
Tidak ada yang bisa ditemukan. Semuanya telah hilang harap, menyelam ke dasar laut, menyisir setiap penjuru laut itu sehingga merebak ke rumah-rumah warga sekitar bahkan hutan pun telah disisir dengan penuh ketelitian. Sosok Elshara tidak ditemukan, jasadnya sekalipun tidak nampak. Yang tersisa hanya barang-barangnya yang tenggelam ke dasar lautan.
Kedua orangtua Elshara tersungkur ke bawah dengan lemah, rapuh, tak berdaya menjadi satu. Air mata pun sudah tak mampu menggambarkan rasa sakit yang dirasakannya. Perlahan rasa bersalah menjalar ke seluruh jiwa dan raganya, dalam pelukan sang suami mami dari Elshara menumpahkan segala air mata yang dia punya mematung di hadapan laut.
Serpihan ledakan pesawat telah terangkat, sebagian jasad para penumpang telah ditemukan dan ada sebagian dari mereka yang masih di beri kehidupan oleh tuhan, termasuk awak kapal yang juga mendapatkan keselamatan. Hanya saja sang pilot dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya kemarin sore.
El! Tolong kembali El, lihat Dirta, lihat orangtua elu El, mereka membutuhkan elu, tolong kembali El! Gua mohon, maaf! Gua membuat elu harus naik pesawat itu. Dirta sangat mencintai elu El, jangan suka sama gua, gua bukan orang baik dan elu gak pantes sama gua.
Celoteh batin Royyan lemah.
Raganya yang selalu nampak kokoh dan tegar itu akhirnya kalah, tubuh Royyan ambruk ke bawah, terjatuh berlutut di hadapan laut biru yang begitu tenang, namun laut itu telah menelan Elshara sehingga tak bisa ditemukan. Dua minggu sudah dia di sana tanpa memikirkan dirinya sendiri, baju lusuhnya menggambarkan betapa menyedihkan dirinya.
Butiran kristal memang tidak berjatuhan, namun hatinya benar-benar merasakan sayatan yang memilukan. Sebuah perih yang tak tergambar dalam wajah sendunya. Pelan-pelan dia tertunduk dengan kedua tangan mencengekeram pasir-pasir putih di sana. Melelehkan kristal-kristal itu berjatuhan tenggelam ke dalam pasir-pasir putih itu.
Semua tim pencarian yang disewa oleh kedua orangtua Elshara dan juga Royyan berkumpul bersama di tengah-tengah dengan raut wajah muram. Sudah sangat jelas mereka telah menyerah dan kini saatnya memutuskan untuk kelanjutannya, tidak mungkin mereka melakukan pencarian terus-menerus tanpa hasil.
"Kami sudah berjuang selama dua minggu ini, sampai kami sering melewatkan waktu tidur dan juga waktu makan kami untuk menemukan nona Elshara, tapi seperti yang kita ketahui bersama jika jejak nona Elshara sama sekali tidak ditemukan,"ucap kepala tim yang di sewa oleh Royyan.
"Kami memutuskan untuk menghentikkan pencarian dan menyatakan jika nona Elshara hilang, untuk kelanjutannya kami serahkan pada pihak keluarga."sambung kepala tim dari pihak orangtua Elshara.
Tangisan Mami Elshara seketika pecah sampai dia kehilangan kesadaran dan terjatuh dalam dekapan suaminya. Gemuruh semua orang panik dengan keadaan dari wanita paruh baya yang mengikat seluruh rambutnya ke atas. Lekas sang suami membawanya pergi dari sana mencari dokter yang menjadi relawan di sana.
Perkumpulan itu telah membubarkan diri. Hanya Royyan yang masih terdiam disana, raganya mematung dengan tatapan kosong dan bibir yang membeku. Perlahan netranya mengembun dengan cengkeraman kepalan tangan yang menguat.
Benar. Tidak ada yang bisa dilakukan. Tuhan sudah menetapkan takdirnya seperti ini, sekuat dan setangguh apapun seorang manusia tetaplah manusia. Tak akan mampu melawan kuasa tuhan. Dalam keadaan muram, Royyan beringsut dan kembali terduduk di atas pasir putih itu dekat dengan air laut yang sesekali naik ke daratan dan membasahi sebagian tubuh Royyan.
