
Asap yang mengepul dari steak itu menyebar ke setiap penjuru ruangan khusus itu menggoda lidah Elshara, bibir itu tersenyum tipis. Dia bawa punggungnya untuk tak lagi bersandar pada sofa yang dia duduki, kedua tangannya sudah memosisikan diri di samping piring hitam yang sedikit datar berbentuk kotak memanjang.
"Ini kali pertama gue nyoba yang lu masak,"ujarnya yang berhasil menarik perhatian Dirta.
Akhirnya mata kecilnya terdongak dan menatap wanita cantik itu, pupilnya melebar, tetapi parasnya masih berusaha untuk biasa saja. Dia menghela napasnya, bukannya tak ingin menemui gadis itu, tetapi Dirta tak ingin mengulang luka yang sama.
Namun, sepertinya Elshara sangat menyukai dengan luka dan rasa pedih yang menyesakkan, dia terus saja menempatkan dirinya dalam duri yang terkadang beracun. Dirta tahu apa tujuan Elshara mengunjunginya seperti ini.
"Selamat menikmati, semoga lu suka. Gue bukan chef yang hebat seperti para chef di luar sana, tapi semoga lu menyukainya,"jawab Dirta, dan dia segera memutar kakinya untuk segera pergi dari sana.
Sebelum hatinya kembali menggebu-gebu dan dia tak bisa mengendalikan dirinya, menjauh dari cinta bukanlah pengecut, melainkan menyelamatkan hati dari luka yang lebih dalam lagi. Ada cinta yang bisa dimiliki dan ada yang hanya pantas untuk di rasakan, tetapi tidak dengan memilikinya.
"Lu beneran mau jauhi gue,"melas Elshara tertunduk dengan wajah yang sendu.
Punggungnya meredup dan menyebarkan si kelam, membuat Dirta menghentikan langkahnya. Dia tidak bisa menyakiti cintanya, dia sangat rapuh. Dirta menghela napasnya seraya dia memicing, mempersiapkan dirinya untuk duduk di hadapan Elshara.
Pria bertubuh tinggi itu menjatuhkan bokongnya di sofa depan Elshara, dia sengaja tidak menempatkan dirinya di samping Elshara, tekadnya untuk melupakan segala cinta yang dia miliki pada wanita itu sudah sangat bulat.
"Itu yang lu mau kan. Terus, sekarang kenapa lu nemuin gue,"jawab Dirta, sorot matanya menajam, tapi cinta itu tidak benar-benar pergi.
Tatapan binarnya masih saja sama seperti saat mereka masih di bangku SMA, dan Elshara sangat mengenali tatapan itu, walau Dirta berulang kali menyatakan perasaannya dia tak gentar untuk menolaknya, tetapi dia pun tak bisa jauh dari Dirta apalagi harus berpisah darinya.
"Ma-af ... gue marah saat itu dan berkata hal bodoh sama lu."wajah cantiknya padam, dengan air mata yang mulai berderai sampai matanya memerah.
Sakit. Air mata Elshara adalah hal yang paling menyakitkan bagi Dirta, perih di hatinya terasa teriris berulang kali, tetapi dia tetap bertahan untuk memalingkan wajahnya dari wajah yang selalu menariknya ke dalam belenggu cinta itu.
Perlahan, Elshara beringsut dari kursinya menuju ke dekat Dirta, dia berlabuh di pangkuan Dirta dan dia melingkari leher pria dengan alis yang tebal itu dengan lekat, bahkan dia masih menangis di pundak lebar itu. Dirta menghela napas panjang pun dalam, dia berusaha total untuk menghentikan debar jantungnya kembali normal.
"Jangan jauhi gue Dir, kalau lu jauh siapa yang bisa ngajakin gue bahagia ...."rengeknya menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Dirta.
Pria itu tergemap dan tidak melakukan apapun selain bernapas, hembusan hangatnya menyelinap masuk ke dalam pori-pori leher Elshara yang putih mulus. Dia berusaha keras untuk menahan kedua tangannya tetap terdiam dan tidak membalas pelukan itu.
...***...
Terhitung dari selesainya acara summer camp itu sudah satu minggu berlalu, acara liburan Almira dengan staff-nya sudah menemui akhir ceritanya, dan selama itu juga Royyan tidak pernah membiarkan istrinya berlibur seorang diri, dia tetap berada di sisinya walau dia harus merapel banyak kerjaan demi menjaga Almira untuk menikmati liburannya dengan baik.
