Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 91 : Konferensi pers 3


__ADS_3

Kamera sudah terpasang di setiap penjuru dari pekarangan hijau dengan berbagai macam tanaman hias yang mampu memanjakan semua mata insan yang tengah berkumpul di sana, di depan meja dengan beberapa kursi yang sudah berjajar, perlahan telah diisi oleh Rian, Rini, Ressa, Miranda dan Anneu, sedangkan Manda dan Ajun duduk di kursi bagian ujung ke ujung.


Setelah beberapa menit Semua orang terduduk di kursinya masing-masing, Royyan dan Almira keluar dari pintu kaca menuju ke pekarangan yang sudah di tata rapi dengan sedemikian rupa. Pria berbadan tinggi tegap itu menggenggam tangan sang istri dengan erat, dia tarik Almira ke meja itu dengan lembut. Keduanya terduduk di tengah-tengah kedua orangtua, mertua dan teman-temannya.


Riuh deru kamera yang memotret kedatangan Almira dan Royyan ke tengah-tengah mereka berderai ramai, sepasang suami-istri ini telah mengambil semua mata kamera yang tadi terdiam hening menjadi tertuju padanya.


Royyan tarik pinggang sang istri untuk tetap berada di dekatnya, tetapi tangan kekarnya tidak melepaskan dekapannya pada pinggang Almira, dia tetap menggantung di sana. Dia lukis wajahnya dengan balutan tatapan tajam yang biasanya dia lontarkan pada semua orang yang tidak dekat dengannya, bahkan Elshara pun ikut merasakan kekejaman tatapan Royyan.


"Oke, kita mulai. Silakan kalian bertanya, saya akan menjawabnya dengan jujur, orangtua saya, mertua saya dan juga sahabat-sahabat saya sebagai saksi bahwa ucapan saya adalah kebenaran,"cakap Royyan panjang, tubuhnya miring ke arah Almira karena satu tangannya tetap berada di lingkaran pinggang sang istri.


Anggukkan tegas dari para wartawan yang ada di depannya segera menyembul, bahkan puluhan kamera telah bersiap untuk merekam apapun yang akan terjadi di sana, beberapa di antaranya ada yang menyiapkan buku catatan kecil dan laptopnya masing-masing, sedangkan yang lain bersiap-siap melontarkan berbagai macam pertanyaan.


"Apakah benar bapak dan nona Ra menjalin hubungan spesial,"tanya salah satu wartawan yang sepertinya sudah menggebu-gebu tak sabar ingin melempari Royyan dengan pertanyaan-pertanyaannya.


"Iya, saya melakukan hal itu dalam keadaan sadar, waras dan sehat,"jawab Royyan menarik tangan Almira dari bawah ke atas meja, membuat Almira mendelik tegang pada sang suami.


Tangan yang berada di genggaman suaminya pun terus bergerak tidak tenang, hatinya merasa ada yang salah dengan tindakan Royyan, intinya gadis itu belum terbiasa dengan semua perlakuan manis lelaki itu terlebih di hadapan umum.


Hening. Jawaban tegas dari Royyan membuat para wartawan sibuk dengan laptop dan alat tulisnya, mereka masih belum menyangka jika hubungan Almira dan Royyan lebih dari sekedar hanya sebagai saudara sepupu, bahkan beberapa di antara mereka menyengguk seraya mengetikkan beberapa kalimat di laptopnya dan ada pula yang memilih untuk menulis di buku catatan kecilnya.


"Hubungan apa yang anda miliki dengan nona Ra, bukankah kekasih bapak adalah nona Rala?"celetuk salah satu wartawan yang ternyata masih berasumsi sesat.


Dengan cepat Royyan dekatkan mulutnya dengan kepala mic, sorot matanya terlempar pada wartawan itu dengan tajam, seraya menggenggam mic di depannya dia tegaskan garis-garis di wajahnya hingga mengencang.


"Rala hanya seorang teman saat di SMA, selain itu tidak ada hubungan apapun lagi selain pekerjaan."Jawaban Royyan semakin menajam.


"Lantas mengapa bapak dekat dengan nona Rala jika bapak ada hubungan spesial dengan nona Ra?"tanya wartawan yang lain.


Sehelai helaan napas Royyan menganjur keluar dengan kasar, energinya mulai terkuras habis karena menjawab berbagai macam pertanyaan dari wartawan, yang menurutnya hal itu tidak perlu diketahui oleh siapapun, karena ini adalah kehidupan pribadi dirinya.


"Seperti yang diketahui banyak orang, jika Rala adalah Elshara Daniar, putri dari salah satu pengusaha fashion terkenal yang sempat menghilang karena kecelakan pesawat beberapa tahun yang lalu. Dia menemui saya karena ingin memberitahu saya, Ajun,"beber panjang Royyan seraya menunjuk Ajun yang berada di ujung sebelah kirinya, "dan Dirta, bahwa dia selamat. Kami berempat bersahabat dengan baik."


