Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
Bab 138 : Jadi---kamu gak mau melakukannya lagi?


__ADS_3

Sepanjang malam berkelana bersama langit kelamnya dan angin yang mengirimnya dingin, Royyan tetap tertidur di pesisir ranjangnya, lelaki itu enggan untuk beranjak dari sana sembari menggenggam salah satu lengan istrinya. Dalam keadaan masih memakai stelan kerja lengkap, hanya jas-nya saja yang dia lempar dengan sembarang ke atas sofa.


Di detik yang sama seirama dengan naiknya sinar mentari pagi, Almira perlahan menggerakkan bola matanya untuk terbuka, tubuhnya terasa kaku. Sejak terlelap dirinya tadi malam saat bersama Manda, posisi tidurnya masih saja demikian sampai matahari kini sudah bersama langit, mengirim para gegana mengarungi cakrawala pagi ini.


Wanita berambut coklat keemasan itu menoleh ke arah kirinya, dimana tangannya didekap oleh sang suami. Lelaki itu tertunduk kaku dengan tubuhnya di bawah tercenung bisu, embusan napasnya yang lembut pelan-pelan masuk ke dalam pori-pori punggung tangannya, secara kontan Almira menyeringai.


Satu tangannya yang menganggur tadi lekas bergerak ke kepala sang suami dan dia belai rambut Royyan dengan lembut, senyumannya masih bersemayam di wajah cantiknya. Dari senyuman kecilnya ada sebuah luka yang membuat aliran pernapasannya tercekat.


Maaf kak ... Aku gak bisa jaga anak kita, aku bukan istri yang baik ya, maaf ....


Batin Almira kembali bergema, menggaungkan ketidakpuasannya terhadap dirinya sendiri.


Satu per satu butiran kristal bening kembali memenuhi kelopak matanya dan berjatuhan secara perlahan ke daerah pelipisnya karena Almira masih terbaring lemah. Lalu dia menarik napasnya panjang masuk ke dalam dan menahan sesak yang mendorong air mata itu di dadanya hingga rasanya sangat menyakitkan.


Perlahan dia seka air mata yang sudah terjatuh itu, dia tak ingin menangis di hadapan sang suami, tetapi persembunyiannya telah diketahui oleh Royyan, karena lelaki itu sesungguhnya tidak sepenuhnya tertidur, matanya hanya terpejam, tapi alam bawah sadarnya masih terjaga dengan penuh.


Punggung pria bermata kecil itu segera bangkit dan bergerak untuk memosisikan dirinya terperenyuk di samping sang istri. "Kamu udah bangun,"ucap Royyan lirih tanpa melapaskan genggamannya pada salah satu tangan Almira sepanjang malam tadi.


Degh!


Sungguh Almira terkejut dengan suara parau nan berat yang masuk ke dalam telinganya, bola matanya membeliak saat dia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menyeka air mata yang sempat membasahi pipinya.


"Sayang ... Coba lihat aku sini, gak papa kalau kamu mau nangis,"ucap Royyan lagi, membuat desakan di dada Almira semakin menguat dan air matanya kembali meleleh.


Punggung wanita bertubuh mungil itu segera terbangun dan berdiri, tanpa menoleh pada suaminya, langkah kakinya terus bergerak sedikit berlari ke arah kamar mandi, dia tak ingin melihat bola mata kecoklatan milik suaminya secara langsung, entah mengapa hati Almira merasa tersakiti kala melihatnya.


Bukan karena dia membenci sang suami ataupun menyalahkan suaminya atas kematian janinnya, melainkan gadis itu masih saja merasa bersalah karena dirinya tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.


Mengerling keanehan sang istri, Royyan gegas berlari memblokir langkah kaki sang istri, sontak wajah cantik Almira terjatuh ke bawah dan kedua tangannya tanpa dia sadari bergerak ke belakang, bersembunyi di sana dengan mata yang terpejam.


"Baru bangun, kenapa langsung lari,"tanya Royyan berkacak pinggang kecil di hadapan Almira.


"Euuh ... A-aku---mau ke-ka-mar mandi,"lontarnya terbata-bata dengan desakan buih yang semakin menyesakkan.


Tubuh wanita mungil itu bergeser ke samping kiri untuk melanjutkan langkahnya, tetapi--Lagi-lagi langkahnya kembali terhenti karena mendadak tangan Royyan membentang di hadapannya dan menarik tubuh kecilnya itu kembali ke tengah dan kali ini pria itu menyerakkan tubuhnya memeluk sang istri dengan erat.


Dada bidang lelaki itu menyelam masuk ke dalam wajah cantik sang istri, sembari menghela napasnya panjang, dia merekatkan dekapannya semakin dalam lagi bersamaan dengan sebuah kecupan manis nan hangat terambau di pangkal kepala gadis itu.


