
"Kamu lihat aku sama seorang wanita kan, dan dia adalah wanita yang ada di dalam foto ini,"tunjuk Royyan pada sosok Elshara yang tengah tersenyum lebar di foto itu dalam posisi sedang melingkarkan tangannya pada Dirta dan juga padanya, bedanya adalah Elshara menyandarkan kepalanya di pundak Royyan.
"Hah?! Bentar, bukannya dia udah meninggal kan? Kata kak Aneu wanita ini sudah meninggal karena kecelakaan pesawat,"sahut Almira masih nampak limbung.
Royyan mengangguk dengan satu tangannya masih menggenggam satu tangan Almira yang ada di dekatnya, "Saat itu aku ikut untuk mencari keberadaan Elshara, tetapi ... baik aku ataupun keluarganya tidak ada yang menemukan jasadnya, dan pencarian di hentikan. Dan sejak saat itu aku tidak pernah berhubungan dengan keluarganya lagi,"jelas Royyan sambil dia menjilati bibir bawahnya yang kering.
"Jadi dia selamat gitu, dan kemarin nemuin kamu?"tanya Almira menerka-nerka.
"Iya, aku belum sempat menanyakan bagaimana dia selamat, karena ada pekerjaan penting jadi aku langsung pulang, begitupun dengannya."
Sekali lagi Almira mengamati foto itu lagi, mencoba mengingat wajah semua orang yang ada di dalam foto itu, satu persatu dia perhatikan seraya menanamkan ingatan yang tajam terhadap wajah setiap manusia yang ada di dalamnya, sampai dia berhenti di foto Elshara dia pasati dengan dalam hingga dia mengingat wajah itu dengan benar.
"Nona Rala? Bentar bentar ... kok mirip nona Rala sih,"serunya yang kemudian mendelik pada suaminya sendiri dan mematri tatapan Royyan dengan tajam.
"Iya. Elshara adalah Rala, seperti yang dikatakan oleh Manda, jika Rala mengalami insiden besar yaitu kecelakaan pesawat."
Seketika Almira mematung. Takdir sesempit itu ternyata, padahal Indonesia ini termasuk negara yang luas, bagaimana tidak Indonesia memiliki 17.001 pulau, tetapi semuanya dipertemukan di kota Jakarta yang juga memiliki banyak wilayah.
"Eh bukannya pas di acara pelelangan dia ada nemuin kamu?"tanya Almira lagi seraya menunjuk wajah Ajun yang berada di samping lain Royyan.
"Tinggal Ajun yang memiliki hubungan baik dengan aku sekarang, dan kemungkinan di tambah El, karena sekarang dia akan bekerjasama denganku di acara summer camp,"sahut Royyan lagi.
"Terus yang ini kemana?"tunjuk Almira lagi pada sosok Dirta.
Melihat istrinya menunjuk Dirta, tiba-tiba saja darahnya mendidih. Bola matanya seperti akan menerkamnya hidup-hidup, dia adalah sumber utama pernikahan ini harus disembunyikan dan Royyan harus bersusah payah menahan jiwa buasnya pada sang istri demi melindungi Almira dari kekejian seorang pria yang sama-sama memiliki mata kecil itu. Dirta hari itu dan hari ini adalah sosok yang berbanding terbalik.
"Udah ah capek."Royyan mengalihkan perhatian Almira dari Dirta, dia sama sekali tidak ingin membicarakan Dirta.
Dengan sigap Royyan melempar foto itu sampai berbenturan dengan dinding dan serpihan kaca dari pecahan kaca foto itu berserakan dilantai, sampai Almira terbelalak dengan tindakan Royyan sehingga mulutnya sedikit terbuka, lalu dia menoleh pada suaminya seraya mengerutkan dahinya.
"Heh! Main lempar aja, lihat tuh kacanya berserakan, kalau kena kaki kan bahaya, kamu ini gimana sih,"gerutu Almira setelah dia memukul lengan Royyan, yang kemudian dia berdiri hendak membersihkan serpihan kaca itu.
