
Adrian menghela napasnya panjang. "Nona datang ke hotel dan mengusir nona Elshara keluar dari kamar pak bos,"terang Adrian tanpa menyembunyikan apapun.
Royyan terdongak, menatap tajam sang sekretaris pribadinya, lalu tatapannya terlempar jauh ke deretan gedung-gedung yang bertengger di depannya. Atmosfer sunyi dari kota itu terasa hangat, di bawah kegalakkan sang matahari siang ini.
"Bagus,"celetuk Royyan kemudian menarik tubuhnya kembali mengarah pada jalan raya.
"Selanjutnya apa yang akan bapak lakukan?"tanya Adrian penasaran.
Sembari merapikan pakaiannya, Royyan menarik dagunya sedikit ke atas, dan rahanganya yang tegas ikut mengeras. "Saya akan ikuti dulu permainan dari wanita itu, awasi dia terus,"pungkas Royyan.
"Baik pak."Adrian mengangguk.
Gelombang angin bergulir ke dekat Royyan dan Adrian mengirim sebuah mobil hitam ke dekatnya, lantas kedua pria itu gegas masuk ke dalam mobil tersebut dan mobil dengan cepat melaju meninggalkan area restoran.
Di bawah sorot matahari yang gahar, Almira dan Manda terduduk di salah satu kafe outdoor ; suara musik bersenandung di ujung jalan. Para burung beterbangan di udara menghirup udara segar, walau panas menguap, tetapi angin mericau dengan merdu di telinga.
Di depan minuman dingin dan sepotong redvelvet cake, Almira menghenyakkan punggungnya ke belakang, bersandar pada kursi yang dia duduki. "Menurut lo, dia bakalan datang lagi gak?"tanya Almira pada Manda yang ada di depannya.
"Datang lagi sih, cewek itu kan gila,"sahut Almira.
"Haah ..."Almira menghela napasnya panjang dan menarik wajahnya tertadah ke atas seraya melipat kedua tangannya di depan. "Pengen tenggelam rasanya,"sambung Almira pasrah.
"Tenggelam kemana lu?"jawab Manda yang kemudian dia menyeruput minumannya.
"Ke dasar laut terdalam."
Manda terhentak dengan perkataan Almira. Lekas dia lemparkan tatapannya ke atas, tepat lurus ke depan pada sang sahabat yang masih tertadah. "Maksud lo bunuh diri,"gumam Manda bergetar takut.
Almira menyeringai, menyerukan sebuah tawa kecil, lalu dia bawa wajahnya untuk kembali menatapi sang sahabat. "Enggak lah, gue masih mau hidup. Ngapain gue bunuh diri, sayang banget hidup gue. Tuhan udah ngasih gue kehidupan, kenapa gue harus mengakhirinya dengan cepat, tanpa persetujuan tuhan,"beber Almira panjang.
"Ya habisnya elu ngomongnya tenggelam ke laut terdalam,"seru Manda lega.
"Kagak gila. Mana ada gue kepikiran buat bunuh diri, kalau tuhan udah mengizinkan gue buat mati, baru gue mati."
Wajah Manda mengerut. "Ah udah ah, jangan ngomongin mati, serem gua."
Almira kembali menyeringai kecil ; tatapannya kosong melesat jauh ke depan sambil dia menyeruput minuman dingin yang masih tersisa, cairan merah dengan rasa yang manis itu menyebar ke seluruh mulut Almira.
...***...
Indonesia, 10 Agustus 2022.
Almira tiba di rumah kebesarannya tepat pada pukul 23.00 wib, gadis itu segera melempar tubuhnya ke atas ranjang sebelum dia melepaskan semua yang menempel di tubuhnya, jam tangan, tas, masker, kacamata dan beberapa perhiasan yang masih menempel di dirinya.
Syani berlari dari dapur sembari membawakan minuman kesukaan majikannya itu, dia meletakkan minuman itu di atas meja depan sofa kecil di dalam kamar itu. Lalu dia menghampiri Almira yang terkapar lemas di atas ranjang dalam keadaan telentang.
"Nona mau mandi?"tanya Syani.
__ADS_1
Wanita itu tahu betul, jika Almira tidak tahan dalam keadaan di selimuti oleh keringat dan debu-debu jalanan. Walau jarum jam sudah menunjukkan pukul dini hari yang orang-orang gunakan untuk terlelap dalam tidurnya.
