
Pria yang dibaluti penuh otot itu berangsur mendekati istrinya yang masih mengenakan handuk kimono. Punggung kecil milik Almira kembali menarik perhatian Royyan, dengan gerakkan lamban lelaki itu menyambar punggung istrinya hingga Almira mengerjap, lekas dia tolehkan wajahnya sedikit ke belakang.
"Kamu lagi apa sayang,"bisik Royyan menekankan hidungnya ke daun telinga Almira.
Wanita bermata kucing itu menyandarkan kepalanya ke dada sang suami sambil dia menggenggam kedua lengan kekar yang tengah melingkari pinggangnya. "Lagi liat matahari di Paris,"sahut Almira lembut.
Tak lama dari itu, Almira putar tubuhnya mengarah pada Royyan, dia menghamburkan tubuhnya memeluk sang suami dengan erat, dadanya menempel dengan dada telanjang lelaki itu dan wajahnya tertadah sembari terpejam.
"Hari ini kamu mau kemana?"tanya Almira lembut dengan nada suara yang rendah, nyaris berbisik.
Sebelum menjawabnya, Royyan sempat menjatuhkan kecupan manis di kening istrinya, ia menempel di kening dalam beberapa detik. "Aku harus menyelesaikan meeting dengan perusahaan German, dua hari lagi baru aku pulang ke Indonesia? Kamu gimana?"terang Royyan panjang lebar yang perlahan menaikkan kedua tangannya untuk membelai wajah istrinya dengan penuh kelembutan.
Almira membuka matanya secara perlahan dan mendapati wajah Royyan yang sudah tertunduk padanya, keduanya saling bertukar mata menyelam ke dalam lautan kasih yang sedang mengalir di antara keduanya.
"Aku besok pulang, karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan di Indonesia,"sahut Almira mencebik kesal, karena dia tak bisa bersama sang suami di negara impiannya itu dalam waktu yang lama.
"Jangan capek-capek ya di sana, sampai aku kembali jangan sering-sering keluar rumah, oke?"pinta Royyan menyentuh hidung sang istri dengan jari telulnjuknya.
"Euum ..."gumam Almira seraya dia mengangguk.
Melihat kegemasan istrinya, segera lelaki itu jatuhkan satu kecupan hangat di bibir manis Almira sehingga gadis itu memejamkan matanya sejenak dengan senyuman manis merekah di bibirnya, tidak habis di situ, Royyan masih menjatuhkan kecupannya di bagian kening sang istri, lantas dia mendekapnya dengan erat.
"Kamu kalau aku telepon cepet angkat, jangan macem-macem,"titah Royyan menekan punggung istrinya dengan satu lengan kekarnya.
"Diih ... Kan kamu duluan,"tepis Almira tak mau kalah, dia mencebik kesal yang kemudian menenggelamkan wajahnya di dada lebar sang suami.
Royyan menghela napasnya panjang, mendorong dadanya ke depan membuat wajah Almira tertekan dan semakin tenggelam ke dalam dada telanjangnya. "Jadi, mau balas dendam?"seru Royyan.
Gadis mungil itu tak bisa menahan tawanya, lekas dia dorong dada sang suami menjauh darinya dan melepaskan dekapan Royyan yang sempat melekat tadi. "Udah sana mandi, katanya mau meeting,"titah Almira menghindari pertanyaan dari suaminya.
"Oke,"sahut Royyan tanpa berusaha untuk mendekati Almira lagi.
Pria itu bergegas melipir dari hadapan Almira dengan berjalan mundur, dan tatapannya tidak terlepas dari bayangan istrinya, sorot matanya yang tajam terus tenggelam ke dalam bola mata kucing itu. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum malu-malu karena tatapan yang mendebarkan itu terus mendekapnya tanpa ampun. Bibirnya terkatup seraya melayangkan kedua tangannya menyuruh sang suami untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Royyan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Almira beranjak dari balkon masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas berdampingan dengan ponsel sang suami.