Para wartawan itu mengangguk, beberapa serpihan keingintahuannya perlahan mulai merakit menjadi sebuah bidang yang nampak jelas dengan iringan terik matahari yang semakin lama menjadi lebih galak.


"Apakah bapak pernah dekat dengan nona Rala sebelumnya dalam artian perasaan suka pada nona Rala? Saat anda dengannya di SMA."

__ADS_1


"Tidak!"tegas Royyan malas, pertanyaan wartawan mulai melenceng pada hal yang seharusnya tidak di pertanyakan dalam konferensi pers tersebut. "Saat SMA saya sudah bertemu dengan Ra dan saya sudah jatuh hati padanya saat itu,"sambungnya seraya mengarahkan tatapannya pada Almira yang berada di sampingnya seraya membelai lembut pipi sang istri.


Degh!


Wanita berambut coklat keemasan itu dia kelokkan kepalanya pada sang suami, bola matanya menatap dengan nanar, dia tak menyangka saat itu sang suami telah menaruh hati padanya, selama ini terlebih sebelum sang suami mengutarakan perasaannya, gadis itu selalu beranggapan bahwa pernikahan ini tidak memiliki cinta.


Berulang kali Royyan mengutarakan jika cinta itu sudah hadir sebelum pernikahan berlangsung, tetapi gadis mungil itu sekalipun tak pernah mempercayai penuturan sang suami, tapi kali ini Almira mulai mempercayai semua perkataan Royyan yang sudah lama mengendap dan di abaikan olehnya.


"Jadi hubungan apa yang anda miliki dengan nona Ra?"tanya wartawan lain.


Bibir kecil itu menyunggingkan senyuman meremehkan, rupanya para wartawan itu belum mengetahui atau pura-pura tidak tahu siapa Almira bagi Royyan, wajah di depannya nampak sangat tidak sabar menunggu jawaban dari Royyan.


Seraya menggenggam pergelangan tangan Almira dengan lembut, dia tarik ke udara bersamaan dengan tangannya yang lain dimana cincin pernikahan itu melingkar, secara nyata cincin pernikahan itu menunjukkan diri pada semua orang.


"Cincin ini sudah menjelaskan bukan, Almira Miara Tisya atau Ra adalah istri saya dan mami Miranda dan papi Ressa adalah orangtua saya juga,"pungkas Royyan dengan tekanan nada suara yang menegas.


Para mata wartawan serta juru kamera di hadapannya terlihat membuntang, mereka semua terkejut dengan penuturan Royyan, tak sedikit yang terpana dengan hal itu, sehingga beberapa juru kamera menghentikan pekerjaannya dan beberapa wartawan yang lain mematung sejenak, tak sedikit pula netranya berkelintaran saling bertemu.


Namun, beberapa waktu kemudian suasana hening yang sempat melanda tadi segera mencair, para wartawan itu segera mengalihkan keterkejutannya dan melanjutkan pekerjaannya bersamaan sinar matahari yang perlahan mengendur karena para mega berkelana menciptakan jejaknya di sebidang langit.


"Saya dan istri saya tidak pernah menjalin hubungan pacaran, karena kami berpisah sebelum kami dekat, dan saat saya menemukan istri saya, saat itulah saya menikahinya."


Salah satu di antara mereka melambungkan satu tangannya, "sejak kapak pak Royyan dan nona Ra menikah?"tanyanya, sorot matanya fokus pada Royyan dan Almira.


Tangan kekar itu lekas mengambil sebuah mic yang sudah berdiri di depannya untuk lebih mendekat dengannya, sorot matanya terjatuh ke meja sejenak, lalu kembali mengapung ke udara untuk menatapi wanita yang melontarkannya pertanyaan.


"Tepat satu tahun empat bulan dari hari ini, di tanggal 15 Mei tahun lalu,"jawab Royyan cepat.


"Bagaimana bapak bisa melaksanakan pernikahan tertutup ini, sedangkan baik pak Royyan maupun nona Almira adalah sama-sama orang terkenal di negeri ini,"tanya seorang wanita lain di depan.


Royyan kembali mendekatkan bibir tipisnya ke hadapan kepala mic, "kami sepakat untuk melangsungkan acara pernikahan secara tertutup, dan terjadilah pernikahan itu."


Wartawan pria yang berada di sebelah kanan di kursi ke tiga dari depan mengapungkan satu tangannya, "alasan bapak menyembunyikan pernikahan ini karena apa? Apakah ada hal yang mengganggu bapak?"


"Ini masalah pribadi, saya tidak bisa menjelaskannya pada kalian semua, intinya ... saya menyembunyikan pernikahan ini karena saya ingin melindungi istri saya."Royyan memindahkan tangannya yang sedang menganggur di atas meja ke bahu Almira, dia tarik bahu itu untuk lekat dengannya. "Karena saya memiliki masalah pribadi di masa lalu, dan masalah itu sudah selesai, maka dari itu saya mengungkapkan pernikahan saya,"tambah Royyan.

