
Nyanyian merdu dari sebuah kotak musik yang terpajang di atas meja sebuah kamar yang berukuran luas dengan nuansa merah muda yang manis, menyebarkan nyanyiannya sampai ke lantai satu dari rumah yang memiliki tiga lantai itu. Di balkon seorang gadis berambut panjang yang telah mengganti warna rambutnya menjadi warna dark blonde terduduk di kursi yang ada disana.
Dia bersandar pada kursi, memejamkan matanya meresapi angin yang dibaluti kehangatan fajar pagi ini, menghirup udara segar yang baru dua bulan terakhir dia rasakan. Sebelumnya hanya aroma obat-obatan rumah sakit dan perawakan dokter dan susternya yang dia jumpai.
"I'm back,"ucap gadis yang masih menggunakan balutan kain kasa di seluruh wajahnya. "Aku akan segera kembali,"tambahnya seraya menautkan jari-jarinya satu sama lain.
Besok adalah hari pelepasan, dia akan mendapatkan wajahnya yang semula seperti saat pertama dia di lahirkan ke dunia ini. Desir angin membalut suasana pagi dengan begitu sempurna, harapannya akan segera terwujud. Bertahun-tahun dia melakukan segala cara untuk mendapatkan wajahnya kembali, dan besok adalah harinya.
Beralih dari sosok wanita yang sering mengunjungi butik Almira itu, matahari menerobos masuk ke dalam kamar sunyi dengan nuansa putih yang suci, di atas ranjang sepasang suami-istri tengah terlelap dalam tidurnya.
Acara malam tadi yang sangat melelahkan membuat Royyan dan Almira tertidur dengan nyenyak tanpa menyadari posisinya saat ini. Almira dalam keadaan tertidur di atas dada Royyan seraya memeluknya, hangat dan juga nyaman yang dia rasakan. Masih dalam balutan gaun yang dia kenakan semalam, sedangkan Royyan tanpa mengenakan kemejanya, dan satu tangannya dia sengaja diletakkan di bawah tengkuknya.
Alarm yang berbunyi dari dua jam lalu telah berhenti, ia sudah kelelahan membangunkan Royyan dan Almira yang tak kunjung membuka kedua bola matanya. Namun, secuil sinar mentari pagi yang menerobos masuk ke sela-sela jendela mampu membangunkan Royyan dari tidurnya.
Lantas dia memiringkan wajahnya dan melepaskan dekapan sang istri dari tubuhnya dengan gerakan yang sangat lembut dan pelan, "Cantik. Kamu memang cantik, terimakasih ciuman semalam, maaf aku tidak bisa menahannya."Royyan memandangi wajah Almira dengan dalam. Bola mata kucingnya yang menggemaskan itu tertutup dengan rapat.
Karena takut istrinya menyadari apa yang dia lakukan, maka dia gegas terbangun dari ranjang, kemudian dia selimuti istrinya hingga seluruh tubuh Almira terbalut dengan sempurna.
["Maaf pak, surat itu datang lagi, semalam sekitar pukul 01.00 wib dini hari, bapak ingin membacanya atau saya musnahkan?"]
Pagi-pagi ketenangan Royyan terguncang oleh pesan yang dikirim oleh Adrian. Dia tidak membalasnya, pria berambut mullet itu malah menyugar wajahnya dengan kasar seraya mencengkeram ponsel yang ada dalam genggamannya.
"Sial!"cibirnya sembari berkacak pinggang di tengah-tengah kamar.
Umpatan Royyan telah membangunkan Almira, wanita yang baru membuka matanya itu segera melebarkan bola matanya karena mendapati punggung sang suami tengah telanjang, lekas dia tarik selimutnya menutupi wajahnya.
"Kak Royyan kenapa sih pagi-pagi udah marah-marah, mana gak pake baju lagi,"ucap Almira dengan suara yang masih parau dan menutupi setengah wajahnya.
"Enggak ada."ketus Royyan tanpa menoleh pada Almira, lalu dia melengos pergi keluar dari kamar dan menutup pintu kamar lagi dengan rapat.
Almira segera turun dari ranjangnya menatapi punggung suaminya yang perlahan tenggelam dan tak nampak lagi sampai pintu itu tertutup. Wanita berambut coklat keemasan itu memicing lalu mendelik dengan cepat.