Tanpa menunggu lama, wanita berambut ikal di bagian ujungnya itu segera melakukan panggilan telepon dengan Manda, seraya dia melangkah kembali ke balkon dan menutup jendela balkon itu dengan rapat.
"Halo Man ..."sapa Almira serius, nada lembut yang terkesan manjanya mendadak lenyap entah kemana perginya.
__ADS_1
"Euuum ..."sahut Manda lirih, suara parau bangun tidurnya masih terdengar berat di telinga Almira.
"Lu baru bangun? Udah siang woi!"bisik Almira sembari dia memastikan jika sang suami masih di dalam kamar mandi.
"I-ya ... Kenapa sih lu? Pagi-pagi udah nelepon? Emangnya semalam kagak capek, di gempur laki lu,"jawab Manda lirih.
Degh!
Jantung Almira berdebar-debar hebat, bola matanya membuntang bersamaan dengan tubuhnya yang bergidik ngeri. "Anjir! Lu tahu dari mana ba*ngk*!"protes Almira dengan kerutan di dahinya.
"He he he ..."tawa Manda terdengar lembut dan amat pelan, "ya kali aja kan, aslinya gue mana tahu ..."tambahnya dengan nada suara yang masih parau.
"Yaudahlah terserah, yang jelas gue nelepon lu, gua mau nanya sesuatu."Almira segera menepis rasa malu yang telah berkumpul di kubangan batinnya dan wajah yang telah memerah itu segera dia padamkan.
"Apaan?"
"Lu tahu cewek gila itu ada di mana?"tanyanya langsung tanpa basa-basi.
"Oh si gila, katanya di hotel dimana laki lu nginep, eh iya ... Laki lu ada sama elu kan? Gue takut tuh si gila melakukan hal bodoh,"jawab Manda tanpa merasa curiga dengan pertanyaan Almira barusan.
Bibir mungil itu menyeringai, dia tersenyum miring bersamaan dengan deru tatapannya yang semakin menajam. Cengkeramannya pada ponselnya semakin mengerat pula.
Manda yang masih mengantuk seketika terhentak, terdengar jelas gadis itu beralih dari ranjangnya. "Mau ngapain lu? Mau kemana?"tanya Manda penasaran, suara paraunya perlahan memudar.
"Udah lu siap-siap aja,"jawab Almira yang segera mematikan teleponnya.
Almira melihat bayangan hitam dari arah kamar mandi mengendap keluar dan bergeser secara perlahan, tak lama tubuh sang suami lengkap dengan handuk kimononya menyembul dari arah sana, itulah alasannya mengapa Almira mematikan panggilan teleponnya dengan Manda.
Lekas dia mengayuh kakinya tenggelam ke dalam kamarnya lagi dan menutup jendela balkon dengan rapat, langkahnya membawa Almira mendekati Royyan yang baru saja menyelesaikan mengenakan pakaiannya tanpa mengenakan dasi dan jasnya.
"Udah mau berangkat?"tanya Almira lembut sambil dia meraih dasi yang tergeletak di atas ranjang yang masih berantakan.
"Iya sayang,"sahut Royyan sambil memakai jam tangan di pergelangan tangan kanannya.
Almira berangsur mendekat dan memakaikan dasi itu di kerah kemeja suaminya, dengan lihai dia merapikan dasi itu bertengger di leher Royyan. "Kapan kamu pulang?"tanyanya lagi seraya mengelus dada Royyan dengan lembut.
"Belum tahu,"sahut Royyan yang kemudian menggenggam pinggang sang istri dan membawanya ke meja rias yang ada di belakangnya.
Meja rias itu kosong, Almira sengaja tidak menaruh riasannya di sana. Perlahan tubuh Almira terjatuh di atas meja itu, kedua tangannya yang menggantung di bahu Royyan tadi segera terjatuh dan menetap di pahanya. Sedangkan Royyan meletakkan kedua tangannya di samping kaki Almira dan mencondongkan tubuhnya ke depan sampai dahinya mencium dahi sang istri.
