Tertawan Masa Lalu

Tertawan Masa Lalu
BAB 48 : Bujuk Royyan 2.


__ADS_3

"Lu ngapain sih Yan, si El nelepon gue katanya bujuk elu buat izinin resort lu lagi, gue lagi kerja jadi buyar nih otak gue,"protes Ajun di balik ponsel Royyan yang menempel di telinganya.


"Mereka gak menuruti apa yang gue mau,"jawab Royyan singkat di hadapan meja yang di atasnya sudah tersaji mie instan dalam kemasan cup yang memiliki rasa pedas mampus, dengan di temani di sampingnya dengan sosis bakar tanpa mayonaise.


"Gara-gara kostum itu, karena istri lu takut sama hal itu,"terka Ajun dengan tepat.


"Itu lu tahu, udah ah gua mau makan, kalau bini gue yang bujuk gue bakalan pikirin lagi."


Panggilan telepon berakhir dengan cepat, sudah tiga menit lebih mie itu terendam air panas dan aromanya sudah sangat menggoda, Royyan yang berada di depan pintu masuk kamar inapnya yang tertutup segera berputar ke sofa yang ada di samping ranjangnya yang berukuran besar.


Lantas dia jatuhkan tubuhnya di atas sofa itu menghadap pada mie yang sudah matang dengan sempurna, perlahan dia raih mie itu dan dia bawa ke atas untuk dia lahap. Uap-uap yang masih mengepul segera dia tiup dengan lembut, lalu dia luncurkan mie panjang kriting itu ke dalam mulutnya yang sudah sangat ingin merasakan rasa mie itu.


Tiga suapan sudah mie itu masuk ke dalam mulut kecil Royyan, saatnya masuk ke suapan ke empat, tetapi tidak sampai sumpit dan mie itu kembali ke dalam mulut, suara ketukan pintu sudah lebih dulu menggema. Detik itu juga Royyan menghentikan aktifitasnya dan beranjak dari sofa untuk membukakan pintu.


Namun, sebetulnya dia sudah tahu siapa yang datang, dari aroma mawar yang berasal dari sabun yang biasa dia hirup berpadu dengan aroma kelembutan yang sangat dia kenali, sosok yang dia nanti-nanti sedari tadi, ya! Itu adalah Almira, sang istri tercinta.


Pintu terbuka dan Royyan segera menggenggam tangan Almira dan menariknya masuk ke dalam kamar lalu segera menutup pintu itu lagi dengan rapat, membuat Almira membuka kedua bola matanya selebar mungkin, hampir saja dia berteriak sekencang mungkin, tetapi beruntungnya dia segera menyadari dan mengatupkan bibirnya untuk menahan teriakannya keluar menjadi sebuah sumber suara yang membuat semua orang akan datang ke sana.


"Kamu ini ngagetin aja,"protes Almira menepuk punggung Royyan yang sekarang berada di depannya seraya berjalan kembali ke sofa dan wanita mungil itu mengekorinya.


"Kenapa? Mau nanya soal yang aku cabut izin resort?"sahut Royyan dengan pertanyaan yang seharusnya dia sendiri pun sudah tahu jawabannya.


"Ya iyalah, mau ngapain lagi coba aku sembunyi-sembunyi ketemu sama kamu di luar rumah seperti ini kalau bukan untuk mempertanyakan hal itu,"jawab Almira yang masih berada di belakang Royyan.


Tibanya di sofa, Royyan kembali ke posisinya semula dan melanjutkan menyantap mie instannya lagi. Begitupun dengan Almira yang terjatuh duduk di samping Royyan, wanita berkulit seputih susu itu mengernyit dan sesekali memasati wajah Royyan dari samping, lantas dia berkacak pinggang seraya menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan membentuk posisi bersila.


"Orang-orang diluar nyariin kamu, mereka panik karena tidak bisa mencari tempat lain di saat proses shooting sudah berlangsung, kamu ..."pungkas Almira seraya menusuk-nusuk otot tangan Royyan dengan jari telunjuknya yang kecil nan panjang dan juga ramping, "malah enak-enaknya makan dengan santai, mana gak ngasih istrinya lagi, berdosa tahu gak,"tambah Almira yang masih mengerutkan dahinya.


Seperti biasanya seorang Royyan hanya menunjukkan senyum tipisnya seraya terus menggerakkan sumpit yang mengapit beberapa helai mie itu dengan gerakkan berputar, itu di lakukan agar mie-nya mendingin oleh angin yang lewat.


"Aku laper, mau makan,"jawabnya sembari dia mencelupkan mie itu kembali ke dalam kuah dan mengangkatnya lagi.


"Ya lagian menghilangnya setelah kamu ngomong mencabut izin resort."


"Biarin aja lah, sekarang buka mulut kamu,"jawab Royyan seraya membawa mie setengah dingin itu ke mulut Almira.


Tidak seperti biasanya yang selalu menolak, kali ini Almira justru langsung membuka mulutnya, sejujurnya perutnya memang sudah keroncongan, cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta meminta makanan, hanya saja pekerjaannya membuat Almira menahannya.


