Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 104 : Pertengkaran ke sekian kalinya.


__ADS_3

"ROYYAN!"pekik Elshara tak terima dirinya di singkirkan dengan kasar, jiwanya tersakiti, hatinya perih. Lagi-lagi dia mendapatkan sebuah penolakan secara tegas dari lelaki itu.


"BERISIK!"tunjuk Royyan kasar dengan tatapan yang membuncah dahsyat, "berhenti sekarang atau gue seret lu ke lembah hitam sampai lu gak bisa lihat gua lagi!"ancam Royyan kuat.


Wajah gadis itu mengeras bersamaan dengan kedua kepalan di tangannya yang menguat. "Royyan ... kenapa lu gak pernah suka sama gue sih, gue lebih dulu dari Ra kan? Ke-kenapa dia yang bisa da-patin lu, apa yang kurang dari gue,"lirih Elshara penuh harap dengan air mata yang berderai membasahi pipinya.


Mendadak rasa iba menguasai diri Royyan, tatapannya yang runcing itu perlahan melembut dan kedua tangannya yang mengeras pun ikut lemah menatapi Elshara penuh iba. Ketajaman matanya meredup dan terjatuh ke bawah.


"Gak ada yang salah, cuman gua mencintai Ami dengan sepenuh hati, lu gak perlu melakukan apapun karena gua cuman cinta sama Ami,"terang Royyan, tatapannya semakin lemah.


Tangisan gadis bermata pipih itu semakin kencang, dia sibuk menjatuhkan ribuan butiran kristalnya hingga memerah dan wajahnya membengkak. Kedua tangannya dibiarkan terjuntai begitu saja membantu gadis itu semakin menjatuhkan ratusan butiran pilu dari bola mata pipihnya itu.


Dari kejauhan Almira yang baru saja tiba segera memanjangkan sorot matanya untuk melihat dengan jelas, siapa yang tengah berbincang dengan sang suami, walau jauh dari angannya nama Elshara terukir dengan gamblang di sana, perlahan langkah Almira melaju, tetapi gadis itu masih berusaha untuk mengendap-endap.


"Cewek gila itu bukan sih?"tanya Almira pada dirinya sendiri, dahinya berkerut hebat dengan dada yang bergemuruh pedih, "sampai beneran dia gue bejek-bejek sumpah, sama lakik gue sekalian biar puas,"geram Almira dengan tatapan yang berapi-api.


Almira terus melangkahkan kakinya dengan tegas, tanpa membawa koper dan barang-barangnya yang lain, karena sebelumnya Almira sudah menyimpan semua barangnya di apartemen yang telah di sediakan oleh kedua orangtuanya, sebuah apartemen di pusat kota yang tak jauh dari hotel dimana Royyan tinggal.


Baru saja gadis bermata kucing itu tiba di kamar ke tujuh dari asalnya melangkah, tiba-tiba Elshara menghamburkan tubuhnya memeluk Royyan dengan erat, meruntuhkan semua air mata yang telah berjatuhan itu di dada Royyan, sedangkan lelaki itu terdiam, menjuntai kan kedua tangannya ke bawah tanpa ada keinginan untuk membalas pelukan itu.


Seketika jantung Almira bergemuruh dengan hebat, perih di hatinya semakin menggerogoti diri wanita itu, perlahan bola matanya mengembun, seluruh raganya terasa pilu, dengan sekejap rasa sesak di dadanya memenuhi seluruh raganya hingga lemah.


Namun, wanita itu tak akan bersikap lemah di hadapan musuhnya, langkahnya semakin menggebu-gebu sampai akhirnya kedua insan itu berada di hadapannya, tanpa segan Almira tarik leher Elshara dan melemparnya tanpa ampun sampai gadis berambut lurus itu terpental ke belakang dan terjatuh hingga berbenturan keras dengan deretan keramik putih di bawah.


"Auuuw ..."ringis Elshara memegangi bokongnya yang merasakan sakit, ngilu. Lekas dia tolehkan wajahnya yang terjatuh tadi menatapi Almira dengan kasar.


Ingin rasanya dia mencabik-cabik atau bahkan menyeret Almira keluar dari sana dan melakukan pertempuran ke sekiannya, tetapi dia tak bisa melakukannya karena ada Royyan di sana, lelaki itu tidak akan membiarkan siapapun menyakiti wanitanya.


"Elu ya, gak ada kapok-kapoknya deketin suami orang,"bentak Almira, tatapan memburunya terurai keluar dengan ganas.


Sontak Royyan sendiri pun terkejut dengan kedatangan istrinya, tetapi lelaki itu memilih untuk mundur dan menunggu istrinya selesai dengan amarahnya. Sementara Elshara, gadis itu segera bangkit dan membesarkan dadanya di hadapan istri dari lelaki yang dia cintai.


