Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 59 : Pertengkaran lagi dan lagi.


__ADS_3

"Ngapain nyari gue?"Almira bertanya-tanya dengan wajah penuh tanya.


"Ya lu tahu sendiri tuh cewek stress kayak gimana? Gue baru bilang kalau lu deket sama Royyan aja kayak kerasukan setan begitu, untung lu lebih bar-bar dari dia,"jelas Manda yang belum menyadari jika pertengkaran itu terjadi karena dirinya.


Sontak Almira menoleh kasar, dia tarik kedua kakinya ke atas sofa bersila dengan rapi, lalu dia lemparkan tatapannya melesat tembus ke bola mata Manda.


"Wah lu gimana sih, kenapa lu bilang,"protes Almira menggegarkan tubuh Manda dengan pelan.


"Yah kan gue pikir itu gak masalah, lagian lu kan deketnya biasa aja, gue pikirnya begitu saat itu, eh si Rala brutal tapi dia sendiri yang sekarang sakit, padahal cuman lu tonjok aja perutnya."


Almira terdiam sejenak. Lalu beberapa detik kemudian dia tertawa lagi dengan lepas, "ya lagian ngajakin gue berantem, tapi perutnya gak papa kan? Kalau sampai ada kerusakan gue yang bakalan kena masalah?"pungkasnya kemudian dengan di selipi rasa takut.


"Tenang aja, si Rala emang lebay aja, kata managernya gak ada luka serius cuman memar dikit aja, besok juga udah membaik,"jelas Manda menenangkan Almira.


"Baguslah."


"Eh tapi ... kalau si Dirta datang lagi dan nyerang lu karena ceweknya sakit itu gimana?"Manda balik bertanya, dia mulai mengkhawatirkan sahabatnya.


Mendengar kekhawatiran Manda lekas Almira menaikkan kedua sudut bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan, "lu inget kan waktu kita masih SMA, waktu itu gue lawan cowok karena ganggu mulu sampai mau melakukan pelecehan sama elu, apa yang gue lakukan?"tuturnya mengingatkan Manda pada kejadian di masa lalu.


Memang saat itu Manda sempat di dekati oleh pria kurang ajar, pria itu memaksa untuk menc*um Manda, dan saat itu Almira datang dan menarik kerah baju pria itu sampai dia tersungkur ke belakang. Dan apa yang terjadi selanjutnya? Ya tentu saja pria itu tidak terima dengan perlakuan Almira padanya, dia merasa terhina terkalahkan oleh wanita mungil dengan paras cantik nan lembut itu.


Perdebatan di mulai dan Manda gemetaran ketakutan di belakang tubuh wanita mungil itu, tetapi pria itu tak bisa mengalahkan Almira yang selalu membawa cairan campuran cabai merah, setelah memukul kepala pria itu dengan kakinya Almira segera menyemprotkan cairan cabai itu ke mukanya dan mereka melarikan diri.


Ingatan itu masih melekat di pikiran Manda, lantas dia pun menggegarkan tawanya, jika diingat-ingat kejadian itu memang menakutkan tetapi cukup lucu dan membuat perutnya tergelitik terus menerus.


"Ya ya ya ... gue percaya kalau inget kejadian itu, sampai itu cowok guling-guling karena matanya perih, terus besoknya dia malah di skors."


"Tanggungjawab lah, dia berbuat salah ..."


"Thankyou ... kalau gak ada elu saat itu kayaknya gue sudah tidak perawan lagi,"rengek Manda memeluk Almira.


"Hmm ..."Almira bergumam.


...***...


Fajar menyingsing dengan cepat, acara camp semalam pun tetap berjalan dengan baik sesuai dengan rencana tanpa mempedulikan Elshara yang ada di rumah sakit, padahal perutnya sudah tak terlalu sakit, tetapi wanita bertubuh indah itu tetap ingin menetap di rumah sakit.


Dia menunggu Royyan untuk datang lagi menjenguknya seperti yang di lakukan oleh Dirta yang membawakan banyak makanan dan juga vitamin agar dia kembali sedia kala, Ajun pun ikut serta dalam penjengukan. Namun, Royyan tak kunjung datang sampai pagi menjelang, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, jadi dia lebih memilih untuk bersama Adrian dari kafe satu ke kafe yang lain.


"Ih Royyan kemana sih? Kok dia gak jenguk-jenguk gue lagi, apa bener ya si Ra itu deket sama Royyan, kenapa gue gak pernah tahu kedekatan mereka sih,"ocehnya di atas ranjang rumah sakit.


