
Bahana sunyi berirama sendu, dalam ruangan berbentuk kubus tampak gadis berparas layu terpejam di atas kursi putarnya. Paras cantiknya sungguh mendekap kelam, satu tangannya tergeletak di atas dahi dengan lemah.
Bibir dengan perona merah muda dengan perpaduan warna bibir alami nampak pucat dipandang, detik berikutnya terdengar langkah kaki yang dikenalinya mulai mendekat dan masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi oleh busana-busana yang telah rampung dikerjakannya.
Gadis berambut sebahu itu meletakkan tas miliknya di atas sofa, lantas langkahnya beralih pada sosok Almira yang tengah lemah di belakang meja kerjanya.
"Ra ... Jadi mau ke apotek beli test pack?"tanya Manda di hadapan Almira.
"Mauu ... Tapi gue mager, kepala gue pening banget,"sahut Almira lemah.
"Lu sakit? Udah makan belum? Kalau udah langsung minum obat, gue siapin nih obatnya,"saran Manda beruntun.
"Eng-gak ... Kan kata lo, kalau gue hamil gimana?"lirih gadis dengan posisi sama seperti tadi.
"Eh iya ... Gak boleh minum obat sembarangan kalau gitu." Manda menarik tubuhnya ke belakang dan melangkah mendekati tasnya kembali yang terbaring di atas sofa.
Tiba di sana, Manda segera mengambil sebotol air mineral yang masih tertutup dengan rapat, Manda baru membelinya tadi saat dia melangkah ke butik Almira.
Kaki jenjang gadis itu berangsur mendekati Almira lagi, tanpa menunggu lama, Manda membukakan tutup botol air mineral itu dan meletakkannya di atas meja, seraya menyeretnya untuk mendekati Almira yang masih saja terpejam.
"Ini minum dulu, kali aja pusing lu agak enakan."
Tanpa berontak seperti biasanya, Almira gegas terbangun dari kursi dan membetulkan posisi duduknya dengan benar. Satu tangannya menyambar botol mineral yang sudah terbuka itu dan meneguknya hingga habis setengahnya, sementara tangannya yang lain dia gunakan untuk menyugar rambutnya ke belakang.
Setelah Almira selesai dengan acara minumnya Manda lekas menggerakkan mulutnya lagi sambil melipat kedua tangannya di depan.
"Udah enakan?"tanya Manda menatapi Almira dengan khawatir
"Euum ..."gumam Almira melempar tatapannya keluar jendela yang ada di ruangannya. "Lu gak kerja Man?"tanya Almira kemudian memastikan jika sahabatnya sedang tidak melakukan pekerjaan.
"Ini gue baru balik kerja,"jawab Manda beralih dari hadapan Almira ke sofa yang tak jauh dari jangkauan meja itu.
Lantas gadis bermata almond itu menganjurkan tubuhnya di atas sofa dengan lembut. "Tadi ada pemotretan sama majalah, udah beres kok."
Sambil mencondongkan tubuhnya ke depan dan bersandar pada meja yang dipenuhi berbagai macam kertas yang berisikan rancangan milik kliennya, Almira menopang dagunya dan pejaman matanya pun melemah.
"Gimana sama mantan agensi lu itu? Honor lu udah turun semuanya?" Almira ingin memastikan jika pimpinan agensi itu tidak mangkir dari tanggungjawabnya.
Hasil putusan sidang itu, menghukum pimpinan agensi untuk membayar semua honor para model tanpa terkecuali, terutama pada Manda. Lebih dari 987 miliar pria paruh baya setengah plontos itu harus bayar dalam jangka satu tahun, jika tidak di penuhi maka jeruji besi siap menampungnya.
Sedangkan keluarga Elshara terjerat kasus penyelewengan hukum dan masih di bicarakan di sidang berikutnya, baik Manda ataupun Ajun tak lagi ikut campur dalam persoalan itu.
"Baru dibayar setengahnya, tapi gak masalah, yang penting gue udah lepas dari agensi itu dan gue bisa memulai hari baru dengan agensi baru tentunya,"terang Manda.
"Baguslah, kalau tuh si botak aneh-aneh lagi, bilang aja. Nanti Ajun yang akan ngurus lagi,"sahut Almira bernada lemah.
Degh!
'Ajun' nama yang terburai dari mulut Almira membuat Manda membeliak sejenak, entah mengapa, hanya mendengar namanya saja jantung Manda berdebar begitu kuatnya, sehingga gadis itu merasa lemas. Bahkan dia mengatupkan bibirnya seraya menghela napasnya panjang guna melegakan rasa yang membekam di dada.
Ah! Kenapa jantung gue mendadak berdebar gini sih, padahal cuman nama dia doang yang gue denger, wahh ... Ada yang gak beres nih.
Batin Manda kembali menggema. Seraya meraba dadanya yang masih berdebar, Manda gegas berdiri dari sofa dan kembali mendekat pada Almira yang tengah memejamkan matanya sambil menopang kepalanya dengan sagu tangan mungilnya itu.