"Udah biarin aja gak penting,"sahutnya seraya merentangkan satu kakinya yang panjang menahan Almira untuk melanjutkan langkahnya.
Almira menoleh, kemudian dia memutar tubuhnya kembali menghadap pada sang suami. "Kenapa kamu lempar, emangnya ada apa kamu sama yang namanya Dirta itu, apa karena kalian terlibat cinta segitiga itu, kamu mau kembali sama Rala atau El Elshara itu,"tukas Almira seraya melipat kedua tangannya di depan.
Rasa cemburu kembali bergejolak, memanaskan hati Almira yang baru saja suhunya menurun. Dia patri tatapan Royyan lagi dan menarik pada rasa cemburu yang sekarang sedang menguasai dirinya.
__ADS_1
"Gak usah ngaco, aku udah nikah, ngapain balik lagi ke masa lalu yang enggak pernah aku harapkan,"jawab Royyan tegas, kemudian dia tarik pinggang Almira untuk mendekat padanya.
Lalu dia raih tengkuk lututnya dan membawanya ke atas ranjang, melempar lembut tubuh Almira sampai terbaring. "Aaaarghh ..."Almira berteriak terkejut tiba-tiba saja Royyan melemparnya kembali terbaring di ranjang, sontak matanya terbuka lebar dengan irama degup jantung yang berdetak sangat cepat.
Dengan cepat Royyan datang menempatkan posisinya berada di atas Almira, satu kakinya nyeberang ke bagian tubuh Almira lain, tepatnya di samping kanan kaki Almira yang terjuntai ke bawah menginjak lantai putih, seraya tersenyum perlahan dia dekatkan wajahnya dengan wajah cantik Almira.
"Apa kamu bilang nikah? Pernikahan yang mana yang kamu bicarakan?"tanya Almira seraya menahan dada Royyan untuk tidak terlalu dekat dengannya, dia berusaha menampilkan wajah yang berani. "Kalau pun kamu benar-benar menjalin hubungan dengan Rala, tidak akan ada yang menghinamu karena berselingkuh karena pernikahan ini tidak terlihat,"sambung Almira lagi.
Sebenarnya Almira hanya ingin mengetahui kemanakah pernikahan ini melangkah, dia sudah merasakan bosan dengan persembunyian bodoh ini, dia harus berpura-pura tidak mengenali suaminya sendiri selama dia berada di luar rumah, ini sudah terlalu melelahkan dan Almira menginginkan pernikahan sesungguhnya.
"Aku tidak menikah untuk bercerai, kamu baca lagi surat perjanjiannya, disana aku tidak menuntut apapun lagi selain jangan pernah pernikahan ini terungkap sampai aku mengizinkannya dan selebihnya kamu yang buat, tentang jangan satu kamar atau melakukan hal hubungan intim suami istri itu permintaan kamu,"jelas Royyan yang semakin mendekatkan wajahnya dengan Almira yang kini hanya menyisakan satu titik jarak saja.
"Ya a-aku bener kan? Kamu menyembunyikan pernikahan ini karena kamu nikahi aku bukan karena cinta, dan setelah urusan kamu itu selesai pernikahan ini juga selesai"ucap Almira sedikit terbata-bata yang kemudian mendorong Royyan dari hadapannya.
Namun, dorongan Almira malah menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri, bukannya menjauh Royyan malah kembali terjatuh semakin dalam dan juga tubuh mereka melekat bagaikan secarik kertas dengan perangkonya. Dalam satu gerakkan Royyan menjatuhkan kecupan lembut di bibir Almira, awalnya hanya ketidaksengajaan karena Almira mendorongnya dengan kasar dan Royyan kehilangan kendali, akhirnya terjatuh tepat mempertemukan bibir kecil Royyan dengan bibir kecil Almira yang polos.