__ADS_1
"Kenapa?"tanya Royyan mengerutkan hidungnya, "kamu mau makan malam lagi?"sambung Royyan dengan senyuman miringnya.
Mata Almira menaik sampai tenggelam ke dalam tatapan cinta yang diberikan oleh Royyan, saat itu juga gadis bermata kucing itu melingkarkan kedua tangannya di leher Royyan. "Emangnya kamu ada waktu?"Almira balik bertanya, tak lama wajahnya memiring ke arah kiri.
"Jika kamu menginginkannya, aku akan mengatur jadwalnya,"bisik Royyan di depan bibir istrinya.
"Malam ini?"kata Almira menaikkan kedua alisnya.
"Euuum ..."gumam Royyan, lagi-lagi sudut bibirnya menaik dan di detik yang sama Royyan mengusapkan c*um*n lembutnya di atas bibir Almira.
Seketika bibir Almira yang telah terlepas dari sentuhan Royyan segera menyeringai dan wajahnya membiaskan warna merah muda hingga seluruh raganya terasa terbakar kebahagiaan. "Janji?"Almira menarik satu tangannya dari leher Royyan dan menyembulkan jari kelingkingnya.
"Oke."Royyan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Almira.
Royyan menarik tubuhnya menjauh dari Almira ; merapikan pakaiannya dan memasukkan kancing jas ke dalam lubangnya. "Aku pergi ya,"pamit Royyan seraya menggenggam kedua tangan Almira dan menariknya lembut dan gadis mungil itu turun dari meja rias.
"Euum ..."sahut Almira mengangguk.
Genggaman itu perlahan memudar. Royyan berlalu pergi membawa ponselnya keluar dari kamar apartemen Almira. Sedangkan pakaian bekas semalam masih berserakan di lantai, pakaian yang Royyan pakai saat ini adalah pakaian yang sempat dia titipkan pada sang istri karena malam tadi memang pria itu ingin berkunjung ke apartemen istrinya, walau ujungnya tetap sama apa yang di pikirkan lelaki itu, tapi perjalanannya saja yang berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran Royyan.
Elshara adalah kubangan hitam yang mencengkeram malamnya menjadi sangat panjang. Tapi tak mengapa, jika ujungnya tetaplah menikmati malam bersama sang istri. Wajah lelaki itu merekah bak bunga mawar yang baru saja mekar di pagi hari dan butiran embun masih tertidur di atas kelopaknya.
"Ketemu di mana?"tanya Royyan pada Adrian yang baru saja tiba di gedung apartemen dimana Almira berada.
Adrian berdiri di samping kanan Royyan seraya melipat dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dengan sopan. "Kita ke restoran yang kemarin pak, para klien menyukai makanan di sana, jadi mereka meminta untuk berkunjung ke restoran itu lagi,"terang Adrian.
"Oke."
Adrian membukakan pintu mobil hitam lengkap dengan sopirnya di dalam. "Mengenai nona Rala,"celetuk Adrian sesaat sebelum Royyan masuk ke dalam mobil.
Royyan menoleh dan mentapi Adrian dengan dalam. "Ada apa?"tanyanya kemudian.
"Nona Rala tidak keluar dari kamar bapak dari sejak semalam, dan sampai saat saya pergi pun nona Rala belum juga keluar, saya gak berani untuk masuk ke dalam kamar pak bos,"jelas Adrian lagi.
Royyan menghela napasnya panjang nan berat, tatapannya melesat jauh ke depan, pria itu mendelik begitu kasar. "Biarkan saja, nanti saya suruh orang hotel untuk menyeretnya keluar,"jawab Royyan kemudian setelah beberapa detik dia bergeming.
"Baik pak."Adrian mengangguk.
Pria bertubuh tegap itu masuk ke dalam mobil dan Adrian segera menutupnya, lantas dia berlari ke kursi samping kemudi, tak lama dari Adrian masuk, mobil itu segera melaju keluar dari pekarangan apartemen yang memiliki lebih dari 30 lantai itu.
__ADS_1
NEXT ...