Begitupun dengan Elshara yang ikut memangkas pekerjaannya di Jakarta demi dekat dengan Royyan, wanita itu sungguh gigih untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, dia sama sekali tak peduli jika pria yang dia dekati adalah suami dari wanita lain dan sampai saat ini dia tidak mengetahui siapa wanita yang telah merenggut cintanya.
Berulang kali dia melihat perhatian Royyan pada Almira yang dipikirnya sangatlah tidak wajar dilakukan oleh saudara sepupu, tetapi kejanggalan itu tak bisa dia tepis atau mencari kebenaran tentang semuanya. Ajun maupun Manda sangat menutup mulutnya, mereka sungguh bisa di andalkan.
"Sialan! Gue yakin mereka pasti ada apa-apanya, masa saudara sepupu sampai segitunya, Royyan perhatian banget sama Ra, gendong Ra masuk ke dalam kamar dan lama lagi di kamar Ra, ngapain sih,"omelnya berbisik pada pawana yang berkeliaran.
__ADS_1
Dinding salah satu kamar resort lain menjadi tempat persembunyian Elshara, sepanjang hari dia menghabiskan waktunya dengan sia-sia hanya untuk mengawasi pergerakkan Royyan yang melontarkan berbagai macam perhatian, malam panjang menjadi hal buruk bagi Elshara.
Royyan keluar dari kamar Almira dalam keadaan rapi, tetapi dasi yang dia pakai sedikit miring, setelahnya dia segera melipir ke sampingnya menuju kamar inapnya, dan saat itu pula Elshara datang menghampiri, dia berniat untuk mempertanyakan segalanya tentang kedekatannya dengan desainer muda itu.
"Kamu perhatian banget ya sama sepupu kamu itu, kayak sama istri aja,"celetuk Elshara berjalan seduktif pada Royyan.
Pakaiannya yang ketat menggambar lekukan tubuh indah Elshara semakin ketara jelas, rok di bagian kirinya terbelah begitu tinggi sampai bisa mempertontonkan serat-serat pahanya yang mulus bersih, putih dan bercahaya. Hanya saja Royyan sama sekali tidak tergoda oleh keindahan itu, jiwa dan hatinya telah terkuras oleh cintanya pada sang istri.
Pria bertubuh tinggi itu menghela napasnya, mencoba menahan kekhawatirannya tetap dalam bendungan batinnya, bahkan angannya tidak mengukir apapun untuk mencibir kehadiran wanita ini. Lelah! Royyan sudah kehabisan akal, entah langkah apalagi yang harus dia tempuh agar gadis cantik di hadapannya ini menyadari keinginannya.
"Lu tahu kan kedekatan keluarga gue dengannya, dan dia sudah menjadi tanggungjawab gue,"kilah Royyan menyelukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Bibir merah merekah itu melengkung ke atas seraya dia melangkah lebih dekat lagi dengan Royyan, dia menyentuh lengan kekar yang tertutupi oleh kain putih dari kemeja yang dikenakannya, gadis itu menjalankan jari-jarinya di atas tangan kekar itu dengan gerakkan seduktif.
"Tapi apa wajar kamu melakukan perhatian semua itu pada statusnya yang hanya sepupu, apa istri kamu itu gak cemburu?"lirihnya dengan suara manjanya.
Royyan menjauh, tatapannya meruncing pada bola mata pipih gadis di depannya, "jangan pernah melewati batas, gua melakukan apapun pada Ra, itu semua bukan urusan elu, karena kita hanya sebatas teman, jangan menempatkan diri lu pada sesuatu yang seharusnya lu gak lakukan,"tegas Royyan.
Elshara terhentak. Dia lupa jika Royyan pasti akan mengatakan hal itu padanya, tatapan menggodanya seketika mengendur meruntuhkan segala cahaya yang berpendaran tadi, tangannya yang hangat perlahan menjadi beku bersamaan dengan sorot matanya yang terdiam merasakan debaran pedih di dalam tubuhnya.
"Kenapa sih Yan, apa yang kurang dari gue sampai elu gak pernah tertarik sama gue, apa gue kurang cantik atau apa Yan ...."rungut Elshara menggenggam lengan Royyan bahkan dia mengguncang lengan penuh otot itu.
"Semua wanita cantik sesuai versinya, lu harus cari laki-laki yang menginginkan elu, jangan mencoba masuk pada hati seseorang yang tidak menginginkan elu, itu hanya akan membuat lu sakit,"beber Royyan seraya melepaskan kedua tangan Elshara yang menggantung di lengan kirinya.
