Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 56 : Membujuk Almira.


__ADS_3

Royyan melenggang meninggalkan Almira dan semua orang yang ada di sana, membawa Elshara yang nampaknya sudah mulai lemah, tangisannya semakin deras dan tubuhnya pun perlahan menjadi lemas, sekali lagi Royyan menggoyahkan pertahanan Almira.


Benak Almira kembali menggema mempertanyakan cinta yang dimiliki Royyan, sebenarnya cinta itu milik siapa, rasa perih karena sayatan pisau yang bisa merobek kulit dan mengeluarkan darah segar dari tubuhnya rasanya jauh lebih baik, di banding rasa perih yang sekarang di rasakannya. Pedihnya tak bisa terlihat, tetapi rasanya sungguh memuakkan.


"Kak Ra ... gak papa?"tanya Sara hati-hati.


"Jangan ganggu!"tegas Almira seraya dia melenggang pergi dari tempat itu.


Wanita yang masih menyisakan warna merah di parasnya itu berjalan cepat keluar dari hutan itu, langkahnya begitu terburu-buru, dia berusaha untuk menahan air matanya. Namun, dia tidak bisa melakukannya, rasanya terlalu menyakitkan melihat sang suami lebih memilih untuk melindungi wanita lain di banding dirinya.


Sayatan rasa perih itu kembali menyakiti hati Almira yang selalu dia buat setangguh mungkin, wanita mungil itu selalu berusaha untuk membuat hatinya tegar agar tak terjatuh pada suaminya, tetapi ... hati itu terlalu lembut dan akhirnya terjatuh juga dan menancapkan rasa cemburu yang menurutnya tak harus dia miliki.


Dia berlari ke hotel yang tadi malam dia pesan, dengan langkah yang tersekat Almira terus berlari seraya dia memukul-mukul dadanya dengan keras, di dalam sana seperti ada sebuah batu besar yang menahan aliran napasnya mengalir dengan normal, sehingga dia merasa sesak dan kesulitan bernapas, benda besar itu menghalangi napasnya di tenggorokan.


"Jangan, jangan disini ..."lirih Almira menahan setengah oksigennya di tenggorokannya.


Tiba di depan pintu kamar hotelnya, dia segera masuk ke dalamnya dan mengunci pintu itu dengan erat, dan Almira sudah tak bisa menahannya lagi, bahkan untuk melangkah pun rasanya terlalu kelu.


Akhirnya tubuh mungil itu ambruk di hadapan ranjang, dia terjatuh melanggar keramik-keramik putih yang ada di sana, dia merunduk menggetarkan punggungnya yang sudah layuh sedari tadi, wajahnya yang merah menjadi semakin matang dan bola matanya memanas.


Dia menangis. Dia lelehkan segala perih dan rasa sakit melalui butiran kristal yang berjatuhan dari kelopak matanya yang sudah tertanam dan berkumpul, endapan perih itulah yang membuat napasnya tersendat dan terasa sesak, hantaman keras yang meninju hatinya sampai menggetarkan seluruh tubuhnya dan berhasil mengumpulkan butiran-butiran perih itu, dia luruhkan segalanya membasahi pipi tirusnya.


Bukan hanya basah, tetapi juga sampai kuyup dan isakannya semakin kuat sehingga punggungnya terus bergetar, sedangkan kedua tangannya dia gunakan untuk mencengkeram selimut tebal yang ada di atas ranjang tersebut, dia masih menangis sampai kelopak matanya membengkak, begitupun dengan wajahnya yang ikut membengkak.


"Udah. Jangan nangis lagi, cukup Almira! Lu harusnya tahu posisi elu siapa di hidupnya, walau elu istrinya, tetep aja elu itu hanya istri di atas kertas dan tidak akan pernah lebih dari itu, harusnya gu-gua gak na----ngis ...."celotehnya berusaha menenangkan dirinya, tetapi tidak berhasil. Almira kembali menerjunkan hujan air matanya menjadi lebih lebat lagi, dadanya kembali sesak.


Tidak lama dari itu pintu kamar hotelnya menggemakan sebuah ketukan yang lantang, entah siapa yang mengetuk pintu, tetapi aroma ini sangatlah kuat dan Almira sangat mengenalinya.


Lekas dia seka air matanya sampai kering dengan penuh tenaga, mengisap isak tangisnya kembali ke dalam jiwanya, hanya saja isakan itu tak sepenuhnya terhisap, dia masih menyisakan beberapa sendunya di luar.