Tak lama dari dia mengoceh, Ajun tiba membawakan bubur hangat yang di belikan oleh Dirta, dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, segera dia sodorkan bingkisan itu pada Elshara.


"Makan. Dari Dirta, oh iya ... elu jangan ngomong sembarangan sama Dirta karena dia selalu dengerin elu, lu gak terluka parah kan? Mending elu cepetan balik kerja, lu gak usah nunggu Royyan karena temen gue itu gak bakalan datang lagi buat jenguk elo,"ungkap Ajun yang ternyata tahu isi pikiran Elshara.


"Kok gitu, padahal gue sakit beneran, kan lo tahu sendiri kalau gue di tonjok sama tuh desainer sialan, dan gue cuman ngomong apa yang sebenarnya terjadi pada Dirta, gak ada tuh gue ngomong aneh-aneh,"kilahnya seraya mengambil bingkisan dari tangan Ajun.


"Dari dulu juga gitu kan anaknya, masa lu masih kagak ngerti sih sama sifatnya Royyan, dia itu random, kalau lagi baik ya baik kalau lagi mager ya dia gak bakalan melakukan apapun, ya lagian elu yang salah, ngapain pake nyerang Ra,"pungkas Ajun kesal.


Elshara terdiam. Lagi-lagi dia tidak mengetahui apapun tentang Royyan, selagi Elshara termangu Ajun menggunakan waktunya untuk beringsut dari sana keluar dari ruang kamar yang di tempati Elshara dari kemarin sore.


Tapi kemudian Elshara mengejar Ajun, memblokir jalan Ajun yang baru saja tiba di daun pintu. Dengan terpaksa Ajun menghentikan langkahnya seraya dia mengetikkan sesuatu di ponselnya.

__ADS_1


"Ada apa lagi? Gue harus balik kerja nih."


"Lu tahu kalau Ra deket sama Royyan?"tanya Elshara serius.


"Tahu ... kenapa?"jawabnya masih abai dengan Elshara.


Degh!


Tiba-tiba saja hatinya merasakan sesak sehingga dia kesulitan untuk bernapas, tetapi tak lepas dari deru kemarahan yang masih saja menjadi pilar tertinggi dalam diri Elshara. Bola matanya menatap Ajun dengan getir, tak lama dari itu Ajun mendongak dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Lu lupa? Kedekatan Ra dan Royyan pernah viral, kalau mereka itu sepupu-an,"papar Ajun menegaskan.


Mendadak wajah yang di selimuti amarah itu perlahan luntur dan cahaya merah di sana ikut padam, berganti dengan paras merah karena malu, begitu bodohnya dia tersulut emosi hanya karena secuil informasi dan membuat dirinya malu dengan tingkahnya kemarin. Dia katupkan bibirnya dan matanya terpejam di hadapan Ajun, lalu dia tertunduk seraya menautkan kedua tangannya.


"Makanya ... kalau apa-apa itu elu cari tahu dulu,"tukas Ajun seraya dia melenggang pergi dari hadapan Elshara.


Baru tahu begitu aja sampe nyerang Ra, kalau tahu Ra itu istrinya Royyan, bisa mati berdiri kayaknya. Cara Royyan menyembunyikan pernikahan adalah cara yang terbaik untuk menghindari masalah, tapi untungnya Ra bukan wanita lemah dia bisa melawan tanpa bantuan siapapun.


Seraya melangkah Ajun merangkai ucapan dalam batinnya, dia merasa harus ikut serta untuk melindungi Almira dari bahayanya dua orang yang memiliki cinta, tetapi mereka tidak mengerti arti cinta itu sendiri.


Ajun masuk ke dalam mobilnya, dia melajukan mobil berwarna silver itu meninggalkan rumah sakit, hatinya benar-benar tidak tenang. Pikirannya terus di kuasai oleh masalah Royyan dan istrinya.


"Gue harus balik ke lokasi shooting, gue yakin Dirta ke sana. Royyan lagi banyak kerjaan, dia gak bisa mantau istrinya,"gerutu Ajun di dalam mobil seraya dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, agar dia sampai di lokasi tepat waktu.


Sementara di tempat lain, tepatnya di lokasi shooting camp tadi malam, suasana di sana sangat ramai. Seluruh model tengah bersiap untuk melakukan shooting selanjutnya sesuai jadwal, kali ini semuanya tak lagi memedulikan apapun tingkah Elshara karena mereka harus segera menyelesaikan shooting tepat waktu sesuai perintah dari pimpinan penyelenggara dan sutradara.