"Sini aku peluk dulu,"ucapnya lirih. "Dari semalam kita belum berbicara, kenapa pagi ini kamu juga ingin segera pergi, ada apa sayang?! Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu gak mau membaginya dengan ku?"lanjut Royyan panjang, suara beratnya yang khas membuat Almira membalas pelukan sang suami sama eratnya.


"Ma-aaf ..."ucap Almira pelan dengan suarnya yang masih garau.


"Untuk apa kamu minta maaf, kamu gak melakukan kesalahan apapun,"balas Royyan tenggelam di ribuan helai rambut coklat keemasan itu.


"A-an-nak kita, u-da---h gak ada kan k--"rengek Almira, kali ini dia tak segan untuk menghujani pipinya dengan ribuan tetesan kristalnya.


"Ssstt!" Royyan berdesis sembari mengelus punggung sang istri dengan lembut sambil dia menahan sesak yang tengah berusaha mendorong kepedihan di matanya, "tenang sayang ... Mungkin tuhan masih memberikan waktu kepada kita untuk memiliki waktu berdua lebih lama lagi,"lanjut Royyan menarik tubuh Almira semakin tenggelam dalam pelukannya.


"Maaf karena aku g-gak bisa menjaganya de-ngan ba--"


"Sayang! No ... Ini bukan kesalahan kamu." Royyan mengelus punggung istrinya lagi sambil dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, "semua yang terjadi di muka bumi ini sudah ditentukan oleh tuhan, kita manusia hanya bisa menerimanya dan kembali berusaha, stop menyalahkan diri kamu. Sekarang tenangkan diri kamu dulu, dan mari kita bicara lagi nanti, oke ..."sambung Royyan masih berusaha menenangkan istrinya.


Suara tangisan Almira semakin bergaung, ribuan kristal yang berjatuhan mulai meresap ke kemeja yang tengah dipakai oleh Royyan, rasa hangat menyebar ke bagian dalam dada lelaki itu. Merasakan tubuh sang istri semakin bergetar, pria itu semakin melekatkan dekapannya sampai wajah Almira terdongak.


"Aku ada di sini, jangan nangis sayang ..."bujuk Royyan yang juga tengah meneteskan air matanya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu yang mereka isi dengan saling mendekap dan menangis satu sama lain, mencoba merelai rasa sesak lewat air mata itu, akhirnya Almira menghentikan tangisannya dan menyisakan sedikit sedunya sehingga bahunya bergetar kecil.


Lantas dekapan keduanya saling terlepas. Royyan tangkup wajah istrinya dan mengarahkan padanya, akhirnya bola mata kucing itu bisa dikunci oleh tatapan mata kecilnya. "Kita mulai dari awal ya sayang ... Biarkan anak kita di surga sekarang, kita akan bertemu dia lagi nanti,"lirih Royyan sembari menata senyumannya dengan sempurna.


"Euum ..."gumam Almira menganggukkan kepalanya.


Perlahan kedua tangan Almira tertidur di atas punggung tangan Royyan yang masih menempel di pipinya. "Kamu gak akan kemana-mana hari ini?"tanya Almira menyelami tatapan sang suami dengan penuh harap.


"Enggak." Royyan menggeleng sembari mengusap pipi istrinya dan menjatuhkan kecupan kecil di kening Almira. "Aku akan di rumah dan bekerja di rumah, dan ... Kamu gak boleh keluar, kalau butuh apa-apa pinta asisten rumah tangga aja yang lakukan,"perintah Royyan melepaskan kedua tangannya dari pipi sang istri.


"Kenapa?! Aku udah empat hari gak keluar rumah, kerjaan aku di butik masih banyak kak--"


"Ssstt!"desis Royyan meletakkan satu jari telunjuknya di atas bibir Almira sembari dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekatkan wajahnya dengan sang istri. "Jangan membantah, ini demi keselamatan kamu. Ingat kan waktu di rumah sakit tentang racun itu, jadi kamu gak boleh kemana-mana sampai aku tahu siapa dalang dari semua ini,"tegas Royyan menegakkan tubuhnya.


"Sebenarnya dia ini siapa sih kak?! Dari kemarin kamu sibuk sekali untuk mencari orang itu? Dan kata Manda kecelakaan aku di rumah sakit bukan kecelakaan biasa,"urai Almira mendekap tatapan Royyan untuk tetap mengarah padanya.


"Iya. Itu adalah rencana seseorang, antara Dirta atau Elshara."


"Elshara?" Wajah gadis mungil itu mengerut karena terkesiap nama yang sangat dibencinya itu keluar dari mulut sang suami.


