
Salah satu butik di sudut kota Jakarta Pusat dekat dengan pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran yang menjulang tinggi, bahkan ada bangunan yang nampak seperti mencium langit di atas sana. Wajah langit yang membiaskan warna biru yang sempurna, terlihat jelas oleh netra seroang wanita pemilik butik tersebut. Wanita berambut panjang coklat keemasan dengan ujungnya yang ikal itu memasuki gedung butik miliknya.
Perlahan dia melenggang masuk ke dalam butik tersebut dengan penampilan feminimnya, semua karyawan sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hanya seorang wanita yang menyambut kedatangan Almira di depan pintu ruangannya.
"Permisi kak Ra, ini ada undangan pelelangan perhiasan dari sebuah perusahaan perhiasan yang bekerja sama dengan perusahaan dari Jerman,"ucapnya menyodorkan sebuah kertas undangan dengan kertas tebal dan berwarna biru pekat dengan tulisan yang berwarna emas.
"Undangan? Kapan?"sahut Almira mengernyit seraya mengambil alih undangan itu dari tangan orang kepercayaannya.
"Diperkirakan dua hari lagi, tepat pada jam delapan malam."
"Hmm .... Oke. Siapin pakaian buat saya ya."
"Siap bu, saya akan siapkan dengan segera."
Almira mengangguk untuk menjawab perkataan karyawannya itu, lantas dia berlanjut masuk ke dalam ruangannya, berayun mendekati meja dan duduk di kursi putarnya. Berputar-putar di atas kursi seraya dia memainkan ponselnya mencari tahu tentang pelelangan perhiasan tersebut.
"Oh perusahaan B&D jewellery,"serunya seraya bersandar pada kursi yang dia duduki. "Kenapa gua bisa di undang ya, gua gak pernah ada hubungan kerjasama dengan mitranya, kok bisa ya?"sambungnya masih mengherankan undangan itu kenapa bisa sampai padanya.
Tidak lama Almira bersandar di kursinya, derap langkah seseorang terdengar jelas mendekatinya. Langkah yang selalu hadir itu sudah dikenali oleh Almira, maka dari itu dia mengabaikannya dan menunggu pemilik derap langkah itu masuk ke dalamnya dan duduk di sofa dengan sembarang seperti biasa yang dilakukannya.
"Ra ...."panggil Manda sesaat setelah dia masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Hmm ...."gumam Almira yang tidak melepas pandangannya pada layar ponselnya.
Manda memiringkan tubuhnya mengawasi sahabatnya yang begitu fokus dengan layar segiempat yang ada di hadapannya. Lekas dia melimbai mendekati Almira dan mengetuk meja beberapa kali.
"Lagi ngapain lu, serius amat neng,"tanya Manda menyandarkan tubuhnya pada meja tersebut.
"Lagi nyari info tentang perusahaan dari undangan ini,"jawab Almira dengan netra yang masih terfokus pada layar ponselnya, seraya dia menggeser surat undangan di dekatnya pada hadapan Manda.
Tanpa menunggu lagi, Manda mengambil undangan itu dan mengangkatnya ke atas untuk dia baca. Satu persatu kata-kata yang berjejer di atas kertas undangan itu dia baca dengan teliti. Sebuah acara pelelangan perhiasan rancangan dari seorang perancang perhiasan yang terkenal di Jerman.
Sepertinya menarik. Pikir Manda begitu, benaknya sudah membayangkan banyak hal tentang gemerlap perhiasan-perhiasan itu menyelimuti gedung arteri, salah satu gedung andalan para pemuka bisnis dari semua jenis. Gedung ini terletak di bagian barat Jakarta pusat. Sebuah lokasi langganan untuk para orang kaya pemilik bisnis dan perusahaan-perusahaan besar di negara ini.
"Jadi gak ngambil tas-nya?"tanya Manda kemudian setelah dia meletakkan surat undangan itu di atas meja.
"Jadi dong, tapi nanti deh ya, agak siangan. Lagian **store**-nya belum buka juga jam segini,"jawabnya tanpa melihat jam tangan yang melingkari lengannya.
"Hola .... Almira Miara Tisya, lihat jam di tangan elu sekarang, jam berapa?"seru Manda meletakkan kedua tangannya di atas meja.
Mendengar seruan sahabatnya, Almira bergegas membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak dan melihat jam tangan yang melingkari lengan kirinya, jarum jam telah menunjukan pukul 10.15 wib. Itu artinya store yang dituju Almira dan Manda sudah buka dari satu jam yang lalu. Seketika Almira bangkit dari kursi dengan bola mata yang melebar.