Bahkan pimpinan agensi yang selalu di pihak Elshara, kini dia bergeming dan mengikuti apapun keputusan dari semua orang, dan posisi Elshara tadi malam telah di gantikan oleh Manda, sehingga acara shooting berjalan dengan lancar.


"Ra, gue hari ini pake yang mana?"tanya Manda yang tengah duduk di kursi lipatnya seraya dia di rias oleh penata riasnya.


"Iya ... pindah lokasi lagi kita,"jawab Manda.


"Berarti elu pake ini aja,"sahut Almira seraya mengambil satu set pakaian pendek dengan warna yang manis dan akan sempurna jika di pakai oleh Manda.


Tak lama dari itu deru angin bersibak dengan kelam, aroma hitam menyeruak ke area Almira. Wanita yang tengah mengikat rambutnya menyerupai kuncir kuda itu dengan cepat menyadari ada sebuah perubahan di sekitarnya, dia segera sunggingkan senyumnya lalu dia tolehkan wajah dan tubuhnya menghadap pada seorang pria berbadan tinggi tegap seperti suaminya, tetapi masih tetap Royyan lebih unggul segalanya.


Kita lihat! Siapa yang akan menang disini, gue siap!


Batinnya berujar, dia berdiri dengan tegap menanti seorang pria yang tengah berjalan mendekatinya dengan amarah yang tergambar jelas di wajahnya bahkan aura tubuhnya pun ikut menghitam.


"Lu yang namanya Ra?"tanya Dirta yang sudah jelas dia tahu siapa wanita yang duel dengan Elshara.


"Yups ... why? Punya urusan apa dengan saya? Saya tidak mengenal anda,"jawab Almira tenang.


Namun, tidak dengan Manda yang terkejut dengan kedatangan Dirta, dia segera beranjak dari kursinya dan mendekat pada Almira yang nampaknya tidak gentar sama sekali, bahkan dia berdiri dengan tegak penuh keberanian.


"Dia yang namanya Dirta, yang kata gue kemarin nyari elu, hati-hati Ra,"bisik Manda di telinga Almira.


"Tenang aja. Kalau dia berani mukul wanita berarti dia bukan laki-laki tapi lebih hina dari apapun, banci aja tahu caranya bersikap,"tukas Almira dengan suara lantang, dia sengaja mengatakan hal itu dengan gamblang agar Dirta mendengarnya.


"Lu emang wanita yang berani, lu harus dapat hukuman karena udah menyakiti El,"tegas Dirta dengan tatapannya yang tajam.


"Kita sama-sama wanita, dan pertengkaran kami adalah pertengkaran wanita, dia nampar gue, jambak gue, dorong gue, dan gue balas dengan satu tonjokkan, adil bukan? Masih untung gak gue balas dengan cara yang sama seperti yang cewek lu lakuin,"jawab Almira seraya dia melipat kedua tangannya di depan.

__ADS_1


"Gue gak peduli! Yang jelas lu udah nyakiti El dan gue akan membalasnya,"ucapnya seraya dia melangkah lebih dekat lagi.


"Lu pikir gue peduli HAH?! Cewek lu itu kerasukan setan tahu gak, datang-datang nyerang gue cuman karena denger gue deket sama kak Royyan, dia bukan siapa-siapanya kak Royyan, tapi kemarahannya kayak pacarnya aja padahal kak Royyan udah punya istri, kasih tahu cewek lu buat sadar diri dan tahu diri!"sergah Almira geram yang kemudian dia membuang napasnya dengan kasar.


"DIEM!"


"Lu yang DIEM! Cowok apaan lu berani lawan cewek, banci aja lebih terhormat daripada laki-laki kayak elu,"bantah Almira dengan nada suara yang lebih lantang.


"Gue gak peduli lu siapanya Royyan, dasar cewek sialan!"decak Dirta dengan bola mata yang semakin kuat, lalu dia melayangkan satu tangannya ke udara hendak melakukan pukulan pada Almira.


Namun, Almira sudah menyangka hal ini akan terjadi sehingga tangan Dirta bisa di tahan olehnya, dan tanpa segan wanita mungil itu memukul kepala Dirta dengan sekeras mungkin sampai pria gagah itu terseret ke belakang.


"Akh ... SIALAN!"Dirta meringis, pukulan Almira memang tak bisa di anggap remeh.