Wanita yang masih tersedu-sedu itu berjalan mendekati pintu, dan berdiri di depannya tanpa berniat untuk membukakan pintu tersebut, Almira memandangi pintu kamar yang di lengkapi dengan smart lock itu, sorot matanya tembus pada lubang kecil yang ada di sana.


"Gak usah ganggu! Sana pergi!"bentak Almira dengan deru napas yang berkobar-kobar.


"Buka dulu,"pinta seseorang yang ada di balik pintu.


"Gak! Kalau lu cuman mau marah karena gua hajar sahabat lu itu, mending sana cabut, gak usah ganggu,"balas Almira lebih kasar lagi, dia memberanikan diri untuk mengatakan suatu hal yang tidak biasanya dia katakan padanya.


"Kamu belum lihat siapa yang datang,"ucapnya lagi.


"Gak perlu, gue udah tahu, mending kak Royyan pergi."


"Oke."


Beberapa menit ke depan suara Royyan yang berdiri di depan pintu sudah tak terdengar lagi, Almira kembali merunduk, tiba-tiba hatinya merasakan sayatan perih lagi sama seperti tadi, semudah itu kah Royyan pergi tanpa berusaha untuk membujuknya atau melakukan hal yang bisa menenangkan Almira seperti yang dia lakukan tadi pada Elshara. Pikir batinnya seperti itu.


Lalu dia hembuskan napasnya kasar, dia lakukan untuk mendorong air matanya agar masuk ke dalam telaga hatinya lagi tenggelam di sana dengan tekad tak akan mengeluarkannya lagi ke permukaan. Kemudian dia buka pintu kamar itu setelah suara hening bertahan dalam lima menit, dia edarkan pandangannya ke arah kiri untuk memastikan jika Royyan telah pergi.


Sorot matanya memanjang ke ujung lorong menyubuk ke sana dan meyakinkan jika sang suami benar-benar telah pergi sesuai perintahnya tadi, bukannya senang jika Royyan menuruti apa perkataannya, dia malah memasang wajah layunya menjadi sangat jelas, cengkeramannya pada kenop pintu perlahan memudar.

__ADS_1


"Nyari siapa?"celetuk seseorang dari arah kanan yang tengah bersandar pada dinding putih.


Degh!


Betapa terkejutnya Almira mendengar suara berat yang tak asing lagi itu, perlahan dia tolehkan kepalanya ke arah kanan dan ya! Itu adalah suara Royyan, ternyata pria tinggi nan kekar itu tak benar-benar pergi, dia hanya diam dan bersembunyi di sisi lain untuk memancing istrinya keluar dari persembunyiannya.


"Kak Royyan!"pekik Almira terkejutnya bukan main, tubuhnya merasa lemas dan juga merasa malu. Lalu dia berputar masuk lagi ke dalam kamar seraya menarik pintu itu untuk menutupnya.


Tapi Almira sudah telat, karena kenop pintu sudah di genggam Royyan dari sejak Almira membuka pintu, sekuat apapun Almira menariknya dia tidak akan bisa melawan kekuatan tangan yang dipenuhi otot-otot itu dan Royyan menahan pintu sembari dia melipir masuk ke dalam kamar, lalu dia kunci pintu itu dengan rapat.


"Gue gak ngizinin lu masuk ya, keluar! Cepet keluar atau gue teriak biar lu di gebukin semua orang di sini,"ancam Almira dengan nada suaranya yang meninggi seraya dia melangkah mundur mencoba menjauhi Royyan dengan melodi jantung yang berdebar sangat cepat.


"Coba kalau berani."Royyan terus berjalan seraya dia melepaskan jas dan menarik dasinya keluar dari kerah baju, lalu dia lepaskan sabuk yang melingkar di pinggangnya dan dia lempar semua itu ke lantai dengan sembarangan dan menjadi berserakan.


Ami kalau lagi marah wajah imutnya hilang, mana berani gue elo sama suami sendiri. Batinnya menyerukan keluhannya yang merasa tersakiti mendengar Almira menggunakan kata-kata kasar padanya.


Melihat semua yang dilakukan Royyan, spontan Almira terhenti dan netranya mematri dengan getir, lalu dia berkacak pinggang dengan dahi yang mengernyit dengan dalam, kali ini hanya ada kemarahan yang ada dalam wajahnya sedangkan air matanya benar-benar sudah tertidur dalam telaganya.


"Kak Royyan mau ngapain sih, kan tadi udah milih cewek itu kan, ngapain sekarang nyamperin, mending sekarang kak Royyan pergi!"pekik Almira dengan gesekkan gigi yang lebih kuat.