"Lah kok udah jam sepuluh aja, perasaan gue baru duduk deh, belum ngapa-ngapain. Apa jam tangan gue yang salah ya,"paparnya sembari menurunkan tangannya menjuntai dengan sembarang.
"Ya iya dodol. Elu datang ke butiknya udah siang, jam gak salah, elunya aja yang lama. Ngapain aja sih di rumah, ngurusin suami elu?"
"Gila lu! Mana ada gue ngurusin suami, kita nikah cuman di atas kertas, di dalam rumah sih beda lagi,"sanggah Almira seraya melangkah maju mendekati pintu ruangannya.
"Mau sampai kapan elu bertahan sama pernikahan ini?"rupanya Manda mulai penasaran dengan perjalanan pernikahan ini.
Jika di lihat lebih dalam lagi, memang pernikahan ini tidak memiliki masa depan yang pasti. Hal ini lah yang memunculkan pertanyaan Manda, sebuah rasa penasaran akan kisah pernikahan sahabatnya. Tetapi Almira belum memikirkan hal itu sampai sejauh pikiran Manda, dia hanya menikmatinya. Toh, dia tidak perlu bersusah payah menjadi seorang istri seutuhnya, ini adalah hal yang baik untuknya. Status pernikahannya tak perlu dikhawatirkan, karena semua itu tidak mengubah apapun dalam kehidupan seorang wanita cantik berparas lembut itu.
"Belum terpikirkan sama sekali, gimana nanti aja lah. Lagian ini baru berjalan enam bulan, gua mau nunggu sampai dua tahun ke depan, kalau gak ada kemajuan yaudah gue cabut."pungkasnya tenang, tanpa berpikir panjang dampak dari waktu yang lama itu.
"Kalau elu udah terlanjur jatuh cinta sama dia gimana? Emang elu bisa melepaskannya?"kata Manda.
Wanita bertubuh mungil itu terhenti di depan pintu masuk mal yang dia tuju bersama Manda, mendengar perkataan sang sahabat membuatnya tersekat dan berpikir lebih keras. Bagaimana dia melupakan hal seperti itu, jangankan nanti, saat ini pun dia sudah mulai memberikan hatinya pada suaminya itu. Tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu jarum jam terus berputar sembari menjelajahi sosok Royyan sesungguhnya.
__ADS_1
Sampai di depan store yang dimaksud Almira, keduanya melenggang masuk ke dalamnya, dan segera di sambut oleh karyawati di sana dengan sopan dan ramah. Wanita bertubuh tinggi dengan pakaian hitam formal itu menyambut Almira dan Manda dengan penuh suka cita.
"Nona ingin mengambil tas pesanan?"tanyanya lembut.
"Iya, tapi saya mau lihat-lihat yang lain dulu ya,"jawab Almira seraya mengedarkan pandangan pada benda-benda yang terpajang di store tersebut.
"Baiklah nona, mau saya temani?"
Almira mengangguk sebagai jawaban untuk karyawati tersebut. Wanita berambut panjang ikal dibagian ujungnya itu mulai melimbai bersama Manda menelusuri store, sebuah toko megah yang menjual barang-barang mewah seperti tas, sepatu, pakaian dan juga berbagai macam aksesoris.
Keduanya berjalan ke area rak sepatu, ada sebuah heels yang mampu menarik hati Almira, lekas dia mengambil sebuah sepatu heels dengan tinggi lima sentimeter dan berwarna putih dengan sentuhan warna merah muda.
"Cocok gak sih buat di pakai ke acara pelelangan, Man?"tanya Almira seraya memperhatikan sepatu heels yang di pegangnya.
Wanita berambut sebahu itu sedikit memiringkan wajahnya untuk melihat alas kaki yang indah itu, lantas dia pun mengangguk setelah dia melihat kaki sahabatnya yang berkulit putih bersih, seputih susu.
"Cantik. Emang gaunnya mau pakai yang mana?"
"Belum tahu sih, tapi gue pengen pakai heels ini kayaknya."
"Oke. Elu tahu mana yang bagus di padukan dengan gaunnya nanti, elu kan desainer dodol, elu yang tahu mana yang cocok dan mana yang enggak."pungkasnya seraya melipat kedua tangannya di depan.
Wanita bermata pipih itu menyernyih sampai mata kucingnya menutup karena senyumannya. Setelahnya dia segera memakai sepatu itu di kakinya yang indah, setelah dia melepaskan sepatu sebelumnya yang sedang dia gunakan.