"Yang memberikan racun di rumah sakit kemungkinan besar adalah El, karena ada beberapa kecocokan yang sangat mirip mengarah padanya, tetapi untuk insiden kecelakaan di rumah sakit aku belum bisa memastikannya."


Almira mengangguk mengerti dengan penjelasan sang suami.


Tak lama dari itu, ponsel Royyan yang terbaring di atas nakas gegas berdering. Sepasang suami-istri itu secara bersamaan menoleh pada ponsel itu, Royyan gegas kayuh langkahnya mendekati ponselnya dan segera mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari mertuanya Ressa.


"Iya halo pi,"sapa Royyan sembari menggerakkan tangannya memerintah sang istri untuk mendekat.


Almira mengerti. Wanita yang masih berpakaian piyama serba panjang itu gegas bergerak ke dekat suaminya dan kembali menghamburkan tubuhnya, memeluk Royyan dengan erat, sama seperti apa yang dilakukan Royyan tadi.


Almira yang ikut serta mendengar percakapan papinya dengan sang suami lekas mendongak heran. "Tentang apa?"bisik Almira pada sang suami.


Royyan menoleh pada Almira lalu menerbitkan senyuman kecilnya, perlahan wajahnya turun mendekati telinga istrinya itu sembari mengeratkan tangannya yang sudah melingkar di pinggang Almira. "Nanti aku jelaskan, sekarang diem dulu,"bisik Royyan.


"O-oke."Almira mengangguk dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Ya pi, seperti rencana awal. Putrinya telah memberikan keputusan yang tepat untuk kita bukan,"jawab Royyan kemudian.


"Benar kamu nak, siapapun yang sudah mengusik ketenangan putri ku dia tidak akan selamat."


"Jadi keputusan ada di papi, terserah papi, mau mencabut seluruh sahamnya atau memiliki perusahaannya,"saran Royyan membuat Ressa yang ada di balik ponsel berkumut, senyuman kecil dari Ressa terdengar jelas oleh Royyan.


"Baiklah nak, papi akan menguasai perusahaannya, dalam waktu satu minggu kami pastikan perusahaan itu akan berpindah tangah."


"Oke pi, di dalam perusahaan itu ada anak perusahaan ku yang tengah bekerja, silakan papi bekerja sama dengan mereka."


"Oke nak, papi akan segera menyelesaikannya.


"Euum ..."


Pembicaraan lewat telepon itu segera berakhir. Lekas Royyan simpan ponselnya lagi ke atas nakas dan berbalik untuk membalas pelukan Almira yang sedari tadi menempel di tubuhnya. "Jadi ... Sekarang apa yang akan kita lakukan seharian di rumah,"tanya Royyan lirih.


"Euum ... Nonton film yuk." Almira mendongak sembari tersenyum, "kita gak pernah nonton bareng gini kan,"sambung Almira penuh harap.


"Oke,"katanya sambil mengangguk. "Mau nonton apa?"

__ADS_1


"Drama Indonesia aja, jangan yang luar nanti jiwa kamu tergugah kalau nonton film luar."


Bibir kanan Royyan menaik seraya wajahnya terlempar ke samping dengan lembut dan tatapan yang membekam dengan nakal, tak lama dari itu paras tampan lelaki itu kembali ke awah Almira bersamaan dengan dekapannya yang mengendur.


"Emangnya kenapa sayang,"ucap Royyan lembut sembari membelai rambut istrinya, "kita udah lama gak melakukannya bukan?! Boleh dong sekitar enam jam, gak lama kok,"goda Royyan mendekati wajah Almira sampai hidung lancip keduanya saling bersentuhan.


Namun, Almira segera menjauh sambil membulatkan kedua bola matanya, lalu dia memukul dada sang suami dengan kasar bahkan sedikit mendorongnya seraya dia menyeringai ngeri dengan perkataan suaminya itu.


"Iiih--kak Royyan!"pekik Almira menolak apa yang telah dilontarkan sang suami, lalu dia bergidik sambil memeluk dirinya sendiri. "Enggak ya, enam jam lama itu, tiga jam aja udah pegel tahu,"sambung Almira bersi-keras menolak permintaan sang suami.


Tawa lega milik Royyan terlepas begitu saja, sehingga tubuhnya menganjur ke depan karena tak bisa menahan tawanya lagi. Betapa lucunya Almira di mata Royyan. Lelaki itu mulai melangkah untuk mendekati istrinya lagi, tetapi Almira lekas mendorong langkahnya ke belakang untuk menciptakan jarak di antara dirinya dengan sang suami.


"Sayang ... Kenapa kamu menjauh, ayo sini, tadi meluk aku sampai gak mau lepas, kenapa sekarang menjauh begitu,"goda Royyan lagi, mulutnya sedikit menganga sambil tersenyum sambil dia menaikkan satu alisnya.