Tetapi setelah menyentuhnya gairah Royyan kembali bergejolak, dia sangat menikmatinya. Dia menekan bibirnya semakin dalam pada bibir mungil sang istri, bahkan kedua tangannya menjalar ke pinggang dan juga punggung Almira dan menekannya sampai ciuman itu semakin lekat dan juga dalam. Bola mata Almira melebar kemudian terkatup dengan cepat, dia ingin berteriak dan memarahi suaminya yang lagi-lagi menciumnya tanpa izin darinya.
Tapi bagaimana bisa dia melakukan hal itu, tubuhnya telah di dekap Royyan dengan erat. Tangannya berusaha untuk menahan dada sang suami tetapi dia tak cukup kuat untuk melakukannya, sedangkan bibirnya terus dibungkam oleh kehangatan yang tersalurkan dari Royyan. Kepala pria berbadan penuh dengan otot itu terus bergerak ke kiri dan kanan seraya semakin menyelami ciuman itu semakin buas merasuki gairahnya yang bergejolak tanpa henti.
Berhasil. Ami mulai nyaman, aku akan lebih ganas dari ini dan harusnya kamu paham kenapa aku melakukan ini semua, aku mencintaimu Almira. Aku tidak akan mau berciuman dengan wanita mana pun selain dengan mu wanita yang aku cintai.
Perlahan bibirnya yang masih meresapi rasa manis dari bibir Almira itu akhirnya menyeringai, dia sedikit membuka mulutnya untuk melahap bibir lembut milik sang istri semakin dalam lagi dan tekanan yang lebih kuat lagi, kedua tangannya yang melingkari pinggang Almira menekannya dengan kekuatan yang lebih besar.
Keduanya sama-sama menikmati gairah yang panas dan bergejolak, perlahan tubuhnya menjadi hangat bahkan merasakan aura panas keluar dari tubuh keduanya. Almira mulai pasrah dengan apapun yang dilakukan sang suami, ini bukanlah kesalahan, sejatinya mereka adalah suami istri yang sah secara agama maupun negara, melakukan hal ini tidaklah salah melainkan yang seharusnya mereka lakukan.
Meninggalkan dua sejoli yang mencoba merasuki jiwa satu sama lain, beralih pada Aneu yang berada di ruang tengah rumah besar kedua orangtuanya itu seraya memperhatikan ponselnya dengan teliti, lambat laun bola matanya mengembang lalu dia bertolak pinggang dengan amarah yang bergelora.
"Apa-apaan ini? Gosipnya gak bermutu banget sih, orang suami gue lagi ada dinas keluar kota dan Almira ada disini sama suaminya,"gerutu Aneu mematri ponselnya sendiri dengan amarah yang bergejolak.
Rini dan Rian yang baru saja turun dari lantai dua segera menghampiri Aneu, seraya merapikan penampilannya masing-masing, bahkan Rini menggeleng seraya tersenyum kecil menatapi putri sulungnya yang menggerutu di pagi yang baru saja menyingsing.
"Kenapa sih? Pagi-pagi udah marah-marah aja anak mami yang cantik ini,"tanya Rini yang kemudian membelai kepala Aneu dengan penuh kasih.
"Lihat deh Mi,"sahut Aneu menjulurkan ponselnya.
Menunjukkan sebuah artikel yang membahas tentang kencannya seorang pengusaha terkenal dari perusahaan Rain Corporation Daboz, yang merupakan perusahaan yang dipimpin oleh papinya sendiri Rian Dzario Alzaro sedangkan yang sedang digosipkan adalah suami Aneu yang menjabat sebagai direktur utama perusahaan tersebut, di atas direktur utama ada presiden direktur yaitu Rian dan Rini.
__ADS_1
[Diketahui direktur utama dari perusahaan Rain Corporation Daboz menjemput seorang desainer terkenal lulusan terbaik di Paris yaitu Almira Miara Tisya putri tunggal dari pasangan pengusaha fashion Ressa dan Miranda, apakah mereka berkencan? Tapi bukankah direktur utama perusahaan Rain Corporation Daboz ini suami dari putri sulung pemilik perusahaan? Apakah ini sebuah perselingkuhan? Gimana nih fans ....]
