira menaikkan sudut bibir kirinya. Bingung.
Namun, Almira terdiam tak lagi bertanya, dia sangat menunggu penjelasan Manda sampai selesai, dadanya telah bergemuruh begitu hebatnya, gadis cantik itu sungguh ketakutan jika apa yang dibicarakan Manda adalah hal buruk dan Almira tidak menginginkan hal itu.
"Karena kecelakaan itu dan benturan yang sangat keras terhadap perut lu, bayi lu gak selamat Ra ...." Dengan penuh hati-hati dan suara yang parau, Manda berusaha untuk memberitahu hal yang selama ini disembunyikan oleh semua orang.
Degh!
Almira membeku, tatapannya tiba-tiba saja mematung dan bibirnya bergetar. Gadis itu sungguh tak bisa mempercayai jika apa yang barusan dia dengar adalan sebuah kenyataan bukan delusi ataupun mimpi yang bertandang saat mata terpejam dalam beberapa detik.
Langkahnya berayun lemah ke belakang dan tubuhnya bergoyang repas dan akhirnya gadis mungil itu terjatuh dalam keadaan masih terperanjat dengan semuanya. Tanpa sadar dengan tatapan kosongnya dan tubuh yang seperti kehilangan ruh mulai meneteskan air matanya, butiran-butiran kristal berjatuhan secara perlahan dari bola mata kucingnya.
"Ra ..."seru Manda terkejut, Manda segera berlutut di samping Almira, meraih salah satu tangan Almira.
Suhu tubuh gadis mungil itu nampak menurun, tatapannya masih saja kosong dan tubuhnya membeku bagaikan patung, ia tak bergerak. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir mungilnya yang indah.
"Ra ... Are you ok?"tanya Manda dengan tatapan getir, butiran kristalnya pun ikut terjatuh hingga dadanya merasa sesak.
Melihat Almira yang bergeming dan hanya meneteskan air matanya dalam kebisuan, membuat Manda semakin tersayat, dia seka air mata yang berjatuhan di pipi Almira dan segera melabuhkan tubuhnya memeluk Almira dengan erat.
"Sorry Ra ... Lu harus tahu ini, gue akan selalu ada buat elo,"ujar Manda dengan isakan yang semakin melekat.
Gadis bermata kucing itu tak menjawab, tetapi tubuhnya semakin bergetar dan membuat dekapan Manda semakin mengerat, tak lama dari itu Almira menumpahkan air matanya di pundak Manda, dia menangis sekencang mungkin, wajahnya berkerut dengan geram, tetapi tubuhnya benar-benar lemah. Tak ada yang bisa dia katakan apalagi bergerak, tak ada gairah untuk melakukan itu semua.
Rasanya ruhnya terbang sejenak dan kembali lagi dalam keadaan amnesia, dan seperti inilah keadaan Almira saat ini, dia hanya menangis dan menangis sampai bibirnya kering dan terseu-sedu dan matanya membengkak pun memerah bersamaan dengan punggungnya yang berguncang hebat.
"Tenang Ra ... Tenang ...,"ucap Manda dengan suara yang bergetar menahan tangisannya.
Tiba-tiba tangisan Almira terhenti dan pelukannya melemah yang kemudian akhirnya terlepas dan gadis berkulit seputih susu itu menjatuhkan tatapannya dengan punggung yang meringkuk dengan lemah.
"K-kak Ro-yyan, pasti ma-rah kan Man ... Kak Royyan pasti marah sama gue, karena gue gak bisa menjaga anak kita ...,"rengek Almira memeluk wajahnya dengan kedua tangan mungilnya itu dan dia kembali menangis, menggetarkan punggungnya lagi yang baru saja terdiam.
__ADS_1
"Enggak Ra ... Kenapa lu ngomong begitu." Manda kembali memeluk tubuh gadis mungil itu, "Royyan gak ngomong sama elu karena dia takut lihat lu begini Ra, stop berpikiran aneh-aneh, Royyan sekarang lagi mencari orang yang mencoba membunuh lu Ra, tenang ya ...,"bujuk Manda yang juga ikut menangis, dia pun tak mampu menahan bendungan air matanya untuk terjatuh.
...***...
Royyan dan Ajun tiba di rumah megah milik lelaki berbadan kekar itu, keduanya memasuki rumah itu dengan disambut beberapa pelayan, keduanya segera berayun ke sofa ruang tengah rumah itu dan pelayan segera membawakan beberapa minuman kesukaan Royyan beserta dengan cemilan berupa kue dan makanan ringan lainnya untuk memenuhi meja ruang tengah itu.
"Makasih,"ucap Royyan pada pelayannya.
"Iya tuan." Pelayan itu segera enyah dari hadapan Ajun dan Royyan.
Seperti biasanya Ajun lekas tergoda dengan apapun yang berbau makanan, kedua tangannya bergerak untuk mengambil sebuah kue berwarna merah dengan taburan biskuit yang juga berwarna merah, lalu dia kembali terduduk di kursinya tadi.