Debur kemarahan membakar bola mata gadis itu hingga matang dan memerah, ia matang di sana, bersamaan dengan kepalan tangannya yang membulat pun memanas terbakar emosinya yang persisten menyembul dan berakhir dengan termuntahkan dengan mudah.
"Gue cintanya sama elu, bagaimana bisa elu nyuruh gue buat nyari laki-laki lain, gua akan memperjuangkan cinta ini!"tegasnya dengan bola mata yang berkaca-kaca dan guncangan yang mendidih.
"Cinta memang perlu di perjuangkan, tetapi jika cinta itu saling memiliki, tapi di sini yang punya cinta itu cuman elu, dari dulu gue gak pernah punya cinta itu, kita hanya sebatas taman El,"balas Royyan, bola matanya mulai melebar menatapi Elshara dengan kegetiran.
"Bohong! Lu cinta sama gua Royyan ... lu menjauh karena Dirta kan, jawab gue Royyan! Bilang sama gue kalau lu kayak gini karena Dirta kan? Pasti begitu kan ...."cecar Elshara menjatuhkan tubuhnya dalam dada lebar Royyan, dia mencengkeram kemeja yang dikenakan Royyan sampai dua buah baju itu terlepas dan menjauh dari lubangnya.
Mata pipihnya berderai sehingga wajahnya memerah penuh amarah dan kekesalan, dia lelah dengan semua usahanya yang tidak berbuah, dia hanya membangun pohon hingga daun-daunnya rindang, tetapi buah dari usaha itu tak pernah bangun darinya. Dia menunduk lemah di hadapan Royyan yang bergeming.
"Tidak ada cinta, karena saat itu gue bertemu dengan istri gue dan saat itu gue jatuh cinta padanya,"terang Royyan seraya dia menghela napasnya dalam, lalu dia mencoba meruntuhkan cengkeram tangan Elshara pada bajunya.
Dia dorong tubuh wanita yang tengah menangis tersedu-sedu itu, dan menegakkan tubuhnya dengan tegak, lantas dia menarik satu tangannya untuk mengapit dagu Elshara dan dia dongakkan dengan lembut, setelahnya dia menyeka butiran air yang bercucuran dari mata pipih itu.
"El ... jangan sakiti diri lu kayak gini, gue gak mau lihat lu terpuruk kayak gini,"lirih Royyan menatapnya dengan lembut.
"Ya makanya lu terima gue Yan ... dan gue gak akan gila kayak gini, tolong lah Yan ... gue cinta banget sama elu, gue sampai celaka karena gue mau jauhi elu tapi tuhan buat gue kembali sama elu, tuhan aja mengizinkan kita untuk bersatu Royyan ...."rintih Elshara semakin pilu.
__ADS_1
"Gak bisa. Gue punya istri."Royyan menjauhkan dirinya dari Elshara.
Gadis yang berlinangan kepedihan itu mengernyit hebat, pilunya semakin terlukis jelas di wajahnya, dia tak bisa menyembunyikan lukanya lagi, dia muntahkan segala duka yang dia rasa di hadapan Royyan. Seluruh raganya membeku, tetapi dia masih bergetar, serasa seluruh raganya kelu merasakan sayatan yang membuatnya mematung tak bernyawa.
Elshara terhenyak dengan ringkih, rintihannya melebat seirama dengan derap jantung yang menggebu-gebu dengan masygul. Sedunya menggema dengan perih, membuat Royyan mengerutkan dahinya tak tega melihat Elshara menangis seperti itu.
"Ap-apa yang istri lu punya, ap-apa?! Tinggalkan dia! Dan kembali sama gue Royyan! Gue akan buat lu bahagia lebih dari yang istri lu kasih,"ringkih Elshara seraya dia mengacak-acak rambutnya frustasi.
Royyan berdecak kesal, sampai hembusan napasnya terbuang dengan kasar. Dia menatapi Elshara dengan lelah, pria itu telah kehabisan akal, perkataan apalagi yang harus dia lontarkan agar wanita di hadapannya berhenti untuk memaksa masuk ke dalam hatinya yang sudah terisi oleh istrinya.
Sebelum menjawabnya Royyan sempat membuang napasnya lagi dengan lebih kasar dan dia berkacak pinggang, "istri gue punya cinta, lu gak bisa mengalahkannya, sekalipun lu berbuat keji karena lu gak punya cinta yang gue miliki untuknya,"tutur Royyan menegaskan posisi Elshara.