Seraya menyingsingkan lengan kemejanya Royyan segera menimpali perkataan Almira dengan suara yang lembut, "Aku mau ngomong sama kamu."


"Gue gak mau!"ketus Almira seraya membuang mukanya ke sebelah kanan.


Mendengar Almira berkata kasar padanya membuat Royyan merasa harus melakukan suatu hal yang lebih dari hanya berkata dan berbicara lembut pada sang istri, lekas dia tajamkan tatapannya dan melangkah dengan langkah yang lebih besar lagi, "jangan menggunakan kata gue lu sama suami, gak sopan,"gertak Royyan seraya menarik tangan Almira dan membuat tatapan yang kuat di mata kucing itu perlahan meleleh.


"Apa? Suami kamu bilang, gak ada suami yang memilih untuk memeluk dan menggendong wanita lain, bilang aja kamu suka kan sama tuh cewek, silakan! Aku gak peduli, tapi selesaikan urusan kita,"sentak Almira berusaha menarik tangannya dari genggaman Royyan.


Tidak bergerak. Tubuh Almira tidak bergerak dia berusaha keras menahan dirinya terpaku di sana, Royyan menoleh lembut memasati sang istri yang tertunduk layu, tapi kemudian Almira menarik Royyan berjalan mendekati pintu untuk memaksa Royyan keluar dari kamarnya.


"Aku gak mau ngomong sama kamu, urusin aja sahabat kamu itu yang kayaknya sudah mulai gila,"ocehnya.


Royyan mengembuskan napasnya kasar, dia sudah geram dengan waktu yang terbuang percuma ini, tanpa aba-aba, Royyan menarik Almira dengan kasar sampai wanita mungil itu berputar dan tersandung dengan kakinya sendiri dan akhirnya berlabuh pada dekapan pria bertubuh kekar itu.


"Kak Royyan! Bisa gak sih gak usah narik-narik orang kayak gitu, badan aku kecil di tarik sama kamu yang tangan kamu di penuhi otot begitu ya kalah lah,"celoteh Almira memukul-mukul kedua lengan Royyan secara bergantian.


Tanpa menjawab ocehan Almira, pria bertubuh kekar itu menaikkan tubuh mungil Almira ke atas tangannya yang kekar, melingkari pinggang sang istri dengan erat, membuat netra Almira semakin melebar, "aaaah ..."dan teriakan Almira menggema di telinga Royyan.


"Kak ... turunin aku cepet! Mau ngapain sih, jangan macam-macam ya, kalau enggak aku teriak nih,"protes Almira seraya dia mengayuh kakinya di udara sebagai upaya agar Royyan menurunkannya.


Namun, cara itu tidak berhasil, pertahanan Royyan sungguh kuat. Tangannya sama sekali tidak gentar untuk membawa Almira mendekati ranjang dan kemudian menurunkan Almira di ranjang, lalu Royyan segera menumpuk tubuhnya di atas tubuh Almira dia selinapkan tangannya ke punggung Almira dan mendekapnya dengan kokoh.


"Biar kamu diam, maka ini adalah caranya,"celetuk Royyan setelah dia menenggelamkan wajahnya di antara rambut Almira yang ikut tertidur bersama kepala kecil itu yang sedang dalam dekapan Royyan.


"Kak ... ka-"


Belum selesai Almira berucap dan mendorong Royyan menjauh darinya, pria bermata kecil itu segera menimpali perkataan sang istri, "ada apa? Tadi aku cuman nganterin El ke managernya, lalu aku pergi buat ketemu sama kamu."


Almira terdiam, dan kedua tangannya yang sedari tadi mendorong dada Royyan pun lambat laun menjadi lemah dan luntur dari sana, wajahnya tertunduk dengan kekesalan yang masih menguasai dirinya.

__ADS_1


"Lepasin! Aku mau sendiri,"pungkas Almira kemudian.


Membuat Royyan terpaksa melelehkan dekapannya padanya, dengan arak-arakan deru napas yang terbuang dengan kasar, dia tarik satu tangannya untuk dijadikan bantal, lalu dia miringkan tubuhnya memasati wajah sang istri dengan dalam, tatapannya tembus pada bola mata kecoklatan di hadapannya yang tengah tertunduk.


"Kamu cemburu?"tanya Royyan dengan penuh harap.


Degh!


Degup jantung Almira menderai dengan sangat cepat, bola matanya berhamburan tak tentu arah, lantas dia memejamkan matanya seraya mengatupkan bibirnya dengan kuat.