"I-ya ... Aku mau mandi, gerah nih ...."sahut Almira lirih.
"Baik nona, saya akan persiapkan air hangatnya,"jawab Syani.
"Euum ..."
Setelah mendapatkan jawaban dari Almira, wanita muda itu bergegas berlari ke arah kamar mandi, dan melakukan semua pekerjaannya dengan baik.
Dengan cepat air hangat itu memenuhi bathub, kemudian dia menyiapkan berbagai macam sabun dan shampoo di samping bathub tersebut. Sementara Almira masih terbaring lemah di atas ranjang, deru napasnya tampak terengah-engah.
Tak lama dari itu, Almira segera terbangun dan melepaskan semua benda yang menempel di tubuhnya dan dia letakkan di atas ranjangnya, kecuali pakaian yang dia gunakan. Di waktu yang bersamaan, Syani telah kembali dari kamar mandi dan dia berdiri di belakang tubuh Almira, agak berjarak.
"Sudah siap nona,"paparnya lembut.
"Oke, kamu boleh keluar sekarang,"jawab Almira memutar tubuhnya mengarah pada Syani.
"Baik nona."Syani mengangguk.
Syani keluar dari kamar Almira. Malam sunyi itu, menggiring Almira tenggelam ke dalam bathub yang telah di penuhi dengan gelembung busa yang berasal dari sabun yang amat disukai nya. Aroma mawar yang melekat dengan sabun itu membuat Almira tenang, rasa lega menyebar ke setiap bagian anggota tubuhnya.
...***...
Pagi bertandang lebih cepat, aroma matahari menusuk dan menerobos masuk ke dalam kamar yang luasnya hampir menyerupai taman bunga yang bertengger di atap rumahnya. Pagi-pagi sekali Almira sudah tiba di butik miliknya, bahkan dia meninggalkan ponselnya di dalam kamar, dia benar-benar lupa untuk membawanya.
Di bawah sinar matahari yang masih malu-malu, butik milik gadis mungil itu masih sunyi dan nampak belum ada siapa-siapa, kecuali para pegawai dan Almira sendiri.
"Sara ..."panggil Almira dari dalam ruangannya, pintu ruangannya sengaja dia buka lebar karena kondisi butik pun masih tertutup dan belum ada pengunjung yang datang.
Sara dari arah kanan yang tengah merapikan beberapa gaun-gaun yang terpajang di sana segera mengayuh kakinya mendekati Almira yang tengah memeriksa beberapa berkas yang harus dia bawa ke ruang produksi. Lokasi ruang produksi tempat dia menjahit semua pakaiannya, memang tak terlalu jauh, tepat di belakang gedung butik tersebut.
"Iya kak Ra, ada apa?"tanya Sara dengan jantung yang berdebar tidak karuan.
Hati Sara sudah meraba-raba ketakutan, dia benar-benar tidak tenang, alisnya saling tertaut dan kedua bola matanya tak pernah beralih satu detik pun dari Almira.
"Untuk gaun perdana menteri itu sudah kamu siapkan?! Satu minggu lagi akan dia ambil kan?"tanya Almira tak melepaskan tatapannya pada berkas-berkas yang di balut dengan berbagai macam warna itu.
Lega. Entah mengapa hati gadis itu merasa lega sehingga dia melepaskan hembusan napasnya terlempar lembut keluar. "Sudah kak Ra, kami sudah persiapkan dan gaun sudah sempurna, kak Ra bisa memeriksanya di ruangan kak Ra,"jawab Sara.
"Oke, nanti saya periksa,"balas Almira menghentikan memeriksa berbagai macam berkas itu.
Wanita bermata kucing itu melempar tatapannya keluar jendela, dan matahari sudah nampak berani memerintah sorotnya untuk menyinari bumi dan menyingikirkan gerombolan embun yang sedari tadi enggan untuk meninggalkan muka bumi.
"Saya ada urusan dulu keluar, kamu urus segalanya ya, dan jangan ada yang masuk ke ruangan saya tanpa seizin saya,"pesan Almira pada Sara.
"Baik kak,"sahut Sara tegas.
__ADS_1
"Baguslah, saya pergi ya ..."pamit Almira yang kemudian melenggang ke dekat meja kerjanya, mengambil tas dan juga blazer yang dia kenakan tadi pagi.