"Gue yakin kalau Dirta tahu sesuatu?"duga Royyan menaikkan satu kakinya ke atas kakinya yang lain.
"Euum ...,"gumam Ajun sembari mengunyah kue yang sudah berada dalam genggamannya. "Tapi dia gak akan ngomong apapun,"lanjutnya kemudian.
"Gue harus mancing El keluar dari persembunyiannya,"tekad Royyan gusar.
Tak lama dari itu Syani baru saja turun dari lantai dimana kamar Almira dan Royyan berada sambil membawa bekas makan gadis mungil itu, tanpa berpikir untuk menyimpan nampan itu terlebih dulu, Syani bergegas menghampiri Royyan.
"Permisi tuan, maaf jika saya mengganggu,"ucap Syani sopan.
Royyan menoleh dengan tatapan tajamnya yang biasa diterima oleh Syani. "Ada apa?"tanya Royyan tanpa mengubah posisinya tadi.
"Nona sudah tahu,"celetuknya kemudian membuat netra Royyan melebar.
"Tahu apa?" Royyan masih bertanya tentang apa yang diketahui oleh istrinya itu.
"Jika nona sudah tidak mengandung."
"Sial!" Royyan gegas berlari menaiki anak tangga untuk menuju dimana sang istri berada.
"Sabar dulu, lu mau ngapain?"tahan Ajun, dia tahu betul apa yang ada dalam pikiran sahabatnya itu.
"Ini pasti Manda yang memberitahu, gue harus gertak cewek itu, kenapa dia gak nepati janji."
"Santai dong, Manda bener dong, kalau Ra tahunya nanti itu bakalan lebih menyakiti dia lagi Yan ... Mending sekarang, dan Ra bisa memulai dari awal lagi,"saran Ajun menenangkan sahabatnya itu.
Akhirnya lelaki itu sedikit tenang, apa yang dikatakan Ajun memang benar, dirinya sendiri pun memang sedang mempersiapkan diri untuk memberi tahu istrinya tentang kondisi anaknya yang sudah tiada.
Kedua lelaki itu perlahan masuk ke dalam kamar pribadi Royyan dan Almira, dan mendapati Almira tengah tertidur di atas ranjang dengan diselimuti oleh selimut berbahan tebal nan lembut itu, sementara Manda terbaring di atas sofa, gadis berambut sebahu itu pun sama terlelapnya di depan televisi yang menyala.
"Mereka habis ngapain sih, kok kayaknya kecapekan gitu,"tukas Ajun memandangi Almira dan Manda secara bergantian.
"Entahlah ...,"gumam Royyan bergerak untuk mendekati istrinya yang terbaring di atas ranjang.
Telinga Manda tahu betul ada orang lain yang baru masuk ke kamar itu, lekas gadis itu terbangun dari tidurnya, dan menarik tubuhnya untuk terduduk, dan menoleh ke belakangnya dan mendapati sudah ada Royyan dan Ajun.
"Lah kalian udah ada di sini aja,"ucap Manda lirih dengan suaranya yang masih parau.
"Baru aja,"jawab Royyan yang tidak melepas tatapannya pada sang istri.
Manda bergerak mendekati Ajun sembari membawa tas kecilnya dan sedikit merapikan pakaiannya. "Euum ... Kalau gitu gue balik ya, dan besok kayaknya gue gak bisa nemenin Ra, soalnya gue ada job sampai malam,"pamit Manda hati-hati, netranya terus saja merekam pergerakan Royyan yang tengah membelai wajah Almira.
Mendengar pembicaraan Manda yang nampak diatur dengan sedemikian rupa, Royyan menoleh dan melangkah mendekati Manda yang berdiri di samping Ajun. "Tanks ya Man ...,"ucap Royyan sungguh-sungguh, "sorry gue repotin elu terus, besok lu fokus kerja aja, Ami biar gue yang jaga, gue besok gak akan kemana-mana, gue bisa kerja di rumah,"sambung Royyan datar.
"Gak masalah lah Yan ... Ra sahabat gue, jadi gue melakukan ini tidak merasa keberatan sama sekali, dan---"sahut Manda yang seketika raut wajahnya berubah menjadi kelam, dia takut untuk mengatakan jika dirinya telah memberi tahu segalanya pada Almira.
__ADS_1
"Gue tahu, gak masalah. Harusnya Ami tahu dari awal kan, cuman gue emang pecundang gak bisa ngasih tahu hal penting itu lebih cepat,"timpal Royyan memotong perkataan Manda.
Wajah gadis bermata almond itu mencugat, semua ketakutannya seketika sirna begitu saja, dia takut jika lelaki berbadan kekar itu akan mencengkeramnya dengan cakar-cakar yang keluar dari tatapannya, tetapi ternyata tidak, rasanya sungguh melegakan.