"Hmm ... enak,"ucapnya seraya dia mengunyah dan menelan mie-nya.

__ADS_1


Selanjutnya, Almira mengambil sosis panjang yang berukuran besar yang tertidur di atas meja yang di berikan alas piring plastik berwarna putih dan melahapnya dengan nikmat, sosis yang dipenuhi daging dan perut yang kelaparan adalah sebuah perpaduan yang pas untuk saling bertemu.


"Kamu laper?"tanya Royyan memasati wajah sang istri dengan penuh cinta.


"He-euh ..."gumam Almira yang tengah sibuk melahap sosis besar itu.


Kemudian Almira menyisir setiap menu yang ada di atas meja itu, mencari mayonaise yang menurutnya sangat cocok di makan dengan sosis bakar itu. Lantas dia menoleh pada Royyan yang tengah melahap mie instannya.


"Kamu gak punya mayonaise?"tanya Almira yang tidak mengetahui jika sang suami sangat membenci mayonaise.


"Enggak. Aku gak suka mayonaise,"jawab Royyan.


"Hah?! Sejak kapan kamu gak suka sama mayonaise?"seru Almira tidak percaya sembari dia tidak bisa berhenti mengunyah sosisnya.


"Dari kecil."


"Kok aku gak tahu sih, padahal kita udah nikah satu tahun-an."


"Sekarang tahu kan,"katanya membawa satu suapan mie lagi pada mulut Almira.


Sama seperti tadi Almira segera melahap mie itu, rasanya lebih nikmat dari apa yang dia makan lewat tangannya sendiri, apa tangan Royyan memiliki bumbu rahasia yang membuat mie cup biasa menjadi memiliki rasa yang luar biasa. Rasa pedasnya lebih gurih yang membuat Almira ketagihan, perlahan bola matanya yang mematri tatapan Royyan segera beralih pada mie cup matang satu lagi yang masih utuh, lantas dia ambil dan memakannya tanpa mempedulikan Royyan.


Setelah lima menit berlalu semua makanan yang ada di atas meja dengan segera berpindah ke perut kedua pasang yang masih enggan untuk saling mengakui perasaannya. Almira memutar tubuhnya menjadikan posisinya menghadap pada sang suami dengan kaki yang bersila.


"Apa kamu gak mau pikirkan lagi masalah izin itu, kasian lah sama mereka yang udah bekerja keras, masa kamu gak mau memberikan belas kasihan dikiiiit aja,"pinta Almira, dan tanpa sadar kedua tangannya menjalar ke tangan Royyan dan menggenggam dengan erat.


Hangat dan terasa lembut, dan tentu saja sangat nyaman. Satu-satunya tangan wanita yang bisa begitu dengan tenang menggenggam tangan Royyan, hanya Almira seorang. Royyan pun nampaknya sangat bahagia jika istrinya sudah berani menyentuhnya tanpa ragu-ragu ataupun rasa takut.


"Apa yang aku ucapkan maka itu yang akan terjadi, tidak ada kata perubahan,"papar Royyan membalas genggaman tangan Almira dengan lembut.


Tangan kekarnya perlahan menjadi sangat lembut merangkak di punggung tangan Almira yang mungil dengan jari-jari yang panjang, tetapi Almira nampak tidak senang dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya.


Ini gimana sih bujuk nih manusia es kutub utara, masa gue pasrah aja, eh tapi ... gue dan pegawai gue rela begadang sampai tengah malam untuk mengerjakkan proyek busana ini, ya kali batal gitu aja hanya karena mood kak Royyan yang rusak, gak lucu kan ....


Celoteh batin Almira menggetarkan dinding hatinya yang sudah kehabisan akal untuk membujuk Royyan dengan cara apalagi. Bola matanya memicing seraya dia menarik tangannya yang sedari tadi di lepaskan oleh Royyan, lalu dia beranjak dari sofa untuk membawa dirinya berdiri di depan meja yang sudah kosong dari makanan.


"Kak ... kamu tahu kan kalau aku sudah mengerjakan proyek ini setengah mampus, aku harus begadang mengerjakan banyak hal untuk proyek ini, masa kamu tega cabut izin gitu aja, emangnya karena apa sih? Sebenarnya aku gak denger jelas tadi,"beber Almira panjang di hadapan Royyan yang sedang terduduk dengan satu kaki dia tumpangkan di kakinya yang lain.


"Karena kamu,"celetuknya singkat membuat Almira mengernyit dengan sudut bibirnya menaik kesal karena jawaban Royyan tidak seperti keinginannya.

__ADS_1


"Maksudnya? Kok jadi aku sih, aku kan gak ngapa-ngapain."Almira bertanya-tanya sembari dia mengangkat kedua tangannya ke atas dengan posisi telapak tangan menatap lanbgit-langit kamar.