"Kenapa tuh orang, mulai dah penyakitnya kumat. Bodo amatlah, gue gak mau ikut campur,"celotehnya yang kemudian meraih resleting bajunya yang ada di belakang.
Namun, Almira kesulitan untuk meraihnya, tangannya terlalu pendek untuk tiba disana. Tetapi dia tidak menyerah, wanita berpipi tirus itu terus berusaha untuk membuka resleting gaunnya walau dia harus melenturkan tubuhnya.
Dalam detak yang sama, Royyan kembali ke dalam kamar dengan masih telanjang dada. Perlahan dia menyeret langkahnya mendekati Almira, tanpa aba-aba dia meraih resleting yang tengah berusaha di raih oleh Almira. Sontak hal itu membuat Almira berputar dengan gerakan cepat dan memundurkan tubuhnya.
"Mau ngapain kamu? Jangan macem-macem ya,"tunjuk Almira dengan degup jantung yang tak beraturan.
"Kamu kesulitan kan? Sini aku bantu."
"Enggak! Gak perlu, aku bisa sendiri."
"Yaudah ...."
Pria dengan lengan kekar itu mundur dan terjatuh di atas ranjang, dia tarik kedua tangannya ke belakang tengkuknya untuk dijadikan bantalnya saat ini. Dia terbaring di atas ranjang, tubuhnya yang dipenuhi otot dan kulit putihnya itu ditonton oleh Almira dengan puas. Namun, kemudian Almira segera memalingkan wajahnya dan tetap berusaha meraih resleting gaunnya itu.
"Kamu ngapain datang lagi ke kamar, bukannya tadi udah keluar,"ucap Almira seraya dia berjalan ke dekat Royyan untuk mengambil ponsel yang tertidur di atas nakas.
"Masih mau aku bantu gak?"celetuknya tidak menjawab pertanyaan Almira tadi, seraya dia terbangun dan duduk di pesisir ranjangnya.
"No! Gak mau, yang tadi malam aku belum maafkan ya, jadi jangan bikin aku berang lagi ya,"pungkasnya seraya menarik tubuhnya menjauh lagi dari Royyan.
Tetapi pria bermata kecil itu dengan kecepatan angin mengambil pinggang Almira dan menariknya hingga terjatuh dan duduk di pangkuannya dengan salah satu tangan kekarnya menahan satu tangan Almira dipinggangnya.
__ADS_1
"Kak! Lepasin cepet!"gertak Almira dengan bola mata yang menegang, dan satu tangan yang ada di dada Royyan lekas mendorongnya.
"Aku bantu lepasin gaunnya dulu, baru kamu bisa pergi."Royyan merasuki jiwa Almira menjadi memanas.
Perlahan satu tangannya yang lain menjalar ke punggung telanjang Almira, beralih ke pinggang atasnya itu mengunjungi resleting yang sedari tadi tak kunjung terbuka.
"Lepasin! Aku gak bisa sendiri."Almira mendorong Royyan dengan kekuatan yang lebih besar di banding tadi.
"Udah diem. Kalau kamu bisa dari tadi juga kamu bisa membukanya, ini tidak."
"Kak ... lepasin ih,"rengek Almira menahan tangan Royyan yang berusaha untuk membantunya.
"Mau lanjut part dua,"paparnya seraya memajukan wajahnya dan mendekatkan bibirnya dengan bibir istrinya.
Seketika Almira gegas menutupi mulutnya dengan satu tangan yang menempel di dada Royyan, lalu dia menggeleng dan kegetiran yang terpancar dari wajah dan bola matanya.
"Oke. Jadi bisa diem kan?"kata Royyan menatapi sang istri dengan dalam.
Anggukan tegas terpancar di hadapan Royyan, membuat simpul senyum kecil Royyan meletek. Lantas pria yang masih menyimpan senyumnya itu berjalan di atas punggung Almira lagi dan membuka resleting gaun itu secara perlahan sampai turun ke bawah terbuka.
"Aku keluar dulu."setelah selesai, Royyan gegas kakinya keluar lagi dari kamar, seraya menurunkan Almira dari pangkuannya ke atas ranjang.