Lu bener-bener pergi El! Lu gak mau balik? Kalau lu benci sama gua silahkan, tapi kembali pada Dirta, dia sangat mencinta elu. Apakah ini saatnya gua bilang selamat tinggal, ah jangan! Rasanya gua harus ngomong sampai jumpa El! Sampai jumpa lagi.
Ocehan Royyan dalam batinnya yang terus saja menggema. Punggung itu sudah lemah, rasanya sudah tak memiliki energi untuk dia berdiri dengan tegak seperti yang dia lakukan setiap detiknya.
...***...
Dua hari setelah tim menyatakan menyerah, akhirnya Royyan kembali ke rumahnya dalam keadaan muram. Dia melemparkan tubuhnya yang telah banyak menyerap energi ke atas ranjang yang baru saja diganti spreinya dan ponsel miliknya telah terisi penuh daya.
Tidak lama Royyan melelapkan matanya, suara ketukan pintu itu menggema. Segera dia terbangun dari ranjang, menyeret langkahnya dengan malas mendekati pintu dan membukanya. Di luar pintu sudah berdiri kakak perempuannya yang bernama Haneuyani kerap dipanggil dengan sebutan Aneu, dia membawa banyak sekali kertas-kertas putih dan beberapa map di kedua tangannya.
"Udah balik? Ayo kakak mau ngomong."ucapnya seraya melenggang masuk ke dalam kamar Royyan dan duduk di sofa yang ada di depan ranjang.
Sedang Royyan berdiri di samping televisi besar itu. Dengan tatapannya yang lurus pada kakak perempuan satu-satunya ini.
"Ini berkas kelulusan udah gue ambil dan gue juga udah daftarin elu ke kampus yang berbeda dengan Dirta dan juga Ajun."ungkap Aneu seraya meletakkan semua kertas dan map di tangannya ke sampingnya.
"Kenapa?"sahut Royyan dengan wajah yang bingung.
"Gini. Gua tahu dari Ajun, kalau wanita yang elu cari adalah pemecah persahabatan kalian, gua punya firasat Dirta tidak akan terima dengan semua ini, jadi turuti gua, dan Ajun juga akan pindah ke bali dan kuliah di sana,"
"Udah gua duga."
"Baguslah. Temui mereka untuk terakhir kalinya dan elu akan kuliah di salah satu universitas di sini."
Royyan menghela napasnya berat, lalu dia mengangguk untuk menjawab perkataan dari sang kakak.
"Yaudah. Gue harus balik kantor, dan untuk tes masuk akan diadakan secara online dua minggu lagi dari sekarang,"
"Iya, makasih."
"Oke. Gue tinggal ya...."Aneu menepuk lengan kekar Royyan seraya dia melenggang kembali keluar dari kamar dan menutup pintu dengan erat.
"Hmm...."
Saat cahaya matahari sudah mulai menaik ke tengah-tengah langit dan juga terik matahari tengah galak-galaknya, ponsel Royyan berdering untuk pertama kalinya setelah dia kembali ke rumahnya.
"Gua mau ketemu sama elu, dan gua udah tahu soal El dari orangtuanya langsung."bunyi pesan itu yang dikirim langsung oleh Dirta.
Ketikan itu sangat tergambar jelas jika ada tekanan amarah di dalamnya. Pria berparas sendu itu nampak lelah, dia melempar ponsel yang ada dalam genggamannya itu dengan sembarang ke samping, lantas dia melempar tubuhnya terbaring di atas ranjang dengan satu tangan dia letakkan di dahinya lalu menghela napasnya.
__ADS_1
Bola matanya mengedar ke seluruh bagian penghuni kamar, tidak ada yang menarik baginya. Terbangun dari ranjangnya beralih ke meja samping ranjang itu mengambil kunci motor yang sudah lama tidak dia kendarai dengan sesuka hati.
Pria berbulu mata jengkit itu melimbai keluar dari rumahnya, menuju parkiran, tanpa segan dia melajukan kendaraannya keluar dari pekarangan rumah yang dipenuhi dengan berbagai macam tumbuhan hijau dan juga bunga-bunga kesukaan mami dan juga kakak perempuannya.