Sepatu heels berwarna putih merah muda itu benar-benar sempurna di kaki indah Almira. Tubuhnya memang mungil, tetapi berat badannya tidak sampai lima puluh. Tinggi badannya hanya sampai 160 sentimeter saja.
"Cantik banget deh, apa kaki gue yang terlalu bagus ya,"ujarnya memuji dirinya sendiri.
"Beuh .... minta di tampol."
Sontak tawa Almira pecah. Butiran angin di sekitarnya mendadak mematung dan tidak terasa berhembus lagi. Lantas wanita yang tengah mengenakan warna nude pink sebagai perona bibirnya itu lekas melepaskan heels itu lagi.
"Baik nona, tolong tunggu sebentar,"jawabnya seraya mengambil heels itu dari tangan Almira dan membawanya pergi dari hadapan wanita cantik nan mungil itu.
Sembari menunggu transaksi selesai, Almira dan Manda mengelilingi store sekali lagi. Dari kejauhan di bagian pintu masuk ada aroma khas yang sudah sangat di kenali oleh Almira, lekas dia memutar tubuhnya untuk mencari sosok pemilik aroma tersebut.
Dan benar saja. Di pintu masuk ada sosok pria gagah bertubuh tinggi bersama orang kepercayaannya, hendak masuk ke dalam store. Seketika derap jantung Almira berhamburan dengan kecepatan yang tidak normal, bahkan bola matanya terbelalak. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan suaminya disini selain di rumah.
Kenapa kak Royyan ada disini sih, bikin jantung orang gak aman lagi, gak puas apa tadi pagi bikin jantungan. Mal di Jakarta tuh banyak, ngapain harus ke toko ini sih. Ada Manda lagi, gue harus bersikap seperti biasa, seolah tidak mengenalnya.
Tetapi siapa sangka, jika Manda menyadari kedatangan Royyan terlebih dulu. Mata bulat Manda tidak pernah lepas dari sosok Royyan yang sangat dia kenali, sosok yang pernah di temuinya beberapa tahun yang lalu.
"Eh si cowok kebab Ra,"serunya menarik Almira untuk berjalan mendekati Royyan yang tengah bersama Adrian.
Dengan sigap Almira menahan tangan Manda untuk tetap bersamanya di sana, menghentikkan langkahnya. Lalu wanita yang menata rambutnya dengan sebuah jepitan itu menarik tangan sahabatnya bersembunyi di sebuah rak tas-tas mewah yang berjejer.
"Kenapa sih lu? Kenapa sembunyi?"tanya Manda dengan nada suara yang rendah.
"Udah diem aja. Jangan sampai kita ketemu sama dia,"cetusnya membuat Manda semakin berpikir keras.
"Why? Padahal dulu dia pernah ngasih coklat sama lu, pas elu udah cabut ke Paris, tapi karena elu gak ada jadi di kasih ke gue,"bebernya begitu saja, mengingat kejadian di masa lampau.
Almira terkelu sejenak sesaat setelah dia mendengar pengakuan Manda, yang tak pernah terungkap selama ini. Wanita bermata pipih yang tengah sedikit menurunkan lututnya itu sontak menoleh dengan tegas dan memandangi Manda dengan tatapan tajamnya yang serius.
"Kok elu gak pernah bilang sih? Kapan itu?"ucap Almira dengan intonasi suara yang mampu di dengar oleh Royyan dan Adrian yang berada di bagian kasir telah menyelesaikan sebuah transaksi.
Dalam hitungan detik Royyan menoleh ke arah suara itu, begitupun dengan Almira yang baru menyadari jika persembunyiannya sudah tidak berguna lagi, dia mengatupkan bibirnya lalu dia segera menutupinya dengan kedua tangan mungilnya, seraya dia menoleh pada Royyan. Dua pasang mata itu akhirnya saling bertukar.
__ADS_1
Bola mata pipih itu lagi-lagi melebar, dengan iringan derap jantung yang berhamburan dengan sembarang. Lekas dia bawa netranya ke arah lain dan kembali membuat tubuhnya agak tenggelam di belakang rak itu bersama Manda yang juga mengikuti tingkah konyolnya.
Anjir malah ngeliatin kesini segala. Awas aja kalau sampai rumah gua kunyah lu ya Royyan!
"Gara-gara elu nih, dia jadi ngeliatin ke sini?"Almira mengutuk sahabatnya dengan nada suara yang melembut.
"Lah elu yang ngomong, dia itu suka sama elu, apa sekarang masih sama ya?"cetusnya tanpa mengetahui apapun tentang keduanya seraya dia menoleh untuk mengintip aktifitas Royyan dan Adrian.