Membaca semua barisan huruf itu, Rini sontak membeliakkan bola matanya. Pikirannya menajam pada Royyan yang semalam pulang bersama istrinya, lekas Rini menoleh ke atas.
"Royyan!"panggil Rini dengan suaranya yang melengking.
Panggilan Rini tembus ke lantai tiga, terdengar langsung oleh telinga Royyan danAlmira yang belum selesai melekatkan bibir mereka, setelah mendengar itu Royyan dengan sigap melepaskan bibirnya dari Almira dan beranjak dari atas tubuh Almira, membawa dirinya untuk berdiri seraya dia menarik Almira yang baru saja merasa lega dan membuka matanya untuk duduk.
"Udah sayang, kita akhiri disini, ayo kita turun ...."lirih Royyan seraya membelai wajah Almira dengan lembut, bahkan dia mengusap lembut bibir Almira yang baru saja dia nikmati.
Wanita bertubuh mungil itu masih mengatur pola napasnya dan masih terhipnotis sentuhan yang sangat nikmat itu, sehingga dia tak melawan saat dia di tarik Royyan keluar dari kamarnya, menuruni tangga sampai akhirnya mereka ada di lantai satu di hadapan Rian, Rini dan juga Aneu, disana lah Almira mulai tersadar dan segera menarik tangannya dari genggaman Royyan.
"Ada apa Mi,"tanya Almira seraya dia menepis semua apa yang sebelumnya dia lakukan.
"Lihat ini, gimana mau meluruskannya itu,"sahut Rini menjulurkan ponsel Aneu ke hadapan Royyan dan Almira.
Seketika bola mata Almira melebar, lalu dia menoleh pada Royyan. Sedangkan Royyan nampak tenang, karena dia sudah menduga hal ini akan terjadi dan dia sudah menyiapkan jawaban yang pasti untuk itu semua.
"Aku tahu hal ini akan terjadi,"ucapnya tenang.
"Terus apa yang mau kamu lakukan?"tanya Aneu penasaran apa yang akan dilakukan adik satu-satunya itu.
Royyan berjalan ke depan melempar pandangannya keluar, pada sinar matahari yang mulai menaik dengan kegagahannya, sedangkan Rian, Rini, Aneu dan juga Almira masih menunggu jawaban yang pasti dari mulut pria bertubuh tinggi gagah itu.
"Kamu mau mengungkap pernikahan kalian, atau gimana?"tanya Aneu seraya mendekat pada Royyan.
"Jangan sekarang. Aku belum selesai, aku akan menemui wartawan dan bilang kalau itu aku dan Ami adalah adik sepupu jauh dan kemungkinan publik akan redam sejenak,"terang Royyan mematahkan harapan Almira yang sempat melambung tinggi.
Apa sih. Apa coba yang belum selesai, gue makin yakin kalau persembunyian ini ada kaitannya dengan temennya yang namanya Dirta itu, gua harus nanya siapa dong, Manda? Mungkin dia bisa menerawang, soalnya dia kan pinter tuh merangkai cerita dalam otaknya eh tapi gue ngomongnya gimana? Nanti si Manda nanya yang lebih dari itu, gue yang berabe.
Begitulah umpatan batinnya yang berkecamuk mengacak-acak pikirannya.
Rian dan Rini ingin sekali bertanya dengan jelas alasan Royyan menyembunyikan pernikahannya sendiri, tetapi waktunya terlalu sempit untuk mempertanyakan hal serius seperti itu.
Perlahan Rian dan Rini beranjak dari sana, Aneu mengikuti kedua orangtuanya yang melimbai ke area meja makan, begitupun dengan Almira yang memutar langkahnya kembali ke kamar yang berada di lantai tiga, sedangkan Royyan masih berdiri memasati langit yang cerah. Warna birunya telah menghipnotis Royyan untuk tetap berdiri disana dan hanya menatapinya di atas.
NEXT ....
__ADS_1