Gua tahu apa yang akan dikatakan Dirta. Dia orang yang keras dan pemahamannya hanya berkutat pada dirinya sendiri, sebanyak apapun gua ngomong dia gak akan pernah mau dengerin gua, apapun ke depannya, terserah. Gua udah berusaha untuk menemukan El, tapi tuhan tidak mengizinkan gua buat ketemu El lagi.
Batin Royyan bercengkerama dengan dinding-dinding hatinya yang membeku, di sana memang sudah membeku dari sejak dia lahir dan sekarang semakin lebih dingin.
Royyan tidak mencintai El karena Dirta, mungkin jika bukan karena Dirta dia akan jatuh cinta pada El. Atau memang hal itu tidak akan pernah terjadi, ketertarikannya telah habis di wanita cantik yang bernama Almira dan kini sudah tidak ada di sekitarnya lagi.
Setelah menelan angin begitu banyaknya, sampai perutnya terasa kembung, Royyan melipir ke sebuah minimarket biru, untuk menemukan beberapa minuman yang akan melegakan rasa hausnya.
Ke kutub utara bisa sih kayaknya, ini minuman kagak ada yang lebih dingin apa?
Gumam batin Royyan seraya menghamburkan pandangannya pada minuman-minuman yang bertengger di dalam lemari es yang ada di hadapannya. Tangannya mulai menyentuh sebuah kaleng kopi instan dari merek terkenal, terdiam sejenak dan tangannya menempel di atasnya, lalu barulah dia ambil kopi itu.
"Ini aja kak? Ada lagi?"tanya kasir tersebut seraya memindai barcode kopi itu.
Tidak menjawab. Matanya sibuk mengamati coklat-coklat di depannya, coklat dari berbagai macam jenis dan juga mereknya, tiba-tiba bibir pria dingin itu menyeringai kaku. Lalu dia mengambil sebuah coklat dengan kemasan berwarna ungu.
"Udah ini aja."ucapnya menyodorkan coklat itu.
"Ah iya baik kak,"
"Ini kak, terimakasih, silahkan datang kembali."
Tanpa senyuman, Royyan mengangguk untuk membalas ucapan dari kasir tersebut. Kemudian dia segera keluar dari minimarket itu mendekati kendaraannya yang terparkir di depan toko.
Suara botol kaleng kopi itu menggema terdengar lantang di telinga Royyan, dia meneguk kopi itu sampai hanya tersisa kalengnya saja. Kopi itu rasanya pahit ada sedikit rasa manis, tidak cocok dengan lidah Royyan sebelumnya, tetapi entah mengapa kali ini Royyan menikmati kopi pahit itu.
Dari arah berlawanan seorang wanita berambut sebahu memperhatikannya dari kejauhan sampai dia menyipitkan matanya untuk memastikan jika penglihatannya benar dan tidak mengada-ada. Setelah dia yakin jika lelaki itu adalah benar seperti apa yang dia pikirkan, lekas dia mengayuh langkahnya mendekatinya.
"Haii, kamu...."sapa Manda berdiri di hadapan Royyan.
Royyan tercenung memandangi wanita yang berdiri di hadapannya, ingatannya melayang kemana-mana mencari serpihan memori yang bercecer entah dimana. Sama sekali dia tidak mengingatnya.
Setelah mendengar penjelasan Manda, akhirnya Royyan sedikit melebarkan matanya dengan wajah yang tidak berubah sama sekali.
Eh gila ini laki, wajahnya gak berubah sama sekali, matanya doang yang bereaksi. Ra! Lu ketemu cowok beginian, tapi bisa ngasih coklat sebanyak itu sama lu Ra! Fiks nih suka sama elu Ra.
Batin Manda menerka-nerka.
"Oh, ada yang sakit?"tanya Royyan dengan tatapan biasa saja, tetapi ketajaman matanya masih saja berdiam di sana.
"Enggak, enggak, enggak kok,"sanggah Manda menggerak-gerakkan kedua tangannya ke kanan dan juga ke kiri.
"Syukurlah. Oh iya, temen lu kemana? Kayaknya gak pernah lihat lagi,"
Nah kan bener Ra! Dia nanyain elu.