"Enggak!"pekik Almira mengerutkan dahinya sembari dia menarik kedua tangannya ke belakang dan melanjutkan terus melangkah ke belakang. "Kamu jangan aneh-aneh ya, aku gak mau, waktu di Paris aja kamu ganas banget."


Royyan menghentikan langkahnya dan mulai menggantungkan kedua tangannya di pinggangnya itu, angan-angannya mencelat pada malam panas saat di negara sang pemilik menara eiffel itu, tetapi pria itu tak mengingat apapun selain perasaan senang dan kenikmatan yang *******. Selain itu, mendadak pikirannya kosong, hanya ada kabut abu-abu yang tidak memberikannya jawaban.


"Ada apa dengan hari itu, aku tidak mengingatnya sayang,"ucapnya menggelengkan kepalanya sambil dia menata senyuman termanisnya.


"Tuuuh kan ... Kamu licik,"rengek Almira menunjuk-nunjuk sang suami dan tanpa sadar dia melangkan mendekati Royyan. "Kamu melakukannya seperti kegilaan tahu--menyebalkan tahu gak kamu,"tambah Almira kembali memukul-mukul sang suami berulang kali.


Cepat-cepat Royyan membelenggu pergelangan kedua tangan Almira dengan kedua telapak tangannya yang lebar, lalu dia tarik istrinya hingga terjatuh ke dalam dadanya dan mengunci kedua tangan Almira di belakang tubuhnya membuat Almira mendongak dengan wajahnya yang nampak tegang dan bola mata yang membulat.


"Udah marahnya,"bisik Royyan sambil mendekatkan wajahnya dengan sang istri.


"Euum ..." Almira mengangguk kecil, tanpa perintah ludahnya tertelan begitu saja bersamaan dengan tubuhnya yang mematung.


"Apa permainan malam itu membuat kamu trauma?"tanya Royyan serius.


Sesungguhnya Royyan tidak suka melakukan pemaksaan, apalagi pada istrinya, dia ingin melakukan hal itu jika sang istri mengizinkannya untuk menyentuhnya. Namun, saat di Paris lelaki itu sedang dalam pengaruh alkohol dan terlebih ada obat perangsang yang semakin mendorong dirinya melakukan hubungan suami-istri dengan kekuatan yang lebih besar.


"Euuh---enggak." Almira menggeleng lamban seraya menjatuhkan tatapannya ke bawah dan mengatupkan bibirnya.


Satu tangan Almira terlepas, sedangkan tangannya yang lain masih digenggam oleh Royyan, karena tangan Royyan beralih ke dagu Almira, mengapitnya lalu menariknya kembali tertadah ke atas untuk mempertemukan matanya dengan mata kecoklatan milik istrinya itu.


Seraya mengusap lembut bibir istrinya dengan ibu jarinya yang mampu memeluk penuh bibir kecil itu. "Jadi---kamu gak mau melakukannya lagi?"tanya Royyan terbenam dalam tatapan kaku Almira.


Degh!


Bukan! Bukan itu yang aku maksud, tapi ... A-aku kan cuman bilang aja, bukan merengek tidak menginginkannya lagi. Batin Almira meracau.


"Bukan." Tangannya yang menganggur segera menangkis tangan Royyan yang berada di dagunya. "Aku cuman ngomong aja,"ketusnya kemudian menarik satu tangannya yang masih berada dalam genggaman Royyan.


Wajah gadis itu kembali terjatuh dan kali ini paras cantiknya telah dikuasai warna merah yang membakar wajah dan seluruh tubuhnya, tetapi Royyan tak bisa kalah begitu saja, lelaki itu kembali mendekatkan dirinya dengan sang istri sehingga dahi Almira menempel di dadanya yang masih dibaluti kemeja.


"Mau kita mulai?"desah Royyan sambil dia membuka satu per manik-manik kemejanya.


Melihat pergerakan sang suami yang melepaskan kancing kemeja dengan lubang-lubangnya membuat Almira menelan ludahnya kasar, dan perlahan mendongak, begitu saja dia terpana dengan tatapan sang suami yang dipenuhi oleh cinta dan kasih sayang, dilengkapi dengan senyuman yang membuatnya terpaku diam.


"H-hah?!" Seruan kecil yang mampu keluar dari mulutnya.


"Aku anggap sebagai jawaban iya." Hidung Royyan mengerut dengan senyuman manis yang semakin melekat di wajahnya.


Royyan menaikkan tubuh gadis mungil itu ke atas kedua lengan kekarnya, dia membawa sang istri kembali ke atas ranjang dan membaringkannya lagi di sana, sedangkan lelaki itu terbaring di sampingnya.

__ADS_1


NEXT ....


__ADS_2