"Pengacara lain emang gak ada, kasian Lo si Ajun sampai berantem sama si Rala gara-gara jadi pengacara gue, mereka kan berteman,"kilah Manda.
Dia tak ingin menemui Ajun terlalu sering, karena jika tidak demikian, benih cinta yang mulai subur akan segera tumbuh dan Manda tak bisa mengendalikannya lagi.
__ADS_1
"Gak usah dipikirin, Ajun juga santai aja kok, dia itu bukan tipe orang yang mudah terpengaruh Man ... Kata kak Royyan, Ajun itu dari dulu emang gak terlalu deket sama si cewek gila itu,"beber Almira mencoba meyakinkan sahabatnya yang nampak ragu untuk memilih Ajun lagi.
"Oh gitu ...." Manda mengangguk seolah dia menyetujui perkataan Almira.
Tidak masalah. Hanya saja gadis berambut sebahu itu takut cinta yang sedang menggebu-gebu itu menjadi lebih kuat dan Manda terpaksa harus merawat hatinya agar tak menyembul ke permukaan dan menjadikannya nyata.
Lekas Manda tepis semua pikiran-pikiran yang merangkai cintanya menjadi nyata. Dia goyangkan pelan kepalanya dan mengerjap sejenak.
"Ya udahlah, lu jadi gak nih beli test pack, kalau mau ayo gue anter,"tanya Manda lagi.
Mendadak paras cantik Almira meredup dan kerlingan mata gadis itu berubah menjadi sendu, lalu dia jilati bibirnya yang kering, tetapi bibir kecilnya masih terlihat halus nan lembut.
"Enggak deh, mager gue. Tapi gue pengen apel sekai-ichi deh,"celetuk Almira sambil dia mengedarkan pandangannya ke arah lain dengan sembarang.
Manda yang menangkap perkataan Almira barusan lekas menyeringai, dia garuk kepalanya yang tak merasa gatal itu dengan kernyitan di pipi kirinya yang dalam.
"Nyari apel begitu di mana Ra ... Ngaco deh, yakin sih gue kalau lu emang hamil,"pungkas Manda.
"Gak tahu ..."sahut Almira memelas, lantas dia lempar punggungnya ke belakang dan menyandarkan tubuhnya lagi di sana. "Kayak udah di ujung lidah tahu gak,"sambungnya kemudian.
Gadis berparas cantik itu lekas menghela napasnya panjang, lalu dia berkacak pinggang seraya menjulurkan lidahnya keluar untuk membasahi bibirnya.
Angannya berkelana pada suatu ide untuk mencari keinginan Almira, buah apel jenis itu tumbuh di tanah Jepang dan hanya ada di mal internasional, itupun jika beruntung. Jika tidak Manda tidak akan menemukannya dimana pun.
"Ya udah, lu tunggu di sini, minum air putihnya, gue cari dulu,"pinta Manda yang bergegas ke sofa dan meraih tasnya.
Gadis dengan bola mata kecoklatan itu mengayuh langkahnya keluar dark butik sembari mencari kontak milik Royyan yang sengaja dia simpan. Tanpa menunggu lama lagi, lekas dia melakukan panggilan telepon dengan Royyan.
Bersamaan dengan taksi yang melintas, dengan cepat Manda masuk ke dam taksi, dan taksi itu bergegas melakukan mobilnya tanpa menunggu aba-aba dari penumpangnya.
"Mal internasional pak,"titah Manda yang masih terfokus dengan ponselnya.
Manda masih menunggu jawaban dari pria dengan rahang tegas itu, panggilan teleponnya tak kunjung mendapatkan jawaban dari Royyan.
"Ish! Gimana sih ini cowok kebab, ditelepon kagak di angkat-angkat, gak guna punya hape harganya berpuluh-puluh juta,"gerundel Manda menggoyangkan ponselnya ke depan dan ke belakang.
Ponsel itu telah menghentikan panggilannya, kemudian tergolek begitu saja ke bawah dan meringkuk di paha kecil milik Manda, ia terbalut celana jeans berbahan lembut dengan warna hitam yang pekat.
Tidak menyerah. Manda gegas menggenggam ponselnya lagi dan melakukan panggilan telepon dengan Adrian, dia mengingat serpihan memorinya saat Adrian ikut serta dalam penyelesaian kasusnya dengan mangan agensinya.
Seperti harapannya, Adrian lekas mengangkat panggilan telepon itu. Wajah Manda menyeringai indah, gadis itu bahagia karena Adrian tak seperti bos-nya yang sulit untuk di hubungi.
"Halo nona, ada yang bisa saya bantu?"tanya Adrian sopan di seberang telepon itu.
"Rian ... Bos lu kemana sih?"decak Manda kesal.
"Pak bos, ada meeting dengan para staff,"jawab Adrian.
"Pantesan di telepon gak di angkat-angkat,"serunya tenang.
"Ada perlu apa nona Manda, biar saya sampaikan nanti setelah selesai meeting,"tawar Adrian.
"Bininya tuh minta apel sekai-ichi, nyari di mana ya?" tanya Manda kemudian.