"Ra, udah gak di Indonesia lagi, saat terakhir ketemu sama elu saat itu, hari terakhir Ra di Indonesia, dia harus pindah ke Paris, dan Ra lulus tahun depan,"
"Serius?"kernyit Royyan sembari dia mengalihkan pandangannya ke coklat yang dia genggam di salah satu tangannya.
"Iya,"Manda mengangguk.
Coklat ini sudah gak ada tempat pulang, sayang banget. Gua pengen lihat senyum dia yang kayak anak kecil mendapatkan makanan. Lucu.
"Ini makan aja sebagai perwakilan."Royyan menjulurkan coklat itu pada Manda.
"Hah?!"
Tanpa menunggu Manda berbicara lagi, Royyan dengan sigap memutar motornya segera meninggalkan minimarket dan juga Manda disana, tanpa mengenakan helm terlebih dulu, dia pergi begitu saja.
"Eh! Tunggu,"Manda nampak kebingungan seraya mengangkat coklat itu ke udara.
__ADS_1
"Bentar! Perwakilan? Berarti itu cowok mau ngasih coklat ini buat Ra,"
Manda membuka mulutnya terkejut dengan perlakuan manis manusia es itu sambil dia menutupi mulutnya yang terbuka dan enggan untuk menutup dengan segera. Tapi tak lama dia menyeringai dan berputar-putar di sana, wajahnya nampak bahagia mendapatkan coklat, walau memang coklat itu salah rumah. Tetapi tak mengapa, yang jelas hari ini dia bisa makan coklat gratis.
Di bawah senja yang membiaskan jingganya yang indah dan memukau, Dirta, Ajun dan Royyan berkumpul di depan sebuah danau yang dijadikan tempat wisata perahu bebek. Pengunjungnya sudah mulai surut karena hari semakin sore, hari yang cocok untuk perbincangan serius ini. Ajun terduduk agak jauh dari kedua sahabatnya, dia hanya sebagai monitor dan enggan untuk masuk ke dalam permasalahannya.
"Lu harus tanggungjawab, bawa El balik."tegas Dirta dengan sorot matanya seperti siap memangsa.
Helaan napas Royyan semakin panjang dan juga berat, dia tertunduk, namun kemudian pria dengan hidung lancip itu mendongak dan menyelam masuk ke keganasan tatapan tajam Dirta.
"Jasad El tidak bisa ditemukan, gua dua minggu di sana, siang malam gua mencarinya, tapi semuanya nihil."
"Bacot! El masih hidup, jangan sekali-kali lu sebut jasad, semua ini gara-gara elu."sergah Dirta mencengkeram baju Royyan dengan cengkeraman yang erat.
"Lu mau bersujud di depan laut sampai habis umur lu sekalipun, jika tuhan sudah berkehendak, lantas apa yang bisa di perbuat oleh manusia seperti kita,"
"Cuih! Najis gua denger lu, gua mau El balik!"cengkeramannya pada baju Royyan semakin kuat dan akhirnya dia meninju wajah mulus Royyan sampai pria dengan bobot tinggi 189 cm itu terjatuh tanpa perlawanan.
"Weeeeiiiis...."Ajun yang hanya menonton, akhirnya beranjak dari tempat nyamannya dan menghampiri Dirta, menyeret Dirta menjauhi Royyan yang masih ada di bawah.
"Santai dong, elu kenapa jadi gini sih, sadar! Ini kecelakaan, kita semua gak ada yang mau kecelakaan itu terjadi,"sambung Ajun.
Dirta yang masih dikerumuni dengan amarahnya segera berkacak pinggang dan memandangi Ajun dengan tajam.
"Lu bela dia, lu bela orang yang udah bunuh sahabat kita, temen macam apa lu!"pekik Dirta.
"Dirta! Kecelakaan pesawat! Camkan itu, kita gak ada yang tahu masa depan, kalau kita tahu pesawat itu akan terjatuh, kita gak akan pernah mengizinkan El buat cabut,"
"Basi! Kalau Royyan enggak menyakiti El, dia gak akan cabut,"
"Elu yang minta, elu yang minta Royyan buat jauhi El, dan Royyan mengabulkan itu,"balas Ajun geram sehingga dia menunjuk-nunjuk Dirta dengan tegas.