"Gak sopan banget sih lu!"hardik Elshara, tatapannya tak kalah tajamnya dengan Almira.


"Ngaca dong! Yang gak sopan di sini itu elu, punya otak gak lo!"bentak Almira mendorong Elshara terus terhenyak ke belakang.


"Bacot banget lo,"tepis Elshara pada kedua tangan Almira yang mendorong tubuhnya, "Royyan temen gue, terserah dong gue mau ngapain aja sama dia, repot lu,"tambah Elshara getir.


"HEI! Mulut lo gak sekolah ya,"bentak Almira dengan nada suara yang lebih tinggi sembari menarik rambut Elshara yang lurus itu dengan kuat.

__ADS_1


"Awww ...."ringis Elshara, hidungnya berkerut kesal sambil dia mencoba menjauhkan tangan Almira dari kepalanya, tetapi dia tak berhasil karena cengkeraman Almira cukup kuat.


"Gue istrinya, jadi yang berhak ngatur siapa yang boleh menemui suami gua cuman gue, dasar wanita tidak tahu diri!"sentak Almira mencengkeram rambut Elshara dengan kekuatan yang lebih besar lagi, kemudian dia lempar tubuh gadis itu kembali tersungkur ke bawah.


"Auuuuwhhh ...."Elshara kembali meringis.


Kepalan tangan Elshara membulat dan hidungnya mengerut, dia tak memedulikan rasa sakit yang ia rasakan di bokongnya, dia lekas menarik tubuhnya untuk melekati Almira lagi dan melayangkan salah satu tangannya, hendak menghantam Almira dengan tamparan kasar.


"Cukup ya! Gue gak akan biarkan elu miliki Royyan, lihat aja!"


"Silakan! Jika lu mampu, lakukanlah. Gue gak ta-kut!"gertak Almira menajamkan sorot matanya menembus mata pipih yang tengah membara itu.


Tangan yang sudah melayang sejak dari tadi segera dia luncurkan bersamaan dengan raut wajahnya yang mengeras, dengan sigap Royyan menahan tangan Elshara dan menarik Almira untuk bersembunyi di belakang tubuhnya.


"Gua udah peringatkan. Jangan pernah lu sakiti istri gua, lebih baik lu cabut dari sini,"gertak Royyan dengan gigi-giginya yang mengerat sembari mencengkeram pergelangan tangan Elshara hingga gadis itu meringis.


Tanpa menunggu lama lagi, Royyan segera menarik tangan Almira dan meninggalkan Elshara di sana. Royyan menarik istrinya masuk ke dalam kamar hotelnya dan menutup pintu itu dengan rapat.


Dalam keadaan hati yang dongkol, Elshara memutar tubuhnya secara kasar dan melangkah tegas meninggalkan pintu kamar hotelnya, dia mengenakan lift untuk meninggalkan kepedihan itu bersamaan dengan air matanya yang berderai pilu dan dentuman keras dari dalam dadanya.


Di samping itu, Almira dan Royyan yang berada di dalam kamar hotel itu masih saling mematung, terutama Almira yang melukis wajahnya dengan ketegangan dan amarah yang belum bisa dia netralisir. Gadis itu terus menjauh dari sang suami dan mengembuskan napasnya kasar seraya melipat kedua tangannya di depan.


Pria kekar itu mendekati sang istri dan mendekapnya dengan erat, dagunya terjatuh di bahu kecil Almira, tetapi gadis itu sama sekali tidak bergerak ataupun menjawabnya. Kedua tangan yang terlipat dengan cepat mengerat.


"Heuum ...."gumam Royyan memiringkan wajahnya menyibuk wajah sang istri dari samping kanan. "Kok sayang gak jawab,"tambah Royyan lirih, garis wajahnya sedikit menaik.


"Berisik,"ketus Almira mendorong perut berotot sang suami menggunakan salah satu sikutnya.


Bukannya menjauh, Royyan semakin melekatkan dekapannya, kedua tangan yang melingkar di pinggang sang istri dia tekan sampai tubuh keduanya saling menempel dan dagu lelaki itu terjatuh di pangkal kepala wanita mungil itu.


"Masih mau marah-marah? Heuum ...."tanya Royyan sekali lagi.


"Gak tahu."Almira masih menjawab sang suami dengan ketus, deru kemarahan yang terurai semakin terasa begar.


Royyan menghela napasnya panjang, kemudian dia memutar tubuh sang istri untuk mengarah padanya, lantas dia condongkan tubuhnya menyejajarkan tingginya dengan sang istri, seraya tersenyum dan menyelam ke dalam tatapan yang di penuhi amarah itu, Royyan mengapit dagu Almira dan mendongakkan nya, tetapi gadis itu tetap menurunkan tatapannya ke bawah.