__ADS_1


Mendadak, Rian berdiri dan mengambil mic yang menempel dengan badannya dia bawa bersamanya, "pernikahan ini awalnya adalah perjodohan, saya menjalin kerjasama dengan perusahaan Remira fashion, dan sangat kebetulan putra saya sangat mencintai putri dari pak Ressa dan bu Miranda, maka dari itu saya merestui hubungan ini dengan penuh dan tidak ada yang bisa menggantikan putri cantik saya Ra sebagai menantu,"terang Rian begitu saja.


"Benar, kami tidak akan menerima wanita mana pun untuk menjadi menantu kami,"timpal Rini menegaskan penuturan sang suami.


"Tidak ada yang lebih pantas menjadi pendamping adik saya selain Ra,"timpal Anneu tak mau kalah dengan kedua orangtuanya.


Seketika para wartawan itu senyap bahkan membeku, semua yang ada di sana terdiam bagaikan patung yang tak bernyawa, hanya sebuah benda mati yang dinikimati oleh mata. Konferensi pers menjadi sangat hening.


El ... Elu harus sadar, lu gak ada kesempatan untuk masuk menjadi bagian dari keluarga Alzaro, tante Rini dan om Rian bahkan kak Anneu sudah menjelaskan jika mereka sangat menyukai Ra.


Batin Ajun berceloteh. Bola matanya meredup menatapi Almira, dia mengingat beberapa penggalan kata yang terlontar saat Elshara menemuinya di parkiran gedung pengadilan, lantas satu helai helaan napasnya terburai keluar, memuntahkan sebuah helaan kelelahan.


Royyan dan Almira berdiri dari kursinya, seketika semua yang ada di dekat keduanya ikut berdiri, termasuk para wartawan dan juru kamera pun ikut bersiap mengakhiri acara konferensi pers ini.


"Rain corporation, rain corporation daboz dan Remira fashion ada dalam satu naungan Rain group dan pimpinan dari Rain group adalah putra saya Royyan D'caprio Alzaro, kami sudah mengembangkan perusahaan menjadi sebesar sekarang, putra saya sudah memiliki lebih dari tujuh anak perusahaan yang berjalan di bidang properti dan fashion, kami akan bertemu lagi saat peresmian hotel baru di Bali, terima kasih,"pungkas panjang Rian.


Anggukan tegas mengalir dari para wartawan yang masih sibuk mengetikkan beberapa rangkaian kata untuk mereka jadikan bahan artikel yang akan mereka posting di situs web atau dalam koran, sedangkan konferensi pers ini sudah lebih dulu tersiarkan secara langsung lewat online bahkan ada televisi yang menayangkan acara konferensi pers ini secara langsung, tak lupa di setiap billboard penjuru negeri ini.


Dengan cepat acara konferensi pers yang di adakan Royyan dan keluarganya tersebar sampai ke telinga Dirta yang sedang berada di restoran keluarganya di kota Tangerang, bola mata kecilnya melesat masuk ke dalam serat televisi besar yang ada di dalam dapurnya.


Lelaki itu terdiam seraya melipat kedua tangannya di depan, fokusnya telah di rampas oleh televisi itu, membuat Dirta enggan untuk enyah dari hadapan televisi besar itu.


Sorry Yan ... gara-gara gue, lu harus menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi, gue janji sama diri gue sendiri, gue gak akan ganggu kehidupan bahagia lu sama istri lu, gue bisa lihat betapa lu mencintai istri lu, ini pertama kali gue lihat mata bersinar itu dari lu, selama ini tatapan lu selalu tajam dan redup. Tapi kali ini gue melihat cinta itu di dalam bola mata lu.


Wajah Dirta meredup dan mengendur ke bawah, tatapannya terlempar pada keramik-keramik yang tertidur di bawah, rasa bersalahnya semakin menjalar mencabik-cabik jiwanya yang lemah. Dia menyadari dengan benar jika apa yang di lakukannya beberapa tahun yang lalu adalah kesalahan besar, pada nyatanya dia tidak mendapatkan apapun.


Lelaki berambut wavy bergelombang itu menyapu wajahnya dengan kasar, jari-jari panjangnya menyelinap masuk ke dalam ribuan helai rambutnya yang bergelombang, pikirannya kacau.


Penyesalannya lagi-lagi mengoyak fokusnya hingga berkeping-keping, dia lempar topi putih yang melindungi rambutnya ke sembarang tempat.


Lantas dia beralih ke pintu keluar dari dapur yang bising dengan berbagai macam pekerjaan para chef yang sedang menyiapkan berbagai macam jenis makanan untuk pelanggan, pria itu melimbai keluar dari dapur bahkan dia keluar dari restoran seraya melepaskan pakaian putih chef-nya, dia cengkeram baju putih itu dan dia lempar ke dalam mobil pribadinya.


"Ajun tahu segalanya, tapi dia tutup mulut."senyumannya menyungging seraya dia putar bola matanya ke arah lain yang ada di parkiran itu, "Ajun emang sosok teman yang baik, dia menjaga semuanya terlihat baik-baik saja, gue harus belajar menjadi teman yang baik darinya,"sambung Dirta dengan tatapan yang kembali meredup.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2