"Aku berusaha menyingkirkan apa yang kamu takuti, tapi mereka tidak menuruti apa yang aku mau, jadi itu adalah resikonya,"jelas Royyan yang kemudian dia turunkan satu kakinya yang ada di atas kakinya yang lain itu dan mencondongkan tubuhnya ke depan seraya menautkan jari-jari tangannya.


Seketika hati Almira merasa tersentuh, semua hal itu ternyata karena Royyan ingin melindungi Almira dengan sangat baik, bahkan untuk hal yang menurut Almira sendiri itu adalah hal yang bisa dia taklukkan. Almira hanya perlu menghindarinya seperti biasa yang dia lakukan, tak perlu sampai menyingkirkannya dan membuat kegaduhan seperti ini.


Lantas wanita berparas cantik nan lembut itu melimbai ke dekat Royyan, dengan tekanan dan keberanian yang harus dia lakukan, Almira terperenyuk di salah satu paha Royyan dan tangan yang melingkar di leher Royyan, membuat degup jantung Royyan berdebar sangat hebat, tetapi pria itu sama sekali tidak merasa canggung ataupun mematung tak bisa melakukan apapun.


Dia justru dengan lihainya melingkari pinggang Almira dengan penuh, kedua tangannya menongkrong di pinggang kecil itu, "mau ciuman part tiga?"tanya Royyan membuat Almira tertegun dan perlahan mengatupkan bibirnya dengan wajah yang tertunduk sedangkan kedua tangannya lambat laun meluruh dari leher yang menyebarkan aroma khas yang membuat Almira merasa nyaman berlama-lama di dekatnya.


"Ngaco!"tepis Almira mendorong bahu Royyan sampai pria bertubuh kekar itu bersandar pada sofa yang dia duduki itu.


Paras cantik yang tengah mengerucutkan bibirnya itu membuang wajahnya kesal dengan kedua tangan yang masih menempel di bahu Royyan, pikirannya berkelana entah melayang kemana, tiba-tiba saja dia terpikirkan suatu hal yang harusnya dia tanyakan pas dia tiba di Bali, tepatnya di resort milik Royyan yang sebelumnya belum pernah di ketahui nya.


"Oh iya, aku baru ngeh, kenapa kamu gak bilang kalau kamu ke Bali untuk acara ini juga, untung aja kita gak melakukan hal yang bisa membuat semua orang menyadari kedekatan kita,"tanya Almira yang melukis wajahnya dengan keseriusan dalam posisi yang sama seperti tadi.


"Karena kamu akan tahu sendiri, jadi aku gak perlu capek-capek bilang sama kamu,"kilahnya dengan tenang dan kedua tangan yang masih betah di pinggang kecil wanita mungil itu.


"Nyebelin banget sih,"sahut Almira memicing kesal. "Yaudahlah, pokoknya intinya kamu bicarakan lagi aja sama pihak penyelenggaranya, jangan ambil keputusan sepihak begitu, kasian semua yang sudah bekerja, termasuk aku juga,"sambung Almira yang segera menepis rasa kesalnya tadi.


"Mereka menganggap perintah ku adalah hal sepele, kenapa aku harus mengasihani mereka?"


"Kak ... kamu hanya perlu tegas dengan sisipan hati nurani dikit, kamu kan bisa negosiasi lagi sama mereka, gak harus sekeras ini, kasian lo ... masa kamu gak kasian sama aku,"ucap Almira menundukkan wajahnya sendu.


Sungguh menyenangkan, melihat Almira yang merunduk seperti itu, wajah cemberutnya benar-benar menggemaskan. Hanya melihat wanita berparas lembut itu muram, mampu menarik garis senyum Royyan dengan cepat. Lalu dia mengapit dagu Almira dan mendongakkannya ke atas sejajar dengan wajahnya, kemudian dia bawa untuk mendekati wajahnya sampai hanya menyisakan jarak beberapa sentimeter saja dan seketika bola mata kucing itu melebar.


"Kalau kamu cium aku sekarang, aku akan mengabulkan permintaan kamu,"goda Royyan seraya dia menarik sudut bibir kanannya naik ke atas.


Deg!


Cium? Lagi? Jantung wanita yang tengah mematung dalam pangkuan Royyan itu segera berdegup dengan sangat cepat, perlahan bibir kecil itu terkatup beberapa detik, kemudian kembali dengan semula.


"Gak mau,"tepis Almira seraya menarik kedua tangannya dari bahu Royyan menjadi terlipat di depan tubuhnya, lalu dia putar tubuhnya menjadi membelakangi pria bermata kecil itu.


"Yaudah, aku juga gak mau nuruti permintaan kamu,"sahut Royyan melekatkan tubuhnya dengan Almira dan mendekap tubuh Almira dari belakang.


Tubuh Almira semakin mematung dan tak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya benar-benar di blokir oleh kedua tangan kekar Royyan, sedangkan kedua tangannya mematung di atas, lalu dia memutar lagi tubuhnya untuk menghadap sang suami, dia lakukan itu dengan harapan dekapan Royyan akan luntur dan terlepas.


NEXT ....

__ADS_1


__ADS_2