"Apel sekai-ichi?" Adrian terdiam sejenak, deru napasnya pun nyaris tidak terburai. Namun, tak lama dari itu embusan napas lelaki itu segera berhembus. "Baik nona, akan saya carikan secepatnya,"tambah Adrian.
"Oke deh." Manda mengangguk lega, punggungnya terhenyak kecil ke belakang. "Terus gue lanjut nyari, atau gimana ini?"tanya Manda memastikan.
__ADS_1
"Nona silakan kembali lagi saja, istirahat. Untuk urusan itu biar saya saja yang urus, secepatnya saya akan menemukannya,"saran Adrian.
"Oke ..."
Panggilan telepon pun berakhir dengan cepat. Berbarengan dengan taksi itu terhenti, lantas Manda gegas keluar dari taksi itu setelah dia membayar biaya taksi itu dengan debit.
Keluar dari mobil taksi, Manda tampak limpung, netranya mengedar ke setiap penjuru tempat yang ada di sana.
Gadis itu berada di tengah-tengah pusat kota, tepat di depan mal internasional yang semula menjadi tujuannya, dia berkelana mencari sesuatu yang ingin dia kerjakan.
"Terus gue ngapain di sini?"tanyanya pada diri sendiri.
Netranya tak henti berkeliaran ke sekitarnya, sorotnya menjulur pada setiap benda dan insan yang ada di depannya. Tepat di pusaran air mancur besar di tengah kota, sosok lelaki berbadan tegap tengah menggenggam tangan seorang wanita yang tak pernah Manda lihat sebelumnya.
Matanya menyipit, kakinya perlahan membuai bumi yang telah dibaluti bahan bangunan, sedang di atasnya dedaunan coklat kering berserakan dimana-mana.
Ajun?! Sama siapa dia? Tumben banget dia sama cewek.
Batin Manda bertanya-tanya.
Tubuh tegap lelaki itu menyeret sang wanita dengan lembut untuk terduduk di salah satu kursi yang berada di dekat air mancur.
"Makanya lu kalau kagak becus bawa motor gak usah nge-betina deh, sakit kan kaki lu,"tegur Ajun sesaat dia melepaskan genggamannya dari wanita berambut sepinggang itu.
Lantas wanita itu merengut. Melayangkan satu pukulan lambat di pinggang Ajun, lelaki itu segera menghindar, menciptakan jarak beberapa sentimeter dengannya sambil menggegarkan tawanya.
"Berisik lu Jun, baru juga ketemu gue lagi udah ngajak gelud. Lagian lu ngapain ada di sini sih, sendirian lagi,"protes wanita itu tak terima dengan perkataan Ajun.
Ajun masih saja tertawa sembari memandangi lutut gadis itu yang terbalut oleh perban. "Gue lagi nyari yang gak ada sampe nyasar kesini,"jawab Ajun.
"Nyari apaan lu?! Eh bentar, tadi lo bilang nge-betina?! Itu apaan artinya?"sahut wanita itu dengan diakhiri pertanyaan sehingga alis gadis itu saling bertaut.
"Lu kan betina, bukan jago,"sahutnya enteng, satu telunjuknya menganjur ke hadapan gadis itu.
Seketika gadis berambut hitam legam itu tergelak, kelakarnya menggema dan berusaha untuk memukul Ajun, tetapi dia tak bisa melakukannya karena Ajun terus menjauh, sedangkan tubuhnya enggak untuk terlepas dari kursi yang tengah dia duduki itu.
"Ajun! Lu bener-bener ya kagak berubah dari dulu, nyebelin tahu gak,"kesalnya.
"Apa sih." Ajun masih memeluk tawanya, terlebih kala melihat paras cantik gadis di depannya memerah geram.
Gadis dengan jepit mutiara itu lekas menghela napasnya panjang, mengurai rasa kesalnya menjadi lebih tenang.
"Eh btw gimana kabar kalian semua?! Dirta, makhluk es, El juga, waktu itu kan gue langsung cabut, jadi gue gak tahu apapun tentang kalian,"paparnya tiba-tiba saja menjadi sendu.
"Makhluk es udah mencair, Dirta dan El juga baik kayaknya,"jawab Ajun ragu saat menyebutkan nama Dirta dan Elshara.
Gadis itu terhentak dengan berita itu semua. "Eh seriusan Royyan udah mencair?"tanyanya lagi seolah tak percaya dengan ucapan Aku.
"Ya iya, dia udah nikah dan udah punya pawangnya, kalau lu mau menghadapi itu manusia cari aja istrinya, nanti bakalan mencair."
Gadis itu semakin menarik senyumnya. Perlahan dia seret bokongnya ke belakang guna meluruskan kakinya lebih leluasa lagi, lantas dia menjenguk lega dengan perubahan dari Royyan.
"Pasti istrinya cantik kan, sampai seorang Royyan takluk sama itu cewek,"serunya menerka sosok Almira.
"Semua wanita cantik pada porsinya, tapi ya elu bener sih, istri Royyan bener-bener cantik, kayak bule itu anak padahal kedua orangtuanya asli Indonesia."
"Yeee ... Indonesia asli pun ada yang cantik kali,"cetusnya.
__ADS_1
Next ....