Almira berniat untuk kembali ke rumah mengambil ponselnya, tadi pagi dia terlalu tersera-sera menuju butik sehingga banyak hal yang dia lupakan. Gadis mungil itu melesat bak angin ke bahu jalan raya, dia menunggu taksi melewati gedung butiknya.
Kebetulan yang amat dibenci Almira, dia melupakan mobilnya juga. Di sana gadis itu berdiri dengan tenang menunggu taksi, tanpa menyadari dari arah lain ada seseorang yang mengincarnya, pria kekar berbadan besar yang tengah duduk di atas motor besarnya.
Dari arah berlawanan Dirta baru keluar dari sebuah mal dekat butik tersebut mengarahkan matanya ke arah lain, dia menyeringai kala melihat sosok Almira tengah berdiri di bahu jalan.
"Jadi dia adalah wanita yang berhasil menaklukan Royyan,"seru Dirta lirih, tatapannya terlempar ke bawah bersamaan dengan senyumannya yang masih bertengger. "Kenapa gue gak pernah sadar ya, Royyan itu emang suka tipe yang mungil kayak gitu, kenapa gua buang-buang waktu untuk membuat Royyan menderita, sedangkan dia tidak pernah menginginkan El,"tambahnya kemudian.
Netra kecil itu kembali tertadah dan mengarah pada Almira lagi, fokusnya tiba-tiba saja teralihkan pada pria kekar itu, matanya menyipit kala melihat lelaki kekar itu mempersiapkan motornya untuk melaju dengan kecepatan yang seharusnya tidak digunakan saat di jalan raya.
"Cowok itu aneh,"lirihnya.
Dirta melangkah untuk mendekati Almira yang masih berdiri di sana, belum habis Dirta meraba setiap langkahnya, lelaki itu sudah melaju dengan kecepatan tinggi. Motor itu melaju sangat tidak wajar, dia berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, seketika netra Dirta melebar.
"Ra ... Awaaaas ...."teriak Dirta membuat Almira menoleh ke arah dimana Dirta berada,
Sedangkan pria bermata kecil itu melajukan langkahnya bak pelari profesional. Satu detik saja jika Dirta terlambat Almira sudah tewas di tangan pria yang entah siapa itu, dengan sigap Dirta meraih tangan Almira dari kejauhan dan membawanya ke dekatnya. "Aaakh ..."teriak Almira terperanjat.
Lelaki berbadan tegap itu meleset, dan segera memutar laju motornya ke arah lain dan kali ini dia membawanya dengan benar. Dirta melepaskan dekapannya pada Almira dan berjalan ke depan, menyipitkan matanya untuk melihat nomor plat motor yang menempel di punggung motor itu.
Itu ... Orang yang pernah gue suruh buat neror Royyan, siapa yang membayarnya kali ini. Sialan! Gue harus cari tahu siapa di balik penyerangan ini. Gue yakin banget lelaki itu di suruh oleh orang lain.
Batin Dirta mencengkeram amarah bersamaan dengan kepalan tangan yang membulat.
Almira masih terdiam bak patung seribu candi, debur jantungnya masih berdetak amat cepat dengan mulut terbelangah. Beberapa detik kemudian, dia melangkah mendekati Dirta yang masih menatapi jalanan dengan tatapan getirnya.
"Dirta?!"panggil Almira pelan.
Dirta menoleh dan menenggelamkan kerutan herannya. "Lu gak papa kan?"tanya Dirta.
"Iya gak papa."Almira menggeleng.
"Yaudah."Dirta mengangguk.
"Itu motor kenapa bisa nyasar ke gue sih, jauh banget, kayak yang sengaja,"tanya Almira lagi.
Dirta menatapi Almira dengan polos, sesungguhnya dia sendiri pun tidak mengetahui apapun mengenai hal ini. Setelah kehadiran Elshara, pria itu tidak lagi berurusan dengan orang-orang bayaran itu lagi. Alis yang saling tertaut menandakan Dirta sendiri pun heran.
"Lu hati-hati, jangan jalan sendirian, lagian lu mau kemana sih? Kalau Royyan tahu lu jalan sendiri begini dia bisa marah,"kata Dirta.
"Ada urusan, gua mau balik ke rumah."
"Tunggu di sini, gua anterin lu balik,"saran Dirta.
"O-oke ..."Almira lagi-lagi mengangguk.
__ADS_1
NEXT ....