Manda menghela napasnya lega lalu dia menyeringai. "Ya udah gue balik dulu ya, dan gue akan segera selesaikan kerjaan gue dan kembali nemenin Ra,"papar Manda.
"Euum ...,"gumam Royyan mengangguk, lantas netranya mengarah pada Ajun.
Ajun segera mengerti maksud dari tatapannya itu padanya, lekas Ajun mengangguk seraya dia menaikkan kedua alisnya lalu dia turunkan lagi dengan segera. "Gue juga balik ya bye ...,"pamit Ajun bergerak keluar dari kamar itu sembari menarik tangan Manda bersamanya.
"Eeeh-eh ... Ajun bentar,"protes Manda, tetapi gadis itu tak bisa melawannya.
Terpaksa dia mengikuti pergerakan Ajun yang cepat meninggalkan rumah megah itu, sampai di lantai satu, Ajun yang masih menarik Manda berpaling ke ruang tamu rumah itu untuk meneguk minuman yang sudah dibuatkan oleh para pelayan, dia ingat saat tadi dirinya belum sempat untuk meneguknya.
"Sempet-sempetnya minum dulu,"protes Manda yang masih berusaha melepaskan dirinya dari Ajun.
"Sayang makanan dan minumannya, kalau udah dihidangkan berarti harus dimakan untuk menghargai tuan rumah yang sudah mempersiapkannya,"kilah Ajun setelah dia meletakkan gelas yang sudah kosong itu kembali ke atas meja.
Kemudian, Ajun kembali berayun dengan menarik Manda bersamanya keluar dari rumah megah itu, langkahnya terus bergerak maju sampai tiba di sebuah mobil yang nampak asing di matanya, pikiran Ajun mengerang mencoba mengingat mobil siapakah itu.
"Ini mobil siapa?! Perasaan Royyan gak punya mobil model begini deh,"cakap Ajun mengelilingi mobil tersebut dan membuatnya melepaskan cengkamannya pada Manda.
Manda yang merasa aneh dengan sikap Ajun lantas berkacak pinggang dan netranya terus berputar mengikuti kemanapun lelaki bermata downturned itu melangkah, dia bagaikan kincir angin yang tak berhenti berputar.
"Lu ngapain sih, Royyan punya banyak duit, dia bisa beli mobil apapun kan ...,"ujar Manda.
Ajun terhenti dan bergerak ke dekat Manda, memandangi gadis itu dengan dalam. "Selera Royyan bukan yang kayak gini, dan lagian Royyan gak suka mengoleksi mobil, dia lebih suka jam tangan atau motor, ini---"sanggah Ajun sembari dia terus berpikir mobil siapakah itu.
"Terus mobil ini kalau bukan punya Royyan kenapa bisa ada di sini,"tanya Manda melelehkan kedua tangannya yang memancang.
Kepala Ajun memiring dan mengingat-ingat siapakah yang pernah mengendarai mobil ini, sampai akhirnya memorinya yang kuat mengingat seseorang yang pernah mengendarainya, lantas Ajun bergerak untuk memeriksa plat mobil itu.
Setelah dia melihat plat nomor mobil itu seketika bola matanya membulat sembari dia menunjuk-nunjuk mobil itu dengan penuh keyakinan. "Naah---Ini ... Mobilnya Dirta, gue yakin itu,"celetuknya berambisi.
Manda bergerak mendekati Ajun. "Kenapa bisa mobil Dirta ada di rumah Royyan, bukannya dia gak tahu soal rumah ini."
"Kalau itu jangan nanya gue, gue juga gak tahu."
"Ish!" Manda mendorong tubuh Ajun pelan untuk melepaskan kekesalannya.
"Ya kan gue gak tahu,"tepis Ajun menyelukkan satu tangannya ke dalam saku celana untuk mengambil ponselnya yang sedari tertidur di sana. "Tunggu di sini, gue mau telepon Royyan,"pinta Ajun yang segera melangkah menjauhi Manda.
Pria itu segera mencari kontak Royyan dan melakukan panggilan telepon dengannya.
"Yan, mobil itu milik Dirta?"tanya Ajun tanpa banyak basa-basi.
Royyan yang berada di kamar pribadinya segera keluar dan berdiri di balkon kamarnya. "Iya, bawa balik gih mobilnya, gue lupa balikin."
"****** lu! Gimana kalau itu mobil ada pelacaknya dan rumah lo jadi ketahuan,"geram Ajun yang sebetulnya dia mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu.
"Ya sorry ... Udahlah lu bawa aja, gue lempar kuncinya nih."
"Mana cepet!"
Ajun kembali melangkah ke dekat mobil itu menunggu Royyan menjatuhkan kunci mobil milik Dirta, tak lama Ajun berdiri di sana, tepat di belakangnya mobil tersebut, kunci mobil tersebut mendarat tepat di telapak tangan kanan Ajun.
"Gue bawa ya."
__ADS_1
"Oke."
NEXT ....