"Hah?! Enggak lah, kenapa bisa ngomong begitu sih?"Almira berusaha mengelak dengan bola mata yang tidak pernah bisa berhenti untuk menoleh, memastikan suaminya itu pergi dari sana.
"Mana ada sih cowok yang ngasih sesuatu dengan percuma, gak ada! Coba lu pikirkan lagi."
Masa sih? Gak mungkin deh, kita udah nikah Manda! Tapi dia memilih untuk menyembunyikannya, apa itu yang namanya cinta? Bukan kan?
Di sudut lain, Royyan yang baru saja menyelesaikan transaksinya untuk membeli sebuah syal berwarna putih dengan perpaduan warna coklat dan hitam dengan motif dari logo brand ternama, fokusnya dengan cepat teralihkan dengan sebuah tas dan sepatu putih milik Almira yang tengah di balut oleh karyawati yang bertugas.
"Ini milik wanita cantik yang ada di belakang itu?"tanya Royyan pada karyawati tersebut.
"Iya tuan, ini milik nona Almira Miara Tisya,"jawabnya dengan sopan dan menghentikkan pekerjaannya sejenak.
"Berapa nominalnya?"tanya Royyan lagi seraya mengambil kembali kartu Atm-nya yang berwarna hitam.
"Tas keluaran terbaru dari brand terbaik dari toko kami dengan harga 45.756.000 rupiah, dan sepatu heels keluaran terbaru dari brand ternama yang berasal dari negara Prancis dengan harga 15.876.000, totalnya 61.632.000 rupiah,"beber sang karyawati itu tanpa ragu, seraya dia menunjuk tas dan heels tersebut dengan tangan yang sopan.
"Payment."celetuknya seraya menyodorkan kartu Atm yang sering orang bilang dengan sebutan black card.
"Baik tuan,"sahutnya tersenyum seraya menunduk dan mengambil kartu Atm milik Royyan.
Karyawati itu segera menyelesaikan transaksi dan mengembalikan kartu Royyan. Tak perlu menunggu lama pria berambut mullet itu segera mengambil kartunya dan berayun untuk segera keluar dari toko tersebut, sedangkan bingkisan syal itu di genggam oleh Adrian yang selalu mengekorinya di belakang.
"Terimakasih tuan,"ucapnya kemudian sembari mengatupkan kedua tangannya di depan tak lupa kepala yang tertunduk dengan sopan.
Royyan tetap melajukan langkahnya keluar dari toko, tanpa menjawab perkataan karyawati itu lagi. Kemudian dia memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku yang ada di dalam jas untuk mengambil ponsel berwarna hitam dengan balutan casing yang juga berwarna hitam, sebuah ponsel keluaran terbaru dari brand yang menjadi langganan para pebisnis dan orang-orang kaya. Setelahnya dia mengetikkan sesuatu di ponselnya dan segera di kirim langsung ke nomor istrinya.
"Jangan temui aku di luar, kalau ada yang mau kamu katakan di rumah aja."
"Siapa yang mau nemuin kamu sih, enggak ya ...."
"Bentar lagi."
"Maksudanya?"
Begitulah percakapan pesan singkat antara Royyan dan Almira yang kini sudah saling berjauhan. Nampak jelas Almira melukis wajahnya dengan kebingungan yang hebat, lalu dia menyubuk ke area kasir dan Royyan sudah tidak ada di sana. Barulah wanita berambut coklat keemasan itu merasa lega, terasa napasnya lebih leluasa untuk menghirup oksigen di sekitar.
"Ayo ah balik, ganggu banget sih tuh cowok, waktu gue jadi ngaretnya lama kan."gerutunya di hadapan Manda.
"Ya salah lu sendiri, padahal si cowok kebab juga gak mempermasalahkan lu ada atau enggak kan?"pungkas Manda.
Masalahnya dia suami gue Manda.
"Ayo lah."
Almira dan Manda berayun mendekati kasir, belum habis dia meraba keramik-keramik putih yang terpijaki itu, karyawati yang bertugas tadi sudah lebih dulu menghampiri Almira dan Manda membawakan dua bingkisan yang berisikan tas dan sepatu milik Almira.
"Permisi nona, ini milik nona dan transaksi sudah di selesaikan oleh tuan Royyan tadi,"ungkap karyawati itu seraya menjukurkan bingkisan tersebut.
Royyan kembali berhasil menghantam jantung Almira untuk ke sekian kalinya dalam satu hari yang sama. Netra Almira membeliak hebat dengan kernyitan dahi yang sama lekatnya, begitupun dengan Manda yang merasa speechless dengan perlakuan Royyan pada sahabatnya.
__ADS_1
NEXT ....