Sial! Kenapa ketahuan sih. Almira mencibir dirinya sendiri di batinnya.


"Enggak. Pede banget sih, ngapain aku cemburu, kita bukan suami istri sungguhan,"kilah Almira sembari dia membalik tubuhnya membelakangi Royyan.


Seketika aura panas mengerubungi seluruh raganya dan wajahnya memerah seperti udang yang baru di angkat dari rebusan, dia rundukkan wajahnya seraya kedua tangannya dia lontarkan ke parasnya untuk menutupi wajahnya.


"Menurut kamu suami istri sesungguhnya itu seperti apa?"tanya Royyan seraya dia menyelukkan satu tangannya ke bawa pinggang Almira, perlahan dia lingkari pinggang kecil sang istri dengan erat sembari dia melekatkan tubuhnya ke punggung Almira.


Seketika tangannya yang menutupi wajahnya luntur, mematung di depan dadanya dan netranya yang tertutup dengan cepat terbuka, tubuhnya semakin menguap mengeluarkan udara panas dari dalam, dengan derap jantung yang semakin melangkah lebih cepat dari yang tadi.


"Gak tahu, jangan nanya begituan ah, aku gak tahu apa-apa,"ketus Almira karena dia ingin menyembunyikan rasa groginya.


"Hmm ... Mau aku kasih tahu?"


"Hah?!"kerut Almira seraya dia berputar menghadap pada sang suami.


Ini adalah kesempatan empuk untuk Royyan, tangan yang melingkari pinggang Almira seketika mengerat dan semakin melekatkan, sehingga tubuh Almira membeku dan kedua tangannya kembali menumpang di dada bidang pria berparas tampan itu.


"Apa yang kamu tahu?"pungkas Almira seraya dia mendongak menatapi sang suami dengan serius.


Bibir kecil itu kembali menggoda Royyan, balutan warna merah pudar di bagian dalam bibir itu sungguh menggoda, lidah Royyan terjulur keluar sedikit kemudian dia tarik lagi masuk ke dalam, kemudian dia jatuhkan kecupan kecil di bibir Almira sehingga wanita bertubuh mungil itu mengerjap terperanjat hebat.


Dengan segera wanita bermata kucing itu menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, "kak Royyan! Ini bukan di rumah, sembarangan kamu,"protes Almira dengan dahi yang berkerut dalam. "Lagian kamu ini hobi banget c*um bibir aku, kamu kalau pengen banget tuh cari cewek yang kamu suka,"tambah Almira yang kemudian dia tarik tubuhnya untuk mengubah posisinya menjadi duduk.


"Aku gak akan mau mencium wanita yang gak aku suka,"celetuk Royyan mengikuti Almira terduduk di sampingnya.


"Ya makanya sana cari, emangnya siapa sih yang kamu suka?"


Royyan tidak menjawabnya. Dia turun dari ranjang berputar ke arah kiri dimana Almira terduduk, lalu dia duduk di hadapan wanita dengan pipi tirus itu, kemudian dia mengapit dagu sang istri dia memperhatikan luka merah yang menempel di wajah cantik itu.


"Kita bahas nanti, kita obati dulu lukanya,"ucapnya kemudian melepaskan tangannya dari sang istri.


Lalu dia menyelukkan tangannya ke dalam saku celananya, dia mengambil sebuah salep pereda nyeri luka merah, dan segera dia buka salep yang masih baru itu.


"Aku bisa sendiri, udah ah sana kamu pergi aja, keburu ada yang tahu kamu ada disini."Almira masih saja terus mengucapkan kata-kata itu seraya dia hendak berdiri dari ranjang.


Namun, dengan kecepatan angin Royyan meraih pinggang kecil Almira dan membawanya kembali terduduk di hadapan Royyan, membuat Almira kembali mendelik kesal, wanita berkulit seputih susu itu melipat kedua tangannya di depan dengan perasaan dongkol.


"Diem. Sampai kamu bergerak aku c*um kamu lagi seperti yang aku lakukan di rumah mami papi,"ancam Royyan seraya dia mengoleskan salep itu di pipi Almira yang memerah.

__ADS_1


Seketika Almira mematung, dia tak lagi bergerak, bahkan untuk bernapas saja dia berusaha untuk tidak bergerak sama sekali, dia sangat mengingat c*um*n seperti apa itu dan dia tak bisa menahan Royyan, bahkan saat itu tubuhnya melemah.


NEXT ....


__ADS_2