"Arrrrghhh ...."Elshara melaung sekencang yang dia mampu seraya dia mencengkam kuat rambut panjangnya yang selalu dia rawat dengan baik.
Meruntuhkan segala air yang terbendung di kelopak matanya yang memberat, perih matanya hingga memerah matang, meruak sesak yang mengendap di dalam dadanya. Pipi tirusnya merah padam, sedangkan Royyan dia masih bergeming dan mendengarkan tangisan pilu dari Elshara di hadapannya.
Dia tak ingin menenangkan Elshara atau bahkan memberikan sebuah peluang untuk terjatuh dalam dekapannya. Royyan membiarkan Elshara menguras semua air mata yang membuatnya pedih, itu adalah caranya agar gadis cantik itu terdiam dan akan menggunakan otak cerdasnya itu untuk berpikir lebih sehat.
"Gue juga punya cinta Royyan! Gue cinta sama elu, gua sayang sama elu dari sejak kita masih di SMA, bahkan sebelum istri lu itu hadir dalam kehidupan lu!"pekiknya sembari menunjuk-nunjuk dirinya dengan getir, tangannya bergetar tak mampu menahan air mata itu untuk terus berderai.
Tak lama dari air mata yang berhamburan dengan percuma karena pertahanan Royyan untuk tetap diam dan bergeming masih tetap persisten, Elshara melangkahkan kakinya untuk mendekati pria yang dia cintai itu, langkahnya begitu tegas dan penuh keberanian, dia menjatuhkan tubuhnya dengan kasar seraya dia melingkari leher Royyan.
"Apapun yang terjadi, lu adalah milik gue! Gak akan gue biarin siapapun miliki elu!"sergah Elshara menarik leher Royyan untuk mendekat, lalu dia hendak untuk bermain di bibir Royyan yang sudah menggodanya dari dahulu.
Bukan Royyan jika tidak menolak apapun yang membuatnya tidak nyaman, lekas dia palingkan wajahnya, setelahnya Royyan mendorong tubuh Elshara sampai terjatuh ke bawah, melanggar lantai berkeramik di depan kamar inapnya.
"Auuuuh ...."Elshara meringis dengan sisa-sisa air matanya.
"Lu udah kelewatan, lu cabut sekarang! Atau gue akan usir lu dari kehidupan gue."
Mendengar hal itu, Elshara merasa tertantang. Lantas dia membawa dirinya berdiri dengan tegap seraya dia merapikan penampilannya yang berantakan, dia seka bercak-bercak air matanya dengan kasar.
"Silakan, itupun kalau lu bisa,"jawabnya tersenyum miring, rupanya dia meremehkan kekuatan kuasa Royyan.
Jika diingat lagi, Elshara memang tidak mengetahui banyak soal Royyan, dia terbutakan oleh rasa yang dia yakini, tetapi dia tidak peduli kehidupan Royyan seperti apa, bahkan dia tidak mengetahui jika Royyan memiliki banyak perusahaan yang bergelut di bidang properti. Pria kekar itu memiliki perusahaan raksasa yang mencakup pembangunan properti dan penyewaan gedung-gedung, resort, apartemen, dan juga hotel.
Bukan hanya itu, dia menjalin kerjasama dengan perusahaan properti besar di Jerman dan juga Paris, di negara itu Royyan memiliki gedung bak istana, tempat itu dia bangun untuk keperluan shooting dan festival atau pesta-pesta para bangsawan dan orang-orang kelas atas. Di umurnya yang menginjak 30 tahun bahkan beberapa bulan lagi dia akan berulang-tahun ke 31, dia sudah menjadi pengusaha paling bergengsi, powernya tidak bisa di pungkiri lagi.
Para pebisnis kelas atas tunduk pada kuasa Royyan D'caprio Alzaro, terlebih dia bergabung dengan perusahaan ayahnya, dan mertuanya yakni Ressa dan Miranda, kekuatan perusahaan yang dia pimpin bertambah lebih kuat lagi. Baginya menyingkirkan perusahaan orangtua Elshara sangatlah mudah. Karena beberapa waktu yang lalu, dia mengetahui jika mertuanya telah membeli 50% saham perusahaan milik keluarga Elshara karena perusahaan itu sedang berada di ujung tanduk.
NEXT ....
__ADS_1