Almira terdiam dahulu. Dia sama sekali tidak bergerak dari atas ranjang sampai Royyan tenggelam keluar dari kamarnya. Setelahnya barulah Almira merasa lega, bahkan dia menghela napasnya panjang, lalu dia menjatuhkan dirinya di atas ranjang seraya menggenggam gaun yang sudah terbuka resletingnya.
"Haduuh ... lama-lama gua mati berdiri, kak Royyan kalau sama cewek yang gak dia suka bisa begitu ya, kalau gue kayaknya deket juga gak mau deh,"gerutunya dengan mata yang terpejam. "Jantung gue tiap hari disuruh olahraga mulu."
...***...
"Hari ini kita akan meeting dengan sebuah stasiun televisi swasta yang akan menyewa **resort** kita untuk sebuah acara televisi online yang akan mengundang beberapa model besar di dalam acara tersebut,"terang Adrian di depan Royyan.
Tak lama dari itu, kliennya mulai berdatangan. Meja panjang yang telah menyajikan sebuah minuman di setiap kursi itu dengan segera terisi penuh dengan orang-orang yang merupakan staff-nya dan juga staff dari kliennya.
"Acara televisi ini akan ditayangkan secara online di salah satu platform penayangan film-film,"jelas kliennya yang kini tengah berdiri seraya menunjukkan deretan huruf yang ada di dalam laptopnya.
"Kenapa tidak ditayangkan di televisi langsung?"tanya Adrian yang duduk di samping Royyan.
"Indonesia memiliki peraturan televisi yang ketat, sedangkan summer camp kita akan menampilkan konten dewasa, sedangkan di media online yang menonton hanya yang bisa mengakses dan berlangganan, jadi jauh lebih baik, dan juga kita akan bekerjasama dengan majalah,"terangnya lagi.
"Susunan acaranya seperti apa?"tanya Royyan seraya dia meletakkan tablet yang menampilkan angka-angka dan grafik.
"Acara ini akan menampilkan para model-model yang tengah naik daun yang melakukan acara camp bersama beberapa model pria, dan para model itu akan diajarkan menari berpasangan, dan kamu membutuhkan resort bapak yang ada di bali."
"Acara yang menarik, baiklah. Pastikan ratingnya tinggi,"sahut Royyan seraya menatapi tajam kliennya.
"Baik pak, saya akan pastikan rating akan tinggi, kami memiliki satu model rahasia yang tidak pernah kami tunjukkan fotonya, dan dia selalu menarik para sponsor, kami akan ungkap dia dan sudah di pastikan dia akan menjadi daya tariknya."
"Apapun itu, saya hanya ingin kesuksesan dalam acara ini."
"Baik pak."
Dengan cepat Royyan menandatangi kontrak kerja itu, dan meeting selesai sesuai dengan perkiraannya. Klien dan semua staffnya pun telah kembali pulang, tinggal Royyan dan Adrian masih mengerjakan beberapa dalam laptopnya untuk merencanakan acara itu dengan matang.
Di tempat lain Almira yang seperti biasanya berada di butik tengah merapikan beberapa gaun rancangan yang baru saja keluar dari ruang produksi, gaun indah itu berdiri bersama patung yang berpose di dalam ruangannya, perlahan dia mengelilingi gaun itu untuk memastikan jika gaun tersebut telah sempurna untuk digunakan oleh kliennya yang misterius itu.
Tiba-tiba Manda menerobos masuk ruangan Almira tanpa persetujuan siapapun. "Almira ... Miara Tisya!"ujarnya dengan nada suara sedikit tinggi, kemudian dia menjatuhkan tubuhnya di kursi putar milik Almira.
__ADS_1
"Berisik lu pagi-pagi, ganggu orang kerja aja lu, kenapa sih? Ada berita apa?"sahut Almira dengan tatapan mata yang belum teralihkan dari gaun merah muda yang berpadu dengan warna putih yang bersih.
"Gua dua minggu lagi bakalan pergi ke Bali karena gua diikut sertakan sama agensi gua di acara summer camp gitu,"beber Manda seraya berputar-putar di kursi tersebut.
"Waw ... seru tuh kayaknya, acaranya kayak gimana?"seru Almira yang disisipi sebuah pertanyaan.