Pukulan itu terdengar sangat lantang sampai semua orang yang melihatnya terbelangah dan mengagumi keberanian wanita berparas lembut itu, lantas Dirta gegas berdiri tegak kembali dengan tatapan yang semakin menajam, dia berkacak pinggang dan bersiap untuk melakukan tindakan kekerasan yang kedua.


Sebelum Dirta membuka mulutnya lagi, Almira segera menimpalinya dengan perkataannya lagi, "suami gue aja gak pernah sekalipun kasar sama gue, bentak gue aja kagak pernah, lu siapa? Lu siapa HAH?! berani banget mau mukul gue."


"Hah?! Suami?"seru Dirta, dia tidak percaya wanita semuda ini sudah memiliki suami.


Dari area lain Royyan datang dengan tergesa-gesa, di waktu yang bersamaan Ajun tiba dari arah lain. Mereka berlari mendekati Almira, saat Dirta mulai mendekat lagi, dengan sigap Royyan berlari dan berdiri di depan Dirta dengan gagahnya.


"Lu cowok atau apa? Dia sama-sama wanita seperti El, lu jangan buta dan juga jangan budeg!"hardik Royyan seraya mendorong Dirta dari hadapannya.


"YAN! Dia nyakiti El, sahabat kita. Elu malah bela dia, El itu penting buat kita,"bentak Dirta.


"Di hidup gue dia lebih penting daripada El,"tegas Royyan menarik urat-urat di dahinya dengan tegas.


"Maksud lo? Jadi lu udah bener-bener lupain El?"


"Iya! Gue lakuin itu biar lu bebas deketin dia, tapi lu masih aja ngusik gue, mau lu apa sih? Gue jauhin El salah, gue deket juga salah."


"Gue mau El bahagia!"


"Itu tugas lu buat dia bahagia, gue gak peduli!"rajuk Royyan yang kemudian dia tarik kedua tangannya menongkrong di pinggangnya.


Ajun yang berada di sudut lain segera melangkah dan menjadi penengah keduanya untuk ke sekian kalinya. Sebenarnya Ajun sudah kelelahan melihat pertengkaran ini semua, karena Dirta yang masih saja terkungkung emosi.


"Dirta, lu masih aja belum sadar, lu kalau mau kejar El silakan, lu bebas ngejar dia dan Royyan akan hilang dari hidup lo dan El, setelah acara ini selesai El dan Royyan tidak akan ketemu lagi, Royyan sangat mencintai istrinya dan sekarang tugas lo buat EL mengerti, stop deketin Royyan,"jelas panjang Ajun dengan nada suara yang benar-benar pelan.


Dengan tegas Dirta menoleh pada Ajun, "maksud lo? El deketin Royyan?"tanyanya tak percaya.


"Iya. Jadi gue minta tolong untuk memberi pengertian pada El, jangan pernah deketin gue lagi, gue simpati sama dia karena kita temen dan terikat sebuah pekerjaan, jangan salah arti,"timpal Royyan.


Perkataan Royyan tembus ke telinga Elshara yang baru saja tiba di sana dengan penampilan yang sudah kembali segar sedia kala. Dia bergegas mengayuh langkahnya mendekati orang-orang yang dia kenali sedang saling menarik amarahnya masing-masing, termasuk Almira yang sudah nampak muak melihat pertengkaran yang tidak ada habisnya ini.


Suasana hijau dan menyegarkan dari hutan itu tidak memberikan energi baik sama sekali, karena perdebatan memuakkan di hadapannya telah mengambil semua energi positif yang ada di sana.


"Ada apa sih ini? Dirta lu gak nyerang Ra kan? Lu jangan macem-macem ya, gue ngomong sama lu cuman mau cerita aja, bukan berarti gue meminta lu untuk nyerang Ra,"paparnya mencoba menarik perhatian Royyan lagi.


"El!"panggil Royyan dengan suara beratnya yang serius.


Lekas Elshara menoleh dengan wajah yang mulai berseri-seri, pikirnya Royyan akan mempertanyakan kondisinya dan mengkhawatirkan dirinya, tetapi Royyan dengan segera mematahkan harapan Elshara.

__ADS_1


Royyan menaikkan kedua tangannya ke atas dalam keadaan menangkup dan tatapan tajam yang nampak kelelahan, dia tatap Elshara dengan dalam, binar mentari pagi yang selalu bersinar itu berubah menjadi sebuah bulan purnama berwarna merah padam, dia mengernyit melukis wajahnya dengan penuh harapan.


NEXT ....


__ADS_2