"Gua cuman minta jauhi dia, bukan menjadi asing apalagi menyakitinya,"
Ajun memalingkan mukanya seraya mendengus. Tak habis pikir, bagaimanakah jalan pikiran Dirta. Cara menjauh seperti apa yang tidak menyakiti, rasanya tidak ada. Jika cinta tak terbalaskan dan orang yang di cintai dengan sengaja menjauhi, apakah itu tidak menyakitkan? Rasa-rasanya hal itu mustahil, rasa sakit masih akan tetap bersemayam di dalamnya.
"Coba tunjukkan caranya, bagaimana cara menjauhi tanpa menyakiti?"Ajun kembali bertanya.
"Diem lu! Elu gak akan ngerti, karena disini gua yang sakit, gua di tolak El dan sekarang gua harus kehilangan dia selamanya,"hardik Dirta semakin membuncahkan amarahnya dengan alasan yang sangat tidak berkelas.
"Lihat! Elu sendiri juga gak bisa jawab, gimana Royyan bisa melakukan itu, gua enggak ada dipihak mana pun, tapi disini elu terlalu naif, elu gak bisa menyalahkan Royyan dimana elu yang mengendalikannya,"
"Banyak bacot lu!"cibir Dirta semakin mengeratkan ketajaman matanya.
Dirta melangkah maju mencengkeram kerah baju Ajun dan menghantamnya dengan pukulan keras sehingga Ajun tersungkur ke bawah, sedikit meringis kesakitan. Matanya menajam siap menghantam keangkuhan Dirta. Tetapi dia masih bisa berpikir sehat, jika dia membalas pukulan itu, maka tak akan ada habisnya untuk saling menyakiti, dan Ajun memilih untuk diam. Lekas dia berdiri lagi.
Di samping agak jauh, Royyan mengepalkan tangannya yang berkobar-kobar. Api kemarahan telah memenuhi bola mata Royyan, dan kini dia telah melangkahkan kakinya mendekati Dirta dan Ajun yang tak lagi saling berdebat. Tanpa aba-aba dengan penuh keyakinan Royyan menjatuhkan pukulan keras di wajah kecil Dirta, pria yang mengenakan kaos polos panjang berwarna coklat itu kehilangan kendali dan akhirnya terjatuh.
"Bangsat!"rajuk Dirta yang segera berdiri dari bawah menegaskan tubuhnya di hadapan Royyan.
"Gua tegaskan sekali lagi. Lu gak dapetin El itu bukan urusan gua, karena itu semua ada ditangan El, gua udah jauhi El seperti kemauan elu! Untuk urusan El kecelakaan juga bukan tanggungjawab gua, karena semua itu tuhan yang merencanakannya, sadar Dirta! Elu udah buta sama rasa cinta elu, berpikir sehat, jangan cuman mengandalkan opini elu yang tidak semuanya benar."
"Berisik lu setan! Pendosa gak berhak bawa-bawa nama tuhan."pekik Dirta membulatkan bola matanya hebat.
"Ok, fine! Lu sama gua adalah pendosa. Terserah! Gua capek, gua udah berusaha menemukan El tapi tuhan yang menentukan hasilnya."
"Bajingan lu! Lu yang salah! Elu Royyan! El mati karena elu!"
"Terserah elu aja setan!"tegas Royyan yang sudah tak tahu harus mengatakan apa lagi untuk menyadarkan Dirta.
Biarlah Dirta dengan keyakinan bodohnya itu. Royyan beringsar dari hadapan Dirta, meninggalkan sahabatnya itu, melajukan motornya dengan kecepatan tinggi tanpa menggunakan helm, padahal helm itu sudah bertengger di hadapannya. Tetapi kepalanya terasa sangat berat dan helm membuatnya semakin berat lagi.
Begitupun dengan Ajun yang juga meninggalkan Dirta. Dia sudah tak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan Dirta. Ajun terlalu lelah menghadapinya.
"Cabut sono! Cabut semuanya, gua kagak butuh kalian, teman anjing lu pada!"Dirta masih mencibir kedua sahabatnya.
__ADS_1
Atau setelah ini diantara Dirta dengan Ajun dan Royyan sudah tidak ada yang namanya pertalian persahabatan yang sudah mereka bangun selama ini. Waktu yang akan menajwab semua hal itu.
NEXT....