"Apa yang membuat kamu marah sama aku? Karena aku tidak menyingkirkannya lebih cepat sebelum kamu datang? Atau apa?"lirih Royyan lembut dengan satu tangannya melingkar di pinggang Almira.


Gadis itu tidak bisa menjawabnya, semua perkataan Royyan semuanya benar, tapi Almira terlalu gengsi untuk mengatakan hal itu secara gamblang. Jika sebelumnya dia akan mudah berkata iya, tetapi kali ini rasanya berbeda, bibir kecil itu tak bisa mengatakan apapun kala sang suami berada di dekatnya, Almira memalingkan wajahnya ke arah lain dan melepaskan tangan Royyan dari dagunya.

__ADS_1


"Kamu masih ingin berhubungan dengan wanita yang jelas-jelas mencintai kamu?"celetuk Almira menyingkirkan kedua tangan Royyan yang memeganginya tadi, lantas dia beralih berjalan ke arah lain.


Royyan terdiam, satu detik kemudian dia masukkan kedua tangannya ke dalam saku celana berwarna hitam. "Enggak. Dia yang datang,"jawab Royyan tanpa bergerak dari posisinya.


"Terus."Almira menoleh dengan tatapan tajamnya, "kenapa dia masih terus berada di dekat kamu?"sambung Almira dengan nada suara yang tegas.


"Itu bukan tanggung jawab aku, dia datang sendiri."


"Kamu gak mau lakukan apa gitu buat wanita itu menjauh dari kamu,"pungkas Almira meminta suatu tindakan.


Karena gadis itu sungguh telah kelelahan menghadapi Elshara, dia menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar, kemudian dia mendengkus seraya berpaling dari sang suami pada pemandangan yang ada di luar jendela balkon itu.


"Kamu cemburu?"tanya Royyan penuh harap.


Walau menyeramkan, Royyan tetap ingin melihat istrinya cemburu karena menurutnya hal itu menggambarkan jika sang istri sungguh mencintainya, bukan hanya sekedar perasaan sekilas yang tak bertahan lama.


"Masih nanya?"kernyit Almira kesal, "kamu pikir aku datang lebih cepat karena ada pekerjaan? Bukan! Aku denger dari Manda kalau wanita itu,"tunjuk Almira pada pintu kamar yang tertutup rapat, "meninggalkan pekerjaannya dan menyusul kamu, padahal jadwal dia berangkat itu besok,"sambung Almira menghela napasnya kemudian.


"Oke ... Udah beres marah-marahnya?"tanya Royyan lembut, beberapa waktu kemudian pria itu langkahkan kakinya untuk mendekati Almira yang berada di ambang jendela balkon.


Menyadari sang suami mendekatinya, dengan sigap Almira melangkah mundur untuk menghindarinya, wajah sendunya tertunduk lemah sembari menarik kedua tangannya ke belakang. Namun, Almira kalah cepat dengan sang suami yang dengan cepat mengarik pinggang Almira dan menarik tubuh mungil itu terjerat dekapan Royyan.


"Belum,"ketus Almira mencebikkan bibirnya.


Seringaian kecil berderai di wajah tampan Royyan. "Jadi ... gak jadi nih dinner di menara eiffel-nya?"goda Royyan mengapit dagu Almira dan menjatuhkan kecupan kecil di hidung lancip gadis mungil itu.


Almira mengerjap, ingin dia menjauhi sang suami, tetapi dia tak memiliki kekuatan untuk itu, tangan kekar Royyan yang melekap pinggangnya dengan erat. Gadis mungil itu memilih untuk mendongak dan mengerutkan dahinya, yang kemudian memukul dada sang suami beberapa kali.


"Ingkar janji, aku pergi ya ..."ancam Almira menunjuk Royyan.


"Yaudah, sekarang udahan ya marah-marahnya,"pinta Royyan dengan lembut.


Gadis bermata kucing itu mengurai helaan napasnya dengan panjang, merelai hati yang sempat tercengkeram tadi, lantas dia menghamburkan dirinya memeluk Royyan dengan erat, melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang suami.


"Kalau dia bener-bener rebut kamu dari aku gimana?"lirih Almira pilu, ketakutan itu masih menguasai jiwa Almira.


"Jika raga bisa dia miliki, maka hati tak akan bisa dia miliki,"pungkas Royyan mengelus lembut rambut istrinya itu. "Bagaimanapun akhirnya nanti, aku jamin cinta itu tetap milik kamu, jika aku mengingkarinya maka tuhan akan mengambil nyawaku detik itu juga,"sambung Royyan dengan penuh keyakinan.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2