"Dari naskah yang gua baca sih kayak, sebuah acara yang menunjukkan keseharian sepuluh model dan satu lagi hidden model gitu, bersama sepuluh model pria, disana kita akan mengadakan sebuah permainan, dan yang mendapatkan soulmate dan di nobatkan sebagai pasangan musim panas itu bakalan dapet hadiah besar,"beber panjang Manda. "Dan gua rekomendasikan butik elu sebagai orang yang menghandle pakaian kita disana,"lanjutnya tanpa berdosa.
Deg!
Almira tersekat dan langkahnya dengan cepat terhenti. Lalu dia seret langkahnya dengan penuh semangat menghampiri Manda, dia gebrak meja kerjanya dengan bola mata yang membulat.
"Hello ... kenapa gua anjirr, mana ngomongnya mendadak lagi, lu gila! Dua minggu gua harus siapin gaun dan pakaian untuk acara itu, berapa lama acaranya?"protes Almira masih berdiri di hadapan Manda.
"Tenang dulu cintaku ... karena yang di sewa bukan satu butik doang, tapi ada tiga butik dan kita akan mengadakan acara di sebuah resort yang bagus banget sumpah, gua suka."Dengan gerakan manjanya Manda menghamburkan tubuhnya memeluk Almira sejenak, lalu setelahnya dia berjalan mendekati gaun yang sedang di kerjakan oleh Almira.
"Males ah gua harus ke Bali, jauh banget sih,"sahutnya merengut.
"Elu gak mau ke resort milik perusahaan Rain Corporation, resort terbesar di daerah south kuta, badung regency, Bali."
Almira mematung sejenak. Bekerja sambil liburan? kedengarannya itu adalah hal baik. Tetapi hatinya masih tidak meyakini jika karya-karyanya bisa memenuhi kebutuhan acara tersebut. Hatinya mengecil, ini kali pertama dia mendapatkan job sebesar ini selama dia pindah dari Paris ke Jakarta.
Di tempat lain, gadis cantik yang mengenakan gaun lembut di atas lutut tengah bertemu dengan pimpinan agensi model itu di rumahnya sendiri. Pria paruh baya itu membawa beberapa makalah dari butik-butik yang mengajukan untuk memenuhi kebutuhan pakaian dari acara tersebut.
"Banyak sponsor yang menantikan mu, apakah kamu siap untuk mengungkapkan wajahmu?"tanya pria paruh baya itu.
"Acara dua minggu lagi kan?"tanya gadis itu seraya memperhatikan makalah-makalah yang bececeran di atas meja ruang tengahnya.
"Iya ... kita tidak bisa memundurkan jadwal lagi, karena perusahaan Rain corporation yang menentukan jadwalnya."
"Kenapa harus sesuai keinginan perusahaan itu?"
"Karena resort besar itu miliknya, kalau kita tidak menurutinya mungkin izin atas resort itu akan dicabut lagi."
"Menarik. Oke ... aku akan kembali dengan wajahku,"pungkasnya seraya menyimpulkan senyumannya.
Gadis berambut panjang lurus itu melempar makalah yang ada dalam genggamannya ke atas meja dengan lembut, lalu dia duduk dengan tegak. Dan melipat kedua tangannya di atas pahanya sendiri.
"Saya tidak tertarik dengan butik-butik itu semua, tapi saya punya rekomendasi yang bagus, dan rancangan disana sangat bagus-bagus dan saya jatuh cinta terhadap gaun-gaun disana,"celetuk gadis itu.
"Silakan, kamu mau butik yang mana?"
"Pemilik butiknya bernama Almira Miara Tisya, setahu saya dia lulusan terbaik di ESMOD Internationale."
Pria paruh baya itu mengangguk. Tak lama dia menyadari jika butik itu adalah rekomendasian dari Manda yang juga merupakan model papan atas di agensinya. Pria yang menjabat sebagai pimpinan agensi itu pun segera menyeringai, menerbitkan senyuman bahagianya.
"Butik itu sedang kami usahakan untuk menjalin kerjasama, karena Manda salah satu model papan atas juga sudah merekomendasikannya pada agensi,"tuturnya kemudian.
"Okelah, mari kita kerjakan acara ini dengan baik."
"Agensi akan memberikan informasinya nanti langsung pada kamu, Rala."
Gadis dengan nama panggilan barunya yaitu Rala segera mengangguk. Kain yang membaluti wajahnya masih menutupinya, dia belum melepaskannya sampai waktu yang telah dokter katakan padanya.
NEXT ....
__ADS_1